NovelToon NovelToon
Lahir Nya Penyihir Terkuat

Lahir Nya Penyihir Terkuat

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Mengubah Takdir
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: Anisa Ammoera(_)

Seorang penyihir terkuat nomor satu Lucien yang tidak tertandingi, memasuki raga seorang pria lemah yang ternyata adalah pelayan setia dari Putri Aurelia. Aurelia adalah anak haram dari pimpinan klan Es yang selalu diremehkan oleh Ayahnya.

Apa lagi Aurel terlahir tanpa memiliki inti roh murni.

Namun segalanya berubah saat Lucien memasuki raga Arthur. Rahasia nya terungkap saat nyawa Aurel dalam bahaya. Aurel memohon padanya. Dan sejak saat itu--- Lucien sang penyihir terkuat menjadi guru dari Aurel.

Tujuan Aurel satu--- membalaskan setiap hinaan yang dia Terima dan merampas kepemimpinan klan Es dari Ayah dan Kakak tiri nya. Tentu saja, itu semua hanya bisa terjadi jika Lucien berdiri di sampingnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anisa Ammoera(_), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kedatangan Arthur

Napas Aurelia tersengal-sengal, memburu bagai diburu maut. Setiap embusan terasa membakar paru-parunya, meninggalkan rasa sesak yang menghimpit dada.

Tenaganya telah terkuras habis, menyisakan keletihan mendalam hingga ke tulang.

Di bawah langit wilayah Klan Es, pakaian yang dikenakannya kini tak lebih dari secarik kain usang; robek di beberapa sisi, menyingkap kulit yang dihiasi luka gores kemerahan.

Tangan kanannya yang mencengkeram erat gagang pedang tampak gemetar hebat, bukan karena takut, melainkan karena otot-ototnya yang sudah mencapai batas maksimal.

Di hadapannya, kelima bangsawan sombong itu berdiri tanpa luka berarti. Mereka tertawa mengejek, sebuah melodi hinaan yang menggema di koridor terbuka itu.

Pedang-pedang di tangan mereka masih mengeluarkan pendaran cahaya magis yang berkilauan—simbol status dan kekuatan sihir murni yang mengalir di darah biru mereka.

Sementara Aurelia? Dia tahu dia telah berusaha sekuat tenaga. Setiap tebasan, tangkisan, dan gerak tipu telah ia kerahkan demi mempertahankan harga dirinya.

Namun, bertarung tanpa sihir adalah sebuah kesia-siaan yang tragis. Tanpa sihir, pertahanan nya hanyalah masalah waktu sebelum runtuh total.

"Cukup bermain-mainnya," kata Arnon sambil menyunggingkan senyum sinis yang memuakkan.

Ia melangkah maju, menurunkan ujung pedangnya yang bersinar redup. "Sekarang... kau harus dihukum, Gadis Nakal." Tatapan mata Arnon menyusuri lekuk tubuh Aurelia, menatapnya dengan penuh nafsu membara, seolah-olah Aurelia adalah seekor rusa buruan yang siap dikuliti.

Aurelia tidak membalas dengan makian. Ia hanya menatap mereka dengan pandangan datar dan dingin, sedalam telaga mati.

Meskipun lututnya goyah dan tenaganya sudah habis untuk bertahan, jiwanya menolak untuk tunduk.

Dengan sisa-sisa tenaga nya, ia memaksakan tubuhnya tetap berdiri tegak, menantang gravitasi dan intimidasi kelima penyihir bangsawan tersebut.

"Apa? Kau masih berpikir bisa melawan kami dengan tatapan itu?" tanya Felix, terkekeh meremehkan sambil melangkah ke samping Arnon. Tatapannya dipenuhi rasa yang menjijikkan. "Lihatlah dirimu. Tubuhmu bahkan sudah gemetar seperti daun kering yang ditiup angin," lanjutnya dengan nada mencemooh.

Isa mengangguk setuju, melipat tangan di dada dengan angkuh. "Tidak ada gunanya terus melawan. Tubuh manusia mu yang tanpa sihir itu tidak akan bisa bertahan lebih lama lagi menghadapi tekanan mana kami. Menyerah lah sebelum kami mematahkan kakimu."

"Jadi, pilihan yang terbaik untukmu saat ini..." Eros melanjutkan kalimat Isa, melangkah maju dengan seringai predator.

Ia membasahi bibirnya yang kering dengan ujung lidah, menatap Aurelia seolah gadis itu adalah santapan malam. "Kau menyerah, jatuhkan pedang rongsokanmu itu, dan ikutlah bersama kami secara baik-baik. Mungkin kami bisa sedikit berbaik hati di kamar nanti."

Mendengar kata yang menjijikkan itu, membuat Aurelia merasa muak. Mereka berlima bergerak serentak, mempersempit jarak dan mengepung Aurelia. Insting bertahan hidup membuat Aurelia spontan mundur beberapa langkah, meskipun tumitnya sempat terantuk batu.

Di sekeliling tempat itu, beberapa pasang mata hanya diam terpaku. Mereka berbisik-bisik, sibuk menjadi penonton setia drama penindasan ini, tanpa ada satu pun orang yang cukup berani untuk mengulurkan tangan membantu sang gadis tanpa sihir.

Merasa tidak ada jalan keluar, Aurelia perlahan memejamkan matanya, bersiap menerima hantaman sihir atau cengkeraman kasar yang akan datang. Namun, tepat saat keheningan mencekam itu memuncak—

DUG! DUG! DUG! DUG! DUH!

