NovelToon NovelToon
Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Kakak, Aku Bukan Adikmu Lagi

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Kisah cinta masa kecil / Cintapertama
Popularitas:2.2k
Nilai: 5
Nama Author: Nayara Putri

Umur lima belas, **Laras** cuma cewek tomboy anak bengkel di gang sempit Bekasi—rambut cepak, kunci inggris selalu di tangan, ditakuti satu sekolah. Sampai suatu sore, sebuah Mercedes berhenti di depan warung, menurunkan bocah laki-laki sepuluh tahun yang menangis tanpa berani mengetuk pintu. Ibunya pergi begitu saja. Namanya **Rayhan**.

"Mbak… kamu mirip kakak laki-lakiku," kata bocah itu sambil menyeka air mata.

Laras kira dia cuma adik kecil cengeng dan manja, yang tiap hari nempel memanggilnya "**Bang Laras**". Dia tidak pernah sadar—di balik wajah manis si juara kelas, diam-diam tumbuh seekor "serigala" yang seumur hidup hanya mengincar satu orang: dirinya.

Bertahun-tahun kemudian, bocah cengeng itu sudah menjadi pemuda jangkung yang lolos ke ITB—dan ternyata **anak di luar nikah seorang konglomerat properti**. Dari anak buangan yang dulu dihina, ia bangkit menjadi **pewaris tunggal kerajaan bisnis triliunan**. Tapi satu hal tak pernah berubah: obsesinya pada Laras.

"Aku bukan adikmu lagi," bisiknya, mengurung Laras di antara lengannya. "Sekarang, giliran kamu yang memanggilku… **abang**."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nayara Putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 22

Bab 22: Buku Tabungan Mbah

Rayhan pulang membawa medali perak dan wajah yang sama sekali tidak terlihat menang.

Bus rombongan berhenti di terminal menjelang sore. Pelatih menyalami satu per satu peserta, sementara Koh Kelvin turun paling akhir sambil menenteng dua ransel.

"Peringkat dua tingkat provinsi," katanya pada Laras. "Jalur prestasinya ke ITB makin lebar. Tapi bocah ini dari tadi mukanya kayak habis kehilangan warisan."

Rayhan mengambil ranselnya dari tangan Kelvin. "Koh, pulang sana."

"Nah, masih galak. Berarti sehat."

Laras menahan senyum. Ia sudah datang menjemput, tetapi tidak membawa papan ucapan atau bunga seperti Mbah Surti minta. Hanya ada sebotol air dingin dan roti di bagasi motor.

"Selamat," katanya.

Rayhan menatapnya beberapa detik, seakan sedang memastikan ia benar-benar datang.

"Cuma selamat?"

"Mau gue arak keliling terminal?"

"Peluk juga boleh."

"Mimpi. Naik."

Di perjalanan pulang, Rayhan tidak membahas telepon Galih. Ia hanya duduk diam di belakang, menjaga jarak selebar telapak tangan. Sikap itu justru membuat Laras terus memikirkan kalimat terakhirnya semalam.

Begitu mereka memasuki Gang Mawar, suara Pak Darto memanggil dari halaman.

"Cepat masuk! Mbahmu kambuh."

Rayhan melompat turun bahkan sebelum motor berhenti sempurna.

Mbah Surti duduk di tepi ranjang dengan kaki kiri disangga bantal. Punggung kakinya bengkak dan kulit di sekitar ibu jari tampak merah mengilap. Ia masih sempat memarahi Pak Darto karena hendak memanggil dokter.

"Cuma asam urat," gerutunya. "Besok juga turun sendiri."

"Sudah dua hari, Mbah," kata Pak Darto.

Rayhan berlutut di lantai. Kegembiraan yang tadi dipaksakan hilang dari wajahnya.

"Kenapa nggak bilang waktu aku telepon?"

"Kamu lagi lomba. Masa Mbah ganggu?"

"Aku cucu Mbah. Bukan orang lain."

Mbah Surti mengalihkan pandangan. Laras menyentuh pergelangan kaki yang tidak sakit dan mendapati kulitnya hangat.

"Kita ke rumah sakit sekarang," katanya.

"Nggak usah. Mahal."

"Kalau ditunda terus malah tambah mahal."

Mbah masih menolak. Rayhan berdiri, membuka lemari kecil di samping ranjang, lalu mencari kartu berobat dan buku tabungan. Di antara tumpukan kain, ia menemukan map plastik kusam berisi buku tabungan lama serta beberapa slip kiriman uang.

"Ini uang dari Ibu?"

Mbah Surti buru-buru merebut map itu, tetapi tangannya kalah cepat.

Rayhan membuka halaman demi halaman. Kiriman rutin atas nama Yanti pernah masuk setiap bulan, jumlahnya tidak besar tetapi cukup untuk obat dan kebutuhan dapur. Lalu catatan itu berhenti.

Lebih dari setahun lalu.

"Kenapa Ibu berhenti kirim?"

"Dia banyak kebutuhan di luar negeri."

"Mbah tahu dari mana?"

"Ya tahu saja. Jangan bongkar barang orang tua."

Rayhan mengambil satu slip terakhir. Ada tulisan tangan Mbah Surti di bagian belakang: obat sendi, listrik, uang sekolah Rayhan.

"Selama ini Mbah bayar semuanya dari warung?"

"Warung masih laku. Pak Darto juga sering bantu."

"Kenapa nggak pernah bilang ke aku?"

