NovelToon NovelToon
TIRAKAT 6

TIRAKAT 6

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: DENI TINT

Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.

(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)

Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.

Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?

SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️

Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 35 DILEMA CALON PENGANTIN

Dua hari telah berlalu...

Sejak kedatangan Mbah Joyo ke pekarangan rumah Zaki. Dua hari yang seharusnya dihabiskan dengan debar kebahagiaan menyambut hari pernikahan, kini justru terasa berjalan dengan ritme yang ganjil dan menyesakkan.

Pagi itu, langit di atas desa tampak sedikit berawan. Sinar matahari yang biasanya menyengat cerah terhalang oleh arak-arakan awan kelabu tipis, menciptakan suasana mendung yang menggantung tanpa kepastian apakah akan turun hujan atau tidak. Udara terasa lebih lembap dan sumpek dari biasanya, seolah alam pun ikut merasakan beban tak kasat mata yang sedang menekan dada beberapa penghuni desa ini.

Zaki melangkah pelan menyusuri jalanan tanah setapak yang membelah kebun bambu, menuju ke arah rumah keluarga Pak Doyo. Pemuda itu mengenakan kemeja katun berlengan pendek berwarna biru laut dan celana bahan yang santai. Tangannya menenteng sebuah kantong plastik kresek hitam berisi beberapa kotak kue bolu yang baru saja ia beli dari warung di perempatan desa.

Sepanjang perjalanan, kening Zaki tak henti-hentinya berkerut memikirkan satu keganjilan yang mengganggunya. Sudah dua hari ini, Wiwi tidak muncul menampakkan batang hidungnya di kebun kopi.

Gadis yang biasanya selalu datang membawa senyum dan rantang makan siang itu absen tanpa pemberitahuan. Saat Zaki menanyakan hal itu pada Pak Doyo di kebun kemarin, pria paruh baya itu hanya menjawab singkat dengan senyum yang dipaksakan, mengatakan bahwa Wiwi sedang sibuk membantu Simbok menjahit beberapa kain untuk keperluan dekorasi hajatan.

Namun, naluri Zaki mengatakan ada sesuatu yang tidak beres. Pak Doyo sendiri pun tampak tidak seceria biasanya; ayunan cangkulnya tak bersemangat dan pria itu lebih banyak terdiam menghisap rokok klobot-nya dengan tatapan kosong.

Sesampainya di pelataran rumah berdesain limasan itu, Zaki mendapati suasana yang sangat sepi. Pintu depan rumah terbuat dari kayu jati tua itu terbuka separuh, namun tak terdengar suara obrolan Simbok atau kicauan burung perkutut Pak Doyo yang biasanya meramaikan suasana pagi.

"Assalamu'alaikum..." sapa Zaki agak keras dari teras depan.

Tak ada jawaban.

Zaki mengulangi salamnya sekali lagi, kali ini sambil melongokkan kepalanya ke celah pintu yang terbuka.

"Assalamu'alaikum... Pak Doyo? Simbok? Dek Wiwi?"

Sayup-sayup terdengar suara langkah kaki yang diseret dari bagian dalam rumah.

Tak lama kemudian, dari balik sekat ruang keluarga, muncullah sosok Wiwi.

Zaki nyaris tak bisa menyembunyikan keterkejutannya. Senyum yang sudah ia siapkan seketika luntur saat melihat kondisi calon istrinya tersebut.

Wiwi mengenakan daster rumahan yang panjang dan kerudung bergo yang dipakai asal-asalan. Wajah gadis yang biasanya merona segar seperti buah ceri itu kini tampak pucat pasi. Kantung matanya menghitam, kelopak matanya membengkak kemerahan, menjadi saksi bisu atas malam-malam yang dihabiskan untuk menangis diam-diam. Bahunya tampak turun, kehilangan seluruh semangat hidupnya.

"Wa'alaikumsalam, Mas Zaki..." jawab Wiwi. Suaranya serak, parau, dan sangat pelan, nyaris tenggelam oleh hembusan angin yang melewati daun jendela.

Zaki segera melangkah masuk, meletakkan kantong kreseknya sembarangan di atas meja kayu di ruang tamu. Rasa cemas seketika meledak di dalam dadanya.

