Mawar tak pernah meminta hidup penuh luka. Dikhianati, dipisahkan dari orang terkasih, hingga nyawanya sendiri terancam.
Namun Mawar tak mau menyerah begitu saja, ia berjuang keras menembus segala rintangan, berusaha mengubah jalannya nasib yang seolah begitu kejam padanya.
Di antara cinta, pengorbanan dan kehilangan, apakah Mawar akhirnya bisa menulis akhir ceritanya sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alisha Chanel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Keputusan Di Balik Kata
Setelah pintu kamar tertutup kembali dan keheningan menyelimuti ruangan itu, Mawar menarik selimut tebal hingga menutupi seluruh wajahnya. Ia meringkuk semakin rapat di sudut ranjang, membiarkan kegelapan menyelimuti dirinya sepenuhnya. Tak ada lagi air mata yang menetes, semalam ia telah menumpahkan semuanya sampai mata dan hatinya terasa kering gersang seperti padang gurun yang tak pernah disentuh hujan. Tubuhnya terasa berat, kaku, dan nyeri di setiap lekuknya, seolah baru saja selesai bertarung melawan badai dahsyat yang merenggut segala miliknya.
"Aku harus mengakhiri semua ini... harus ada jalan keluar dari neraka ini," bisik Mawar, suaranya terdengar muram, lemah, namun berisi tekad yang mulai mengeras perlahan.
Pikirannya kembali melayang pada sosok pria bernama Rangga, sahabat lama masa kecilnya, pemuda yang jujur, sopan, dan sudah lama memendam rasa sayang kepadanya. Beberapa waktu lalu, Rangga pernah menyampaikan niat baiknya untuk meminang Mawar, memintanya menjadi istri, serta berjanji akan menjaga dan melindunginya seumur hidup. Saat itu Mawar masih ragu, masih ingin menunggu, masih berharap bisa mewujudkan mimpinya sendiri. Namun kini, semua harapan itu telah hancur lebur, terinjak-injak dan dirusak tak bersisa.
"Lebih baik aku menerima tawaran Rangga untuk menikahiku. Dengan begitu, aku akan punya pelindung sah, punya tempat berlindung, dan Kak Bima tidak akan berani lagi mendekat atau menggangguku. Dia tidak akan berani menyentuh istri orang lain, apalagi jika pernikahan itu sudah diketahui semua orang," batin Mawar.
Tekad itu kini sudah membeku keras seperti batu es. Di benaknya mulai terbentuk gambaran tentang masa depan yang lebih aman, tempat di mana ia bisa menjauh dari Bima, bisa hidup tenang, jauh dari bayangan wajah pria menjijikkan itu, jauh dari ancaman dan kekejaman yang terus membayangi setiap detik hidupnya. Lamunan indah itu perlahan mulai menyelimuti pikirannya, menjadi satu-satunya penghibur hati yang hancur.
Namun sebelum ia sempat merenungkan rencana itu lebih jauh, tiba-tiba ada tangan seseorang yang menepuk pundaknya dengan lembut namun pasti.
"Mawar!"
Lamunan indah itu sirna seketika, hilang lenyap tertimbun rasa kaget dan waspada. Mawar menarik napas panjang, menekan dan mengunci rapat semua emosi, rasa sakit, serta ketakutan yang hampir meledak keluar dari dadanya. Dengan perlahan dan hati-hati, ia menoleh ke arah sumber suara.
"Kak Jingga? Ada apa, Kak?" suara Mawar terdengar datar, hambar, dan tanpa nada apa pun, seolah-olah ia sedang berbicara dengan orang asing yang baru pertama kali ditemuinya, bukan dengan kakak kandungnya sendiri.
Jingga mengerutkan alisnya dalam kebingungan, matanya menatap sang adik dengan penuh keraguan dan kekhawatiran. "Kenapa nada bicaramu seperti itu, Mawar? Dingin sekali... Seolah-olah kamu marah atau kecewa sama Kakak?"
Mawar menatap wajah sang kakak, wajah yang selalu penuh kasih sayang, lembut, dan tulus. Wajah wanita yang ia cintai lebih dari siapa pun, namun kini menjadi alasan utama mengapa ia harus menelan segala kepahitan ini sendirian. Hati Mawar terasa perih sekali, namun ia memaksakan diri menggeleng perlahan.
"Enggak kok, Kak. Kenapa aku harus marah sama Kakak?" Suaranya sedikit melembut, namun masih jauh dari kehangatan dan keriangan yang biasa terdengar darinya.
"Syukurlah kalau begitu," Jingga menghela napas panjang lega, meski rasa cemas dan bingung masih tertinggal jelas di matanya. Ia berjalan mendekat, lalu duduk perlahan di tepi ranjang, menggenggam tangan dingin Mawar dengan kedua tangannya yang hangat dan lembut.
"Kakak tahu, Kakak jarang pulang ke sini, dan kamu pasti lelah sekali harus menjaga Ibu sendirian, mengurus rumah, serta mengerjakan segala hal berat sendirian. Bahkan... Kakak tahu kamu harus merelakan keinginanmu untuk melanjutkan kuliah di luar kota hanya demi bisa tetap di sini menemani dan merawat Ibu. Kamu berkorban banyak sekali, sayang," suara Jingga menjadi berat, dipenuhi rasa bersalah yang mendalam.
"Tapi Kakak tidak punya pilihan lain, Mawar. Hutang piutang besar yang ditinggalkan Ayah masih begitu besar. Kakak harus bekerja keras, harus mencari banyak uang supaya bisa cepat menebus kembali tempat tinggal kita, supaya kita tidak terusir nanti. Kita hanya tiga perempuan yang lemah, tidak bisa terus terjebak dan menderita seperti ini selamanya," lanjut Jingga, matanya mulai berkabut dan basah oleh air mata yang mulai menumpuk.
