Angkasa adalah CEO sukses yang sudah beristri. Rumah tangganya terlihat sempurna di mata semua orang.
Tapi di balik kesempurnaannya, ia harus berjuang setiap hari.
Dikelilingi oleh perempuan-perempuan yang menyayanginya dengan caranya masing-masing.
Ada yang menyayanginya seperti seorang ibu, ada yang mencintainya dengan gairah, ada yang memujanya dengan ketulusan, dan ada yang menantangnya dengan kebencian yang berubah menjadi cinta.
Godaan datang tanpa diduga. Di kantor, di rumah, bahkan di saat ia paling lengah.
Mampukah Angkasa menjaga rumah tangganya tetap utuh?
Mampukah ia menghalau setiap godaan dan tetap menjadi suami yang setia?
Dan mampukah ia bersabar menunggu... sampai akhirnya ia dipanggil dengan sebutan "AYAH"?
Karena menjadi CEO itu mudah.
Menjadi suami yang setia dan ayah yang dirindukan? Itu pertaruhan sesungguhnya.
Siimak kisah lengkapnya, hanya di Noveltoon.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EmeLBy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 : RANTANG IBU RATNA
Tiga puluh menit lebih Bintang menunggu di rumah. Ia sudah mandi, sudah berdandan, sudah menyiapkan satu setel kemeja kerja untuk Angkasa. Pria itu bilang di grup jam tujuh akan pulang. Sekarang jam setengah delapan, batang hidungnya tidak muncul. Bintang tidak selera sarapan. Ia mengambil paperbag berisi kemeja, celana bahan, dan dasi milik Angkasa. Kalau suaminya tidak mau pulang, maka istrinya yang akan menyusul. Tujuannya jelas: RSUD tempat Damar dirawat. Bintang tidak perlu share lock seperti Ibu Ratna. Ia punya mulut untuk bertanya. Ia hafal betul nama pasien.
Damar.
Parkiran RSUD pagi itu ramai. Bintang berjalan tenang dengan paperbag di tangan kanan dan tas kerja di bahu kiri. Baru saja ia masuk lobi dan hendak bertanya pada resepsionis, punggungnya disenggol keras dari belakang.
Prang!
Suara rantang stainless jatuh. "Huh! Gimana sih kalau jalan nggak lihat-lihat!" Hardikan nyaring itu membuat Bintang hampir terjungkal. Ia menoleh. Napasnya tercekat.
"Ibu?" Mata Bintang membesar. Perempuan yang menabraknya adalah Ratna, mertuanya sendiri.
"Bintang! Kamu itu kenapa jalan berhenti tiba-tiba! Lihat tuh sup buat Damar jadi tumpah semua!" Ratna menunjuk lantai. Kuah sop menggenang, daging, kentang, wortel berceceran dari rantang yang terbuka.
Padahal bukan salah Bintang. Bu Ratna berjalan sambil menatap ponsel, sibuk mencari share lock yang dikirim Bumi. Sementara Bintang memang melambat karena ingin bertanya pada petugas lobi.
"Hah? Bintang nggak tahu ada Ibu di belakang," jawab Bintang, kaget.
"Makanya kalau jalan itu lihat-lihat! Habis sudah menu sarapan untuk cucuku, Damar," umpat Ratna dengan suara yang sengaja dikeraskan.
Beberapa pengunjung mulai menoleh.
"Bu, Bintang nggak sengaja. Mata Bintang itu di depan, nggak di belakang." Kalimat itu meluncur tenang dari bibir Bintang.
Tidak meninggi, tapi jelas. Bukan tipe menantu yang suka ditindas.
Keributan kecil itu mengundang satpam.
"Maaf, permisi ibu-ibu. Tolong jangan membuat keributan di sini dan tolong kebersihannya dijaga," tegur satpam dengan sopan. Bintang langsung malu. Banyak pasang mata melihat mereka.
"Oh... iya maaf, Pak. Kami akan tanggung jawab. Permisi, boleh panggil OB atau CS?" Bintang merespon dengan sopan, jauh berbeda dengan Ratna yang hanya melengos.
Tak lama petugas kebersihan datang dengan kain pel. Tanpa banyak bicara, Bintang membuka tas, mengambil selembar uang seratus ribu dan menyelipkannya ke saku celemek petugas kebersihan perempuan bermasker itu.