"Dek Wiwi sakit? Wajahnya kok pucat banget? Kok nggak bilang sama Mas kalau lagi sakit?" rentetan pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulut Zaki seraya ia mendekat. Namun ia tetap menjaga jarak, menahan diri agar tidak menyentuh gadis itu.

Wiwi menggeleng pelan, memaksakan sebuah senyum getir yang justru membuat hati Zaki semakin teriris. Gadis itu mempersilakan Zaki duduk di kursi panjang ruang tamu, sementara ia sendiri duduk di kursi tunggal di seberangnya, menundukkan kepalanya dalam-dalam.

"Kula mboten sakit napa-napa, Mas," (Saya tidak sakit apa-apa, Mas,) jawab Wiwi lirih, jari-jarinya bertaut gelisah di atas pangkuannya.

"Terus kenapa mukanya pucat begini? Matanya bengkak... Pak Doyo sama Simbok ke mana, Dek? Rumah kok sepi banget?" Zaki terus mendesak, tak puas dengan jawaban klise tersebut. Suasana hening di rumah ini terasa sangat tidak wajar menjelang hari hajatan besar mereka.

Wiwi menarik napas panjang yang terdengar bergetar.

"Bapak kalih Simbok nembe tindak dhateng pasar kecamatan, Mas. Tumbas printilan kagem seserahan lan bumbu-bumbu dapur. Kula mboten nderek amargi taksih puyeng sekedhik," (Bapak sama Ibu baru saja pergi ke pasar kecamatan, Mas. Beli pernak-pernik untuk seserahan dan bumbu-bumbu dapur. Saya tidak ikut karena masih pusing sedikit).

Mendengar penjelasan itu, Zaki menghela napas lega sesaat karena setidaknya ia berkesempatan berbicara berdua saja dengan Wiwi dari hati ke hati.

Zaki mencondongkan tubuhnya ke depan, menatap lekat-lekat puncak kepala Wiwi yang tertunduk.

"Dek..." panggil Zaki dengan nada baritonnya yang paling lembut dan menenangkan.

"Kita ini sebentar lagi mau jadi suami istri. Suami istri itu harusnya nggak ada rahasia-rahasiaan. Kalau ada masalah, kalau ada yang mengganjal di hati, tolong ceritain ke Mas... Jangan dipendam sendiri sampai bikin matamu bengkak begini..."

Kalimat bujukan yang begitu tulus itu menjadi kunci yang membuka bendungan pertahanan Wiwi. Perlahan-lahan, gadis itu mengangkat wajahnya. Mata beningnya yang memerah kembali digenangi oleh air mata. Setetes cairan bening lolos, meluncur melewati pipinya yang pucat.

"Mas Zaki..." isak Wiwi pelan, bibirnya bergetar hebat. "Kula ajrih... Kula bingung sanget, Mas..." (Mas Zaki... Saya takut... Saya bingung sekali, Mas...)

"Takut kenapa, Dek? Siapa yang bikin Dek Wiwi bingung? Coba pelan-pelan cerita sama Mas," bujuk Zaki dengan sabar.

Sambil sesenggukan, Wiwi akhirnya mulai merajut kronologi peristiwa yang menghancurkan kedamaian batin keluarganya selama dua hari terakhir.

"Rong dinten kepengker, pas Mas Zaki prei mboten teng kebun... Mbah Joyo rawuh mriki, Mas. Mbah Joyo sowan nemoni Bapak kalih Simbok," (Dua hari yang lalu, pas Mas Zaki libur tidak ke kebun... Mbah Joyo datang ke sini, Mas... Mbah Joyo datang menemui Bapak sama Ibu).

Zaki tersentak kaget. Matanya sedikit membulat.

Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pinihsepuh desa itu akan bertindak sejauh ini. Ia pikir, setelah penolakan kerasnya di teras rumah waktu itu, Mbah Joyo akan menyerah dan membiarkan urusannya selesai.

"Mbah Joyo rawuh mriki sakwise saking griyane panjenengan ta, Mas?" (Mbah Joyo datang ke sini setelah dari rumahmu kan, Mas?) tanya Wiwi, memastikan dugaannya.

Zaki mengangguk pelan, rahangnya mulai mengetat menahan emosi.

"Iya, Dek. Beliau datang ke rumah Mas untuk ngomongin soal... hitungan primbon itu."

