Di mata dunia, Kim Seokjin adalah Devil.
CEO KIMS GROUP. Dingin. Kejam. Tanpa ampun.
Satu keputusannya bisa membuat EX GROUP bangkrut dalam semalam.
Tapi di rumah...
Dia hanya seorang Hyung.
8 tahun lalu dia berjanji pada ayahnya: "Aku akan menjaga Tae."
Sekarang dia menepati janji itu dengan cara yang salah.
Menelan obat di toilet kantor. Menahan darah di balik jas mahal.
Tersenyum untuk 8 orang yang dia sayangi.
Leukimia. Stadium akhir.
Rahasia yang tidak boleh diketahui oleh Malaikat kecilnya, Taehyung.
Saat EX GROUP mulai mengancam nyawa Tae, Seokjin harus memilih.
Tetap menjadi Devil yang melindungi...
Atau runtuh sebagai Malaikat yang akhirnya butuh dilindungi.
"Di luar aku iblis, Tae. Tapi di depanmu... aku cuma hyungmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi_BtsOt7, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
25
Suara beep monitor jantung menjadi satu-satunya irama yang mengatur waktu di Unit Perawatan Intensif (ICU) Rumah Sakit Universitas Seoul. Suara itu ritmis, dingin, dan tanpa emosi, kontras dengan kekacauan emosional yang terjadi di balik kaca tebal ruang tunggu.
Kim Seokjin terbaring tak sadarkan diri di tempat tidur ICU nomor 1. Tubuhnya dipenuhi selang dan kabel. Ventilator mekanik mendesis pelan, memompa oksigen ke paru-parunya yang lelah. Infus berbagai cairan—nutrisi, antibiotik kuat, dan obat penekan imun—mengalir masuk melalui vena di lengannya yang kini tampak biru dan rapuh seperti kaca. Wajahnya ditutupi masker oksigen, dan kulitnya yang dulu bersinar kini abu-abu pucat, tembus pandang hingga menunjukkan urat-urat halus di bawahnya.
Di luar kaca, suasana mencekam.
Chanyeol berdiri mematung, memegang lembaran hasil diagnosa yang baru saja ia cetak secara diam-diam dari stasiun perawat. Tangannya gemetar hebat hingga kertas itu bergetar. Di sebelahnya, Yoongi menatapnya dengan cemas, sementara Namjoon mencoba menenangkan Hoseok yang masih memegangi tangan Taehyung.
Taehyung sudah sadar kembali setelah diberi oksigen dan obat penenang ringan, namun matanya kosong. Ia menolak duduk, tetap berdiri menatap kakaknya yang terkurung di dalam kotak kaca itu, seolah tatapannya bisa membangunkan Jin.
"Chanyeol-hyung," bisik Yoongi, suaranya rendah agar tidak terdengar oleh Taehyung. "Apa yang kau baca?"
Chanyeol menelan ludah, tenggorokannya kering. Ia menyerahkan kertas itu pada Yoongi dan Namjoon.
"Diagnosis: Aplastic Anemia Stadium Akhir (Severe). Sumsum tulang gagal memproduksi sel darah merah, putih, dan trombosit. Kondisi kritis. Risiko pendarahan internal spontan dan infeksi fatal sangat tinggi."
Namjoon membaca kalimat terakhir dengan suara parau. "Prognosis: Tanpa transplantasi sumsum tulang (Bone Marrow Transplant/BMT) yang cocok segera, harapan hidup pasien kurang dari 4-6 minggu. Dengan perawatan suportif maksimal, mungkin bisa diperpanjang hingga 3-6 bulan, namun kualitas hidup akan sangat menurun."
Hening menyelimuti mereka. Kata-kata itu menghantam lebih keras daripada peluru yang mengenai Xiumin.
"Enam bulan..." gumam Jungkook, air matanya menetes tanpa suara. "Hyung... dia tahu? Dia tahu dia hanya punya waktu segitu?"
"Dia tahu," jawab Chanyeol, suaranya pecah. "Itulah sebabnya dia begitu nekat. Itulah sebabnya dia menyembunyikan semuanya. Dia tidak ingin kita berhenti hidup karena khawatir padanya. Dia ingin menyelesaikan urusannya sebelum... sebelum dia pergi."
Taehyung tiba-tiba berbalik, matanya tajam menatap Chanyeol. "Pergi? Siapa yang bilang Hyung akan pergi? Dokter Wang bilang dia hanya kelelahan! Dia bilang Hyung akan sembuh!"
