Panti asuhan "Lentera Kasih" akhirnya menjadi satu-satunya tempat yang bersedia menerimanya. Di sana, di antara keterbatasan dan hidangan seadanya, Kirana tumbuh menjadi gadis yang kuat dan sangat cerdas. Buku-buku tua di perpustakaan panti menjadi teman setianya. Kirana belajar dengan giat, menyerap ilmu pengetahuan dengan ketajaman berpikir yang mengagumkan. Ia tahu, hanya dengan pendidikan ia bisa mengubah takdirnya.
Namun, kecerdasannya saja tidak cukup untuk membayar biaya masuk universitas. Mimpinya untuk berkuliah di jurusan Kedokteran—cita-cita yang terinspirasi dari keinginan menyembuhkan luka dan menyelamatkan nyawa—membentur dinding tebal bernama biaya. Malam ini, dengan sisa-sisa keberanian yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, Kirana memutuskan untuk mendatangi rumah masa kecil ayahnya. Ia tidak meminta warisan atau kemewahan; ia hanya berharap ada sedikit keajaiban dan rasa iba di hati sang nenek agar mau membiayai pendidikannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Langkah Pertama di Ambang Mimpi
Matahari pagi merayap perlahan dari balik ufuk timur, mengikis sisa-sisa dingin dan kebasahan akibat hujan semalam. Di dalam kamar kecilnya, Kirana sudah berdiri rapi di depan cermin retak yang menempel di dinding kayu. Ia mengenakan kemeja putih polos bersih yang disetrika rapi dan celana kain hitam sederhana. Meski pakaiannya sangat bersahaja, raut wajahnya yang jernih dan sorot matanya yang tajam memancarkan keanggunan serta keteguhan yang alami.
Di atas meja belajar kecilnya, tergeletak sebuah amplop cokelat tebal yang berisi dokumen-dokumen penting: berkas pendaftaran universitas, surat keterangan tidak mampu dari kelurahan, serta sertifikat-sertifikat kejuaraan akademik yang berhasil ia raih selama sekolah. Di samping berkas itu, terdapat sebuah dompet kain kecil.
Kirana membuka dompet tersebut dan menghitung lembaran uang kertas di dalamnya. Uang itu adalah sisa tabungan pribadinya—hasil sisihan amplop pemberian dari beberapa dermawan baik hati yang sesekali berkunjung dan membagikan rezeki di Panti Asuhan "Lentera Kasih". Jumlahnya tidak banyak, hanya cukup untuk ongkos transportasi angkutan umum selama beberapa hari dan membeli makan siang yang paling murah. Namun, bagi Kirana, uang yang dikumpulkannya rupiah demi rupiah itu adalah modal paling berharga untuk menjemput impiannya hari ini.
Setelah memasukkan amplop cokelat dan dompetnya ke dalam ransel, Kirana melangkah keluar kamar. Di teras depan, Ibu Ratna sudah menunggunya dengan membawakan kotak bekal berisi nasi goreng sederhana dan sebotol air putih.
"Bawa ini untuk makan siangmu di jalan, Nak," ujar Ibu Ratna lembut sembari menyelipkan kotak bekal itu ke samping ransel Kirana. Tangannya yang keriput mengusap lembut kepala Kirana. "Ibu selalu berdoa untukmu. Ingat, Nak, Tuhan tidak pernah tidur. Usaha dan niat baikmu pasti dibukakan jalan."
"Terima kasih banyak, Ibu," jawab Kirana tulus. Ia mencium tangan Ibu Ratna dengan penuh rasa hormat sebelum akhirnya melangkah keluar dari halaman panti asuhan.
Perjalanan menuju universitas negeri ternama di pusat kota memakan waktu hampir satu jam menggunakan dua kali sambungan angkutan umum. Di sepanjang jalan, Kirana menatap keluar jendela angkot yang penuh sesak. Bayangan penolakan kasar dan tatapan penuh kebencian dari Nenek Helena semalam sempat melintas sekilas di benaknya. Namun, Kirana segera menggelengkan kepala, mengusir jauh-jauh rasa sedih itu. Ia tidak boleh membiarkan masa lalu melumpuhkan langkahnya.
Ketika angkutan umum yang ditumpanginya berhenti di depan gerbang utama kampus, dada Kirana berdegup kencang. Ia turun dan mendongak, menatap megahnya papan nama gedung universitas bertuliskan huruf-huruf emas yang berkilau disiram cahaya matahari pagi. Bangunan-bangunan fakultas yang megah, pepohonan rindang, dan lalu lalang para mahasiswa berjas almamater tampak begitu hidup. Bagi Kirana, tempat ini adalah simbol kebebasan dan pintu gerbang menuju masa depan yang cerah.
Dengan hembusan napas panjang, Kirana mempererat pegangannya pada tali ransel dan melangkah masuk melewati gerbang kampus. Ia menyusuri jalanan setapak yang rindang menuju Gedung Rektorat, tempat bagian administrasi dan kemahasiswaan berada. Langkahnya mantap, tanpa ragu sedikit pun.
Setibanya di bagian pelayanan mahasiswa, Kirana disambut oleh suasana ruangan yang cukup ramai oleh calon mahasiswa lain yang mengurus berkas. Ia mengambil nomor antrean dan duduk tenang di salah satu kursi kayu, menunggu gilirannya dipanggil. Di dalam hatinya, ia terus merapalkan doa, berharap masih ada kuota beasiswa bidikmisi atau bantuan biaya pendidikan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu.
"Nomor antrean empat puluh dua, silakan menuju loket tiga," suara petugas dari pengeras suara memecah lamunannya.
Kirana melihat kertas antrean di tangannya yang tertera angka 42. Ia segera berdiri, merapikan kemejanya, dan melangkah menuju loket dengan senyuman ramah. Malam kemarin mungkin telah merenggut harapannya pada keluarga pertalian darah, namun pagi ini, Kirana siap memperjuangkan takdirnya sendiri di atas kakinya sendiri.