“Jadi ini wanita yang akan menjadi istri ku?” Suara nya rendah penuh cemooh. “Ayah benar benar berhasil menemukan wanita yang paling membosankan untuk ku”
Dreven Orsley Dastan, pewaris keluarga Dastan, dikenal sebagai pria kasar, pengacau, sekaligus cassanova yang tak pernah serius pada wanita mana pun. Namun, sebuah kecelakaan membuatnya harus duduk di kursi roda—tanpa sedikit pun mengubah sifat liarnya.
Sampai akhirnya, sang ayah menjodohkannya dengan Elnara Sevana, gadis dingin dan cerdik yang terkenal mampu membungkam siapa pun dengan tatapan dan kata-katanya. Ia bukan wanita yang mudah dipermainkan. Setiap serangan lawan selalu dipatahkan sebelum sempat menjadi ancaman.
Elara diminta untuk melahirkan pewaris untuk keluarga Dastan , dan sebagai gantinya Saham perusahaan.
Elara terkekeh sinis, "Sepertinya tidak adil. Bagaimana jika kesepakatannya begini. Aku rubah putramu menjadi anak anjing penurut dan hadiahnya adalah perceraian untukku. Ini terdengar menguntungkan bagiku"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 15
Elara tak terpengaruh. "Kau setuju atau tidak?"
Dreven menatapnya lama sebelum akhirnya mengangguk. "Baik. Besok kita tes kesehatan bersama."
Elara hampir terkejut karena pria itu tidak banyak berdebat. Namun, dia tetap menjaga ekspresinya tetap tenang.
"Bagus," katanya singkat.
Dreven menyeringai. "Setelah itu, kau tidak punya alasan untuk menolak kesepakatan ini, kan?"
Elara mengepalkan tangannya, tapi dia tetap menjawab dengan tegas. "Kita lihat nanti."
Dreven tersenyum puas. "Aku akan pastikan kau tidak menyesal."
Elara hanya mendengus, "Ayo kita jalan, kau tak ingin teman-temanmu menunggu kan?"
Dreven mengangguk, lalu dengan bantuan supirnya, kursi roda elektroniknya dimasukkan ke dalam mobil dan mereka pun melaju.
---
"Dimana mereka? Sial, apa mereka benar-benar menikmati bulan madu dan menyuruh kita menunggu?" Suara Kiera tampak kesal karena sudah setengah jam mereka menunggu di restoran, bahkan sudah tiga kali pelayan memberikan menu pada mereka tapi mereka belum berani pesan.
Leandro menyandarkan tubuhnya di kursi dengan bosan. "Aku sudah bilang, Dreven pasti punya urusan sendiri. Dan sepertinya itu termasuk istrinya."
Andre terkekeh sambil memutar gelas minumannya. "Kau terdengar iri, Lean. Jangan-jangan kau juga ingin menculik wanita di tengah jalan seperti Dreven?"
"Aku tak seperti Dreven," kata Leandro dengan santai.
"Ya sudah sabar saja, kita nikmati saja drama sang boss," kata Andre dengan tenang.
Kiera mendecak, menatap jam tangannya dengan tidak sabar. "Tetap saja, ini tidak sopan. Dia yang mengundang kita makan malam, tapi malah membuat kita menunggu seperti ini."
Rastha yang sejak tadi hanya diam akhirnya ikut bicara, suaranya tenang tapi penuh arti. "Kalau kupikir-pikir, sejak awal Elara memang terlihat berbeda dari wanita-wanita yang biasa ada di sekitar Dreven."
Andre mengangkat alis, tertarik dengan perkataan itu. "Maksudmu?"
Rastha memainkan sendok di tangannya, lalu menatap mereka satu per satu. "Dia tidak terlihat seperti wanita yang tertarik pada uang atau status Dreven. Bahkan saat Dreven terang-terangan mencium wanita lain, dia tidak menunjukkan emosi yang berlebihan."
Leandro berpikir sejenak, lalu mengangguk. "Itu benar. Wanita mana yang tidak akan marah melihat suaminya begitu mesra dengan wanita lain di depan umum? Meskipun hanya perjodohan setidaknya dia seharusnya memberi reaksi."
Kiera menyipitkan mata. "Kau pikir dia pura-pura cuek? Atau mungkin... dia punya tujuan lain?"
Mereka semua terdiam, merenungkan kemungkinan itu.
