Sinopsis
Clara Evellyn dikenal sebagai gadis cantik yang keras kepala dan berani. Di balik penampilannya yang anggun, Clara ternyata merupakan anggota geng motor yang disegani. Ia terbiasa hidup bebas, penuh tantangan, dan tidak takut menghadapi siapa pun.
Namun, hidupnya berubah ketika sebuah perjanjian keluarga membuat Clara harus menikah dengan Fedro Alexsander, seorang pria tampan, dingin, dan sangat berkuasa.
Fedro sama sekali tidak menyangka bahwa wanita yang menjadi istrinya ternyata adalah gadis geng motor yang sering membuat kekacauan di jalanan.
Awalnya, pernikahan mereka dipenuhi pertengkaran, rahasia, dan saling curiga. Clara ingin mempertahankan kebebasannya, sementara Fedro berusaha membuat istrinya mengikuti aturan yang telah ia tetapkan.
Tetapi semakin mereka dekat, semakin sulit bagi keduanya untuk menyangkal perasaan yang mulai tumbuh.
Ketika masa lalu Clara mulai mengejar dan mengancam keselamatan mereka, Fedro harus memilih: tetap menjaga jarak atau melindungi
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Viie27, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 28
Gadis Geng Motor Adalah Istriku
Bab 28 — Pengkhianat yang Tidak Terduga
Gudang itu kembali dipenuhi suara langkah kaki.
Puluhan anggota Black Viper masuk dari pintu besi yang baru saja terbuka.
Lampu-lampu di langit-langit menyala satu per satu, menerangi wajah mereka yang penuh ancaman.
Clara berdiri kaku.
Kalimat Alena masih terngiang di kepalanya.
Jangan percaya orang yang datang bersamamu.
Siapa?
Clara menatap satu per satu orang yang berada di dekatnya.
Fedro.
Raka.
Rafael.
Aria.
Gabriel yang masih terbaring di lantai.
Tidak ada satu pun yang terlihat mencurigakan.
Namun justru itulah yang membuat Clara semakin takut.
Pengkhianat tidak akan berdiri dengan wajah penuh dosa.
Pengkhianat akan berdiri seperti orang yang paling tidak bersalah.
“Clara.”
Suara Fedro membuatnya tersadar.
“Kita harus keluar dari sini.”
Clara tidak langsung menjawab.
Tatapannya masih berpindah dari satu orang ke orang lain.
Fedro menyadari perubahan ekspresi istrinya.
“Ada apa?”
Clara menatapnya.
“Kak Alena bilang jangan percaya orang yang datang bersamaku.”
Fedro terdiam.
Raka langsung menoleh.
“Siapa yang dia maksud?”
“Aku tidak tahu.”
Rafael berdiri perlahan.
“Bisa jadi itu pesan yang sengaja dibuat untuk membuat kita saling mencurigai.”
Clara menatapnya.
“Mungkin.”
Rafael menghela napas.
“Jangan biarkan mereka memecah kita.”
Clara masih diam.
Namun dalam hati, ia mulai berpikir.
Kalau pesan Alena memang sengaja dibuat untuk menimbulkan kecurigaan, kenapa suara Alena terdengar begitu ketakutan?
Dan kenapa sebelum suaranya terputus, Alena terdengar seperti sedang berusaha memperingatkan mereka?
“Clara.”
Aria menyentuh lengannya.
“Kita harus pergi.”
Clara mengangguk.
“Ya.”
Fedro segera membungkuk untuk membantu Gabriel.
“Raka, bantu aku.”
Raka mengangguk.
Namun baru beberapa langkah mereka bergerak—
“Berhenti!”
Suara salah satu anggota Black Viper menggema.
Puluhan pria langsung mengangkat senjata.
Clara menegang.
Raka berdiri di depan mereka.
“Jangan coba-coba.”
Pria itu tertawa.
“Kalian pikir bisa keluar begitu saja?”
Fedro menatap dingin.
“Kalau kami tidak keluar?”
“Tidak ada yang akan keluar.”
Raka mengepalkan tangannya.
Clara menarik napas.
Mereka berada di dalam gudang yang dikepung.
Tidak ada jalan keluar.
Namun tiba-tiba—
BRAK!
Pintu samping gudang dihantam dari luar.
Semua orang menoleh.
Kemudian terdengar suara motor meraung.
Satu.
Dua.
Puluhan.
Reno!
Beberapa anggota Serigala Merah menerobos masuk dari pintu samping.
“SERIGALA MERAH!”
Teriakan terdengar.