"Tae-ah..." Hoseok mencoba memeluk sepupunya itu lagi, tapi Taehyung menepisnya.
"Bohong!" teriak Taehyung, suaranya melengking histeris di koridor sepi itu. "Semuanya bohong! Hyung berbohong! Dokter Wang berbohong! Kenapa tidak ada yang memberitahu aku? Aku adalah adiknya! Aku berhak tahu!"
Air mata Taehyung mengalir deras, kali ini bukan karena syok, tapi karena pengkhianatan. Rasa sakit ditinggalkan sendirian dalam kebohongan itu lebih menyakitkan daripada ketakutan akan kematian.
Pintu ruang ICU terbuka. Dokter Wang Do keluar, wajahnya tampak sepuluh tahun lebih tua dari pagi tadi. Ia melepas kacamata bedahnya, mengusap wajah yang lelah. Semua orang menatapnya, menunggu vonis akhir.
"Dokter," panggil Namjoon tegas, meski suaranya bergetar. "Jelaskan semuanya. Jangan ada lagi rahasia."
Dokter Wang menghela napas panjang, lalu mengangguk. Ia mengajak mereka ke ruang konsultasi kecil di samping ICU agar Taehyung tidak mendengar detail medis yang terlalu mengerikan, meskipun Taehyung memaksa untuk ikut serta.
"Kondisi Tuan Kim stabil untuk saat ini," mulai Dokter Wang, suaranya berat. "Jantungnya berhasil kami hidupkan kembali, tapi kerusakannya signifikan. Ginjalnya mengalami kegagalan akut akibat racun dari obat-obatan yang ia minum sendiri untuk menahan rasa sakit. Paru-parunya terisi cairan. Dan yang paling parah... sistem hematopoietiknya—pabrik darahnya—telah runtuh total."
"Apakah ada obatnya?" tanya Jihoon, yang baru saja bergabung setelah memastikan Xiumin aman di ruang lain. Suaranya datar, mencoba rasional di tengah badai emosi.
"Satu-satunya harapan adalah Transplantasi Sumsum Tulang Allogenik," jelas Dokter Wang. "Kami perlu donor yang kompatibel secara HLA (Human Leukocyte Antigen). Kemungkinan kecocokan dengan saudara kandung adalah 25%. Dengan Taehyung-ah, kita harus mengeceknya segera."
Mata Taehyung berbinar harapan. "Aku? Cek aku sekarang! Ambil darahku, ambil sumsum tulangnya, apa pun! Asal Hyung sembuh!"
Dokter Wang menatap Taehyung dengan sedih. "Kita akan melakukan tes kecocokan besok pagi. Tapi Tae-ah... bahkan jika kau cocok, proses transplantasi sangat berisiko bagi Jin. Tubuhnya terlalu lemah. Kemungkinan tubuhnya menolak donor (Graft-versus-Host Disease) sangat tinggi. Dan jika gagal... itu bisa mempercepat kematiannya."
Keputusasaan kembali menyelimuti ruangan.
"Lalu apa opsinya?" tanya Chanyeol, mengepalkan tinjunya hingga kuku-kukunya menusuk telapak tangan.
"Ada opsi kedua," kata Dokter Wang pelan. "Pencarian donor non-keluarga di registri internasional. Tapi itu butuh waktu. Waktu yang tidak dimiliki Jin. Atau... terapi gen eksperimental yang sedang dikembangkan di Swiss, tapi biayanya astronomis dan belum teruji sepenuhnya pada kasus stadium akhir seperti ini."
Namjoon segera mengeluarkan ponselnya. "Uang bukan masalah. Kim Corp memiliki likuiditas cukup. Hubungi rumah sakit terbaik di Swiss. Hubungi ahli hematologi terkemuka di dunia. Saya tidak peduli berapa harganya."
"Aku juga," sambung Xiumin, yang masuk ke ruangan dengan bantuan Chen. Bahunya dibalut perban tebal, wajahnya masih pucat, tapi tatapannya tegas. "Keluarkan uang dari rekening pribadiku. Jika Jin mati, aku tidak akan pernah memaafkan diriku sendiri karena telah menghabisakan waktu untuk membencinya."
Jihoon menatap kedua kakaknya, lalu menatap Taehyung yang menangis tersedu-sedu di pangkuan Hoseok.