Andre tertawa kecil, mencoba mencairkan suasana. "Entah apa pun itu, aku penasaran bagaimana Dreven akan menanganinya. Dia bukan pria yang suka dikendalikan, tapi kurasa kali ini dia mendapat lawan yang sepadan."
Kiera hanya mendengus. "Kalau mereka tidak muncul dalam lima menit, aku pesan duluan. Aku tidak sudi kelaparan karena pasangan aneh itu."
Hingga akhirnya pasangan itu muncul dari arah pintu, Dreven dengan kursi roda elektroniknya dan Elara berjalan di sampingnya, namun baru saja mereka masuk aura suram sangat terasa disana.
Mereka semua langsung berpikir, pasti ada sesuatu sebelum mereka disini.
"Maaf menunggu lama. Ayo pesan," kata Dreven dengan cuek.
Kiera menyipitkan mata, menatap Dreven lalu beralih ke Elara yang wajahnya juga tampak tegang. "Kalian dari mana?" tanyanya dengan nada curiga.
Elara menarik kursinya dan duduk tanpa banyak bicara, mengambil menu lalu berpura-pura membaca. "Jalan-jalan sebentar," jawabnya singkat.
Leandro terkekeh, menyandarkan punggungnya di kursi. "Kalau 'jalan-jalan' sampai membuat suasana semengerikan ini, aku jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi."
Andre menatap Dreven yang tetap memasang wajah datarnya. "Kau tidak berkelahi lagi, kan?"
Dreven hanya mengangkat alis, lalu menatap Elara sekilas sebelum berbicara dengan nada santai. "Aku hanya menyelesaikan urusan yang tertunda."
Elara mendengus pelan, tapi memilih untuk tidak menanggapi. Dia sudah cukup pusing dengan sikap posesif pria itu sejak tadi.
Akhirnya mereka memesan makanan mereka masing-masing, dan selagi menunggu makanan mereka tiba Andre segera mencairkan suasana.
"Kau sudah pesan klub untuk malam ini kan?" Tanyanya pada Kiera.
Kiera mengangguk, "Klub dekat pantai."
"Aku lupa bawa bikini, setelah ini kita mampir ke mall dulu," kata Rastha.
Kiera mengangguk, lalu menatap ke arah Elara, "Kau juga ikut kan?" tanyanya dengan nada cuek.
Elara mengangkat alisnya, lalu menatap sekilas ke arah Dreven yang sedang sibuk dengan ponselnya. Akhirnya dia menghela nafas,
"Bisa saja, tapi kalau aku pakai dress ini. Aku tak suka pakai bikini."
Kiera menatap Elara dengan ekspresi tak puas. "Dress ini? Kau bercanda?"
Andre terkekeh, menyesap minumannya. "Klubnya punya dresscode, Elara. Kita semua harus mengikuti aturan."
Leandro mengangguk setuju. "Toh hanya ada kita, kita sudah sewa satu klub."
"Tidak," kata Elara tegas.
"Hei, jangan keras kepala. Hanya memakai bikini, bukannya sudah biasa wanita di negara kita memakai pakaian minim?" Kata Kiera ketus.
Rastha mengangguk, "Toh bukan aib, dan disampingmu ada suamimu jika kau takut digoda dua pria itu."
Elara menatap mereka dengan tajam. "Aku bilang tidak."
Kiera mendecak, jelas kesal dengan sikap Elara yang keras kepala. "Kau ini terlalu kaku."
Leandro mengangkat bahu, lalu menatap Dreven. "Kau tidak akan membiarkan istrimu merusak suasana, kan?"
Semua mata langsung tertuju pada Dreven. Pria itu masih tampak santai di kursi rodanya, memainkan ponselnya seolah tidak peduli. Tapi kemudian, dia menyandarkan tubuhnya ke kursi roda dan menatap Elara dengan senyum tipis.
"Kau ikut," katanya, suaranya datar tapi tegas.
Elara mendengus, "Kau tidak bisa memaksaku."
Dreven tersenyum miring. "Aku bisa. Kau ingin aku membelikan satu set bikini khusus untukmu?"
Elara hampir tersedak. "Jangan macam-macam!"
"Tenang saja, aku tak akan membiarkan istriku dilihat orang lain sebelum aku melihatnya. Jadi, aku akan memilihkannya satu untukmu," bisik Dreven dengan senyum menyeringai dari kursi rodanya.
