"Cinta tidak pernah tentang siapa yang datang paling awal, melainkan tentang siapa yang bertahan hingga akhir. Dan untuk semua rasa nyaman serta bahagia yang ia cari selama ini, jawabannya cuma kamu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15. Setetes Air di Lautan
Aroma biji kopi yang baru digiling dan desis mesin espresso menyambut langkah Zahira begitu ia memutar gagang pintu kaca Kafe 55. Menyaksikan Zahira melangkah masuk dengan napas yang masih sedikit tersengal, Hanum rekan kerjanya yang berdiri di balik konter langsung melebarkan matanya.
"Zahira! Ya ampun, akhirnya kamu sampai juga!" bisik Hanum setengah berteriak seraya menghampiri Zahira yang langsung melepas tas kainnya di ruang staf. "Aku tadi udah cemas banget pas kamu bilang motor kamu mogok di jalan."
"Maaf ya, Num, bikin kamu panik," sahut Zahira merasa enak hati, menyapu sisa embun peluh di dahinya dengan tisu. "Gisel mana?"
"Mbak Gisel langsung pergi pas udah ambil bukunya yang ketinggalan. Tadi mbak Gisel sempet khawatir sama kamu, Ra. Tapi begitu aku jelasin kondisi kamu, mbak Gisel langsung chat kamu kan," jawab Hanum.
Ia lalu memiringkan kepalanya, menatap Zahira dengan sudut mata berkilat penasaran.
"Tapi... Ra, aku enggak salah lihat, kan? Tadi pas aku intip dari balik jendela, kamu turun dari SUV hitam mewah keluaran terbaru itu? Siapa yang anterin kamu, Ra? Pacar kamu ya?"
Wajah Zahira seketika merona tipis. Ia merapikan celemek hitam khas Kafe 55 lalu mengikatnya di pinggang. "Bukan, Num. Itu... mas Elvan, omnya Gisel. Tadi beliau kebetulan melintas pas lihat aku kelelahan dorong motor di pinggir jalan."
"Omnya Gisel?!" Hanum menepuk bahu Zahira perlahan. "Gila, Ra! Omnya Gisel itu kelihatan kaya dan berwibawa banget! Beruntung banget kamu diselamatkan pria sekelas dia. perasaan waktu kemarin dia kesini cuma baw motor deh."
Zahira hanya tersenyum tipis, memotong pembicaraan agar tidak melantur lebih jauh. "Sudah, ah. Yuk kita balik ke konter, kasihan pelanggan sudah mulai berdatangan."
Matahari mulai condong ke barat saat denting bel di atas pintu Kafe 55 berbunyi nyaring. Gisel melangkah masuk dengan gaya kasualnya yang modis, langsung mengedarkan pandangan mencari keberadaan sahabatnya.
"Sore, Mbak Kasir!" sapa Gisel riang begitu mendatangi konter.
Zahira yang sedang menyusun cangkir bersih menoleh dan terkekeh. "Sore, Gisel. Kok kamu sayang lagi ke sini. Bukannya lagi nyusun bikin skripsi ya?"
"Loh, emang aku gak boleh ke sini lagi! Aku kan mau mastiin sahabat terbaikku ini enggak pingsan gara-gara kelelahan dorong motor pagi tadi," goda Gisel seraya memesan iced Americano.
"Ya boleh dong... Kirian aku kamu gak kesini lagi karena sibuk mau nyusul aku." ujar Zahira Dnegan senyum mengembang.
"Ia sih, aku mau nyusul temen aku yang paling cerdas ini... tapi aku mager banget kalau ngerjain semuanya di rumah. jadi aku balik lagi deh kesini. Kan enak disini aku bisa naya-nanya sama kamu, Ra."
.
Saat Zahira sedang beristirahat sejenak di meja sudut dekat jendela bersama Gisel, sebuah mobil pikap servis bertuliskan logo bengkel ternama berhenti di pelataran kafe.
Dua orang montir berkaos seragam turun, memindahkan sepeda motor matik merah milik Zahira yang tampak sudah kinclong dan bersih.
Salah satu montir melangkah masuk ke dalam kafe dan menghampiri Zahira. "Permisi, apa ada yang bernama Mbak Zahira? Ini kunci motor matik merahnya. Kendaraannya sudah selesai ditangani."
Zahira melompat berdiri, kaget sekaligus takjub. "Iya saya, mas. Jawab Zahira cepat. "Lho, Mas? Cepat sekali? Kira-kira kenapa motor saya bisa mogok ya?"
"Masalahnya ada di busi yang sudah aus dan akumulasi kotoran di bagian injector, Mbak. Tapi tenang saja, seluruh komponen vital sudah kami ganti dengan sparepart original baru, mesinnya sudah dirawat total, dan kendaraannya sudah kami cuci bersih," terang sang montir ramah.
"Terima kasih banyak, Mas. Jadi... berapa total biaya servisnya?" tanya Zahira seraya merogoh tasnya.
Montir itu tersenyum dan mengibaskan tangannya pelan. "Tidak perlu, Mbak. Pak Elvan sudah menyelesaikan seluruh pembayarannya secara langsung lewat akun kantor pusat tadi siang. Beliau juga berpesan agar Mbak Zahira tidak perlu memikirkan masalah biaya. Kalau begitu, kami permisi dulu."