Air mata Wiwi kembali menderas.

"Kula wektu niku nembe tilem awan teng kamar. Kula nguping saking suwalike lawang kamar, Mas. Mbah Joyo ngendika babagan sing padha kalih Bapak lan Simbok. Mbah Joyo ngendika bilih wetone kula kalih panjenengan niku... pegat pati. Menawi dipaksa nikah, badhe wonten tumbal nyawa," (Saya waktu itu sedang tidur siang di kamar... Saya menguping dari balik pintu kamar, Mas... Mbah Joyo menceritakan hal yang sama pada Bapak dan Ibu. Mbah Joyo bilang kalau weton saya dan Mas Zaki itu... cerai mati. Kalau dipaksa nikah, akan ada tumbal nyawa).

Zaki mengepalkan tangannya di atas paha. Dadanya bergemuruh oleh amarah. Tindakan Mbah Joyo benar-benar sudah kelewatan. Pria tua itu dengan sengaja menyebarkan teror psikologis kepada keluarga calon mertuanya.

"Nanging mboten namung niku, Mas..." (Tapi bukan cuma itu, Mas...) lanjut Wiwi, suaranya semakin parau.

"Mbah Joyo nggih ngendika menawi Mas Zaki wani nantang leluhur. Mas Zaki nolak mentah-mentah welinge Mbah Joyo... Mbah Joyo ngendika teng Bapak, menawi Mas Zaki niku sombong lan mboten ngajeni tatanan adat Jawa," (Mbah Joyo juga bilang kalau Mas Zaki berani menantang leluhur. Mas Zaki menolak mentah-mentah nasihat Mbah Joyo... Mbah Joyo bilang pada Bapak, kalau Mas Zaki itu sombong dan tidak menghargai tatanan adat Jawa). Tambah Wiwi.

Keheningan yang mencekam langsung menguasai ruang tamu tersebut. Hanya terdengar suara isak tangis Wiwi yang tersendat-sendat.

Zaki memejamkan matanya, menghembuskan napas kasar.

Pantas saja Pak Doyo tampak murung di kebun kemarin. Pria paruh baya itu pasti sedang memikul beban mental yang luar biasa berat; terjepit antara rasa sayangnya pada Zaki dan ketakutan absolutnya pada ramalan kematian yang dilontarkan oleh sesepuh desa.

"Mas, kula niki tiyang dhusun," (Mas, saya ini orang desa,) Wiwi menatap Zaki dengan sorot mata yang penuh keputusasaan. "Kula lair lan ageng saking tatanan adat. Kangge tiyang dhusun, nglawan welinge pinihsepuh niku sami mawon nglawan alam. Kula ajrih, Mas..." (Saya lahir dan besar dari tatanan adat. Bagi orang desa, melawan nasihat sesepuh itu sama saja melawan alam. Saya takut, Mas...) pungkas Wiwi dengan sejujurnya.

"Dek Wiwi takut kalau kita berdua meninggal karena nikah melanggar primbon?" potong Zaki, suaranya tertahan oleh emosi.

Wiwi menggeleng cepat dengan derai air mata yang kian deras.

"Sanes, Mas! Kula mboten ajrih pejah. Nanging kula ajrih menawi kenging musibah niku panjenengan! Kula mboten saged mbayangake menawi kedah kelangan Mas Zaki amargi meksa nikahi kula!" (Bukan, Mas! Saya tidak takut mati. Tapi saya takut kalau yang kena musibah itu kamu, Mas! Saya tidak bisa membayangkan kalau harus kehilangan Mas Zaki, karena memaksa menikahi saya!) jerit Wiwi tertahan, menumpahkan segala bentuk ketakutan terbesarnya.

Gadis itu menangis tersedu-sedu, meremas ujung dasternya hingga kusut.

"Lan kula nggih mboten tega ningali Bapak kalih Simbok. Kalih dinten niki, Simbok mesthi nangis diam-diam teng pawon. Bapak sedalu mboten tilem, namung udud teng teras. Bapak kalih Simbok niku bingung, Mas. Ajeng mbatalake nggih mboten tega kalih kula lan Mas Zaki, ajeng diterusake nggih ajrih kula cilaka. Kula rumaos dados lare ingkang mboten migunani, Mas, ndamel repot tiyang sepuh..."

