Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 26
Matahari siang bersinar terik menyinari gedung pencakar langit berdesain futuristik di pusat kota Jakarta.
Gedung megah itu adalah markas besar Star Media Entertainment, agensi artis nomor satu di negara ini.
Suara deruman mesin Ferrari SF90 hitam memecah kebisingan jalanan saat mobil itu memasuki lobi utama.
Ardi keluar dari mobil mewahnya dengan mengenakan setelan jas abu-abu kasual yang terlihat sangat elegan.
Hari ini dia datang untuk meninjau mainan barunya yang dibeli seharga satu rupiah semalam.
Ardi melangkah masuk ke dalam lobi gedung yang dipenuhi poster raksasa para artis papan atas.
"Permisi, lantai berapa studio utama untuk syuting artis hari ini?" tanya Ardi santai pada resepsionis.
"Studio utama ada di lantai sepuluh Tuan, tapi area itu sangat tertutup untuk umum," jawab resepsionis itu sopan melihat jas mahal Ardi.
"Terima kasih, aku bukan orang umum," balas Ardi tersenyum tipis dan langsung berjalan menuju lift VVIP.
Resepsionis itu tidak berani menahan Ardi karena aura intimidasi pemuda itu terlalu kuat.
Ting.
Suara lift berbunyi saat pintu terbuka di lantai sepuluh yang merupakan area studio raksasa.
Ardi melangkah keluar dan langsung disambut oleh kesibukan luar biasa dari para kru kamera dan staf penata rias.
Namun, perhatian Ardi seketika tertuju pada sebuah keributan di sudut ruang ganti terbuka.
Plak.
Terdengar suara tamparan yang sangat keras memecah kesibukan di studio tersebut.
"Dasar gadis ceroboh tidak berguna!" bentak seorang wanita cantik yang memakai gaun merah menyala.
Wanita arogan itu adalah Bella, aktris senior papan atas yang menjadi mesin uang utama agensi ini.
Di depan Bella, seorang gadis muda berwajah sangat manis sedang terduduk di lantai sambil memegangi pipinya yang memerah.
Gadis itu bernama Tiara, seorang aktris pendatang baru yang baru saja merintis kariernya dari bawah.
"Maafkan saya Kak Bella, saya benar-benar tidak sengaja tersandung kabel lampu tadi," ucap Tiara dengan mata berkaca-kaca menahan tangis.
"Tidak sengaja katamu? Kopi panasmu ini baru saja merusak gaun rancangan desainer terkenal dari Paris!" teriak Bella memelototkan matanya.
"Apakah kau tahu harga gaun ini setara dengan gaji kotor kerjamu selama sepuluh tahun!" lanjut Bella tanpa belas kasihan.
Seorang sutradara pria bertubuh gempal langsung berlari menghampiri keributan itu dengan wajah panik.
"Ada apa ini Bella sayang? Kenapa kau marah-marah sebelum syuting dimulai?" tanya sutradara itu mencoba menenangkan.
"Lihat kelakuan anak baru buta ini Pak Sutradara, dia menumpahkan kopi ke gaun eklusifku!" adu Bella melipat tangannya di dada.
Sutradara itu langsung menatap tajam ke arah Tiara yang masih terduduk ketakutan di lantai.
"Tiara. Cepat berlutut dan bersihkan noda di sepatu dan gaun Bella sekarang juga." perintah sutradara itu membela artis utamanya.
"Tapi Pak, lantainya sangat kotor dan kopi ini tumpah karena kru kabel tidak membereskan jalurnya," bela Tiara mencoba mencari keadilan.
"Berani kau membantahku anak baru." bentak sutradara itu mengangkat tangannya bersiap menampar Tiara lagi.
"Lakukan saja apa yang diperintahkan atau peran kecilmu di film ini akan kuhapus detik ini juga." ancam sutradara itu semena-mena.
Tiara menundukkan kepalanya dalam-dalam dan air matanya akhirnya menetes membasahi lantai studio.
Dia perlahan mengambil tisu dan bersiap merangkak untuk membersihkan sepatu Bella demi mempertahankan karier impiannya.
Bella tersenyum sangat sombong melihat juniornya itu hancur harga dirinya di depan puluhan kru studio.
"Memang sudah sepantasnya sampah sepertimu berada di bawah telapak kakiku," ejek Bella tertawa sinis.
Namun sebelum tangan Tiara menyentuh sepatu Bella, sebuah tangan besar dan hangat meraih lengan gadis itu.
Tiara mendongak dan melihat seorang pemuda tampan berjas abu-abu sedang menariknya untuk berdiri kembali.
