Terlahir kembali usai tewas disiksa, Aira bertekad membalas dendam pada Azka dan keluarganya. Ia bangkit merebut tahta, menggagalkan pengkhianatan, dan membuka hati untuk paman Azka, Rizky.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja_Puan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 15: NYONYA RUMAH
Sejak hari pertama Aira secara resmi dipaksa memboyong koper-kopernya masuk ke kediaman utama keluarga cabang Gunawan, tak ada satu pun karpet merah atau ucapan selamat datang yang hangat. Bagi keluarga Azka, Aira hanyalah "sapi perah" berwajah cantik yang terpaksa ditoleransi keberadaannya demi satu tujuan gila: menguras habis harta warisan dan aset peninggalan almarhumah ibunya.
Di rumah megah berarsitektur klasik itu, Aira diperlakukan bagaikan hantu tak kasat mata. Tante Mia, Azka, hingga Siska—adik perempuan Azka yang manja dan bermulut tajam—sengaja memasang tembok keangkuhan yang tebal. Mereka sengaja mengatur meja makan tanpa menyiapkan piring untuknya, mengacuhkan kehadirannya di ruang keluarga, dan melempar tatapan sinis seolah keberadaan Aira hanya mengotori ubin marmer rumah mereka.
Namun, alih-alih merana atau mengurung diri di kamar sambil menangis, Aira justru menikmati setiap incinya. Ia melangkah di dalam rumah itu bagaikan seorang ratu yang sedang sengaja mengamati pergerakan para tikus sebelum menginjak leher mereka satu per satu.
Satu minggu berlalu dalam ketegangan yang tertahan.
Sore itu, suasana ruang tamu utama tampak tenang. Aira sedang duduk bersantai di atas sofa kulit impor dengan posisi menyilangkan kaki yang amat anggun. Jemari lentiknya dengan santai membalik halaman demi halaman majalah busana kelas atas edisi terbatas, sembari sesekali menyesap teh premium yang aromanya memenuhi ruangan.
BAM!
Pintu ganda di depan mendadak didobrak terbuka. Azka melangkah masuk dengan wajah panik yang dibuat-buat, memapah Rani yang berjalan terhuyung-huyung lemas bagaikan wanita tak bertulang. Tante Mia yang sedang duduk di ruang tengah langsung berdiri heboh, menyambut mereka dengan jeritan dramatis.
"Aduh, Rani sayang! Kenapa lagi ini, Mas Azka?!" seru Tante Mia panik, bergegas membantu merangkul Rani dan menuntunnya duduk di sofa panjang—tepat di hadapan tempat Aira duduk.
"Rani kepalanya pusing berat lagi, Ma. Dia makin kurus dan lemas karena terus-terusan memikirkan tekanan batinnya," ujar Azka prihatin, matanya sempat melirik Aira dengan tatapan penuh kening yang menuntut simpati.
Rani menyandarkan kepalanya yang terkulai di dada Azka, merintih pelan seolah ia adalah korban paling menderita di muka bumi.
Siska, yang baru saja turun dari lantai dua sambil mengeringkan kuku, mendadak merasa darahnya mendidih melihat Aira yang masih tetap tenang membalik halaman majalah tanpa menunjukkan riak kepedulian sedikit pun. Bagi Siska, ketenangan Aira adalah sebuah penghinaan terbuka bagi keluarganya.
Siska melangkah lebar menghampiri sofa Aira, berkacak pinggang dengan dada terangkat penuh keangkuhan. "Hei, Aira! Kamu punya mata dan telinga tidak, sih?! Tidak lihat Rani lagi sakit dan pingsan begini?!" bentak Siska kasar, suaranya melengking memenuhi ruangan. "Cepat ke dapur! Ambilkan air minum hangat untuk Rani sekarang!"
Aira bahkan tidak mengalihkan pandangannya dari kertas majalah yang mengilap. Ia membiarkan perintah itu menguap di udara, menganggap suara Siska tak lebih dari dengungan lalat busuk.
Perlakuan dingin dan pengabaian mutlak itu membakar habis sisa kesabaran Siska. Dengan pergerakan kasar dan liar, Siska maju dua langkah lalu merampas majalah dari genggaman jemari Aira secara paksa, lantas melemparnya sembarangan hingga mendarat kotor di atas lantai!
PLAK!
Aira menghentikan gerakannya. Perlahan, sangat perlahan, ia mengangkat wajah cantiknya. Sepasang mata jernih namun pekat milik Aira menatap lurus ke dalam manik mata Siska. Bukannya panik, emosi, atau takut, Aira hanya mendelikkan matanya—sebuah tatapan malas, malas meladeni drama gila keluarga dungu ini, sekaligus sarat akan hinaan mendalam yang meremukkan harga diri Siska.
