NovelToon NovelToon
Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Gitaris Cantik Bertato Pujaan Ku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Dikelilingi wanita cantik / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Arni Arlinawati

Meloudy Tanuwirama, pemilik tato mencolok yang menutupi seluruh lengan kanan hingga pundak, adalah seorang gitaris metal dan kreator konten dengan 100 juta lebih pelanggan. Di balik kesuksesannya di dunia maya, ia berjuang keras menafkahi sekaligus membiayai pengobatan ibunya yang sakit — menjadi satu-satunya tulang punggung keluarga tanpa ayah. Namun penghasilannya belum cukup menutupi biaya yang terus menumpuk.

Sementara itu, Vano S. Viandra — pemilik perusahaan S Group yang berpengaruh di seluruh Benua Asia, berparas tampan luar biasa namun berhati sedingin es — terkejut luar biasa saat menyadari siapa wanita itu sebenarnya.

"Tato itu… Kau Loudy? Gitaris metal yang punya seratus juta lebih pelanggan? Kau?!"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 15 — Di Balik Senyum yang Tersembunyi

Pintu kamar tertutup perlahan di belakangnya. Meloudy menarik napas panjang, berusaha menenangkan detak jantungnya yang masih terasa tak tenang, lalu melangkah mendekati tempat tidur ibunya.

Ibu sudah menatapnya sejak ia berdiri di ambang pintu, senyumnya lembut namun penuh rasa ingin tahu.

"Duduklah di sini, Nak…" panggilnya pelan, menepuk sisi tepi kasur.

Meloudy duduk di kursi kayu di samping tempat tidur, menggenggam tangan ibunya yang terasa dingin.

"Ada yang ingin Ibu tanyakan sejak beliau pergi tadi…" suaranya terdengar halus.

"Pria itu… Tuan Vano. Menurutmu, dia orang seperti apa?"

Meloudy menunduk sejenak, mengusap punggung tangan keriput itu perlahan.

"Beliau… hanyalah atasan saya, Bu. Tidak lebih."

"Atasan…" Ibu mengulang kata itu pelan, tak sepenuhnya puas namun tak mendesak. Matanya menatap wajah putrinya lekat-lekat, lalu perlahan menyipit.

"Kalau begitu… kenapa kau terlihat begitu lelah, Meloudy?"

Jantung Meloudy mencelos. Ia berusaha tersenyum tipis.

"Maksud Ibu?"

Ibu mengangkat tangan yang lain, menyentuh pelan kulit di bawah mata putrinya — tepat di tempat lingkaran gelap itu mulai terlihat jelas, tak bisa lagi disembunyikan meski dengan riasan tipis sekalipun.

"Lingkaran hitam ini… makin dalam dari hari ke hari, Nak. Ibu melihatnya. Ibu tahu kau tak tidur cukup. Apa yang sebenarnya terjadi?"

Meloudy menelan ludah yang terasa pahit. Ia memalingkan wajah sebentar, berusaha menyembunyikan getaran di matanya.

"Tidak apa-apa, Bu… sungguh. Hanya pekerjaan yang sedikit menumpuk, itu saja. Saya hanya kurang tidur."

"Pasti hanya itu?" Ibu tak melepaskan genggamannya, menatapnya lekat-lekat.

"Tak ada hal lain? Seperti… urusan yang berat? Sesuatu yang kau sembunyikan dari Ibu?"

Meloudy menggeleng pelan, menahan agar suaranya tak bergetar. Di kepalanya terbayang deretan angka di atas kertas tagihan, pesan-pesan penagih hutang yang tak pernah berhenti, beban yang ditinggalkan ayahnya — semua itu kini memikul pundaknya seorang diri. Tak ada yang tahu. Tak ada yang bisa ia ceritakan.

"Sungguh tidak ada apa-apa, Bu…" ucapnya lembut, berusaha meyakinkan sekaligus menenangkan.

"Jangan dipikirkan, ya? Fokus saja sembuh. Saya baik-baik saja."

Ia mencium punggung tangan ibunya, menekannya lembut di pipi, berharap gerakan itu bisa menutupi kegelisahannya.