"Kita akan lakukan semuanya," kata Jihoon, suaranya dingin namun penuh determinasi. "Tes kecocokan Taehyung-hyung besok. Pencarian donor internasional hari ini. Dan aku akan mencari celah hukum untuk mempercepat izin terapi eksperimental jika diperlukan."
Dokter Wang mengangguk. "Baik. Tapi ada satu hal lagi. Jin harus tetap dalam koma induksi minimal dua minggu untuk membiarkan organnya istirahat dan mengurangi peradangan sistemik. Jika ia bangun terlalu cepat, stres pada tubuhnya bisa memicu pendarahan otak."
"Dua minggu..." bisik Taehyung. "Dia akan sendirian di sana? Dalam gelap?"
"Tidak," kata Chanyeol lembut, meletakkan tangannya di bahu Taehyung. "Kita akan bergiliran menjaganya. Setiap detik. Kita akan membacakan buku, memutar musik favoritnya, berbicara padanya. Otak manusia masih bisa mendengar meski dalam koma. Kita akan menariknya kembali."
Malam itu, keputusan dibuat. Perang melawan kematian Kim Seokjin telah resmi dimulai. Bukan lagi dengan senjata atau uang korporat, tapi dengan darah, doa, dan cinta keluarga yang akhirnya bersatu.
Di dalam ICU, Jin terbaring tenang. Di dalam alam bawah sadarnya, ia mungkin sedang berjalan di taman bunga milik ibunya, jauh dari rasa sakit, jauh dari darah, dan jauh dari rahasia. Ia tidak tahu bahwa di luar sana, dunia telah berubah. Musuhnya telah menjadi sekutu. Adiknya telah mengetahui kebenaran. Dan seluruh kekuatan yang ia miliki kini dikerahkan hanya untuk satu tujuan: Mengembalikan Kim Seokjin.
Tapi waktu terus berjalan. Dan setiap detak jantung Jin yang lemah adalah pengingat bahwa garis antara kehidupan dan kematian tipis sekali.
🥀🥀🥀🥀🥀🥀
Dua hari telah berlalu sejak Jin masuk ke dalam koma induksi. Rumah Sakit Universitas Seoul menjadi pusat aktivitas bagi lingkaran kecil mereka. Koridor luar ICU berubah menjadi posko darurat informal, dipenuhi dengan laptop, dokumen medis, tumpukan kertas hasil riset tentang transplantasi sumsum tulang, dan aroma kopi basi yang menyengat.
Namjoon dan Chanyeol menghabiskan waktu berjam-jam di telepon dengan rumah sakit di Swiss, Jerman, dan Amerika Serikat, mencari donor yang kompatibel atau akses ke terapi eksperimental. Jihoon bekerja sama dengan tim hukum Kim Corp untuk memproses izin medis internasional secepat kilat, matanya merah karena kurang tidur namun tetap tajam menganalisis setiap klausa kontrak asuransi kesehatan global.
Sementara itu, Taehyung menjalani serangkaian tes darah dan pencocokan HLA yang melelahkan. Setiap kali jarum suntik menusuk lengannya, ia tidak mengeluh. Matanya terpaku pada pintu ICU, seolah-olah jika ia mengalihkan pandangan sedetik saja, Jin akan menghilang selamanya.
Hasil tes keluar sore itu. Dokter Wang memanggil mereka semua ke ruang konsultasi.
"Ada kabar baik dan buruk," kata Dokter Wang, menatap Taehyung. "Kabar baiknya, Taehyung-ah, kamu adalah match sempurna 10/10 untuk Jin-hyungmu. Kecocokan genetik kalian sangat tinggi."
Ruangan hening sesaat, lalu napas lega terdengar dari berbagai arah. Harapan menyala kembali.
"Kabar buruknya," lanjut Dokter Wang, "kondisi Jin saat ini terlalu kritis untuk menjalani operasi transplantasi besar-besaran. Jantungnya baru saja pulih dari henti jantung. Ginjalnya masih lemah. Jika kami melakukan transplantasi sekarang, risiko kematian di meja operasi mencapai 80%. Kami harus menunggu minimal dua hingga tiga minggu lagi sampai organ vitalnya stabil. Itu jika kondisinya tidak memburuk."
Taehyung mengangguk cepat, wajahnya penuh tekad. "Baik. Kita tunggu. Aku akan menjaganya sampai dia siap."
Malam harinya, suasana di depan ICU menjadi tegang.