Sepeninggal sang montir, Zahira berdiri mematung memegang kunci motornya. Rasa haru dan sungkan bercampur aduk di dadanya.
Gisel yang menyaksikan hal itu menyenggol lengan Zahira sambil tersenyum menggoda.
"Tuh, kan! Apa aku bilang? Om Elvan itu kalau sudah bantu orang enggak setengah-setengah. Lagian Om Elvan itu respek banget sama kamu, Ra. Udah, terima aja kebaikannya dengan lapang dada."
"Tapi ini terlalu banyak, Sel... Aku merasa jadi merepotkan Om kamu," bisik Zahira lirih.
"Sama sekali enggak merepotkan. Buat Om Elvan, biaya servis motor itu cuma setetes air di lautan," kekeh Gisel. "Yang penting sekarang motor kamu udah beres, dan kamu bisa fokus penuh buat besok lusa: sidang skripsi!"
.
.
Malam harinya, Zahira melangkah masuk ke dalam rumah keluarga Sumargo karena mendapat chat dari papinya untuk pulang ke rumah malam ini.
Setelah mengendarai motor matik merahnya yang kini terasa begitu halus dan bertenaga. Rumah megah itu tampak terang benderang.
Begitu melintasi ruang keluarga, langkah Zahira terhenti.
Di atas sofa kulit, Bianka sedang duduk mengagumi sebuah kunci mobil dengan gantungan logo brand otomotif Eropa yang mewah. Di sebelahnya, Mami Karlina sibuk memoles kuku seraya tersenyum bangga, sementara Papi Damian duduk membaca koran di sudut ruangan.
"Lihat tuh, Mami! Kuncinya aja keren banget! Besok mobilnya langsung dikirim ke rumah, kan?" seru Bianka dengan nada suara sengaja dikencangkan agar terdengar oleh Zahira.
"Pasti dong, Sayang. Papi kan sudah janji tadi pagi pas urus ke dealer," sahut Karlina, lalu melirik dingin ke arah Zahira yang melintas. "Biar kamu enggak perlu malu lagi naik mobil lama atau kepanasan naik motor murahan di jalanan."
Sindiran tajam itu meluncur mulus, namun Zahira memilih tidak memasukkannya ke dalam hati. Ia mengangguk sopan ke arah Papi Damian. "Zahira pulang, Pi."
Damian menurunkan korannya, menatap Zahira dengan raut hangat. "Eh, Zahira. Sudah pulang, Nak? Gimana persiapan sidang skripsimu lusa?"
"Alhamdulillah lancar, Pi. Malam ini Zahira mau pemantapan materi lagi di kamar," jawab Zahira lembut.
"Bagus. Fokus ya, Nak. Papi mendoakan semoga kamu dapat nilai terbaik," tutur Damian tulus.
Raut wajah Bianka seketika berubah muram mendengar perhatian papinya. Rasa panas kembali membakar dadanya. "Halah, baru mau sidang aja heboh banget. Belum tentu lulus cumlaude juga!" cetus Bianka sinis.
"Bianka! Jaga bicaramu pada kakakmu!" tegur Damian tegas dengan nada menekan.
Bianka menghentakkan kakinya kesal, berdiri dari sofa lalu beranjak menuju kamarnya dengan muka bersungut-sungut. Karlina memutar matanya malas, menyusul putrinya tanpa mengucapkan sepatah kata pun.
.
.
Di dalam kamar Bianka yang luas dan mewah, gadis itu melemparkan kunci mobil barunya ke atas kasur dengan penuh kekesalan.
"Mami lihat kan?! Papi itu selalu aja mentingin Si Miskin itu! Mau aku dibelikan mobil seratus biji pun, mata Papi bakal tetap tertuju ke Zahira!" omel Bianka seraya melipat kedua tangannya di dada.
Karlina melangkah masuk, memegang bahu putrinya dan menatapnya tajam. "Sudah, Bianka. Jangan biarkan emosi kamu merusak kebahagiaan kita. Yang penting kamu sudah dapat mobil baru yang kamu mau. Biarkan Zahira sibuk dengan skripsinya."
"Tapi Bianka makin benci sama dia, Mi! Tadi siang temen Bianka cerita, katanya lihat Zahira turun dari SUV mewah di jalan! Anak miskin kaya dia mana mungkin punya kenalan cowok kaya kalau bukan godain pria om-om yang berkelas?!" tuduh Bianka dengan prasangka buruk yang membara.
Mata Karlina menyempit. Sebuah ukiran senyum licik perlahan terbit di bibir berbalut gincu merahnya.
"Oya? Turun dari mobil pria kaya?" gumam Karlina penuh intrik. Ia mengelus rambut Bianka pelan. "Tenang saja, Bianka. Kalau benar Zahira berusaha mendekati pria kaya untuk memperbaiki nasibnya... Mami akan pastikan reputasinya hancur sebelum dia sempat menikmati hasilnya. Kita lihat saja, sejauh mana gadis sok suci itu bisa bertahan saat sidangnya lusa."