Felicya adalah perempuan yang mempunya jiwa yang tenang. Ia memegang prinsip stoik; tidak semua hal harus dilawan, dan tidak semua luka harus dibalas.
Namun prinsip itu diuji ketika ia bertemu seorang laki-laki Machiavellian-cerdas, manipulatif, dan terbiasa memainkan manusia seperti bidak dalam permainan.
Di saat yang sama, Felicya harus berhadapan dengan perselingkuhan suaminya bersama seorang perempuan NPD.
Di antara kebohongan, manipulasi, dan permainan ego, Felicya perlahan menyadari bahwa membalas dengan elegan, bukan berarti jahat. karena mempertahankan boundariesnya dan tidak kehilangan jati dirinya, hanya perbuatan 2 orang yang mempunyai 2 sifat Dark Psichology.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putri Ayu Ningrum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15. Ketika Teror Kembali
Awan berwarna ke abu-abuan. Bintang bertebaran di atas langit. Langit menandakan Gelap bahwa malam sudah muncul.
Felicya masih setia menemani ibunya di samping, ia duduk di kursi samping ibunya.
Felicya menggenggam tangan ibunya dengan lembut agar ada rasa nyaman untuk ibu tercinta.
"Ibun... cepat sembuh yah, biar nanti kita bisa ngobrol lagi. Ibun gak mau kan kita lama-lama disini?" tanyanya.
"Iya neng, ibun gak mau ah lama-lama di sini, ibun gak butuh pakai infus kayak gini neng," sahut ibunya.
Felicya menatap ibunya penuh kasih sayang, Galang yang melihat tatapan ibunya ia merasa hatinya sedikit berbeda.
Ada sebuah getaran yang aneh dihatinya. Namun, ia menyingkirkan rasa itu. Mungkin hanya perasaan galang saja. galang bergumam sendiri dihatinya. "Ini gak mungkin aku jatuh cinta sama Felicyakan? aku baru saja menikah, pacaran pun hanya 2 bulan. Aku harus ingat tujuan awal aku apa," gumamnya menyangkal perasaannya sendiri.
Felicya hanya fokus melihat ibunya, entah dihatinya ia takut akan kehilangan ibunya selamanya. Felicya berbicara lagi pada ibunya.
"Ibun, neng harap ibun panjang umur, neng mau ibun melihat, cucu ibun nanti," ucapnya.
Galang yang mendengarnya kaget. Tadi istrinya bilang ingin mempunyai anak darinya. Galang tidak sengaja menyahut. "Tadi kamu bilang apa sayang, Mas dengar kamu mau punya anak?"
Felicya yang ditanya seperti itu dengan suaminya. Ia menundukan kepalanya sungguh ia malu saat ini, ia pikir suara tidak akan terdengar di telinga Galang.
"Aduh Mas, aku tadi..." ucapnya menggantung.
"Ah tahu aku malu ngomongnya lagi," ucap Felicya semakin menundukan palanya.
Galang yang melihat reaksi istrinya hanya tersenyum menggoda. Ternyata melihat reaksi Felicya menjadi hiburannya lagi, awalnya ia merasa tegang karena sikap Felicya yang acuh dadakan dengannya. "Kamu bersikap atuh seperti tadi, kamu sudah mengacak-ngacak hatiku Felicya," gumamnya. sambil menatap Felicya begitu dalam.
Felicya yang di tatap dalam seperti itu, ia merasa gerogi. "Mas kenapa... Ka, ka. kamu lihat aku kayak begitu? apa aku kelihatan jelek dan kumel yah hari ini? tanya Felicya.
"aku gak melihat dirimu jelek sayang, justru aku melihatmu kagum terus. Entah melihat dirimu yang begitu lembut, hati aku jadi terasa berbeda," ucap Galang jujur.
"Serius Mas? aku gak terlihat jelek? aku soalnya hari ini letih, aku gak kepikiran penampilanku kayak apa sekarang," jawab Felicya.