Jam menunjukkan pukul 23.00. Perawat kepala, Ibu Park, mendekati Taehyung dengan lembut. "Tuan Kim, sudah larut. Anda harus pulang dan istirahat. Tubuh Anda juga butuh pemulihan setelah tes darah hari ini. Besok pagi Anda masih harus datang lagi untuk pemeriksaan lanjutan."
"Tidak," jawab Taehyung singkat, matanya tidak lepas dari monitor yang menampilkan detak jantung Jin yang lambat tapi teratur. "Aku tidak akan pergi."
Chanyeol melangkah maju, mencoba menggunakan nada otoritas kakak tertua. "Tae, dengarkan Hyung. Kamu tidak bisa begadang terus. Jika kamu sakit, siapa yang akan mendonorkan sumsum tulangnya nanti? Jin membutuhkan kamu sehat."
"Aku sehat!" bentak Taehyung, suaranya meninggi. Ia berbalik, matanya menyala dengan amarah dan ketakutan yang tak terkendali. "Aku tidak peduli aku lelah! Aku tidak peduli aku lapar! Jika aku pergi... jika aku tidur... bagaimana jika Hyung bangun dan aku tidak ada di sini? Bagaimana jika dia merasa sendirian? Dia selalu bilang dia tidak takut mati, tapi dia takut sendirian, Hyung! Kalian tidak mengerti!"
Air mata Taehyung tumpah lagi. Ia gemetar hebat. "Dia berbohong padaku selama bertahun-tahun. Dia menderita sendirian. Sekarang giliran aku. Aku tidak akan membiarkannya berjuang sendirian lagi. Bahkan jika itu berarti aku harus duduk di kursi keras ini sampai tulang punggungku patah!"
Hoseok mencoba memeluknya, tapi Taehyung menepis dengan kasar. Jimin dan Jungkook saling pandang, tidak tahu apa yang harus dilakukan. Melihat Taehyung dalam keadaan breakdown seperti ini menyakitkan hati mereka.
Akhirnya, Namjoon memberi isyarat pada yang lain untuk mundur. "Biarkan dia," bisik Namjoon pada Chanyeol. "Dia butuh ini. Ini cara dia memproses rasa bersalah dan cintanya. Kita jaga dari jauh."
Dengan berat hati, mereka meninggalkan Taehyung sendirian di depan kaca ICU, kecuali satu perawat yang dijaga jaraknya.
Di dalam ruang isolasi ICU, Taehyung duduk di kursi plastik keras tepat di samping tempat tidur Jin. Ia memegang tangan Jin yang dingin melalui celah sarung tangan steril yang diperbolehkan oleh perawat.
"Hyung..." bisik Taehyung, suaranya serak. "Kau dengar kan? Hyung di sini. Tae-tae di sini."
Ia mengusap-usap punggung tangan Jin dengan ibu jarinya, gerakan repetitif yang menenangkan dirinya sendiri.
"Ingat tidak, Hyung? Waktu kita masih kecil, umurku lima tahun, aku jatuh dari pohon mangga di halaman belakang. Kakiku patah. Aku menangis kencang sekali sampai suara aku hilang. Hyung lari menghampiriku, bukan marah karena aku nakal, tapi Hyung malah ikut menangis. Hyung bilang, 'Kalau Tae sakit, Hyung juga sakit.' Lalu Hyung menggendongku ke kamar, membacakan cerita dongeng sampai aku tertidur di pelukan Hyung."
Taehyung tersenyum tipis, meski air matanya terus mengalir.
"Sekarang giliranku, Hyung. Aku akan bercerita. Aku akan menceritakan hal-hal lucu agar Hyung tidak bosan di kegelapan sana."
"Kemarin, Jungkook hampir membakar dapur mansion karena mencoba membuat ramyeon dengan microwave sambil menonton video dansa. Ledakannya kecil, tapi wajahnya hitam semua kena asap. Jimin-hyung tertawa sampai jatuh dari sofa. Dan Yoongi-hyung... dia pura-pura marah, tapi diam-diam membersihkan wajah Jungkook dengan tisu basah sambil bergumam, 'Dasar anak bodoh.'"
Taehyung terkekeh pelan, suara yang pecah oleh tangis.
"Hyung pasti ingin melihatnya. Hyung pasti ingin memarahi Jungkook karena ceroboh, lalu memuji Jimin karena lucunya, dan mencubit pipi Yoongi-hyung karena pura-pura dingin. Tolong bangun, Hyung. Dunia ini sepi tanpa suara cerewet Hyung. Tanpa senyuman palsu Hyung yang sebenarnya manis itu."