"Bilang buat apa? Biar kamu berhenti sekolah terus kerja?"

Suara Mbah Surti meninggi, tetapi matanya mulai berair. "Kamu sudah dikasih otak bagus. Tugasmu pakai itu. Bukan pusing mikirin uang orang tua."

Rayhan menunduk. Medali di lehernya menyentuh ujung ranjang dan berdenting kecil, terdengar terlalu mewah di kamar sempit itu.

Laras mengambil map dari tangannya dan menutupnya.

"Bahas uangnya nanti. Sekarang berobat."

"Laras, jangan ikut campur," kata Mbah Surti, lebih lemah.

"Mbah boleh marah setelah dokter bilang kakinya aman."

Pak Darto menyiapkan mobil pelanggan yang baru selesai diperbaiki setelah mendapat izin pemiliknya. Laras membayar uang muka pemeriksaan dari tabungannya sendiri. Ketika Rayhan mencoba menolak, ia memasukkan kuitansi ke saku bajunya.

"Anggap utang. Bayar kalau sudah jadi orang kaya."

"Aku bisa pakai uang hadiah lomba."

"Hadiah lo belum cair. Jangan berdebat di parkiran."

Di rumah sakit terdekat, Mbah Surti diperiksa dan menjalani tes darah. Dokter menjelaskan serangan asam uratnya diperparah pola makan dan obat yang tidak diminum teratur. Tidak perlu rawat inap, tetapi ia harus beristirahat, mengubah makanan, dan kembali kontrol bila bengkak tidak turun.

Rayhan mencatat semua penjelasan dokter di ponsel. Ia menanyakan dosis obat dua kali, lalu memotret jadwal kontrol.

Saat petugas farmasi memanggil nomor antrean, Mbah Surti kembali memprotes harga obat. Laras berpura-pura tidak mendengar dan menyerahkan resep. Rayhan berdiri di samping kasir, membaca setiap angka pada layar.

"Nanti aku ganti semuanya," katanya.

"Belum punya penghasilan sudah bicara ganti," sahut Mbah Surti. "Medalimu itu bukan kartu ATM."

"Kalau dijual mungkin lumayan."

Mbah langsung memukul lengannya dengan kipas lipat. "Berani kamu jual! Mbah mau gantung itu di warung. Biar Bu Yayuk lihat tiap beli gula."

Pak Darto tertawa untuk pertama kali sejak mereka berangkat. Bahkan Laras ikut tersenyum. Hanya Rayhan yang memandangi kipas di tangan Mbah, lalu menggenggam kuitansi obat seolah kertas itu jauh lebih berat daripada medalinya.

"Saya yang ingatkan," katanya.

"Kamu tinggal di asrama, kan?" tanya dokter.

Rayhan terdiam.

"Kami gantian," Laras menyela. "Saya tinggal dekat rumah Mbah."

Dokter meminta mereka membuat alarm dan tidak menghentikan obat hanya karena nyerinya reda. Laras memasang pengingat di ponsel Mbah Surti, sedangkan Rayhan menyalin jadwal yang sama ke ponselnya. Ia bahkan meminta Pak Darto menyimpan salinan foto resep.

"Satu rumah sekarang jadi petugas semua," gumam Mbah Surti.

"Biar Mbah nggak bisa pura-pura lupa," jawab Rayhan.

Dalam perjalanan pulang, Mbah Surti tertidur di kursi belakang. Pak Darto menyetir pelan. Laras duduk di depan, sedangkan Rayhan menjaga kaki Mbah agar tidak terguncang.

"Harusnya aku tahu," bisiknya.

Laras menoleh. "Tahu apa?"

"Kalau uangnya berhenti. Kalau obat Mbah habis. Aku malah sibuk lomba, sibuk cemburu, sibuk bikin masalah."

"Lo sekolah karena Mbah mau lo sekolah. Jangan ubah prestasi lo jadi kesalahan."

"Tapi semua orang terus nutupin sesuatu dari aku."

"Mungkin karena setiap ada masalah, lo ngerasa harus menyelesaikan semuanya sendirian. Itu bikin orang takut cerita."

Rayhan menatap wajah Mbah Surti yang tertidur. Urat di rahangnya mengeras, tetapi ia tidak membantah.

Malam itu ia menyusun obat di kotak bekas biskuit dan menulis jadwal besar-besar. Ia juga memeriksa pengeluaran warung, biaya sekolah, serta sisa hadiah lomba yang belum cair.

Jumlahnya tidak cukup banyak.

Laras menemukan Rayhan masih duduk di lantai hampir tengah malam. Buku tabungan Mbah terbuka di hadapannya, bersama medali perak yang sudah dilepas.

"Tidur," katanya.

"Besok aku urus uangnya."

"Urus sekolah dulu."

"Dua-duanya bisa."

Tatapan Rayhan terlalu tenang. Laras mengenal ketenangan semacam itu. Biasanya muncul ketika ia sudah memutuskan sesuatu dan tidak berniat meminta izin.

Setelah Laras masuk rumah, Rayhan membawa ponselnya ke halaman. Ia melihat lampu kamar Mbah Surti padam, lalu mencari satu nama di daftar kontak.

Panggilan tersambung pada dering kedua.

"Gue baru mau tidur," keluh Kelvin.

Rayhan memandang slip kiriman terakhir dari Yanti di tangannya.

"Koh," katanya, "gue butuh rekening lo."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!