Demi menyelamatkan nyawa ibunya, Aira Kirana terpaksa menerima tawaran nikah kontrak dari Devan Mahendra. CEO dingin yang membutuhkan istri formalitas demi posisinya di Mahendra Group. Bagi Devan, Aira hanyalah transaksi yang bisa dibeli dengan uang.
Namun, Aira menolak tunduk. Di tengah intrik dan hinaan keluarga Mahendra, ia berdiri tegap mempertahankan harga diri dan ketulusannya sebagai perajin tenun.
Saat benih kepedulian Devan mulai tumbuh, bayang-bayang masa lalu bernama Clara kembali hadir, membawa ujian baru bagi hubungan mereka.
Mampukah Devan meruntuhkan egonya demi mempertahankan Aira? Ataukah Aira memilih pergi, membuktikan bahwa ketulusan tak pernah bisa dibeli?
Sebuah kisah tentang harga diri, penyesalan suami, dan kekuatan ketulusan yang meluluhkan hati yang beku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fabdul, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pertemuan yang Membuka Masa Lalu
Siang itu, sebuah mobil berhenti di depan restoran mewah di pusat Jakarta. Clara Wijaya turun dengan penampilan rapi dan elegan. Setelah memastikan barang bawaannya lengkap, ia melangkah memasuki restoran tempat ia berjanji bertemu dengan Siska Mahendra.
Seorang pelayan menyambutnya dan mengantarnya menuju meja di dekat jendela. Dari kejauhan, Clara melihat Siska sedang memeriksa ponsel. Wanita itu segera mengangkat wajah ketika Clara mendekat.
“Clara!”
“Tante Siska.” Clara tersenyum, lalu menyalami Siska sebelum duduk di hadapannya. “Maaf, Tante. Tadi jalanan cukup padat.”
“Tidak apa-apa, Sayang. Tante juga baru sampai beberapa menit yang lalu.”
Siska meraih tangan Clara sebentar, lalu memperhatikan wajah perempuan itu dengan senang hati.
“Sudah lama sekali kita tidak bertemu. Terakhir kali Tante melihatmu, kamu masih sering datang ke rumah.”
Clara tersenyum kecil. “Iya, Tante. Sudah cukup lama.”
“Kamu semakin cantik saja. Tante senang akhirnya kita bisa bertemu lagi.”
“Terima kasih, Tante. Aku juga senang bisa bertemu Tante.”
Seorang pelayan datang membawakan menu. Siska mempersilakan Clara memilih hidangan sebelum memesan makanan untuk dirinya sendiri.
Setelah pelayan pergi, mereka berbincang tentang kabar masing-masing. Clara menceritakan kesibukannya selama berada di Singapura, sementara Siska sesekali menanyakan pekerjaannya.
Dahulu, Clara cukup sering datang ke rumah keluarga Mahendra karena menjalin hubungan serius dengan Devan. Siska bahkan sempat berharap keduanya akan menikah. Namun, harapan itu berakhir ketika Clara meninggalkan Jakarta tanpa memberikan penjelasan kepada keluarga Mahendra. Hubungannya dengan Devan pun kandas, dan beberapa waktu kemudian Clara menikah dengan pria lain.
Hingga kini, Siska tidak pernah mengetahui alasan sebenarnya di balik kepergian Clara.
Setelah makanan tersaji, percakapan mereka beralih pada pekerjaan.
“Aku dengar kamu kembali sebagai perwakilan investor dari Singapura,” ujar Siska.
Clara mengangguk. “Benar, Tante. Aku ditugaskan untuk menangani rencana kerja sama dengan Mahendra Group.”
“Semoga saja kerja samanya berjalan lancar.”
“Tentu. Tante juga berharap begitu.”
Clara melanjutkan makan siangnya. Namun, setelah beberapa saat, Siska meletakkan alat makannya dan menatap perempuan di hadapannya.
“Clara, sebenarnya ada sesuatu yang ingin Tante bicarakan denganmu.”
Clara mengangkat wajah. “Tentang apa, Tante?”
“Tentang Devan.”
Gerakan tangan Clara terhenti sesaat. Ia meletakkan garpunya, lalu menatap Siska dengan tenang.
“Devan? Ada apa dengannya?”
“Kamu pasti sudah mendengar kabar tentang pernikahannya.”
Clara mengangguk pelan. “Aku sudah mendengarnya sebelum kembali ke Jakarta.”
Siska mengembuskan napas pendek.
“Sejujurnya, Tante masih sulit menerima keputusan itu. Dari sekian banyak perempuan, kenapa Devan justru memilih Aira?”
Clara tidak langsung menjawab.
“Memangnya Tante tidak menyukainya?” tanyanya kemudian.
