Lusia Irene seorang dokter yang sedang sekolah spesialis onkologi di salah satu rumah sakit polisi. Karena dokter pembinanya adalah seorang polisi. Di usianya yang sudah dua puluh tujuh tahun Lusia belum perna membuka hatinya buat hadirnya seorang laki - laki. Karena traumanya atas rumah tangga orangtuanya yang berpisah karena adanya orang ketiga. Papanya berselingkuh di usianya sudah enam belas tahun. Apakah Lusia Irene bisa merasakan cinta hadir di kehidupannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wisye Titiheru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Melamar
Hampir jam tiga subuh, Gio dan kekasihnya tiba di apartemen mewah milik Gio. Banyak hal yang mau Lusi tanyakan kepada Gio, namun tubuh dan pikirannya tidak lagi singkron. Tubuh ini terasa begitu lelah, ingin rasanya mau di baringkan pada tempat tidur. Lusi hanya mengikuti langkah kekasihnya yang mengandeng tangannya.
Akhirnya mereka tiba di apartemen mewah punya Gio Abraham. Biasanya selesai misi begini, Gio dan timnya akan diberi waktu libur satu minggu. Banyak hal yang terpikir di otak Gio tentang hubungannya dengan Lusi arahnya mau kemana.
"Sayang mandi duluan. Mau makan tidak."
"Mas aku ngantuk."
"Iya mandi dulu baru tidur." Bukannya mandi, Lusi malah tertidur dengan baju kotornya. Hanya dua menit Gio ke ruang kerjanya melihat pesanan yang dia minta Dion siapkan sebelum dia kembali dari daerah konflik di papua. Ketika kembali dia menjumpai Lusia Irene kekasihnya sudah tertidur nyenyak. Langsung di tidurkan baik - baik tubuh kekasihnya itu.
"Dasar cewek jorok. Untung sudah sayang. Untung sudah sangat cinta."
Gio mencium kekasihnya dan langsung ke kamar mandi. Selesai mandi, dengan hanya menggunakan pakaian dalam dia tidur di samping kekasihnya itu.
"Walaupun jorok, tubuh ini yang mas kangen." Maka dipeluk tubuh kekasihnya dan Gio pun tertidur nyenyak sambil memeluk kekasihnya.
Pukul enam lewat tiga puluh pagi, Gio merasakan ada pergerakan kecil, ketika di muka matanya dia melihat kelasihnya sudah mulai sadar. Namun Gio sengaja mengeratkan pelukannya. Bahkan dia sengaja menaruh salah satu tangan kekasihnya ke dalam celananya.
Begitu Lusi bangun, dia sangat kaget, karena salah satu tangannya ada di dalam celana Gio Abraham. Lusi berteriak, berusaha mau menarik tangannya keluar namun Gio menjepit tangan itu dengan kedua kakinya agar tidak keluar.
"Biarkan saja disitu."
"Mas, maafkan adek. Ngak mungkin ade tidur tangannya kemana - mana."
"Tetapi kenyataannya ada di tempat sensitif mas."
"Mas itu pasti bukan ade. Pasti ada setan. Kan dua orang bukan pasangan suami istri sekamar, setempat tidur pasti ada setan di antara dua orang itu."
"Berarti setannya pro ke mas. Dia tahu kalau mas suka sekali. Junior mas di pegang."
"Ini pasti akal - akalan mas deh. Atau jangan - jangan mas yang sengaja masukan tangan adek. Ayo jujur mas."
"Iya mas hanya kasih masuk. Tetapi yang mengelus dan memegang itu naluri kamu sayang."
"Dasar naluri bodoh. Malu - maluin aku saja." Gio tertawa.
"Gimana sudah bisa membayangkan juniornya mas pas tidak."
Lusi langsung memukul Gio kekasihnya. Dia sudah dibuat malu. Dan raut wajahnya sudah memerah. Gio membawa tubuh kekasihnya tepat berada di atas tubuhnya.
"Mas adek belum mandi loh."
"Iya dasar perempuan jorok. Untung mas sudah cinta."
"Kenapa menyesal."
"Tidak." Gio langsung berdiri dan mengendong kekasihnya dan dibawa ke kamar mandi. Semua peŕalatan mandi sudah lengkap bahkan shampo sampai sabun cuci muka buat mukanya Lusi sudah lengkap. Sementara Lusi mandi Gio cuci muka dan sikat gigi, langsung dia ke dapur membuat sarapan buat mereka berdua.