Elara merasakan wajahnya memanas. Pria ini benar-benar tak tahu malu!
---
"Elara mana? Dia tak ikut?" Tanya Kiera pada Dreven yang datang sendiri dengan kursi roda elektroniknya.
"Masih di toilet ganti baju," katanya ringan sambil menghidupkan rokoknya.
"Istrimu seperti putri raja saja yang menjaga marwahnya, padahal tinggal pakai dari hotel apa susahnya," kata Rastha ikut berkomentar.
"Tapi dia memang cocok jadi putri sih, lihat saja auranya. Kadang jika dia berbicara dingin aku ikut merinding," Andre ikut menimpali.
Dreven menghembuskan asap rokoknya dengan santai dari kursi rodanya. "Dia memang seperti itu. Tapi justru itu yang membuatnya menarik, bukan?" katanya dengan senyum tipis.
Kiera mendengus. "Menarik atau menyebalkan?"
Leandro terkekeh. "Aku penasaran bagaimana dia saat memakai bikini. Mungkin setelah ini dia tak akan terlalu angkuh lagi."
Mata Dreven langsung menatap tajam ke arahnya, membuat Leandro mengangkat tangan seolah menyerah. "Santai, aku hanya bercanda."
Tiba-tiba, langkah kaki terdengar mendekat. Semua langsung menoleh ke arah Elara yang akhirnya keluar dari toilet ganti.
Begitu mata mereka melihatnya, suasana mendadak hening sejenak.
Elara melangkah keluar dengan kepala tegak, mengenakan bikini yang tetap menjaga auranya yang anggun dan elegan. Potongan one-piece dengan aksen kain tipis melayang di bagian pinggang membuatnya terlihat lebih berkelas dibandingkan sekadar terbuka.
Warna hitam dengan sedikit aksen emas di bagian pinggir memberi kesan mewah, sementara outer berbahan ringan yang melayang setiap kali dia melangkah menambahkan sentuhan misterius pada penampilannya.
Andre bersiul pelan. "Well, itu bukan yang aku bayangkan, tapi tetap saja... wow."
Kiera memutar matanya. "Kau seperti pergi ke pesta, bukan ke klub pantai."
Elara hanya menatapnya sekilas. "Yang penting aku mengikuti dresscode, kan?" katanya santai sebelum berjalan menuju tempat duduk.
Dreven, yang sejak tadi memperhatikannya, menyeringai. Matanya gelap, menyimpan sesuatu yang sulit ditebak. Dia menggerakkan kursi rodanya mendekat, membisikkan sesuatu tepat di telinga Elara, suaranya rendah dan menggoda.
"Kau membuat semuanya penasaran, tapi hanya aku yang boleh membukanya."
Elara mendelik tajam, tapi Dreven justru tertawa kecil dan menarik kursi rodanya untuk duduk di sebelahnya, menikmati reaksi istrinya.
"Pelayan! Siapkan anggur termahal yang kalian miliki. Kita akan merayakan pernikahanku!" Seru Dreven sambil mengangkat tinggi gelas kosongnya dari kursi roda.
Semua orang di meja langsung bersorak gembira saat mendengar ucapan Dreven.
"Wah, akhirnya! Ini baru namanya perayaan!" seru Andre dengan antusias, mengangkat gelasnya tinggi-tinggi.
Kiera terkekeh sambil menyilangkan tangan. "Seharusnya kau merayakan ini lebih awal, Drev."
Leandro ikut menimpali, "Benar, apalagi kau menikah diam-diam. Setidaknya beri kami pesta yang layak."
Dreven hanya tersenyum santai dan melirik Elara yang duduk di sampingnya. "Bukankah lebih baik sekarang? Aku ingin memastikan perayaannya lebih berkesan."
Elara mendengus pelan, menyadari kalau suaminya ini selalu punya cara untuk membuat segalanya berpusat padanya.
Saat pelayan datang membawa sebotol anggur mahal, Dreven segera meminta pelayan menuangkan sendiri ke gelas Elara.
"Untuk pernikahanku!" serunya lantang.
Semua langsung mengangkat gelas dan bersorak riang. "Untuk Dreven dan Elara!"
Bersambung
karaktermu ini duduk di kursi roda loh. kurang-kurangi memakai kalimat yang merepresentasikan bahwa dia bisa berjalan dong. biar ga cacat logika./Frown/