Satu Atap Bersama Mantan
Aira seorang gadis yang hobi berbelanja menggantungkan hidupnya pada pundi-pundi kekayaan keluarganya terpaksa menerima perjodohan demi menyelamatkan rekening banknya yang terancam diblokir papinya.
Namun di hari pernikahannya niatnya untuk kabur justru malah bertemu mantan pacarnya yang 8 tahun lalu mencampakkannya dengan alasan dingin.
Devan, cinta pertama Aira sekaligus mantan Aira yang sangat ia benci ternyata adalah calon suaminya.
Dua orang yang masih sama-sama sayang, tapi sangat gengsi dalam mengakui perasaannya.
Bagaimana kehidupan rumah tangga mereka kedepannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Skyline Scribe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2 : Di Ujung Tanduk
Mobil Porsche merah milik Aira membelah jalanan Jakarta dengan kecepatan di atas rata-rata. Jemari Aira mencengkeram kemudi begitu erat.
Di sampingnya, Sandy sibuk mengoceh sembari melihat-lihat aplikasi banking di ponselnya yang mencoba menolak kenyataan.
"Beneran diblokir, Ra? Lu udah coba transfer pake m-banking?" tanya Sandy.
"Udah! Tadi pas di parkiran gue coba transfer seratus ribu aja gagal! Ada tulisan 'rekening suspen'!" sembur Aira, melempar pandangan kesal ke arah kaca depan. "Papi beneran kejam banget! Padahal gue ini anak bungsunya! Kenapa sih Papi harus se-ekstrem ini cuma gara-gara gue bolos rapat satu jam?!"
"Ya lagian lu juga sih, Ra..." Sandy meringis. "Rapat tadi pagi kan bahas proyek ekspansi yang dipimpin langsung sama Om Surya. Lu malah milih ngejar tas Hermes yang warnanya mirip warna keramik kamar mandi gue."
"Itu warna limoncello, ya! Warna langka!" potong Aira tak terima. "Lu nggak paham estetika fashion, Sandy! Tas itu kalau dijual lagi dua tahun lagi harganya naik dua kali lipat! Gue itu investasi!"
"Investasi gundulmu! Lu kan beli cuma buat difoto terus ditaruh di lemari kamar lu yang udah kayak museum barang mewah itu," cebik Sandy. Tapi kemudian raut wajahnya melunak. "Tapi seriusan, Ra... kalau Om Surya beneran bekukan semua aset lu, lu mau hidup gimana? Dompet lu ada uang tunai berapa?"
Aira dengan lunglai merogoh tasnya, mengeluarkan dompet kulit, lalu menghitung lembaran uang di dalamnya. "Cuma ada... tiga ratus ribu rupiah. Sama pecahan dua ribuan bekas kembalian parkir."
Sandy menepuk jidatnya. "Tiga ratus ribu?! Buat seorang Aira Calista Hermawan yang sekali minum kopi aja bisa habis seratus ribu?! Itu sih cuma cukup buat makan siang di warteg tiga hari!"
"Gue nggak mau makan di warteg!" rengek Aira histeris. Ia memukul kemudi mobilnya dengan kesal. "Gue nggak bisa hidup miskin, Sandy! Gue nggak bisa kalau nggak perawatan mingguan! Gue nggak bisa kalau harus pake baju tanpa merek! Papi jahat banget, astaga!"
"Ya makanya lu nurut aja dulu pas sampai rumah nanti. Dengerin Om Surya mau ngomong apa. Biasanya kan Papi lu cuma gertak doang. Nanti kalau lu minta maaf sambil nangis-nangis dikit, pasti dibuka lagi tuh keran uangnya."
"Semoga aja..." gumam Aira lirih. Tapi jauh di dalam lubuk hatinya, ada firasat buruk yang membisikkan bahwa kali ini, Papi Surya tidak sedang main-main.
Tepat pukul satu siang lewat empat puluh lima menit, mobil Aira meluncur memasuki halaman luas kediaman Hermawan di kawasan Menteng. Rumah bergaya kolonial modern dengan pilar-pilar putih menjulang tinggi itu berdiri megah, dikelilingi taman hijau yang terawat rapi.
