NovelToon NovelToon
Hasrat Cinta Sang Pendosa

Hasrat Cinta Sang Pendosa

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:821
Nilai: 5
Nama Author: A_ntalus

"Halo! Makasih udah mampir ke [Hasrat Cinta Sang Pendosa]. Update tiap Hari. Jangan lupa save dan ramaikan kolom komentar ya. Happy reading!"

_________________

Berstatus sebagai istri kontrak dari Oscar—sang penguasa malam yang bengis—seharusnya membuat Anisa aman dari masa lalu.


Namun, An Liu Li datang membawa obsesi buta yang menjungkirbalikkan segalanya.Niat hati ingin menjauh dari konflik, Anisa justru terseret dalam permainan ego dua pria berkuasa yang menolak melepas kepemilikan mereka atas dirinya.


Terjebak dalam pusaran kegilaan ini, siapakah yang akan memenangkan hati Anisa?An Liu Li yang mengejarnya dengan cinta pertama yang destruktif, atau Oscar yang mulai luluh oleh kehadiran sang istri sewaan?

꧁ঔৣ☬HCSP☬ঔৣ꧂

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A_ntalus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

꧁ঔৣ [Chapter 15] ঔৣ꧂

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

Hari ketiga seharusnya berjalan biasa. Oscar menghabiskan paginya memotong anggaran proyek dan memimpin evaluasi kuartal.

Namun saat malam tiba, ia tidak berada di ruang rapat mewah, melainkan di dalam gudang tua yang lembap di area pelabuhan Tanjung, dikelilingi belasan pria berbadan tegap yang memegang senjata laras panjang.

Di tengah ruangan, seorang pria paruh baya terikat di kursi besi dengan wajah babak belur. Reksa, kepala logistik kepercayaan Oscar yang berkhianat dan menjual rute pengiriman senjata.

Oscar mengitari kursi Reksa dengan langkah santai namun mematikan. Ekspresinya yang terlalu tenang dan datar justru membuat atmosfer begitu mencekam.

"T-Tuan Oscar! Maafkan saya~" cicit Reksa.

"Tolong... saya terpaksa. Mereka menyandera keluarga saya," ratap Reksa dengan suara parau dan bibir berdarah.

Oscar berhenti tepat di depan Reksa. Ia melepas jam Rolex-nya, menyerahkannya pada Dante, lalu menggulung kemeja putihnya hingga sebatas siku.

"Kau tahu, Reksa? Di dunia bisnis legal, jika seseorang melanggar kontrak, saya hanya perlu menyita asetnya dan membiarkannya bangkrut," suara Oscar terdengar berat dan dingin. "Tapi di dunia ini... aturannya sedikit berbeda."

BRAK!

Punggung tangan Oscar menghantam rahang Reksa hingga kursi besinya terjungkal. Reksa terbatuk memuntahkan darah dan giginya yang tanggal.

Oscar mencengkeram kerah baju Reksa, menyeret tubuh pria itu beserta kursinya agar kembali tegak. Ia merunduk, menatap mata Reksa yang dipenuhi teror.

"Keluargamu disandera, katamu?" Oscar tersenyum tipis. "Mari kita uji analisismu. Menurutmu, mengapa geng rival berani menyandera keluargamu? Karena mereka tahu kau adalah anjing yang lemah. Dan anjing yang lemah... tidak punya tempat di bawah kaki saya."

Oscar menyalakan sebatang rokok, mengembuskan asapnya ke wajah Reksa, lalu menjentikkan abunya ke paha Reksa yang terluka.

"ARGHHH!" jerit Reksa tertahan.

"Aku memberi waktu satu menit," tegas Oscar. "Sebutkan kemana barang itu kau kirimkan?, atau aku akan memastikan keluargamu yang disandera itu... justru memohon untuk mati di tangan mereka daripada di tangan orang-orangku."

