📍Update 🚥 16 : 16 WIB
Duabelas tahun lalu, Elfiana Putri (Elle) dikhianati oleh taruhan konyol cinta pertamanya, William Adinata (Liam). Kini, takdir membawa mereka kembali dalam sebuah pernikahan pura-pura demi sang Papa.
Di antara luka masa lalu yang belum sembuh dan kebenaran yang perlahan terkuak, bisakah Elle menjaga hatinya agar tidak hancur untuk kedua kalinya?
❣️ I write what I want to write. ❣️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lunes_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
15 - Fake Love
Aku masih terdiam di depan pintu dengan rasa gugup dan takut.
“Elle...” panggil Liam. “Ayo. Kenapa malah diem sih?”
“Aku gugup dan takut,” ucapku.
“Takut apa?”
“Takut Papa kamu nggak akan suka sama aku. Takut Papa kamu akan marah kayak orang tua di sinetron, terus kasih uang ke aku supaya menjauh dari kamu,” ucapku.
Liam tertawa.
“Kamu lucu banget, Elle.”
Aku mengernyitkan dahi.
“Lucu? Bagian mananya? Dan kenapa kamu malah ketawa sih? Aku lagi takut, ini. Seharusnya kamu tenangin aku.”
“Kamu yang overthinking kayak gitu lucu. Kamu kebanyakan nonton sinetron, ya? Astaga...” ucap Liam.
“Ihh... apa-apaan sih?”
Aku pun membalikkan badan.
“Udah lah, aku pulang aja.”
“Eh!” seru Liam sambil memegang tanganku.
Aku menoleh.
“Tadi kan kamu udah setuju mau bantuin aku, Elle. Masa kamu pulang sih?” ucap Liam.
“Ya habis kamu gitu.”
“Ya udah deh, maaf.”
Aku memalingkan wajah.
“Maafin aku, Tuan Putri.”
Aku langsung menoleh dengan kaget.
Panggilan itu.
Setelah sekian lama tidak mendengar panggilan itu, hari ini aku mendengarnya lagi.
Apa Liam...
Tidak!
Aku langsung menggelengkan kepala.
“Kenapa kamu geleng-geleng kepala?” tanya Liam.
“Nggak apa-apa.”
“Ya udah, yuk, masuk.”
“Liam, tapi...”
“Udah, nggak apa-apa. Papaku nggak kayak yang kamu pikirkan, kok. Meskipun beliau pemilik perusahaan besar, beliau nggak pernah membeda-bedakan orang.”
“Tapi itu mungkin sama orang lain. Kalau sama pasangan kamu belum tentu. Pasti beliau maunya kamu sama orang yang setara.”
“Elle, kamu sekarang cuma jadi pacar pura-puraku, lho. Kenapa kekhawatiranmu kayak kamu itu pacar beneranku?”
“Meskipun begitu, aku nggak mau dimarahi atau dihina orang. Aku juga nggak mau gara-gara aku nanti hubungan kamu sama Papa kamu jadi buruk.”
“Kenapa kamu jadi peduli sama aku? Seharusnya biarin aja. Mau hubunganku sama Papa buruk setelah ini atau nggak, ya biarin aja.”
“Kan kamu bilang kamu sekarang cuma punya Papa kamu doang.”
Liam terdiam sejenak.
“Elle...”
“Hm?”
“Ehm... nggak apa-apa. Ya udah, yuk, masuk.”
Liam lalu menarik tanganku masuk ke dalam rumah.
“Pa!”
Gugupku semakin besar saat kakiku menginjak lantai porcelain berwarna krem di rumah itu.
Entah kenapa, semakin jauh aku melangkah masuk, semakin kencang pula jantungku berdetak.
“Pa...” ucap Liam.
Liam menarik tanganku menuju ruang tengah.
Kulihat ruang tengah, ruang makan, dan dapur berada bersebelahan tanpa sekat. Di bagian luar, terdapat kolam renang yang dibatasi oleh pintu kaca dengan bingkai kayu.