"Lutut seorang manusia terlalu berharga untuk ditekuk di depan sekumpulan badut sirkus seperti kalian," ucap Ardi dengan suara berat dan tenang.
Semua orang di studio itu seketika menahan napas terkejut melihat ada orang asing yang berani ikut campur.
Tiara menatap wajah Ardi dari dekat dan merasakan jantungnya berdebar kencang melihat ketampanan pria penolongnya ini.
"Siapa kau berani ikut campur urusanku." bentak Bella dengan wajah merah padam karena marah.
"Apakah kau figuran baru yang ingin mencari mati di industri ini hah." lanjut Bella menunjuk wajah Ardi.
Ardi menepis kasar jari telunjuk Bella hingga wanita itu sedikit terhuyung ke belakang.
"Aku sangat benci jika ada orang rendahan yang menunjuk wajahku," jawab Ardi dengan tatapan sedingin es kutub.
"Orang rendahan kau bilang." jerit Bella tidak terima dihina di tempat kekuasaannya sendiri.
Sutradara gempal itu langsung maju dan menatap Ardi dengan pandangan mengancam.
"Keamanan. Seret pemuda gila ini keluar dari studioku sekarang juga." teriak sutradara itu memanggil penjaga.
Dua orang satpam studio langsung berlari mendekat membawa tongkat karet di tangan mereka.
"Patahkan saja kedua kakinya agar dia tahu cara menghormati aktris papan atas sepertiku." perintah Bella dengan kejam.
Tiara langsung panik dan mencoba berdiri di depan Ardi untuk melindungi pria yang menolongnya itu.
"Jangan sakiti dia, dia tidak ada hubungannya dengan masalah ini, ini murni salahku." mohon Tiara pada sutradara.
"Minggir kau gadis murahan." bentak satpam itu mencoba mendorong tubuh Tiara secara kasar.
Brak.
Sebuah tendangan kilat dari Ardi mendarat telak di perut satpam pertama sebelum tangan kotor itu menyentuh Tiara.
Satpam berbadan besar itu langsung terbang sejauh tiga meter dan menabrak rak properti hingga hancur berantakan.
Satpam kedua terkejut setengah mati, namun dia mencoba mengayunkan tongkat karetnya ke arah kepala Ardi.
Ardi menangkap tongkat itu dengan satu tangan kosong dan memelintirnya hingga lepas dari genggaman satpam tersebut.
Bugh.
Sebuah pukulan telak ke rahang membuat satpam kedua itu langsung pingsan di lantai tanpa suara.
Kejadian itu berlangsung sangat cepat hingga membuat Bella dan sang sutradara mematung kaku karena syok.
"Kau... kau berani memukul petugas keamanan di gedung milik Star Media." gumam sutradara itu dengan suara bergetar.
"Kau pasti akan berakhir di penjara bocah." ancam Bella mundur beberapa langkah bersembunyi di belakang sutradara.
"Aku akan menelepon Pak Anton, Direktur Utama agensi ini, agar dia menghancurkan hidupmu hari ini juga." lanjut Bella mengeluarkan ponselnya.
Ardi hanya tertawa pelan mendengarnya dan sama sekali tidak berniat menghentikan aksi wanita arogan itu.
"Silakan telepon Direktur Utama kesayanganmu itu, aku juga kebetulan ingin bertemu dengannya sekarang," tantang Ardi melipat tangannya di dada.
Bella dengan tangan gemetar menempelkan ponsel ke telinganya dan mulai berbicara dengan nada manja yang dibuat-buat.
"Halo Pak Anton sayang, ada orang gila yang menyusup ke studio dan memukul satpam kita," adu Bella merengek.
"Bapak harus turun ke lantai sepuluh sekarang juga dan penjarakan bajingan ini." lanjut Bella memprovokasi.
"Baiklah sayang, tunggu aku di sana, aku akan membawa seluruh tim keamanan pusat," terdengar sayup-sayup suara dari ponsel Bella.
Bella menutup teleponnya dan tersenyum sangat sombong menatap Ardi seolah pria itu sudah menjadi mayat.
"Tamat riwayatmu sekarang, Pak Anton tidak akan pernah membiarkan orang yang mengganggu aset utamanya hidup tenang," ancam Bella.
Tiara menarik ujung jas Ardi dengan tangan bergetar ketakutan dan berbisik pelan padanya.
"Tuan, tolong lari saja dari sini, Pak Anton itu orang yang sangat berkuasa dan punya banyak koneksi dunia bawah," ucap Tiara sangat mengkhawatirkan Ardi.