Tanpa mengeluarkannya sepatah kata pun, Aira bangkit berdiri dari sofa. Dengan gaun santai yang meliuk indah mengikut lengkuk tubuhnya, ia melangkah amat anggun, tenang, dan tanpa beban menuju area dapur bersih.
Siska yang melihat reaksi Aira langsung melipat tangannya di dada, menyunggingkan senyum kemenangan yang amat puas.
"Nah! Dari tadi seperti ini, kan, susah sekali! Dasar tidak punya empati!" cerocos Siska berteriak penuh kesombongan dari arah ruang tamu. "Sudah bagus kamu dibolehkan numpang dan tidur di rumah mewah ini! Benar-benar tidak bermanfaat dan tidak tahu diuntung!"
Tante Mia mengangguk-angguk setuju, sementara Azka mengelus rambut Rani sambil tersenyum culas. Mereka merasa Aira akhirnya mulai bisa diinjak dan dijinakkan di bawah kekuasaan rumah mereka.
Namun, kepuasan konyol itu hanya bertahan kurang dari dua menit.
Aira kembali dari area dapur. Di kedua tangannya yang berkulit mulus, ia tidak membawa segelas air hangat seperti yang diperintahkan. Melainkan, Aira memegang sebuah teko kaca raksasa yang terisi penuh oleh air es yang sangat pekat dengan puluhan batu es besar yang masih terapung-apung di permukaannya.
Aira berjalan mendekat dengan wajah polos tanpa dosa, melangkah tanpa suara di atas karpet tebal. Siska menyilangkan dada dengan kepala terangkat tinggi, siap menyambar gelas minum yang ia sangka akan disodorkan padanya.
Namun, bukannya menyodorkan air untuk diminum...
SBYAARRR!
Tanpa peringatan, tanpa aba-aba, dan tanpa keraguan sedikit pun, Aira membalikkan teko kaca raksasa itu tepat di atas kepala Siska! Air es yang luar biasa dingin beserta bongkahan-bongkahan batu keras langsung menyiram lebam wajah, tatanan rambut, hingga baju mewah Siska sampai basah kuyup seketika!
"AARGHHH! DINGIN! ADUH! AIRA, APA-APAAN KAMU?!" jerit Siska histeris luar biasa, melompat-lompat bagaikan cacing kepanasan karena rasa dingin yang menusuk hingga ke sumsum tulang. Batu-batu es berjatuhan menggetarkan lantai marmer.
Belum sempat keluarga itu mencerna horor yang baru saja terjadi, Aira menyisakan separuh air es beserta batu es di dasar teko. Dengan pergerakan kilat yang teramat presisi, ia mengayunkan sisa teko itu tepat ke arah wajah Rani dan Azka yang sedang menempel mesra!
SBYAARRR!
"KYAAAHHHH!" Rani berteriak melengking tinggi hingga suaranya pecah. Tubuhnya tersentak hebat bagaikan tersengat listrik saat air es yang membekukan dan bongkahan es batu mengguyur riasan tebal, rambut terurai, dan gaun mewahnya tanpa ampun.
Ruang tamu utama seketika berubah menjadi arena kekacauan penuh jeritan histeris dan raungan kaget. Azka melompat berdiri dengan wajah basah kuyup dan lengan jas yang meneteskan air, sementara Tante Mia berteriak-teriak histeris melihat putri dan calon menantu kesayangannya disiram bagaikan kotoran jalanan.
"AIRA! KAMU SUDAH GILA, YA?!" amuk Azka dengan suara membentak yang menggelegar, matanya membelalak merah penuh amarah dan rasa malu.
Aira dengan sangat santai dan anggun meletakkan teko kaca yang sudah kosong melompong itu ke atas meja coffee table. Ia mengibaskan sedikit ujung gaunnya yang terkena cipratan air, lalu mengangkat wajahnya, menatap mereka satu per satu dengan senyuman paling manis namun teramat dingin dan mematikan.
"Bukannya kalian bilang Rani sedang 'kepanasan' dan pusing berat?" bisik Aira sangat tenang, intonasi suaranya sehalus sutra namun tajam bagaikan belati. "Aku hanya berbaik hati membantu mendinginkan kepala kalian semua yang sama-sama gila."
Tanpa menunggu balasan dari mereka yang masih syok, basah kuyup, dan sibuk membasuh air es dari wajah masing-masing, Aira memutar tubuhnya perlahan. Dengan langkah anggun, santai, dan penuh dominasi mutlak, ia berjalan meninggalkan ruang tamu yang kacau balau, menuju kamarnya sendiri tanpa menyisakan sedikit pun rasa takut.