Di ruang tengah itu, ada dua pria paruh baya yang sedang duduk di sofa.
“Liam?” ucap salah satu pria yang wajahnya terlihat agak pucat.
Apa itu papanya?
Kami berdua pun mendekat ke arah mereka.
“Pa... kenalin, ini pacarku, Elle,” ucap Liam. “Elle, ini Papa aku. Dan itu Pak Andi, sekretaris Papa.”
Aku mengangguk dan tersenyum.
“Ha... halo, Om. Perkenalkan, saya Elfiana Putri. Panggil saja Elle,” ucapku gugup.
Papa Liam menatapku serius.
Aku langsung menunduk, tetapi beberapa saat kemudian memberanikan diri untuk menatapnya lagi.
“Jadi kamu benar-benar punya pacar, Liam? Papa kira kamu cuma bohong,” ucap Papa Liam.
“Nggak mungkinlah aku bohongin Papa,” ucap Liam.
“Ayo, duduk.”
Aku dan Liam langsung duduk di sofa yang berhadapan dengan mereka.
Aku kembali menunduk. Entah kenapa aku masih belum berani menatap Papa Liam terlalu lama.
“Nama kamu tadi siapa?” tanya Papa Liam.
Dengan sedikit takut, aku mengangkat kepala.
“Elle, Om.”
Papa Liam mengangguk.
“Nak Elle...”
Detak jantungku semakin cepat.
Apa yang akan Papa Liam katakan?
“Kalau Om boleh tahu, apa pekerjaan orang tua kamu?”
Nah, kan!
Pasti Papa Liam ingin tahu latar belakangku.
Mungkin beliau ingin memastikan apakah keluargaku setara dengan keluarga Liam atau tidak.
“Papa... kenapa malah nanya itu?” tanya Liam.
“Papa cuma pengin tahu. Biar Papa tahu bagaimana harus bersikap sama Elle. Kalau dia ternyata anak orang penting di negeri ini, kan Papa harus berhati-hati dalam bersikap.”
“Nggak. Elle bukan dari keluarga kayak gitu,” ucap Liam.
“Betul begitu, Nak Elle?” tanya Papa Liam.
“Betul, Om. Saya dari keluarga biasa. Tidak setara dengan Liam.”
“Elle...” ucap Liam.
“Ayah saya hanya pegawai di kantor catatan sipil di Semarang, sementara ibu saya hanya pembuat kue,” lanjutku.
“Ah... begitu...” ucap Papa Liam.
Hah?
Kenapa reaksi Papa Liam hanya seperti itu?
Aku kira beliau akan terlihat kecewa atau setidaknya menunjukkan perubahan sikap setelah mengetahui latar belakang keluargaku.
Namun, tidak ada apa-apa.
“Lalu kenapa kamu mau pacaran dengan Liam?” tanya Papa Liam.
“Papa...” ucap Liam.
“Ehm... itu...” Aku bingung.
Apa yang harus aku jawab?
Tidak mungkin aku mengatakan kesepakatan antara aku dan Liam tadi.
Lalu tiba-tiba aku teringat dua belas tahun yang lalu, saat aku masih SMA dan masih bersama Liam.
Aku menghela napas sebelum menjawab.
“Saya mau pacaran dengan Liam karena Liam baik dengan saya,” ucapku.
Liam langsung menoleh ke arahku. Wajahnya terlihat terkejut.
“Baik? Baik seperti apa yang kamu maksud?” tanya Papa Liam.
“Liam selalu membantu saya. Dia juga selalu ada untuk saya. Dia menghibur saya saat saya sedih. Dan yang paling penting, dia peduli dengan orang lain,” jawabku.
Papa Liam mengangguk.
“Liam, Papa nggak nyangka kamu bisa bikin seorang gadis suka sama kamu hanya dari apa yang kamu lakukan.”
Liam hanya tersenyum.