Setelah mengembalikan kunci mobil ke pak sopir dengan wajah tertekuk, Aira melangkah masuk ke dalam rumah.
Suara heels-nya berdetak di atas lantai rumahnya.
Di ruang tamu yang luas, Papi Surya sedang duduk santai di sofa, membaca koran bisnis sambil menyesap cangkir teh hangat.
Di sampingnya, Maya Hermawan—Mami Aira yang selalu tampil anggun—duduk merajut dengan wajah tenang.
"Papi!" Aira langsung menyambar tempat duduk di hadapan orang tuanya. Ia melempar tasnya ke sofa dengan kasar. "Papi maksudnya apa sih?! Aira malu banget di mal tadi! Kartu Aira ditolak semua pas mau bayar!"
Papi Surya perlahan melipat korannya, meletakkannya di atas meja, lalu menatap anak bungsunya dengan pandangan menyelidik dari balik kacamata baca.
"Bagus kalau kamu malu," sahut Papi Surya tenang, tanpa ada riak emosi sedikit pun. "Berarti kamu masih punya urat malu. Papi pikir urat malu kamu udah putus gara-gara tiap hari cuma tahu menghabiskan uang orang tua."
"Papi! Aira kan udah minta maaf soal rapat tadi pagi!" Aira memajukan tubuhnya, berusaha memasang raut paling menyedihkan yang ia punya. "Aira janji deh besok-besok Aira nggak bakal bolos lagi! Aira bakal masuk kantor jam delapan pagi, Aira bakal duduk manis di meja Aira! Buka dong kartunya, Papi... Aira mau bayar tas yang tadi terpaksa dicancel!"
"Nggak ada tas-tasan lagi," potong Papi Surya tegas. "Dan Papi nggak butuh janji palsu kamu yang udah sepuluh kali kamu ucapkan sepanjang tahun ini."
Mami Maya menghentikan gerak jemarinya yang sedang merajut, lalu menatap Aira dengan pandangan iba. "Aira, dengerin Papi kamu dulu, Nak. Papi kamu ini bikin keputusan bukan karena benci sama kamu."
"Tapi ini rasanya kayak dibenci, Mami!" balas Aira dengan nada melengking. "Semua fasilitas Aira dicabut! Aira mau makan apa? Aira mau beli bensin pake apa?!"
"Papi udah siapin uang tunai dua ratus ribu per hari buat kamu," ujar Papi Surya santai. "Cukup buat beli makan siang sama bensin mobil kamu kalau kamu mau kerja di kantor."
Aira membelalakkan matanya, serasa disambar petir di siang bolong. "Dua ratus ribu?! Papi, sekali jajan Aira di kafe aja lebih dari itu! Papi tega banget sih?!"
"Tega mana sama kamu yang borosnya nggak ketulungan?" Papi Surya menyandarkan punggungnya ke sofa, melipat kedua tangannya di dada. "Papi udah ngobrol sama Mami kamu. Cara satu-satunya buat bikin kamu dewasa dan nggak terus-terusan mengandalkan harta Papi adalah dengan ngasih kamu tanggung jawab baru."
Aira mengerutkan dahi, merasa ada kejanggalan dalam arah pembicaraan ini. "Tanggung jawab baru apa? Maksud Papi... Aira dipindah ke divisi lain di kantor?"
Papi Surya menatap istrinya sejenak, lalu kembali menatap Aira dengan tatapan lurus, tajam, dan penuh penekanan pada setiap kata yang diucapkannya.
"Kamu akan Papi jodohkan."
Satu kalimat sederhana. Empat kata.
Suara detak jarum jam dinding di sudut ruangan mendadak terdengar begitu nyaring di telinga Aira.
Aira tertawa keras, tawa histeris yang dipaksakan. "Hahaha! Papi lucu banget bercandanya! Perjodohan? Ini abad dua satu, Papi! Mana ada sih dijodoh-jodohin kayak di sinetron zaman dulu?! Nggak lucu ah!"
Namun, tidak ada satu pun dari kedua orang tuanya yang ikut tertawa. Wajah Papi Surya tetap datar bagaikan batu karang, sementara Mami Maya menatapnya dengan tatapan prihatin.
