azalea menangis di sisi tubuh naima yang terbujur, kematian kakaknya menyisakan duka yang teramat dalam. matanya menatap nanar bayi merah di pangkuan kiano abang iparnya yang juga menangis tanpa suara.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ewie_srt, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lima belas
"ibuuu" tegur azalea menggelengkan kepalanya, ia meminta ibunya tidak melanjutkan ucapannya lagi. Tidak enak hati melihat wajah kiano berubah datar.
"mbak na dan aza memang berbeda, mbak na punya banyak kelebihan yang za nggak punya"
Wanita tua itu, buk danila melengos. Tidak suka mendengar ucapan anak bungsunya itu, ia tahu azalea memang sangat menyayangi naima. Namun sebagai orangtua dia juga tak bisa hanya menutup mata, naima memang cerdas, pintar, tapi buk danila tahu kalau naima bukanlah tipe wanita ideal untuk jadi ibu rumah tangga.
Wanita tua itu melirik kiano, sesaat tadi wajah menantunya itu berubah. Namun buk danila tidak tahu, apakah karena tersinggung atau setuju.
Azalea tak enak hati, merasakan atmosfer meja makan berubah sedikit hening. Mata indahnya melirik kiano yang menekuri makan siangnya.
"mas tambah lagi?"
Kiano mengangkat kepalanya, menggeleng dengan senyuman tipis. Ucapan ibu mertuanya tadi sedikit mengganggunya, benar walau kiano sangat mencintai naima, ia tidak menyangkal ucapan buk danila sedikitpun.
Selama usia pernikahan mereka 2 tahun, kiano memang tidak pernah dilayani seperti sekarang.
Saat bersama naima, mereka hidup seperti teman serumah. Naima tidak pernah memasak, mencuci dan tugas rumah lainnya.
Kiano memahami itu, naima adalah aktifis yqng selalu menggaungkan feminimisme, kesejajaran. Kiano juga tidak pernah keberatan, baginya naima segalanya, pemikiran naima juga meresap dalam di hidupnya.
Namun saat bu danila mengungkit kembali, kiano menyadari betapa memang azalea dan naima sangat berbeda.
Bagi naima, kiano hanyalah partner hidup yang kebetulan saling jatuh cinta. Walau penampilan naima sangat feminim berbeda dengan azalea, sepertinya kepribadian mereka memang tertukar.
Azalea dengan rambut bondol, celana levis sobek-sobeknya dipadu kaus oblong kedodoran, sangat tidak menyangka kalau gadis itu sangat menguasai semua pekerjaan rumah.
Awalnya kiano kaget juga, saat azalea bersikeras mengambil alih beberapa tugas rumah dari art mereka, kiano sempat berpikir kalau azalea hanya berpura-pura.
Namun sudah 7 bulan azalea melakukan semuanya, dan sangat jelas terlihat kalau azalea tidak terpaksa atau berpura-pura.
Kiano juga tidak mau menyangkal kalau ia mengagumi azalea, namun tetap saja saat ibu mertuanya mengingatkan lagi, tidak benci sih, hanya kiano tidak menyukainya, karena hanya akan mengingatkan betapa ia sangat merindukan naima.
"maafin ucapan ibu, kian" ujar pak umar, memecah keheningan, kiano tersentak kaget. Ia hanya menggeleng dan tersenyum.
"kamu pasti keinget naima lagi yah?"
Kiano, lagi-lagi tak menjawab. Hanya senyum tipis dengan sorot mata sendu yang menjawab.
Azalea meletakkan segelas air putih di samping piring kiano, duduk di sisi pria itu tanpa berkomentar apapun. Azalea menyuapi makannya dengan anggun dan tenang, gadis itu memang sangat spesial, dia sama sekali tidak terpengaruh, walau sejujurnya hatinya tidak tenang, namun ia tak ingin menunjukkan pada kedua orangtuanya dan juga pada kiano.
"bapak nggak tambah?" azalea melirik ayahnya yang sudah membasuh tangan. Pria tua itu menggeleng tipis.
"bapak mau salat zuhur, nduk"
Pria tua itu tetap tidak beranjak, karena azalea dan kiano belum selesai makan. Sementara bu danila baru membasuh tangan, sepertinya wanita paruh baya itu juga sudah menyelesaikan santapannya.
"ayo pak kita salat"
Buk danila berdiri duluan, sepertinya wanita itu malu mungkin, tanpa melirik ke arah menantunya, buk danila pergi begitu saja.