Reno mengangkat tongkat besi di tangannya.
“Jangan sentuh Clara!”
Pertempuran langsung pecah.
Raka tidak menyia-nyiakan kesempatan.
“Sekarang!”
Ia dan Fedro membawa Gabriel menjauh.
Rafael menarik Aria.
“Cepat!”
Clara berlari.
Namun baru beberapa meter—
seorang pria Black Viper menghadangnya.
Clara menunduk menghindari serangan.
Tangannya langsung menghantam perut pria itu.
Pria tersebut terhuyung.
Clara tidak menunggu.
Ia berbalik dan berlari.
Fedro menarik tangannya.
“Ayo!”
Mereka bergerak menuju pintu samping.
Namun Clara tiba-tiba berhenti.
“Aria!”
Aria tidak terlihat.
Clara menoleh panik.
“Aria!”
Fedro segera berbalik.
“Raka!”
Raka melihat ke belakang.
“Dia tadi bersama Rafael!”
Clara langsung menatap Rafael.
Namun pria itu juga tidak terlihat.
“Rafael?”
Jantung Clara berdetak semakin cepat.
Jangan percaya orang yang datang bersamamu.
Tiba-tiba semuanya terasa masuk akal.
Rafael menghilang.
Aria menghilang.
Dan mereka berdua sebelumnya berada paling dekat.
“Tidak…”
Clara langsung berlari kembali.
Fedro mencoba menahannya.
“Clara, jangan!”
“Aku harus mencari Aria!”
“Kita tidak tahu apa yang ada di dalam!”
“Aku tidak peduli!”
Clara melepaskan tangan Fedro.
Namun sebelum ia kembali masuk, seseorang berlari keluar dari lorong belakang.
Rafael.
Ia membawa Aria.
“Clara!”
Clara langsung menghampirinya.
“Aria!”
Aria tampak ketakutan.
Rafael melepaskannya.
“Dia hampir dibawa mereka.”
Clara langsung memeluk Aria.
“Kamu tidak apa-apa?”
Aria mengangguk.
Namun Clara memperhatikan sesuatu.
Ada noda darah di lengan Rafael.
“Kamu terluka.”
Rafael melihat lengannya.
“Bukan darahku.”
Clara menatapnya.
“Darah siapa?”
Rafael tidak menjawab.
Tatapannya mengarah ke lorong.
“Darah salah satu anggota Black Viper.”
Clara menghela napas lega.
Namun kecurigaannya belum hilang.
Ia justru semakin bingung.
Jika Rafael pengkhianat, mengapa ia menyelamatkan Aria?
Atau mungkin—
itu hanya cara untuk mendapatkan kepercayaan mereka kembali.
“Clara!”
Reno berteriak.
“Keluar sekarang!”
Clara mengangguk.
Mereka semua akhirnya keluar dari gudang.
Namun sebelum meninggalkan tempat itu, Clara sempat menoleh ke belakang.
Di lantai gudang, sesuatu berkilauan.
Sebuah benda kecil.
Clara berlari mengambilnya.
Sebuah kunci.
Bentuknya seperti burung.
Sama persis dengan simbol pada liontin miliknya.
Clara membeku.
“Clara!”
Fedro memanggil.
Clara menggenggam kunci itu erat.
“Aku menemukan sesuatu.”
Raka mendekat.
“Apa?”
Clara menunjukkan kunci tersebut.
Raka mengamati.
“Ini bukan kunci biasa.”
Gabriel yang masih setengah sadar tiba-tiba membuka mata.
Begitu melihat benda tersebut, wajahnya langsung berubah.
“Jangan…”
Clara menatapnya.
“Paman tahu benda ini?”
Gabriel berusaha bangun.
“Buang.”
“Kenapa?”
“Sekarang juga.”
Clara semakin bingung.
“Kenapa?”
Gabriel menggenggam lengannya.
“Karena itu bukan kunci untuk membuka E-17.”
Clara menatapnya.
“Lalu?”
Gabriel berbisik,
“Itu kunci untuk membuka ingatanmu.”
Clara membeku.
“Apa?”
Namun Gabriel kembali kehilangan kesadaran.
“Paman!”
Tidak ada respons.
Clara menatap kunci itu.
Tangannya gemetar.
Kunci untuk membuka ingatannya.
Apa maksudnya?
Apakah selama ini ada sesuatu dalam ingatannya yang sengaja disembunyikan?
Sesuatu yang bahkan dirinya sendiri tidak tahu?
“Clara.”
Fedro menyentuh bahunya.
