Di usia pernikahan yang baru dua bulan seharusnya pasangan suami sedang hangat-hangatnya memadu kasih. Namun tidak begitu dengan pernikahan Rana dan Jax. Meskipun mereka adalah pengantin baru, tapi tidak ada api cinta diantara keduanya, dingin, kaku, tanpa suara. Apakah ada cinta diantara mereka? atau mungkin semua hanyalah rumah tangga kosong?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ginevra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kepastian yang Tak Dimengerti
Ritual pagi kembali menyambut harinya. Seperti biasa, Dania menyiapkan hidangan sarapan dengan segenap hatinya. Kali ini menu makan pagi ala korea ia pilih dengan harapan dapat meredakan pengar sang suami. Semalam mabuknya sungguh parah, sampai mengigaukan sesuatu yang tidak penting.
Tangannya yang sibuk mengiris daun bawang terhenti begitu mengingat racauan Jax di mobil. "Bercerai? Hah! Alkohol memang sangat berbahaya." Ucapnya menggelengkan kepala dengan senyum miring meremehkan.
"Jax! Bangun!" Dia berlari begitu melihat jam yang sudah menunjukkan pukul tujuh.
Tok tok tok!
"Jax? Kamu sudah bangun?" Tapi tidak ada jawaban darinya.
"Aku buka pintunya ya?"
Betapa terkejutnya Dania ketika melihat suaminya sedang telanjang di atas kasur dengan mata yang masih terpejam.
"Omo!" Dania langsung menutup kembali pintunya.
"Jax! Cepat bangun!" Ucapnya dari balik pintu, masih berusaha mengalihkan perhatiannya dari pemandangan menyeramkan yang baru saja dia saksikan dengan mata sucinya.
'Ini anak benar-benar ya... Ada aja kelakuan!' batinnya.
"JAX!!!! CEPETAN!!!"
"Arrrrggggh...." Erang Jax.
"Aku buatin teh madu, cepat keluar kamar dan pakai pakaianmu! Sudah jam 7!!!!"
"Iya.... Bawel!!!!" Protes Jax seenaknya saja.
Dania menghela nafasnya karena sudah tidak tahan dengan kelakuan kekanakan suaminya. Kadang dirinya juga bingung, sebenarnya siapa yang menjadi imam di rumah tangga ini. Kenapa semua harus dia yang mengatur?
Slurp....
Setidaknya teh hari ini tersentuh olehnya. Dengan mata yang masih terpejam dan tubuh lemas, Jax duduk menopang dagunya.
"Lain kali jangan mabuk!" Ucap Dania singkat.
"Bukan urusanmu!" Tepis Jax tanpa melihat ke arah lawan bicara.
"Itu urusanku, aku istrimu. Kalau kamu mabuk seperti kemarin, siapa yang susah? Aku juga kan," untuk pertama kalinya Dania menaikkan nada bicaranya ketika di meja makan.
Alih-alih menyesal, Jax malah memiringkan senyumnya.
"Dan kebiasaan setelah mabukmu itu... Jangan diulangi lagi!" Dania memelankan suaranya seolah malu dengan apa yang diucapkan.
Jax masih mencerna maksud Dania.
"Kebiasaan? Oh, aaa...." Akhirnya Jax paham. "Kenapa? Kamu suka?" Ucap Jax merujuk pada dirinya yang selalu telanjang bulat setelah mabuk berat.
"Sembarangan!!! Aku cuma takut kalau yang lihat orang lain," kilah Dania dengan semburat merah di pipinya.
"Mmm...." Jax mengangguk," ok!"
Slurp...
Dania sedikit senang karena Jax ternyata menikmati sup taoge tahu buatannya. Akhirnya usaha di pagi hari tidak sia-sia.
"Nanti aku pulang malam atau bisa nggak pulang," ucap Jax tiba-tiba.
"Kenapa? Mau main sama teman?" Tanya Dania.
"Tidak, aku mau bermalam dengan pacarku."
Jax mengatakannya dengan sangat santai tanpa beban seolah itu bukan masalah yang penting. Namun berbeda dengan Dania, ia seketika kaku tak bergerak.
"Pa-pacar? Sejak ka--" belum juga Dania menyelesaikan kalimatnya, Jax bangun dari tempat duduknya dan melakukan kegiatan rutinnya setelah selesai makan.
Zrrrrhhhh....
Suara air keran mengalir menggaungkan kesunyian diantara keduanya.
Jax mencuci piringnya seolah memberikan waktu untuk Dania berpikir respon apa yang selanjutnya akan ia lakukan. Marah? Menangis? Atau ....diam?
Iya benar, Dania memilih untuk diam.
Jax mengangguk karena menganggap ia telah mendapatkan jawaban dari istrinya.