"nggak usah masukkin ke hati omongan ibu tadi mas, ibu cuman kangen ke mbak naima"
Kiano yang sudah berdiri, mengangguk lembut. "aku tahu za, lagian yang ibu bilang tadi benar kok"
Azalea yang merapikan sisa makanan ke dalam lemari, menoleh sekilas. Raut wajahnya terlihat heran.
Kiano yang sudah berdiri di depan wastafel, sembari menyabuni piring-piring kotor, pria itu menatap air yang mengalir dengan tatapan kosong.
"aku cuman kangen naima"
Azalea mengangguk tipis, ia sangat tahu kalau pria itu merindukan naima. Malam itu, malam saat pria itu mabuk dan menciumnya pun yang terucap dari bibirnya adalah nama naima.
"mas kian" panggil azalea lembut, menepuk lengan pria itu yang tersentak kaget.
"aku paham kok, mas sangat merindukan mbak na, jangan masukkan ke hati ucapan ibu tadi"
Kiano menggeleng pelan, sembari mengusap tangannya di celana, pria itu masih tersenyum tipis.
"aku ke kamar dulu za, takutnya rara bangun"
"iya mas" angguk azalea, gadis itu tetap di dapur membereskan dan merapikan.
************
Azalea baru saja masuk kamar, setelah yakin kedua orangtuanya nyaman. Setelah isya buk danila ingin istirahat katanya, terlalu lelah.
Kiano setelah salat isya tadi minta ijin duluan ke kamar, pria itu mengatakan ada beberapa pekerjaan yang harus ia selesaikan.
Kini azalea kebingungan sendirian, mau masuk ke kamar kiano, ia malah bingung gimana caranya.
Tangannya sudah terangkat di depan pintu, azalea hendak mengetuk, namun ragu-ragu. Beberapa saat ia berdiri seperti orang bodoh.
"click"
Keduanya tersentak kaget, azalea dan kiano saling pandang dengan tatapan terkejut.
"kenapa nggak masuk?"
Azalea terkekeh malu, "tadi mau ketuk pintu dulu, takutnya mas kiano kaget"
Mata kiano jelalatan ke arah kamar mertuanya, jari telunjuknya terletak di atas bibir. Sebelah tangannya menarik azalea untuk segera masuk.
"kamu kalau ngomong hati-hati dong, nanti ibu dan bapak dengar"
Dada azalea berdebar kencang, saat kiano menariknya cepat, sekilas aroma maskulin pria itu menerpa hidungnya.
"kamu jangan sehati-hati itu, malah ibu dan bapak jadi curiga nantinya"
Azalea menggeleng lemah, "aku udah pastiin bapak dan ibu di dalam kamar kok"
Kiano membuang pandangannya, aroma wangi samar terendus di hidungnya. Sesaat tadi saat azalea begitu dekat dengannya, kiano terbayang kembali malam saat ia mencium bibir gadis itu.
"kamu mandilah, mandi di kamar ini, jangan di luar"
Azalea menarik kerah bajunya, mengendus. Apakah kiano mencium sesuatu, sampai pria itu melengos cepat dan memintanya mandi. Mata azalea menyipit, nggak bau kayaknya deh. Namun tak urung gadis itu melangkah ke kamar mandi setelah menyambar handuk dan baju gantinya.
Kiano tercekat, menatap azalea yang keluar dari kamar mandi dengan gugup. Penampilan gadis itu yang membungkus rambutnya terlihat berantakan namun...cantik. Beberapa anak rambut yang basah lengket di pipinya menambah pesona gadis itu.
Kiano berdehem, memecah rasa canggung yang menyerang mereka.
"kamu tidur di ranjang bareng rara, aku di sofa" suara parau kiano dibalas azalea dengan anggukan gugupnya.
Kiano membawa sebuah bantal dan selimut, meninggalkan ranjang tanpa berani melirik ke arah azalea kembali.
Degub jantungnya masih menyisakan debar cepat, bagaimana tidak, pesona azalea tadi cukup mengguncang hatinya.
Selama ia mengenal azalea, baru kali ini gadis itu memberikan debar yang kiano sadari artinya. Dan sejujurnya kiano tidak menyukai getar itu, sangat tidak etis rasanya kalau ia memiliki getar seperti ini untuk azalea.
"mas kian"
Kiano tersentak kaget, rasa gugup kembali menyergapnya.
"ya?"
"boleh nggak kita tidur lampunya agak gelapan sedikit, aku nggak biasa tidur dengan lampu seterang ini"
Kiano cuman mampu menggeleng, bibirnya kelu tak sanggup menjawab, rasa gugupnya kembali menyerang.
'ada apa denganku ini?'
Bersambung....
.