"Kau, tidak bohong kan?" Ibu masih ragu, namun perlahan meremas tangan putrinya balik.

"Tidak, bu." Meloudy tersenyum — senyum yang ia susun sekuat tenaga agar terlihat tulus.

"Saya akan beristirahat sebentar di kursi ini. Panggil saya jika Ibu butuh apa saja."

Ia menarik selimut sedikit lebih tinggi, memastikan ibunya nyaman, lalu duduk kembali, membiarkan kepalanya condong ke samping, menatap jendela yang gelap. Di luar, hujan mulai turun lagi, perlahan namun pasti — sama seperti beban yang ia pikul, turun sedikit demi sedikit, dan ia tak akan membiarkan siapa pun merasakannya.

Terutama ibunya.

...****************...

Langkah kakinya terasa berat seakan memikul batu besar di dada — bukan karena jalan yang jauh, melainkan karena satu nama yang ia lindungi di balik segala keheningannya: Damian L. Viandra

Ia tak ingin ke sini. Tak ingin menatap wajah sepupunya yang begitu tulus, begitu percaya — karena setiap kali melihat senyum itu lebar dan jujur, hatinya terasa diiris perlahan, berkali-kali, tanpa darah yang mengalir namun perihnya tak terkatakan. Bukan takut pada Kakek. Bukan takut pada nama baik keluarga. Ia takut melihat Damian hancur — hancur oleh tangan orang yang paling ia percayai.

Di ruang tamu yang luas dan berkilauan itu, Damian berdiri menyambutnya — satu-satunya kerabat yang selama ini memperlakukannya seperti saudara kandung, bukan sekadar aset keluarga yang dijaga nilainya. Di sampingnya, berdiri sosok yang membuat napasnya tercekat.

Ina Marlina.

Tersenyum manis, matanya menyapu seluruh tubuh Vano seakan ia sudah memilikinya seutuhnya sejak lama. Damian hanyalah jembatan, sekadar pintu masuk — sarana untuk mendekat kepadanya — dan Vano tahu itu sejak awal. Namun ia diam. Ia menelan ludah yang terasa pahit. Demi Damian.

"Vano! Akhirnya kau datang!" Damian melangkah mendekat, tersenyum lebar, tak menyadari badai yang mengamuk di mata sepupunya.

"Sudah lama sekali kami menantikanmu. Hampir saja kami lupa rupa wajahmu."

Vano mengangguk pelan, bibirnya terasa kaku, tak mampu menyunggingkan senyum balasan. Matanya beralih sejenak ke Ina — wanita itu menatapnya balik dengan senyum penuh arti, penuh ancaman tak terucap, seakan berbisik:

Aku memegang kendali. Dan kau tak akan bisa mengatakan nya.

"Damian…" sapanya singkat, suaranya tertahan di kerongkongan.

Damian menoleh bangga ke arah pasangannya.

"Ini tunanganku, Ina Marlina. Ia sudah mendengar banyak hal tentangmu."

Ina mengulurkan tangan. Jemarinya menyentuh telapak tangan Vano lebih lama dari yang sepantasnya, lembut namun menekan, seakan menanamkan kepemilikan. Tatapannya menyusup tajam ke dalam jiwanya.

"Senang sekali akhirnya bertemu langsung denganmu, Vano," suaranya halus, mendayu.

"Damian selalu bercerita… betapa hebat, betapa istimewanya kau."

Vano menarik tangannya perlahan, menahan rasa jijik yang merambat naik dari perut ke kerongkongan. Ia tahu persis apa yang diinginkan wanita ini — bukan Damian. Bukan nama keluarga. Dirinya. Dan malam itu… malam itu adalah kesalahan yang tak bisa ia tarik kembali.

Bukan karena cinta. Bukan karena kerinduan yang nyata. Hanya karena ia hancur.