Mawar mendengarkan setiap kata yang diucapkan sang kakak, namun semakin lama semakin terasa seperti beban berat yang menindih dadanya. Di balik segala alasan tulus itu, tersembunyi kenyataan pahit.
"Kamu itu saudara Kakak satu-satunya, harta paling berharga yang Kakak punya di dunia ini," lanjut Jingga, lalu ia mencondongkan tubuh dan memeluk Mawar dengan erat, penuh kasih sayang dan rasa sayang yang mendalam.
"Kakak mau hubungan kita tetap baik, tetap hangat, dan tetap erat selamanya, meski jarak dan waktu memisahkan kita."
Namun pelukan hangat dan penuh kasih itu justru menyentuh luka tersembunyi yang masih segar, luka yang ditinggalkan Bima semalam. Sentuhan lembut itu terasa menyakitkan luar biasa bagi Mawar, seolah ada luka terbuka yang baru saja disentuh. Mawar meringis menahan rasa sakit, seluruh tubuhnya seketika menegang kaku, napasnya tertahan di tenggorokan.
"Kamu kenapa, Mawar? Apa kamu terluka? Ada yang sakit?" Jingga segera melepaskan pelukannya dengan cepat, matanya membelalak penuh kekhawatiran, wajahnya pucat karena panik.
Mawar segera menundukkan kepala dalam-dalam, berusaha menyembunyikan rasa sakit dan kebencian yang bergejolak hebat di dalam dadanya. Sekali lagi, ia terpaksa menutupi kebenaran dengan kebohongan, sama seperti yang baru saja ia lakukan kepada sang ibu.
"Hari ini aku baru saja masuk hari pertama haid, Kak. Perutku terasa sakit sekali dan pegal seluruh badan," jawab Mawar pelan, matanya menatap ke arah selimut yang berantakan.
"Begitu ya... Maaf Kakak tidak tahu. Kalau begitu kamu banyak istirahat saja ya, jangan banyak bergerak dulu," Jingga tersenyum lembut, lalu mengelus kepala sang adik dengan penuh kelembutan.
"Maafkan Kakak ya? Kakak harus berangkat hari ini dan meninggalkan kalian lagi. Pekerjaan yang harus diselesaikan Kakak hari ini sangat penting, tidak bisa ditunda sedikit pun. Kalau tertunda, kerugiannya bisa sangat besar dan kita makin lama tidak bisa melunasi hutang Ayah," suara Jingga terdengar sedih, dan ia tampak sedikit kecewa karena sikap Mawar yang dingin dan tidak sehangat biasanya. Namun ia berusaha mengerti, mengira adiknya itu hanya sedang merasa sakit dan lelah saja.
"Kakak berangkat ya. Jaga Ibu baik-baik." Setelah mengelus kepala Mawar satu kali lagi, Jingga berdiri perlahan, lalu berjalan menuju pintu keluar.
Namun sebelum Jingga sempat melangkah keluar, suara Mawar menyapa pelan namun jelas.
"Kak..."
Langkah Jingga terhenti seketika. Ia berbalik badan dengan wajah yang penuh harapan, berharap Mawar akan kembali seperti dulu, akan merengek minta agar ia tinggal lebih lama, atau memeluknya erat sebelum berpisah.
"Ya, ada apa, Mawar? Ada yang mau kamu sampaikan?" tanya Jingga antusias.
Mawar mengangkat wajahnya perlahan. Di balik tatapan yang datar dan dingin, tersembunyi tekad yang sudah bulat dan kuat. Ia menarik napas panjang, lalu berbicara dengan suara lantang dan tegas.
"Aku sudah dewasa sekarang, Kak. Aku sudah bisa menjaga diri sendiri dan menjaga Ibu sendirian dengan baik. Jadi... Kakak tidak usah sering-sering pulang ke sini lagi. Tidak usah khawatirkan kami, kami baik-baik saja."
Di dalam hatinya, Mawar menambahkan kalimat yang tak akan pernah bisa ia ucapkan secara lisan. "Jika Kakak tidak pulang, maka Kak Bima juga tidak akan datang. Selama dia tidak datang, aku akan aman. Hanya dengan begini aku bisa selamat."
Wajah Jingga seketika berubah pucat pasi. Senyum yang tadi tersungging manis di bibirnya lenyap seketika, digantikan rasa sakit yang tajam menusuk di dadanya. Matanya kembali berkaca-kaca. Ia mengangguk pelan, suara yang keluar dari kerongkongannya kini sudah menjadi lirih dan lemah.
"Baiklah... kalau itu memang keinginanmu, Mawar. Kalau begitu Kakak turuti saja..."
Tak ada lagi kata-kata lain yang terucap. Jingga hanya menatap sang adik sebentar dengan pandangan sedih dan kecewa, lalu perlahan berbalik badan dan keluar dari kamar itu, menutup pintu dengan lembut namun terdengar berat.
Mawar tertinggal sendirian di dalam kamar yang mendadak terasa semakin sempit, pengap, dan gelap. Ia menatap pintu yang tertutup itu, menyadari betapa beratnya keputusan yang baru saja ia ucapkan. Kata-kata itu terasa baik sekaligus buruk, ia berhasil menyingkirkan sumber bahaya, namun dengan harga yang sangat mahal, ia harus merobek ikatan kasih sayang yang sudah terjalin erat sejak kecil, harus membuat kakaknya merasa ditolak dan dijauhkan.
Namun Mawar tahu, ini adalah satu-satunya jalan yang tersisa baginya. Mulai saat ini, ia harus berjalan sendirian, menanggung semuanya sendirian, dan berjuang melindungi sisa hidupnya dengan caranya sendiri.
Bersambung...