Ia mencondongkan tubuh, menempelkan dahinya pada tangan Jin.
"Jangan pergi, Hyung. Jangan tinggalkan Tae sendirian. Aku janji, aku akan jadi adik yang baik. Aku akan kuliah rajin. Aku tidak akan bandel lagi. Asal Hyung bangun... please..."
Sementara Taehyung berbicara pada keheningan, di ruang tunggu utama, dinamika lain terjadi.
Jimin dan Jungkook sedang berdebat kecil di dekat mesin penjual otomatis.
"Kau harus makan, Kookie," kata Jimin, menyodorkan sandwich ayam. "Sejak kemarin kau hanya minum kopi."
"Aku tidak lapar," tolak Jungkook, menepis tangan Jimin. "Perutku mual. Aku tidak bisa menelan makanan saat Hyung terbaring seperti itu."
"Jika kau pingsan, siapa yang akan menggantikan jagaanku nanti? Makan!" desak Jimin, nadanya mulai naik.
"Berhenti memaksaku, Hyung! Kau pikir aku tidak khawatir? Kau pikir aku enak-enak saja?" Jungkook membanting kaleng kopinya ke meja. Suaranya cukup keras sehingga beberapa orang menoleh.
Sebelum perdebatan memanas, Yoongi, yang duduk di sudut paling gelap dengan hoodie ditarik menutupi sebagian wajahnya, tiba-tiba berdiri dan berjalan keluar menuju balkon udara terbuka.
Jimin dan Jungkook berhenti bertengkar. Mereka menyadari sesuatu yang aneh. Sejak tadi, Yoongi sangat diam. Terlalu diam.
"Hoseok-hyung, lihat Yoongi-hyung," bisik Jimin.
Hoseok, yang sedang memantau Taehyung dari kejauhan, menoleh. Ia melihat punggung Yoongi yang bergetar pelan di balik kaca balkon.
Mereka bertiga menghampiri Yoongi secara perlahan. Saat mereka membuka pintu balkon, angin malam menerpa wajah mereka. Yoongi berdiri menghadap kota Seoul yang berkilauan, bahunya terguncang-guncang.
"Yoongi-hyung?" panggil Hoseok lembut.
Yoongi tidak menjawab. Ia mengangkat tangan, menghapus air mata yang mengalir deras di pipinya dengan kasar, seolah marah pada dirinya sendiri karena menangis.
"Dia..." suara Yoongi tercekat. "Dia menyebalkan sekali."
Jimin mendekat, meletakkan tangan di pundak sahabatnya itu.
"Selama ini... dia selalu ada," lanjut Yoongi, suaranya parau dan penuh emosi. "Saat aku stres karena pekerjaan, dia membawakan kue buatan ibunya. Saat aku insomnia, dia menelponku cuma untuk mendengarkan aku bernapas sampai tertidur. Dia selalu tahu kapan harus bercanda, kapan harus serius. Dia... dia adalah lem yang menjaga kita semua tetap utuh."
Yoongi berbalik, wajahnya basah oleh air mata, ekspresinya campur aduk antara marah dan sedih yang mendalam.
"Dan sekarang dia berbaring di sana, sekarat, karena dia terlalu bodoh untuk meminta bantuan. Dia pikir dia kuat. Dia pikir dia harus melindungi kita semua sendirian. Sialan, Kim Seokjin! Kenapa kau tidak pernah memikirkan perasaan kami?! Kenapa kau harus menjadi pahlawan yang tragis?!"
Yoongi meninju pagar balkon dengan lembut, lalu ambruk ke lutut, menangis tersedu-sedu. Tangisan yang tertahan selama dua hari akhirnya meledak.
Jungkook dan Jimin segera memeluk Yoongi, ikut menangis. Hoseok bergabung, membentuk lingkaran persaudaraan yang rapuh namun kuat di tengah angin malam yang dingin.
Di dalam ICU, Taehyung masih menggenggam tangan Jin, terus bercerita tentang kenangan masa kecil, tentang kucing liar yang mereka beri makan bersama, tentang pertama kali Jin membelikannya es krim.
Di luar, teman-teman mereka menangis melepaskan beban kesedihan.
Dan di antara mereka semua, Kim Seokjin terbaring dalam kegelapan, mungkin mendengar samar-samar suara-suara yang mencintainya, menariknya perlahan-lahan kembali dari tepi jurang kematian.
Perjuangan belum berakhir. Tapi setidaknya, kali ini, ia tidak sendirian.