“Kita harus pergi dulu.”
Clara mengangguk.
Mereka masuk ke mobil.
Raka membawa Gabriel.
Aria duduk di samping Clara.
Rafael berada di mobil lain bersama Reno.
Mesin mobil menyala.
Mereka meninggalkan gudang.
Namun tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa dari sebuah gedung di seberang jalan—
seorang pria sedang mengamati mereka.
Ia mengangkat telepon.
“Sudah keluar.”
Suara wanita terdengar di seberang.
“Bagaimana dengan kuncinya?”
Pria itu tersenyum.
“Clara membawanya.”
“Bagus.”
“Apakah kita harus mengambilnya?”
“Tidak.”
Wanita itu tertawa kecil.
“Biarkan dia membukanya sendiri.”
“Kenapa?”
“Karena begitu ingatannya kembali…”
Wanita itu berhenti sejenak.
“…Clara akan membenci orang yang paling dia cintai.”
Di dalam mobil, Clara terus memandangi kunci kecil itu.
Aria duduk di sebelahnya.
“Kak…”
Clara menoleh.
“Apa?”
“Aku merasa pernah melihat kunci itu.”
Clara membeku.
“Kapan?”
Aria memejamkan mata.
“Ketika aku masih kecil.”
“Di mana?”
“Aku tidak tahu.”
Aria memegang kepalanya.
“Tapi aku ingat ada seorang pria yang memberikannya kepada seseorang.”
“Siapa?”
Aria mencoba mengingat.
Namun tiba-tiba wajahnya memucat.
“Dia…”
Clara menggenggam tangannya.
“Siapa?”
Aria membuka mata.
“Papi.”
Clara terdiam.
“Adrian?”
Aria mengangguk.
“Aku melihat Papi memberikan kunci itu kepada seorang pria.”
“Pria siapa?”
Aria menggeleng.
“Aku tidak tahu.”
Clara semakin gelisah.
Kalau Adrian memang bukan ayah kandung mereka, lalu apa hubungannya dengan kunci itu?
Dan siapa pria yang menerima kunci tersebut?
Clara menatap keluar jendela.
“Aku harus kembali ke rumah.”
Fedro yang sedang mengemudi meliriknya.
“Kenapa?”
“Aku harus bicara dengan Papi.”
“Kita bisa melakukannya setelah Gabriel sadar.”
“Tidak.”
Clara menggeleng.
“Aku tidak mau menunggu lagi.”
Satu jam kemudian, mereka kembali ke kediaman keluarga Evellyn.
Adrian sudah menunggu di ruang keluarga.
Begitu melihat Gabriel dalam keadaan tidak sadar, wajahnya langsung pucat.
“Apa yang terjadi?”
Raka menjawab,
“Dia disuntik sesuatu.”
Adrian segera memerintahkan pelayan membawa Gabriel ke kamar.
Namun Clara tidak ikut.
Ia berdiri di hadapan ayahnya.
“Papi.”
Adrian menatapnya.
“Apa?”
Clara mengeluarkan kunci kecil dari sakunya.
Wajah Adrian langsung berubah.
Ia mundur satu langkah.
Clara melihatnya.
“Papi mengenal benda ini.”
Adrian diam.
“Jawab.”
“Clara…”
“Papi mengenal benda ini!”
Suara Clara menggema di seluruh ruangan.
Amara yang berada di tangga langsung berhenti.
Adrian menatap kunci tersebut.
“Itu…”
“Paman Gabriel mengatakan ini adalah kunci untuk membuka ingatanku.”
Adrian menutup mata.
Clara tertawa getir.
“Ternyata benar.”
“Tidak seperti yang kamu pikirkan.”
“Lalu seperti apa?”
Adrian tidak menjawab.
Clara semakin marah.
“Berapa banyak lagi yang kalian sembunyikan?”
“Clara, dengarkan Papi.”
“Aku sudah mendengarkan selama tujuh belas tahun!”
Air mata Clara jatuh.
“Dan setiap kali aku percaya, selalu ada kebohongan baru!”
Adrian mendekat.
“Papi melakukan semua ini untuk melindungi kalian.”
Clara langsung mendorong tangannya.
“Jangan gunakan kata itu lagi!”
Adrian terdiam.
“Aku tidak mau dilindungi dengan kebohongan.”
Clara mengangkat kunci itu.
“Aku ingin tahu apa yang ada di dalam ingatanku.”
Adrian pucat.
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena kamu belum siap.”
“Aku sudah siap!”
“Clara!”
“Aku sudah kehilangan Kak Alena!”