"AAARRRRGGGGG!"

Jeritan kesakitan memecah udara secara beruntun. Lima batu kerikil kecil yang entah datang dari mana, meluncur secepat anak panah, membelah udara dengan presisi mematikan. Batu-batu itu mendarat tepat di kening kelima bangsawan sombong tersebut secara bergantian.

Kekuatan hantaman itu begitu kuat hingga membuat tubuh Arnon, Felix, Isa, Eros, dan Finn terlempar ke belakang, jatuh terjungkal di atas tanah dengan kening yang langsung membiru dan memar parah.

"Sialan! Kepalaku!" teriak Isa, mengerang kesakitan sambil memegangi keningnya yang berdenyut kencang, darah segar mulai merembes dari kulitnya yang robek.

"Siapa? Siapa yang berani ikut campur?!" teriak Felix dengan wajah merah padam karena murka, berusaha bangkit sambil mengacungkan pedangnya secara liar ke segala arah.

Aurelia membuka matanya dengan terkejut. Mendengar keributan itu, ia spontan menoleh ke belakang, mencari sumber serangan tak terduga tersebut.

Di sana—Arthur berdiri dengan santai. Sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang sarat akan provokasi.

Ia menatap kelima bangsawan di bawahnya bagai melihat tumpukan sampah.

Melihat sosok pemuda itu, Aurelia sedikit melebarkan matanya, tak percaya bahwa dia yang datang menjadi penyelamatnya.

Arthur berdiri dengan sikap acuh tak acuh. Ia dengan santai melempar sebuah batu berukuran sekepalan tangan ke udara, menangkapnya, lalu melemparnya lagi secara ritmis. Sepasang matanya berkilat jenaka namun dingin. Napas Aurelia tertahan melihat kemunculan pemuda itu.

Arthur berjalan mendekat dengan langkah santai seolah tanpa beban, lalu berhenti tepat di samping Aurelia.

"Hei, para Tuan Muda," kata Arthur, suaranya terdengar begitu tenang di tengah ketegangan yang mencekam. "Waktu bermain kalian sudah habis. Sekarang, lebih baik kalian pulang ke ranjang empuk kalian... dan tidur dengan nyenyak... jika bisa, tidak usah bangun lagi untuk selamanya."

Hening!

Seketika atmosfer di tempat itu membeku. Semua mata membelalak tak percaya mendengar provokasi frontal tersebut.

Bahkan Aurelia yang berdiri di sisi Arthur terpaku dalam bisu. Ia seolah melihat sosok asing yang mengerikan di dalam tubuh pemuda itu. Dia... masih Arthur yang sama, kan? pikir Aurelia dengan jantung yang berdegup kencang, separuh cemas, separuh terkesima.

Kelima bangsawan yang tadinya tersungkur langsung bangkit berdiri serentak. Wajah mereka membiru, menahan malu dan murka yang meledak-ledak.

"Kurang ajar kau! Beraninya kau ikut campur urusan kami!" raung mereka berbarengan, membuat gema kemarahan bergaung di dinding koridor tempat itu.

"Aku akan menunjukkan di mana tempatmu yang sebenarnya!" bentak Finn penuh kebencian, tangannya mulai diselimuti oleh uap dingin yang membekukan udara di sekitarnya.

Mereka berlima secara bersamaan mengangkat pedangnya kembali, berniat menghancurkan Arthur dan Aurelia dengan sihir es andalan yang menjadi kebanggaan mereka.

Partikel-partikel es tajam mulai terbentuk di udara, siap meluncur layaknya ratusan belati pencabut nyawa.

Namun, Arthur tetap bergeming. Alih-alih bersiap memasang kuda-kuda bertarung, ia justru menoleh ke arah gadis di sampingnya. Ia mendekatkan wajahnya, lalu berbisik lembut di telinga Aurelia.

"Nona... apa Nona bisa menari?" tanya Arthur dengan nada suara yang terlampau santai untuk situasi hidup dan mati ini.

Aurelia mengangkat alisnya tinggi-tinggi, wajahnya menyiratkan kebingungan yang teramat sangat. Di saat seperti ini, pemuda ini malah menanyakan tarian?

Sebelum serangan dari kelima bangsawan itu meluncur membelah udara, Arthur bergerak secepat kilat. Dengan berani, ia menarik tubuh Aurelia ke dalam pelukannya.

Kedua tangannya yang kokoh melingkar sempurna di pinggang ramping gadis itu, merapatkan jarak mereka hingga tak ada celah.

Wush!

Tepat pada detik itu, tatapan mata mereka bertemu. Aurelia terpaku, napasnya tercekat di tenggorokan saat merasakan kehangatan yang kontras dengan udara dingin sihir di sekitar mereka.

Di tengah serangan sihir es yang siap menerjang, Arthur justru tersenyum misterius—sebuah senyuman penuh percaya diri milik seorang predator yang siap mempermainkan mangsanya.

"Ikuti langkahku, Nona. Ini akan sangat menyenangkan," bisik Arthur, sesaat sebelum tanah di bawah kaki berubah seketika.

1
utina lee
Jatuhnya aurelia sama emaknya sama² beban ga sih, saling membebani dan memberatkan.... semangat othor 💪
BAITI SYAIRUROH
ceritanya menarik thor..semangat💪
utina lee
semangat thor💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!