Orang tuanya baru saja berpisah — masing-masing pergi bersama orang lain, meninggalkannya sendirian di rumah yang mewah namun kosong melompong. Amarah yang tak tersalurkan, kesepian yang mencekik, kekecewaan yang meledak seketika — ia meminum apa saja yang bisa ditemukannya, hingga dunianya berputar dan kesadarannya menguap perlahan. Di tengah kegelapan itu, Ina hadir. Ia mendekat, mengusap bahunya, berbisik lembut… dan Vano, yang sudah tak sadar sepenuhnya, melihatnya bukan sebagai Ina.

Di matanya yang kabur, wajah itu tertukar. Tangan yang menyentuhnya terbayang sebagai tangan lain — tangan yang ia kenal hanya dari layar ponselnya, tangan berhias tato indah yang menjalar dari punggung, naik ke pergelangan, hingga ke bahu, tangan yang memetik senar gitar dengan perasaan yang tak pernah ia temukan di mana pun. Laudys. Satu-satunya pelariannya, satu-satunya tempat di mana ia merasa dimengerti.

Tanpa sadar, ia menanggapi sentuhan itu. Setiap pelukan, setiap ciuman, setiap bisikan namanya — semuanya ditujukan pada bayangan wanita yang tak pernah ia ketahui rupa aslinya. Ia melakukannya seakan bisa lari dari kenyataan pahit: bahwa tak ada seorang pun di dunia ini yang benar-benar memeluknya tanpa pamrih.

Ia terbangun keesokan paginya dengan kepala yang terasa retak. Di sebelahnya, di balik selimut, terbaring Ina Marlina — sama telanjangnya dengan dirinya. Tidak ada tato. Tidak ada wajah yang ia cari. Hanya Ina. Tunangan sepupunya. Wanita yang Damian cintai dengan segenap hatinya.

Malam itu bukan pilihannya. Namun kenyataannya tetap sama: ia telah mengkhianati satu-satunya orang yang tulus padanya. Dan yang paling menyakitkan — Ina diam saja. Ia menyimpan rahasia itu, merawatnya, membiarkannya tumbuh menjadi senjata yang siap diarahkan kapan pun ia mau.

Vano meneguk ludah, menatap Damian yang tersenyum polos, tak tahu apa-apa. Dadanya sesak.

Maafkan aku… batinnya bergumam getir, tak berani menyuarakannya.

Aku tidak berani memberitahumu. Bukan karena aku takut. Tapi karena aku tak sanggup melihatmu hancur.

^^^Bersambung...^^^

1
Acylia_Celyn
mahal sih ini, di tempatku nasi bungkung dgn berbagai isian(lauk) yang melimpah harganya 10k aja. itu udah di tambah kerupuk dan sambel serta sayurnya
Acylia_Celyn
hidup dgn dililiti hutang tuh emang nyusahin sih😭
Acylia_Celyn
uww, dia lagi sama siapa dan dipikirannya mikirin siapa
Acylia_Celyn
what what an?
Acylia_Celyn
alasannya hanya karna tau tatonya?..
Mingyu gf😘
Banyak banget masalah mu vano
Mingyu gf😘
Gila sumpah ini udah tahap.obses
Mingyu gf😘
Dasar murahan, kamu juga vano, tegas dikit domg
naws
kapan ini semua terumgkapp? penasaran mau liat reaksinya vano 🤭
naws
hih bangga bgt pasti dia bisa deket2 sama vano 😖
naws
kalopun tau, harusnya elona gaboleh marah. mereka kan gak ada komitmen.
naws
dia napsunya bukan sama kamu mbak
ginevra
iya, terima aja.... biar jadi jariah si vano
ginevra
aku takut kalau sang ibu malah diambil duluan sama authornya 🥹🥹
ginevra
awww ... terharu aku tuh 🥹🥹... melodi emang anak yang manis
ginevra
itu pas melodi melipat bajunya .. ingat ingat donk
ginevra
ternyata udah fans lama ini mah....
ginevra
cuma nampilin tangan aja loh... udah buat Vano terpana .. hebat kamu melodi mehehe
Nona Cloe
wuohhh mulai serius nih, ada apa?😄
✿⃟‌⃟ᶜᶠᶻ Kartika Candra Buwana
itu kan rencanamu. tapi rencana author seharusnya ga begitu. betul ga?😄
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!