Tawa Aira terhenti perlahan. Senyum di wajahnya memudar, berganti dengan rasa horor yang merayapi seluruh tubuhnya. "P... Papi... Papi nggak bercanda kan?"
"Papi emang pernah bercanda?" balas Papi Surya dingin. "Kamu sudah dua puluh lima tahun, Aira. Selama delapan tahun ini kamu jomblo, nggak pernah serius sama cowok mana pun, dan cuma sibuk keluyuran nggak jelas. Papi udah milih seorang pria yang mapan, bertanggung jawab, dan punya kepribadian tegas buat jadi suami kamu."
"Aira nggak mau!" jerit Aira, berdiri dari duduknya. "Aira nggak mau dijodohin sama pria asing pilihan Papi! Aira bisa cari cowok sendiri kalau Aira mau!"
"Cari cowok sendiri?" Papi Surya ikut berdiri, menatap Aira dengan postur tubuhnya yang dominan. "Cari cowok yang cuma mau manfaatin uang kamu? Atau cowok yang cuma bisa nemenin kamu hura-hura? Nggak, Aira. Papi nggak bakal biarkan masa depan kamu hancur."
"Aira nggak mau nikah, Papi! Aira masih muda! Aira masih mau bebas!" air mata akhirnya menetes juga di pipi Aira. Ia mengusapnya dengan kasar.
"Pilihan kamu cuma dua," Papi Surya memberikan ultimatum dengan nada suara yang begitu dingin, tanpa celah untuk negosiasi.
"Pertama, kamu terima perjodohan ini. Acara pernikahan akan dilangsungkan bulan depan secara privat. Detik kamu mengucapkan akad, semua rekening, fasilitas, dan kartu kredit kamu akan Papi kembalikan sepenuhnya."
Aira mengepalkan tangannya. "Terus pilihan kedua?!"
"Pilihan kedua," Papi Surya menunjuk ke arah pintu depan rumah. "Kamu keluar dari rumah ini sekarang juga. Jangan bawa Porsche kamu, jangan bawa barang-barang mewah kamu yang dibeli pake uang Papi, dan jangan pernah bawa-bawa nama Hermawan lagi di luar sana. Silakan hidup mandiri pake uang yang ada di dompet kamu itu."
"Papi!" Aira berteriak histeris, menatap maminya memohon bantuan. "Mami! Mami masa diam aja sih?! Mami tega ngeliat Aira diusir atau dipaksa nikah sama cowok aneh?!"
Maya mendesah pelan, berdiri lalu mengusap bahu Aira dengan lembut. "Aira... calon suami kamu itu anak dari relasi lama Papi sama Mami. Dia pria yang sangat baik, sukses di usianya yang masih muda, dan Mami yakin dia bisa bimbing kamu. Papi melakukan ini demi kebaikan kamu juga, Nak."
"Kebaikan apa?! Ini namanya pemaksaan! Ini kejam!" Aira memundurkan langkahnya, menatap kedua orang tuanya dengan napas memburu.
"Papi kasih waktu sampai besok pagi jam delapan," tegas Papi Surya, tidak terpengaruh sedikit pun oleh tangisan Aira. "Kasih Papi jawaban kamu. Terima perjodohan dan dapatkan hidup kamu kembali, atau angkat kaki dari rumah ini tanpa membawa sepeser pun harta Hermawan."
Papi Surya berbalik dan melangkah pergi menuju ruang kerjanya, meninggalkan Aira yang berdiri mematung di tengah ruang tamu tersebut.
Aira mengepalkan tangannya begitu erat. Rasa amarah, gengsi, dan ketakutan akan kemiskinan bergejolak di dalam dadanya.
Ia membayangkan hidup tanpa fasilitas: harus naik angkutan umum, makan di pinggir jalan, tidak bisa belanja tas bermerek, dan dicemooh oleh teman-teman pergaulannya.
Bayangan itu terasa jauh lebih mengerikan daripada ide harus menikah dengan pria asing pilihan papinya.
"Gue bakal balas ini..." desis Aira pelan.
semangat thorr💪💪😍
siapa ya yang di ruangan itu🤔