“Tentu saja tidak.” Siska menggeleng. “Aira berasal dari keluarga sederhana. Latar belakangnya sangat berbeda dengan keluarga Mahendra. Tante tidak pernah membayangkan Devan akan menikahi perempuan seperti dia.”
Clara mendengarkan tanpa menyela.
“Namun, pernikahan itu bukan keputusan yang diambil tanpa alasan. Ada tuntutan dalam surat wasiat kakeknya yang harus dipenuhi Devan,” lanjut Siska.
Clara mengernyit tipis. “Tuntutan seperti apa?”
“Devan harus menikah tahun ini jika ingin mengamankan hak warisannya dan mendapatkan posisi penuh sebagai CEO Mahendra Group. Sekarang, dia juga sedang menghadapi persaingan menjelang RUPS.”
Clara terdiam sejenak, mencerna informasi tersebut.
“Jadi, pernikahannya berkaitan dengan posisi Devan di perusahaan?”
“Benar. Tante bisa memahami alasan itu, tetapi tetap tidak mengerti kenapa dia harus memilih Aira.”
Siska mengambil gelasnya dan menyesap minuman sebelum kembali berbicara.
“Ayah perempuan itu meninggalkan banyak masalah. Keluarganya terlilit utang, sementara ibunya sakit keras. Devan bahkan ikut menanggung beban mereka.”
Clara mengangkat wajah.
“Maksud Tante, Devan membantu keluarga Aira?”
“Dia melunasi utang keluarganya dan membiayai pengobatan ibunya.” Siska meletakkan gelasnya.
“Tante tidak tahu apa yang membuatnya mengambil keputusan sejauh itu. Padahal, masih banyak perempuan yang lebih memahami kehidupan keluarga Mahendra.”
Clara terdiam sesaat sebelum mengajukan pertanyaan lain.
“Apakah Devan sendiri pernah menjelaskan alasannya kepada Tante?”
Siska menggeleng.
“Tidak secara terperinci. Dia hanya mengatakan bahwa pernikahan itu merupakan keputusannya sendiri.”
Clara mengangguk kecil. Penjelasan itu memberinya gambaran berbeda tentang keadaan Devan saat ini, tetapi ia tidak mengajukan pertanyaan lebih jauh.
Siska kemudian menatapnya dengan ekspresi lebih lembut.
“Sejujurnya, Tante selalu merasa kamu lebih cocok untuk Devan. Kalian sudah saling mengenal sejak lama, dan kamu memahami lingkungan tempat dia dibesarkan.”
Clara menunduk sebentar sebelum kembali menatap Siska.
“Sayang sekali keadaan tidak berjalan seperti yang kita harapkan, Tante.”
Siska menghela napas pelan.
“Ya, Tante juga tidak bisa mengubah keputusan Devan begitu saja. Sekarang, dia sudah menikah.”
Clara hanya mengangguk. Ia tidak memberikan komentar lebih jauh tentang pernikahan tersebut. Setelah itu, percakapan mereka beralih pada pekerjaan dan beberapa kabar lain yang terlewat selama bertahun-tahun tidak bertemu.
Menjelang akhir makan siang, Siska kembali mengajaknya berkunjung ke kediaman keluarga Mahendra.
“Kalau kamu punya waktu luang, datanglah ke rumah. Tante ingin kita bisa mengobrol lebih lama seperti dulu.”
“Tentu, Tante. Nanti aku kabari kalau jadwalku sudah memungkinkan.”
“Baiklah. Tante senang kamu kembali ke Jakarta.”
Clara tersenyum. “Terima kasih, Tante.”
Mereka menyelesaikan makan siang sebelum berpisah di depan restoran.
Dalam perjalanan pulang, Siska merasa sedikit lebih lega setelah mengungkapkan kekecewaannya. Baginya, Clara tetap perempuan yang lebih cocok untuk Devan. Namun, dengan Devan yang sudah menikah, ia belum tahu bagaimana keadaan akan berkembang.
Sementara itu, Clara duduk diam di dalam mobil yang membawanya kembali ke tempat tinggalnya.
Percakapan dengan Siska memberinya gambaran baru tentang kehidupan Devan. Pernikahan itu ternyata berkaitan dengan surat wasiat, hak warisan, dan persaingan untuk mendapatkan posisi penuh sebagai CEO Mahendra Group. Ia juga baru mengetahui sejauh mana Devan telah membantu keluarga Aira.
Clara mengalihkan pandangannya ke jendela. Kepulangannya ke Jakarta semula berkaitan dengan urusan pekerjaan, tetapi pertemuannya dengan Siska membuka kembali bagian masa lalu yang belum sepenuhnya ia pahami.
Untuk saat ini, Clara memilih tidak memikirkannya lebih jauh.
Bersambung...
semoga aj si Clara gx jdi ulet bulu di tengah2 Aira dan Devan ,,
meski pernikahan mereka di dasari Krn kesepakatan bisnis semata ,,