“Aku hampir kehilangan Aria!”
“Ibu ternyata masih hidup!”
“Paman Gabriel hampir mati!”
“Rafael menyimpan rahasia!”
“Leonard datang membawa pasukan!”
Clara menangis.
“Dan Papi masih mengatakan aku belum siap?”
Adrian tidak mampu menjawab.
Clara menatapnya penuh luka.
“Kalau begitu biarkan aku membukanya sendiri.”
Adrian langsung meraih tangannya.
“Jangan!”
Clara menatapnya.
“Kenapa?”
Adrian terlihat sangat ketakutan.
“Karena kalau ingatanmu kembali…”
Ia berhenti.
Clara menunggu.
“Apa?”
Adrian akhirnya berkata,
“Kamu akan mengingat malam ketika ibumu ditembak.”
Clara membeku.
“Apa?”
Amara menutup mulut.
Clara menoleh kepadanya.
“Mami tahu?”
Amara menangis.
“Clara…”
“Jawab!”
Amara tidak mampu berbicara.
Clara menatap kedua orang tuanya.
“Jadi Ibu memang ditembak?”
Adrian mengangguk perlahan.
“Ya.”
“Siapa yang menembaknya?”
Adrian terdiam.
Clara menggenggam kunci itu.
“Siapa?”
Adrian menatapnya dengan mata berkaca-kaca.
“Kamu.”
Clara membeku.
Dunia seolah berhenti.
“Apa?”
“Kamu yang memegang senjata malam itu.”
Clara mundur.
“Tidak…”
“Clara…”
“Tidak mungkin!”
Clara menggeleng keras.
“Aku masih kecil!”
“Kamu masih tujuh belas bulan.”
Clara menatap Adrian dengan ngeri.
“Bagaimana mungkin bayi memegang senjata?”
Adrian menangis.
“Karena seseorang menaruhnya di tanganmu.”
Clara tidak mampu bernapas.
“Siapa?”
Adrian tidak menjawab.
“Siapa yang menaruh senjata itu di tanganku?”
Adrian menunduk.
“Orang yang membenci ibumu.”
Clara mengepalkan tangan.
“Siapa?”
Adrian akhirnya berkata,
“Leonard.”
Clara membeku.
“Leonard?”
“Dia ingin membuat seolah-olah ibumu ditembak oleh salah satu dari kalian.”
“Lalu?”
“Papi membawa kalian pergi.”
Clara menatap kosong.
“Kenapa aku tidak mengingatnya?”
“Karena ibumu memintaku menghapus ingatanmu.”
Clara membeku.
“Ibu?”
Adrian mengangguk.
“Dia tahu kalau kamu mengingat kejadian itu, Leonard akan mengejarmu.”
Clara menutup wajahnya.
Air matanya mengalir deras.
Namun tiba-tiba—
BRUK!
Suara benda jatuh terdengar dari lantai atas.
Semua menoleh.
Raka langsung berlari menuju tangga.
“Siapa di sana?”
Tidak ada jawaban.
Clara mengikuti.
Mereka sampai di depan kamar Gabriel.
Pintunya terbuka.
Gabriel tidak ada di tempat tidur.
Clara membelalak.
“Paman Gabriel?”
Raka masuk.
Kosong.
Jendela terbuka.
Di lantai terdapat bekas darah.
Dan sebuah pesan tertulis di dinding.
JANGAN BUKA INGATANMU, CLARA.
Clara menatap tulisan itu.
Kemudian ponselnya bergetar.
Satu pesan masuk.
Nomor tidak dikenal.
Kalau kau ingin Alena hidup, datang ke tempat pertama kali ibumu menyelamatkanmu.
Clara membaca pesan berikutnya.
Datang sendirian.
Kemudian satu foto dikirim.
Foto Alena.
Masih hidup.
Namun kali ini Alena menangis.
Di belakangnya berdiri seorang wanita.
Wajahnya terlihat jelas.
Clara langsung membeku.
“Ibu…”
Wanita itu tersenyum ke arah kamera.
Namun yang membuat Clara paling ketakutan bukan wajah ibunya.
Melainkan tangan wanita itu.
Ia sedang memegang pistol.
Dan pistol tersebut diarahkan tepat ke kepala Alena.
Pesan terakhir muncul.
Bawa kunci itu.
Atau kakakmu mati.
Clara menggenggam ponselnya erat.
Fedro berdiri di belakangnya.
“Apa yang terjadi?”
Clara perlahan menoleh.
Air mata mengalir di wajahnya.