“Nak Elle, berarti kamu menyukai Liam hanya karena dia baik? Bukan karena dia kaya dan punya banyak uang?” tanya Papa Liam.
“Iya, Om. Saya memang butuh uang. Semua orang juga butuh uang untuk hidup. Tapi kalau urusan cinta, urusan hati, uang tidak diperlukan. Saya juga tidak butuh uang Liam. Yang saya butuhkan adalah Liam yang selalu ada untuk saya.”
Astaga... apa yang baru saja aku katakan?
Bagaimana bisa aku mengatakan semua itu?
Aku melirik Liam.
Ekspresinya kali ini terlihat jauh lebih terkejut daripada sebelumnya.
Papa Liam mengangguk lalu tersenyum.
“Nak Elle, Om suka sama kamu.”
Eh?
Ini tidak ada marah-marahnya?
Tidak ada uang yang diberikan kepadaku supaya aku menjauh dari Liam?
Kenapa Papa Liam langsung mengatakan kalau beliau menyukaiku?
“Papa...” ucap Liam.
“Liam... Papa restui kalian.”
Hah?
Segampang itu?
“Papa restui kami?” tanya Liam.
“Iya.”
“Makasih, Pa,” ucap Liam.
Papa Liam mengangguk.
“Karena Papa sudah merestui, jadi kapan kalian menikah?”
Hah?
Menikah?
Aku dan Liam saling pandang.
Kenapa tiba-tiba menikah?
Tadi kesepakatanku dan Liam hanya pura-pura menjadi pacarnya. Bukan sampai menikah.
Lalu kenapa sekarang pembicaraannya sudah sampai ke pernikahan?
“Menikah, Om?” tanyaku.
“Iya. Kenapa?”
“Begini, Om... kami berdua memang sudah saling mengenal sejak SMA, tapi baru beberapa waktu lalu kami bertemu lagi, saling suka, lalu memutuskan untuk pacaran. Sebagai teman, kami memang sudah saling mengenal, tapi sebagai pasangan rasanya belum. Kalau tiba-tiba kami menikah sekarang, rasanya terlalu cepat.”
Aku lalu menoleh ke Liam.
“Iya, kan, Liam?”
“Hah? Oh... iya,” jawab Liam.
“Om paham, Nak Elle. Tapi mengenal seseorang saat masih pacaran dan setelah menikah itu berbeda. Meskipun kalian bertahun-tahun pacaran, setelah menikah tetap akan ada hal-hal baru yang kalian ketahui tentang satu sama lain. Jadi untuk apa lama-lama pacaran? Langsung menikah saja.”
Aku terdiam.
“Lagipula, Om tidak tahu berapa lama lagi Om bisa bertahan di dunia ini.”
“Papa! Kenapa Papa ngomong kayak gitu?” ucap Liam.
“Penyakit Papa ini serius, Liam. Kapan pun, kalau Tuhan menghendaki, Tuhan akan memanggil Papa.”
“Nggak! Papa pasti sembuh. Papa nggak akan ke mana-mana,” ucap Liam. Suaranya terdengar antara marah dan sedih.
“Liam...” panggil Papa Liam.
“Aku nggak mau Papa ngomong kayak gitu lagi. Papa harus optimis, dong. Jangan pesimis kayak gitu.”
“Tapi, Liam...”
“Papa udah lihat pacar aku, kan? Udah cukup, kan?”
Liam langsung berdiri.
“Ayo, Elle. Aku antar kamu pulang.”
Eh?
Liam meraih tanganku lalu menariknya hingga aku refleks berdiri.
“Permisi, Om,” ucapku sambil menganggukkan kepala.
Aku bahkan belum sempat mengatakan apa-apa lagi ketika Liam terus menarikku sampai ke garasi.
Beberapa saat kemudian, kami meninggalkan rumahnya.
Dan sepanjang perjalanan, aku masih memikirkan satu hal.
Pernikahan.