(Dan saya juga tidak tega melihat Bapak dan Ibu. Dua hari ini, Ibu pasti menangis diam-diam di dapur. Bapak semalaman tidak tidur, cuma merokok di teras. Bapak dan Ibu itu bingung, Mas. Mau membatalkan ya tidak tega dengan saya dan Mas Zaki, mau diteruskan ya takut saya celaka. Saya merasa jadi anak yang tidak berguna, Mas, membuat repot orang tua...).

Pengakuan yang jujur dan tulus itu bagaikan belati yang menusuk ulu hati Zaki. Kepedihan Wiwi sangat masuk akal.

Bagi seorang gadis desa yang polos, ancaman mistis dari sesepuh adalah teror yang sangat nyata. Ia terjebak dalam dilema yang menyayat hati: antara ketundukannya pada adat, rasa cintanya yang luar biasa pada Zaki, serta perasaan bersalah karena menganggap dirinya sebagai sumber beban mental bagi kedua orang tuanya.

Zaki tak bisa menahan diri lagi. Ia bergeser dari kursinya, berlutut dengan satu kaki tepat di hadapan Wiwi yang masih terisak.

Zaki mengulurkan kedua tangannya yang besar dan kasar, meraih kedua tangan Wiwi yang gemetar dingin, lalu menggenggamnya dengan sangat erat dan mantap.

"Dek Wiwi... Dengar Mas ya," ucap Zaki dengan nada yang sangat tegas, dominan, namun sarat akan cinta yang meluap-luap.

Wiwi perlahan membuka matanya, menatap wajah tegap laki-laki yang berlutut di depannya itu dengan pandangan kabur oleh air mata.

"Saya minta maaf. Saya minta maaf karena penolakan saya sama Mbah Joyo ternyata malah bikin ricuh dan bikin bapak sama simbok kepikiran berat. Tapi, tolong dengar alasan saya, Dek."

Zaki menelan ludahnya, memastikan setiap kata yang keluar dari mulutnya terdengar jelas.

"Saya nolak ucapan Mbah Joyo bukan karena saya sombong, Dek. Bukan karena saya merasa lebih hebat dari adat Jawa. Saya nolak... karena saya pernah hidup di dunia yang jauh lebih gelap dari sekadar hitungan buku primbon."

Mata Wiwi sedikit membulat, menatap Zaki dengan rasa penasaran yang membelah isak tangisnya.

"Dek, saya ini pernah hidup bertahun-tahun didampingi makhluk gaib. Saya pernah terikat perjanjian dengan dunia astral yang meramal nasib saya dengan ancaman-ancaman yang mengerikan. Saya tahu betul bagaimana rasanya hidup disetir oleh takhayul dan ketakutan tak kasat mata. Rasanya kayak di neraka, Dek. Kita nggak bisa napas, kita nggak bisa jadi manusia merdeka," ungkap Zaki, membuka sedikit kepingan masa lalunya tanpa merinci wujud Sekar Mayang agar Wiwi tak semakin ketakutan.

Zaki mengeratkan genggamannya di tangan Wiwi, menyalurkan energi ketenangan dari dalam batinnya.

"Saya sudah susah payah membuang semua ketakutan itu. Saya sudah membersihkan tauhid saya. Dan ketika saya pulang ke desa ini, saya menemukan kamu, Dek. Bagi saya, kamu adalah bukti bahwa Tuhan memberikan jalan kebahagiaan buat manusia yang mau berusaha lepas dari belenggu mistis. Makanya saya marah waktu Mbah Joyo datang bawa primbon itu. Saya marah karena dia mencoba menaruh kembali rantai ketakutan itu di leher kita."

Zaki mengangkat tangan Wiwi, menempelkannya ke dadanya sendiri.

"Kematian, jodoh, celaka, rezeki... semua itu rahasia Allah, Dek Wiwi. Bukan rahasianya Mbah Joyo, dan bukan rahasianya buku tua. Kalaupun kita meninggal setelah menikah nanti, itu murni karena takdir umur kita sudah habis dari Yang Di Atas, bukan karena kita menikah di luar hitungan weton! Nggak ada musibah yang terjadi tanpa izin dari Tuhan."