Kembalilah Jax ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke kampus. Tidak seperti biasanya, kali ini dandanannya lebih rapi. Dia masih memakai kaos oblongnya namun kali ini ia lapis dengan kemeja berwana biru muda polos hingga membuat wajahnya setingkat lebih cerah.
"Oh ya..." Celetuknya membuyarkan lamunan Dania di meja makan.
"Hm?"
"Yang kemarin malam... Cobalah pertimbangkannya," ucap Jax singkat sambil berlalu meninggalkan Dania lagi dan lagi dengan pikirannya yang masih melayang ke masa depan setelah ia kehilangan suaminya.
.
.
.
.
Pacar ya? Jadi selama ini Jax punya pacar?
Itu sama sekali tidak terpikirkan oleh Dania. Selama ini ia beranggapan kalau suaminya itu tidak punya ketertarikan pada seorang wanita. Bahkan awalnya ia pikir suaminya seorang penyuka sejenis. Bukan tanpa alasan, asumsi itu ia dapatkan karena Jax sama sekali tidak menyentuhnya.
Sebenarnya pada malam pertamanya, mereka sempat satu kamar. Namun Jax juga tak menyentuhnya dan malah memintanya untuk pisah kamar. Jadi ia pikir pasti suaminya butuh waktu untuk merasa nyaman dengannya.
Semakin hari, kecurigaan Dania semakin kuat karena Jax tak kunjung menyentuhnya. Dia bukan wanita yang tak menarik. Dania sangat cantik dan bertubuh molek, bahkan mendekati seorang model. Meskipun usianya terpaut jauh tapi dia tidak sejelek itu. Dania sadar tentang kecantikannya dan kadang suka mengunggulkannya di depan teman-temannya. Namun dinginnya Jax menghantam egonya dan membuatnya merasa dirinya selalu kurang. Itu juga yang menjadi alasan baginya, untuk berusaha sekuat tenaga menyenangkan Jax meski tak pernah mendapatkan apresiasi.
Lalu sekarang bagaimana?
Jax punya pacar.
Apa yang akan Dania lakukan?
Sebenarnya ajakan untuk berpisah tidak terlalu membuat Dania sakit hati. Toh usia pernikahannya baru dua bulan, jadi waktunya tidak terlalu sia-sia. Apalagi setelah mengetahui bahwa Jax mempunyai wanita lain, bukankah itu semakin memperbesar alasannya untuk berpisah?
Semua pertimbangan itu membuat Dania tenggelam dalam pikirannya. Apakah bercerai adalah keputusan terbaik?
Tidak....
"Aku dan Jax tidak boleh berpisah," gumamnya.
Dania berulang kali menggigit kuku pendek ibu jarinya. Tatapannya terkunci pada air keran yang mengalir deras di atas piring kotornya.
"Haaaaah.... Aku harus membahasnya lagi nanti malam. Oh ya, nanti dia mau menginap ya," ucap Dania pada dirinya sendiri.
.
.
.
Padahal Dania sudah tahu kalau suami mudanya tidak akan pulang malam ini. Akan tetapi, tubuhnya seolah punya irama sendiri karena sudah menjadi kebiasaan. Ia menunggu di ruang tamu sepanjang malam.
"Aku tidak bisa tidur kalau dia belum pulang," gerutunya pada jam di dinding yang tak pernah berhenti berdetak.
Dengan terkantuk-kantuk, ia berusaha menjaga matanya untuk tidak terpejam.
"Apa yang aku lakukan? Aku seperti orang bodoh," gumamnya.
Jam menunjuk pukul dua pagi dan Jax masih belum pulang.
Sempat terbesit singkat bayangan suaminya tengah menikmati malam yang tak pernah ia dapatkan bersama wanita lain.
Suara erangan kenikmatan sayup-sayup dapat ia dengarkan seolah ia sedang berada di dekat mereka, mengintip dari balik pintu. Halusnya kulit yang saling bersatu, terpaut, dan berpadu membuat darahnya berdesir hebat, menghidupkan serangga yang merayap di perutnya.
"Astaga!! Apa yang aku pikirkan?"
Namun Dania tak kunjung bangkit dari sofa empuk ruang depan, sampai ia tertidur.
Ceklek!
Tap tap tap...
Suara langkah kaki itu tak terlalu lantang untuk membuat Dania terbangun. Hembusan angin kencang karena pintu depan yang terbuka juga tidak mengusik tidur lelapnya.
"Dania?" Jax menyentuh pipi Dania sangat lembut agar tak membuatnya terbangun.
"Ku rasa kita harus cepat bercerai," bisiknya.
Tak disangka, suara yang memanggil namanya lembut hampir tak terdengar itu, mampu membangunkan semua indra di tubuh Dania. Ia membuka matanya perlahan dan menjawab ajakan suaminya, " tidak.... Kita akan bersama selamanya."
.momen yang ditunggu pembaca 🤭