“Alena masih hidup.”
Fedro mengangguk.
“Kita akan menyelamatkannya.”
Clara menatap layar.
“Tidak.”
Fedro mengerutkan kening.
“Apa?”
Clara menggenggam kunci burung itu.
“Aku yang akan pergi.”
“Tidak sendirian.”
“Dia meminta aku datang sendirian.”
“Aku tidak peduli.”
Fedro menatapnya tegas.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi sendiri.”
Clara menatap suaminya.
“Aku takut.”
Fedro mendekat.
“Takutlah.”
Ia menggenggam tangan Clara.
“Tapi jangan pergi tanpa aku.”
Clara menahan tangis.
Namun dari belakang mereka, Rafael tiba-tiba berkata,
“Kalau begitu kita harus berangkat sekarang.”
Clara menoleh.
“Rafael?”
Rafael menatapnya.
“Aku tahu tempat itu.”
“Dari mana?”
Rafael diam beberapa detik.
Kemudian berkata,
“Karena aku pernah membawa ibumu ke sana.”
Clara membeku.
“Rafael…”
Tatapannya berubah tajam.
“Kau kenal ibuku sejauh itu?”
Rafael menundukkan kepala.
“Ya.”
“Dan kau masih menyembunyikannya?”
Rafael tidak menjawab.
Clara merasakan amarah kembali memenuhi dadanya.
Namun sebelum ia sempat bertanya—
suara alarm rumah tiba-tiba berbunyi.
Raka berlari dari bawah.
“Clara!”
“Ada apa?”
“Kita kehilangan semua rekaman CCTV.”
Clara mengerutkan kening.
“Bagaimana bisa?”
Raka menggeleng.
“Semua kamera mati selama tiga menit.”
“Tiga menit?”
“Ya.”
Clara menatap Rafael.
Kemudian menatap Fedro.
Lalu Aria.
Satu per satu.
Seseorang telah masuk ke rumah mereka.
Seseorang telah mengambil Gabriel.
Dan seseorang telah menghapus rekaman.
Clara tiba-tiba menyadari sesuatu.
Pesan Alena bukan hanya tentang Rafael.
Bisa jadi—
orang yang datang bersama mereka sejak awal bukanlah orang yang mereka curigai.
Bisa jadi pengkhianat itu sudah berada di rumah bahkan sebelum mereka kembali.
Clara menatap tangga.
Kemudian ia melihat sebuah bayangan bergerak di balik pintu.
“Siapa di sana?”
Bayangan itu berhenti.
Raka mengangkat senjata.
“Keluar!”
Pintu perlahan terbuka.
Semua bersiap.
Namun yang muncul adalah seorang wanita tua yang bekerja sebagai pelayan rumah.
Ia menangis.
“Maaf…”
Clara mengerutkan kening.
“Ada apa?”
Wanita itu gemetar.
“Saya melihat siapa yang membawa Tuan Gabriel.”
“Siapa?”
Wanita itu menunjuk ke arah lorong.
“Dia…”
Wanita itu menelan ludah.
“…orang yang selama ini tinggal di rumah ini.”
Clara membeku.
“Siapa?”
Wanita itu belum sempat menjawab.
Dor!
Suara tembakan terdengar.
Tubuh wanita tua itu jatuh.
“Tidak!”
Clara berlari.
Namun sudah terlambat.
Wanita itu tidak sadarkan diri.
Raka melihat ke arah jendela.
“Penembaknya kabur!”
Clara berdiri dengan napas memburu.
Ia menatap darah di lantai.
Kembali melihat kunci di tangannya.
Lalu foto Alena.
Semua rahasia semakin mendekat.
Namun ada satu hal yang paling membuatnya takut.
Pengkhianat itu berada di dalam rumah mereka.
Dan mungkin—
orang tersebut selama ini bukan hanya berpura-pura menjadi keluarga.
Melainkan seseorang yang Clara percaya sepenuh hati.
Clara menatap Fedro.
Untuk pertama kalinya, ia merasakan ketakutan yang berbeda.
Bagaimana jika orang yang paling ia cintai ternyata juga bagian dari kebohongan terbesar keluarganya?
Di luar rumah, suara motor terdengar.
Satu pesan terakhir masuk.
Jangan percaya siapa pun.
Bahkan suamimu sendiri.
Clara menatap Fedro.
Dan untuk pertama kalinya sejak mereka menikah—
ia tidak tahu apakah dirinya masih boleh mempercayai pria yang selama ini selalu berdiri di sisinya.
Bersambung…