Penjelasan Zaki yang begitu logis, penuh keyakinan tauhid, dan disampaikan dengan tatapan mata yang menyala-nyala oleh cinta itu secara perlahan mulai menembus kabut ketakutan di kepala Wiwi.

Isak tangis gadis itu perlahan mereda. Getaran di tangannya mulai menghilang, tergantikan oleh kehangatan yang mengalir dari telapak tangan Zaki.

"Tapi... Bapak kalih Simbok, Mas..." (Tapi... Bapak sama Ibu, Mas...) cicit Wiwi masih ragu, memikirkan beban orang tuanya.

Zaki mengukir senyum yang paling menenangkan. Ia mengusap sisa air mata di pipi Wiwi dengan ibu jarinya secara perlahan.

"Nanti malam, biarkan saya yang bicara langsung dari hati ke hati sama Pak Doyo dan Simbok. Saya sebagai laki-laki, sebagai calon imammu, yang akan mengambil alih semua tanggung jawab dan semua risiko dari pernikahan ini. Saya akan yakinkan mereka kalau Mbah Joyo salah. Saya yang akan pasang badan di depan. Kamu nggak usah mikir yang berat-berat lagi, ya?"

Zaki memberi jeda sejenak, membiarkan senyumnya menular pada Wiwi. "Masa calon pengantin cantik matanya bengkak kayak disengat tawon begini? Nanti pas dirias malah disangka orang lagi nangis karena dipaksa nikah, lho."

Candaan ringan di penghujung kalimat itu sukses membuat pertahanan kesedihan Wiwi runtuh seutuhnya. Gadis itu tertawa di sela-sela sisa sesenggukannya.

Ia buru-buru menarik tangannya dari genggaman Zaki untuk mengusap wajahnya yang berantakan dengan ujung kerudung, merasa sangat malu karena ketahuan berwajah jelek oleh calon suaminya.

"Mas Zaki niku lho, tiyang nembe sedhih malah digojeki," (Mas Zaki itu lho, orang lagi sedih malah dibercandai,) sungut Wiwi pelan, memalingkan wajahnya yang kini merona merah padam, bukan lagi merah karena tangisan, melainkan karena malu yang tersipu-sipu.

Zaki bangkit dari posisi berlututnya, duduk kembali di kursi dengan tawa pelan yang melegakan. Hatinya kembali terasa lapang melihat gadis yang ia cintai itu bisa kembali tersenyum.

Di ruang tamu yang sederhana itu, dilema besar yang sempat mencekik batin Wiwi perlahan-lahan mencair, dilebur oleh ketegasan dan cinta Zaki yang tanpa syarat.

Pemuda itu sukses meyakinkan calon istrinya bahwa masa depan mereka tidak ditentukan oleh tinta di atas lembaran primbon kuno, melainkan oleh genggaman tangan mereka sendiri yang berserah diri pada takdir langit.

Keduanya menghela napas panjang, merasa telah berhasil memenangkan satu lagi pertempuran batin.

Mereka sama-sama tak menyadari...

Bahwa apa yang diucapkan Zaki tentang "takdir kematian dari Yang Di Atas"...

Akan datang menjemput dengan cara...

Yang jauh lebih brutal dan tak masuk akal daripada sekadar ramalan usang Mbah Joyo.

Pagi itu, di balik awan kelabu yang menggantung di desa, roda nasib mulai berputar menuju puncaknya.

1
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
yang sekelas Nisa punya 2 perewangan 3 sama punya haruma saja perjuangan melawan santet kiriman yuli apalagi yg orang biasa ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Ada pepatah yang terkenal dari dulu, Kak:

"Semakin tinggi pohon kelapa, semakin kencang angin yang menerpa."

Mungkin itu pepatah yang sesuai sama kondisi kebatinan dan kemampuan Nisa yang sekarang. Kalau di awal-awal seri, Nisa kan cuma menghadapi bangsa lelembut kelas rendah (sosok Gilang misalnya). Nah, sekarang yang dihadapi adalah rasa dendam dari manusia yang bersekutu dengan iblis.
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh seperti itu ya serem juga ya dua santet kutukan tsb
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: klo nggak baca karya ini aku mana tau yg namanya santet
total 2 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
6 tahun di waktu yg sama

Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Berburuk sangka pada manusia saja tidak dianjurkan, apalagi berburuk sangka pada Tuhan, yulll.
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
astaga yullll barbar skali, udah kek preman cewek
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
wkwkwk asyuuu wong cerbon


aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🤭🤭🤭

Makanya saya juga nulis dialognya natural aja, Kak... Wkwkwk... Biar terasa semirip mungkin sama kondisi nyatanya...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Cirebon kota yang biasa disebut sebagai kota udang, kota nya sunan gunung jati.

Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.

Selamat Datang di Cirebon Yuli.
Irman
kesedihan yang datang berturut-turut untuk Yuli...😢
semangat yul💪💪
Irman: rasanya sakit hati ini, ka othor sukses buat pembaca serasa masuk dalam cerita... 👍👍👍
total 2 replies
Irman
aku juga pasti sedih jika d posisi keluarga Wiwi,,,😢
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak Irman...

Saya juga pas menulis naskah BAB ini, benar-benar meresapi bagaimana rasanya kalau saya yang jadi Yuli... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh sadissss

seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak...

Sebenarnya, dari semua seri TIRAKAT yang aku tulis, TIRAKAT 6 ini yang akan paling banyak pesan moralnya buat para pembaca, buat saya juga...

Pesan moral tentang rasa cinta, pengorbanan, dendam, amarah, kasih sayang, dan keluarga... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
nggak cinta Zaky ke Wiwi tulus... itu knpa dia mengabaikan omongan mbah joyoo

yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Siap, Kaaak... 🥰🥰🥰

Semoga nggak bosen-bosen ya Kak bacanya... hehehe...

Insya Allah, rencana saya buat TIRAKAT ini, The Last Chapternya ada di TIRAKAT 9.
total 3 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh Zakk ada yg nangis darah kna keegoisan kmu
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Ohh si mbok juga jadi korban ya? pantes Yuli dendam.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Iya, Kak... Karena Si Mbok pas hari dimana tragedi itu terjadi, beliau juga ada di dapur yang sama dengan Dek Wiwi... Hanya saja tidak banyak diekspos keberadaan Si Mbok, fokusnya memang ke Zaki dan Dek Wiwi saja...

Bahkan Yuli, Kakaknya Dek Wiwi pun, dari awal kisah pertemuan Zaki-Dek Wiwi, dirinya sama sekali nggak muncul satu dialogpun.

Sengaja baru dimunculkan sekarang... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Waduhhh dendam kna mungkin mikir gara-gara zaky ngeyel dek wiwi jadi korban kali ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: TEPAT!!! 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Setiap orang ada ujian nya masing-masing Zak... ada nya ujian itu kna kita mampu melewati nya. Ujian kamu, ujian Nisa berbeda kna kekuatan N kemampuan kalian juga berbeda, yg terpenting jngn lupa tetap bersyukur N bersabar ya Zakk

( duhh aku komen apa sihh) next aja ya
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: 🥰🥰🥰

Komen Kakak bisa jadi Quote of The Night, nih... Mwehehehe...
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Aku lupa Sekar Arum masa lalu nya. klo Dayang putri sama sekarang mayang aku inget masa lalu mereka. perewangan Haruma ini ada pernah di bhs di Tirakat sblom nya kah
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ: ohh itu iya iya aku inget terimakasih udah diingatkan kak
total 7 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Seperti Tirakat nya, Cinta Nisa ke Zaky juga nggak kaleng kaleng. 6 tahun menunggu, bukan mencari tapi menunggu tanpa berburuk sangka. klo jaman sekarang ada kah Seperti Nisa?
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Mungkin ada... Tapi... Sejuta banding satu kayaknya, Kak... 😭😭😭
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Tirakat nya Nisa nggak kaleng kaleng Zakk... bukan waktu yg sebentar tapi waktu yang lama, wajar klo nisa bisa seperti itu.
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️: Nggak kebayang gimana kalau seandainya saya beneran jadi Zaki, terus lihat istri sendiri kayak begitu...

Wah... 🤨🤨🤨
total 1 replies
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Semangat sembuh Zakk, tenang obat yang sesungguhnya udah kamu miliki
🍾⃝ ᴀsͩᴍᷞᴀͧʀᷡᴀͣ
Nisa ketempelan sekarang mayang kek nya wkwkwk jadi nggak pasif
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!