"Permisi," ucap Bintang pelan.
"Maaf Bu, tidak boleh, kami tidak boleh terima ini," tolak perempuan itu hendak mengembalikan.
"Tolong, terima. Maaf sudah merepotkan. Pak, buat ngopi juga," Bintang memaksa, bahkan memberikan lembaran yang sama untuk satpam yang menegur mereka tadi.
Bu Ratna mendengus melihat itu. Tanpa kata maaf atau terima kasih pada Bintang, satpam, maupun OB, ia berjalan pergi meninggalkan noda rawon yang sudah dibersihkan.
"Rezeki tidak boleh ditolak," tegas Bintang pada dua orang itu, pertanda ia sungguh tidak akan menarik kembali pemberiannya. Dibalas anggukan hormat dari keduanya.
Baru saja Bintang hendak mengatur napas, suara yang sangat ia kenal memanggil."
Tang..." Angkasa. Tergopoh-gopoh dengan wajah kusut. Ternyata dia memang mau pulang ke rumah, tapi malah bertemu istrinya di lobi bawah.
Bintang menatapnya datar. "Jadi pulang, Sa?"
"Kan aku sudah bilang pulang di grup," jawab Angkasa.
"Iya, tapi itu sudah satu jam yang lalu. Tiga puluh menit lagi kamu ada meeting bidang di kantor." Nada Bintang tetap profesional. Istri merangkap sekretaris yang sangat bisa diandalkan, bahkan saat hatinya diremuk.
"Makanya ini aku mau pulang."
"Gak akan keburu kalau pakai acara pulang dulu, Sa. Mandi di sini saja. Aku sudah bawakan baju kerjamu." Bintang menyodorkan paperbag itu. Angkasa menerimanya dengan mata berbinar, seolah istrinya adalah pahlawan.
"Makasih, Tang." Ia tidak sadar, sesungguhnya Bintang sedang menahan geram.
Geram karena harus mengantar baju untuk suami yang semalaman menjaga anak dari perempuan lain.
"Aku naik dulu, ayo jenguk Damar," ajak Angkasa tanpa rasa bersalah.
Ia merangkul bahu Bintang. Angkasa memang physical touch. Selalu terlihat manis dengan pasangannya, padahal itu yang membuat Bintang semakin sakit. Keduanya sudah berada di depan pintu kamar VIP. Tubuh Bintang sedikit di belakang Angkasa.
Begitu pintu dibuka, Angkasa maju satu langkah sehingga kehadirannya langsung terlihat oleh penghuni kamar.
"Ayaaah!" Teriakan riang suara anak laki-laki kecil dari dalam kamar itu begitu nyaring.
Bintang sangat mendengar panggilan itu dengan jelas. Ia belum tuli.
Damar, bocah tiga tahun dengan perban di tangan agar Infusnya gak gerak, mengangkat dua tanganya minta di gendong oleh Angkasa lagi.
Di belakangnya, Bumi tersenyum.
"Damar..." balas Angkasa tak kalah riang. Ia hampir melangkah menuju Damar akan menangkap tubuh kecil itu. Pemandangan itu seperti keluarga kecil yang sempurna.
Ayah, ibu, dan anak.
Lalu siapa Bintang?
Bintang mematung sepersekian detik.
Rantang Ibu Ratna yang tumpah tadi masih terngiang.
Sekarang panggilan "Ayah" itu.
Salahkah Bintang cemburu?
"Aku tunggu di mobil saja," ucap Bintang akhirnya. Suaranya pelan, tapi cukup untuk membuat Angkasa menoleh.
Tanpa peduli panggilan "Tang, tunggu!" dari Angkasa, Bintang langsung balik kanan.
Langkahnya tegap, tidak berlari, tidak menangis. Ia tidak akan memberi tontonan gratis lagi seperti di lobi tadi.
Damar memang anak kecil yang belum mengerti apa-apa. Tapi Bintang adalah perempuan yang mengerti semuanya. Dan kadang, mengerti semuanya jauh lebih menyakitkan daripada tidak tahu apa-apa.
Bersambung...
bagus Tang......biarkan angkasa merasakan kesendiriaannya tanpa bintang......masihkah Bintang diperlukan atau semakin bebas dengan para wanitanya......
siapa tahu.....mah kamu awal kehamilan.....bulan depan ga datang tuh tamu bulanan mu......