"G-Gilbert! Gilbert yang menghubungi saya, Tuan! Dia... dia menjanjikan wilayah barat jika saya memberikan rute malam itu!" jerit Reksa ketakutan, mentalnya runtuh total.

PLAK!!

"Ahhh!"

"Kamu pikir aku akan percaya begitu saja?,jangan berani-berani nya membuang waktu untuk berbohong!. Penghianat!"

BRAK!

Tendangan kencang Oscar membuat Reksa terhempas kuat di atas beton kasar.

Oscar menegakkan tubuhnya dan menyeka noda darah di jemarinya dengan saputangan. Tiba-tiba, ponsel di saku celananya bergetar pendek. Ia merogohnya dengan terburu-buru dan menyalakan layar.

> Operator: Selamat, Anda mendapatkan poin bonus penukaran.

Detik itu juga, sisa kesabaran Oscar menguap. Frustrasi karena tiga hari diabaikan oleh Anisa berbaur dengan amarah atas pengkhianatan malam ini. Matanya berkilat kejam.

Ia melempar ponselnya ke saku, lalu mengibaskan tangan pelan pada Dante.

"Dia sudah tidak berguna. Selesaikan."

"Baik, Don."

DOR!

Satu tembakan peredam dari pistol Dante mengakhiri hidup Reksa. Oscar melangkah lebar keluar gudang menuju mobil SUV hitam yang sudah menunggu.

"Dante, siapkan jet sekarang juga," perintah Oscar serak menahan amarah saat masuk ke mobil. "Urus pembersihan gudang ini. Saya harus kembali ke negara seberang detik ini juga. Saya tidak mau tahu, pastikan roda jet sudah terangkat dari landasan dalam tiga puluh menit!"

"Baik, Tuan. Semuanya akan siap," jawab Dante sigap.

Dua jam kemudian, mobil SUV mengerem tajam di depan lobi mansion mewah milik Oscar. Ia keluar dengan langkah besar dan membuka pintu kamar utama tanpa mengetuk.

Di ruang tamu yang temaram, Anisa yang sedang duduk memegang buku terkejut hingga berdiri. Gaun gamis satinnya melambai lembut.

"Mas Oscar?... Bukannya besok pagi baru pulang?" tanya Anisa heran.

Oscar memutar kunci pintu dari dalam—KLAK—lalu melangkah maju penuh dominasi.

"Mas Oscar~, ada apa? Kamu terlihat—"

Sebelum kalimat itu rampung, Oscar merengkuh pinggang Anisa, menarik tubuh bercadar itu hingga menempel erat di dadanya. Bau harum Anisa seketika menyapu aroma darah dan amunisi dari ingatan Oscar. Ia membenamkan wajahnya di ceruk leher Anisa dan meremas pinggangnya kuat-kuat.

"Mas... kamu kenapa? Sakit?" bisik Anisa lembut sambil mengusap punggung tegap suaminya.

"Tiga hari, Anisa," bisik Oscar serak di lehernya, arogansinya runtuh. "Tiga hari kamu tidak mengirim pesan. Kamu tidak mencari ku. Kamu benar-benar berniat membuatku pgila, hah?"

Anisa terpaku. Sebelum sempat bersuara, Oscar mendongak menatapnya penuh rasa lapar... sampai pandangannya sengaja melirik ke arah sofa panjang di sudut ruangan.

Di sana, Wilgard dan Hans sedang duduk santai berdampingan.

Deg.

Oscar langsung melepas pelukannya dari Anisa dengan canggung, berusaha menguasai diri.

"...Ak-aku tidak berniat memeluknya, sebenarnya aku hanya ingin menatapnya saja," kata Oscar datar membela diri, walau garis lehernya menegang.

Hans terkekeh pelan. "Oh benarkah? Dengan tatapan manis itu?" godanya meledak-ledak.

Wilgard menyeringai lebar menatap telinga kakaknya yang memerah.

"Hey! Kaka Ed... lihat tatapan seorang suami yang amat sangat rindu kepada My istri-nya itu," cibir Wil dengan suara dilembutkan.