Lusi begitu kaget, karena semua perlengkapan kecantikan kekasihnya ada di kamar mandi ini. Setelah keringkan rambut dan memberi vitamin rambut. Lusi mencari baju santainya dan dia rapikan kasur serta kamar kekasihnya. Ternyata Gio sudah menata bajunya Lusi di dalam lemari yang sebelah berisi bajinya dan sebelah lagi baju Lusi kekasihnya.
Dapur sangat harum, aroma kopi, roti bakar sampai nasi goreng see food sudah tertera di atas meja makan.
"Mau minum jus langsung atau air putih sayang."
"Air putih dulu sayang." Gio langsung mencium bibir kekasihnya.
"I love you." Gio sudah berlutut di depan kekasihnya hanya menggunakan celana dalaman. Dan mau melamar Lusi kekasihnya.
"Sayang maukah kamu menikah denganku." Cincin berlian kesukaan Lusi sudah terlihat. Mata Lusi berbinar, melihat perjuangan Gio, setelah sebulan yang lalu, dia pergi meninggalkan kekasihnya di kamar hotel, namun takdir mempertemukan mereka kembali di daerah konflik.
"Lusia Irene maukah kamu menikah denganku."
"Ade mau mas." secara spontan kata - kata itu keluar dari mulut dokter Lusia Irene. Padahal sebenarnya Lusi masih trauma dia takut nasib pernikahannya akan sama seperti mamanya.
Gio langsung memasangkan cicin di jari manis Lusi, dicium kekasihnya dan di peluk.
"I love you."
"I love you too."
"Orangtua mas akan ke papua, melamar kamu disana. Dalam waktu dekat. "
"Mas tidak marah adek, sebulan lalu adek pergi tinggali mas seorang diri di hotel."
"Kalau saja mas tahu, kamu akan pergi meninggalkan mas, malam itu mas tidak beli baju." Gio menceritakan keadaannya kepada Lusi. Karena merasa bersalah dan kasihan Lusi langsung memeluk kekasihnya.
"Mohon maaf sayang."
"Mas tidak bisa memarahi kamu sayang. Mas yakin jika jodoh kita pasti bertemu. Dan doa mas, nyatakan ditempat konflik kita bertemu."
Satu hari ini, Gio dan Lusi habiskan waktu bersama. Karena stok bahan makanan aman serta buah - buahan bahkan susu. Maka Gio dan Lusi sangat betah di apartemen ini.
Lusi sudah menghubungi mamanya tentang keadaannya. Mamanya bersyukur karena anak satu - satunya sudah ada di Jakarta.
"Kenapa kamu ngak hubungi papa kamu sendiri sayang."
"Papa memilih wanita pelakor itu dari pada mama dan saya. Terus terang sampai sekarang saya sangat membenci papa." Gio langsung memeluk kekasihnya sangat erat.
"Mohon maaf sayang. Maafkan mas mu ini sayang."
"Sudah lama sayang."
"Dari aku kelas sepuluh."
"Hal itu yang membuat kamu tidak mau dekat dengan cowok siapapun." Lusi mengangguk kan kepalanya. Gio kembali membawa tubuh Lusi kedalam pelukannya.
"Mas tidak akan menyakitkan kamu sayang. Cinta mas hanya buat kamu."
Kak Rahel tahu, Lusi ada di apartemen Gio, hari ini dia sengaja ke apartemen adeknya untuk memberi undangan makan malam keluarga karena Kellen Lemo ulang tahun. Bel apartemen Gio berbunyi.
"Kenapa harus Dion kesini."
"Dion itu siapanya mas."
"Dion itu asisten mas, sayang. Kan di Adiguna Grup mas punya jabatan COO."
"Wah mas ini bos juga ya."
"Kerjaan mas disana banyak di bantu oleh Dion, sedangkan mas sibuk dengan tugas negara."
Ternyata yang bertamu di apartemen Gio adalah kakak perempuan satu - satunya.
"Mana Lusi." Gio hanya melihat kakaknya.
"Kak, tahu dari mana aku di apartemen ini."
"Kamu lupa aku siapa?" Gio tersenyum. Sedangkan kakaknya sudah mencari keberadaan Lusi yang sedang masak buat makan siang.
"Kak, makan siang bareng saja."
"Oke." Gio hanya mengelengkan kepalanya. Melihat kakaknya yang tidak bisa mengerti keadaan adeknya.
"Kak, ngapain ke sini ya."
"Kak, bawa undangan sekalian mengingatkan Kellen ulang tahun. Kakak hanya undang makan malam."
Selesai makan, Rahel kakaknya Gio pun pulang dan dia mengingatkan adiknya agar tidak lupa acara keluarga malam nanti.
"Nikah lah kalian berdua. Jangan dikurung saja anak perempuan orang."