"Gak hun, aku lihat kamu memang karena kagum, bukan memandangmu jelek," Galang yang mendengar celoteh istrinya hanya tersenyum lebar.
Kadang sikap Felicya yang polos membuatnya akan lupa dengan visi misinya apa.
Ibunya hanya tersenyum melihat Felicya begitu tersipu malu saat di goda oleh anaknya Felicya.
Ibunya sangat berharap mereka berdua akan seperti ini terus, tidak bertengkar seperti siang tadi.
Felicya merasa senang hari ini, entah karena melihat tingkah suaminya yang sangat hangat hari ini dan perhatian juga dengan ibu kandungnya.
Saat mereka sedang asyik dengan candanya, datanglah seorang misterius. orangnya masih sama seperti tadi sore, Namun. Galang belum menyadari datang seorang misterius itu lagi. Orang misterius itu menyamar jadi seorang cleaning service. Lalu ia masuk berpura-pura ingin membersihkan kamar rawat inapnya.
tok tok tok...
"Permisi saya mau bersihkan kamar dulu," ucapnya
"Oh iya silahkan," sahut Galang
Si pria misterius akhirnya mengepel lantai, ia sengaja menatap matanya Galang dengan sinis. Galang yang merasa di tatap dengan sinis, ia merasa heran.
"Kenapa OB ini menatapku sinis, apa dia ingin aku keluar ruangan dulu sama Felicya?" gumamnya. Namun, si pria misterius itu meminta Galang dan Felicya untuk tunggu di luar.
"Pak, ibu maaf tolong diluar dulu saya mau ngepel ruangan ini," ujarnya.
"Eh iya saya sama suami saya keluar," ujar Felicya
Felicya dan Galang akhirnya keluar kamar. Namun, pria misterius itu mengucapkan sesuatu pada ibunya Felicya. "Ibu, kayaknya saya lihat anak ibu yang cowok itu seperti familiar," ucapnya menghasut ibunya Felicya.
"Apa maksudnya Mas OB, memang kamu pernah lihat mantu saya?" tanya ibu Felicya penasaran.
"Iya bu,saya pernah lihat dia lagi di club malam, kebetulan rumah saya samping-sampingan dengan club malam, nah saya kayak pernah lihat mantu ibu." ujarnya masih menghasut. Pria misterius itu tersenyum licik di balik maskernya itu.
"Serius Mas? Mas salah lihat mungkin, ah gak mungkin mantu saya suka main ke club malam. jawabnya.
"Ya, mungkin saya lihat bu. Yasudah saya permisi keluar. Ruangannya sudah bersih yah bu," ujarnya
"Ya, Terimakasih."
Pria misterius itu pun keluar dan sekilas melirik Galang sinis. Galang yang bingung dengan sikap pria misterius itu. Galang memanggilnya.
"Hei Ob, kenapa kamu dari tadi menatap saya? kamu gak suka dengan saya! memang kamu ada masalah apa sama saya?" tanya Galang terpancing emosi suaranya menggema di lorong rumah sakit. Felicya yang mendengar suaminya tiba-tiba menegur pria misterius itu dengan suaranya yang keras. Felicya langsung memeluk suaminya agar tidak marah-marah lagi. "Mas sudah jangan di marahin, mungkin firasat Mas Galang aja, sudah jangan ribut di rumah sakit, ingat Mas bunda lagi sakit di dalam," ucap Felicya pelan sambil memeluk suaminya dari samping. Galang yang melihat istrinya mencoba menenangkannya, lalu ia akhirnya menyuruh pria misterius itu pergi. "Yasudah sana, saya gak jadi marahi kamu." ucap Galang yang nafasnya masih naik turun akibat terbawa emosi. Pria misterius itu pun pergi.
Galang heran dengan ke jadian hari ini banyak sesuatu yang janggal menurutnya.