Rahang Oscar bergetar menahan malu. Tatapannya beralih ke sofa tunggal, tempat kakak tertuanya, Edward, duduk meluruskan kaki sambil memegang remote TV.

Edward melirik sekilas tanpa minat hanya sepersekian detik Pria itu melihat adiknya.

"heum...Tatapannya lebih seperti mengemis bagiku," ucapnya dingin sebelum kembali menatap layar TV yang menampilkan serial SpongeBob.

Anisa menggelengkan kepala melihat tingkah mereka. "Mas Oscar?" Anisa meraih genggaman tangan suaminya. "Mas, saya minta maaf. Sebenarnya ponsel saya sempat terjatuh di pameran seni kemarin dan sampai sekarang masih diperbaiki... Saya bukannya tidak mau menghubungi Mas, sebenarnya saya sudah sering menanyakan kabar Mas lewat ponsel Kakak Edward."

PRANG!

Sensasi dingin menusuk dada Oscar. Ia berbalik menatap Edward yang sedang santai mengunyah keripik.

"Kakak!" bentak Oscar dengan rahang mengeras. "Jelaskan kenapa Kakak tidak menghubungi aku selama ini?!"

Edward menghentikan kunyahannya sejenak dan menoleh malas. "Ada 2 jawaban, Sayangku. Pertama, kamu tidak bertanya. Kedua, aku tidak peduli... dan yang terakhir, maaf, aku terlalu sibuk bernapas."

"itu jelas 3!"

"seriously Oscar?"

"Bwahaha!" tawa Hans dan Wilgard pecah seketika. Bahkan Anisa tak sanggup menahan kekehan kecil di balik cadarnya.

Edward menegakkan duduknya dan mengibaskan tangan. "Anisa, buatkan Kakak kopi. Tanpa gula."

"Ah! Iya, baik Kak, akan saya buatkan," jawab Anisa patuh lalu melangkah ke dapur.

Begitu Anisa menghilang, Oscar melangkah cepat mendekati sofa Edward dengan napas memburu.

"Kenapa Kakak sedemikian jahat terhadap adik sendiri, hah?!" bisik Oscar penuh emosi.

Edward meletakkan bungkus keripiknya dan menghela napas panjang. Raut wajahnya berubah serius dalam hitungan detik.

"Ayolah, Oscar. Dia hanyalah seorang wanita. Setidaknya berterimakasih lah padaku," cetus Edward lelah. "Lagi pula, seandainya aku tidak datang saat itu, mungkin kamu sendiri tidak akan melihat Anisa-mu itu lagi-."

Langkah Oscar terhenti total, auranya mendadak berubah mencekam. "Apa yang sebenarnya terjadi saat aku pergi?" tanya Oscar tajam.

Edward menyapu sisa minyak di jarinya dengan tisu, karena baru saja selesai melumat banyaknya cemilan kering, lalu mendongak menatap adiknya lurus-lurus.

"Salah mu sendiri padahal sudah aku peringatkan untuk menyelesaikan pria bernama An Liu Li itu, kan?"

...An Liu Li?...

...⊹₊˚‧︵‿₊୨ᰔ୧₊‿︵‧˚₊⊹...

...****************...

1
A_ntalus
wah sebelumnya makasih udah mampir kak...aku sengaja menyimpan Plot wist di antara Plot wist 🤣💪
falea sezi
😒 ed kok jahat sih ma adek ipar
falea sezi
kok Edward dingin tp erhhhhhh sukak🤣🤣
falea sezi
adeknya beristri dua kah🤣
falea sezi
katanya ngrti agama bercadar🤣 tp pacaran katanya bercadar tp suami liat muka aja gk boleh🤣🤣 perbaiki agama dlu deh baru pake cadar jangan jangan cadar buat gaya doank ya biar keliatan alim🤭
falea sezi
nyimak
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!