NovelToon NovelToon
Brondong Konglomerat Sang Janda

Brondong Konglomerat Sang Janda

Status: sedang berlangsung
Genre:Berondong / Janda / Mandul
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Kirana Hati

Karina, 30, memergoki suaminya selingkuh—perempuannya sudah hamil. Delapan tahun divonis mandul, ia melampiaskan amarah pada satu malam dengan Nathan, cowok sepuluh tahun lebih muda, lalu bersumpah tak akan bertemu lagi. Takdir berkata lain: Nathan adalah teman sekamar adiknya, dan tubuh yang "mandul" itu kini mengandung kembar tiga. Nathan pindah masuk, menyerahkan hartanya, berubah jadi calon ayah paling posesif. Karina tak tahu, di balik nama Nathan tersembunyi Aries Mah, pewaris tunggal Maxson Private Bank Singapura. Mantan suami menyesal, pelakor sombong, mertua jahat, saudara tiri rebut warisan—semua datang bergiliran. Tapi Nathan siap membalas setiap hinaan berkali lipat. Sanggupkah janda beranak tiga benar-benar duduk di singgasana keluarga konglomerat itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kirana Hati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 18

Bab 18

Mama Kusnadi Bikin Onar

"Itu dia perempuan yang merampas uang anak saya!"

Teriakan Mama Kusnadi menyambut Karina di depan gedung kantor.

Hari itu adalah pertama kalinya Karina masuk kantor setelah bekerja jarak jauh. Dia mengenakan gaun longgar untuk menyamarkan perut dan membawa obat dalam tas. Bu Wanda mengurangi jadwal rapat, tetapi Karina berhasil menyelesaikan presentasi tanpa seorang pun mengetahui alasannya beristirahat.

Nathan bersikeras menjemput. Karina menolak karena tidak ingin mobil sport merahnya menarik perhatian. Mereka sepakat bertemu di area belakang gedung pukul enam. Karina tidak menduga Lanny sudah menunggu di pintu utama sejak sore.

Lanny Kusnadi menerobos kerumunan karyawan pulang dan mencengkeram lengannya. Beberapa orang langsung mengangkat ponsel.

"Lepas, Mama."

"Jangan panggil saya Mama! Kamu sudah memaksa Andri cerai, mengambil tabungan, lalu main dengan lelaki muda. Delapan tahun nggak bisa kasih cucu, sekarang masih mau menghancurkan keluarga kami!"

Karina menahan mual. Dia tidak boleh jatuh, tidak boleh terpancing, dan terutama tidak boleh membiarkan tangan itu mengenai perutnya.

"Uang yang saya terima adalah bagian harta bersama berdasarkan kesepakatan pengacara. Alasan Andri keluar dari rumah bisa ditanyakan langsung kepadanya."

"Kamu memeras dia!"

Bu Wanda dan beberapa rekan berhenti di pintu. Bisik-bisik mulai berubah setelah mendengar kata pengacara dan harta bersama.

"Kalau saya memeras, laporkan dengan bukti," kata Karina. "Jangan membuat fitnah di depan kantor saya."

Lanny semakin marah. Dia mengangkat tangan hendak menjambak rambut Karina. Karina mundur, tumitnya terkilir di tepi trotoar.

Sebuah lengan menahan tubuhnya sebelum jatuh.

Nathan datang dengan wajah gelap. Dia memindahkan Karina ke belakang, menangkap pergelangan Lanny, lalu melepaskannya dengan dorongan tegas.

"Nenek-nenek main pukul di tempat umum, mau cari sensasi?"

"Kamu bocah yang merusak rumah tangga anak saya!"

"Rumah tangga itu rusak saat anakmu membawa perempuan hamil ke hotel."

Kerumunan bersuara. Beberapa kamera berpindah ke wajah Lanny.

Seorang karyawan pria berdiri dekat Karina dan memberi tahu petugas keamanan bahwa Lanny yang lebih dulu menarik. Seorang pengemudi ojol juga menunjukkan rekaman lengkap dari sebelum pertengkaran.

"Jangan potong videonya," kata Bu Wanda kepada staf. "Simpan dari awal."

Lanny baru menyadari bahwa penonton tidak semuanya memihak kepadanya. Dia mengubah cara bicara, menangis sambil mengaku sebagai ibu tua yang kehilangan tabungan keluarga.

Karina membuka salinan kesepakatan harta di ponsel. "Tidak ada uang keluarga yang saya ambil. Bagian saya tercatat dan ditandatangani Andri. Kalau Mama terus menyebarkan tuduhan, saya akan minta pengacara menanganinya."

"Kamu mengancam orang tua?"

"Saya menetapkan batas."

Nathan berdiri tanpa melepas pandangan dari tangan Lanny. "Dan batasnya jelas. Jangan sentuh dia lagi."

"Bohong!"

"Mau aku putar rekamannya?"

Karina memegang lengan Nathan. "Jangan."

Nathan langsung menurunkan ponsel. Petugas keamanan gedung datang dan memanggil polisi karena ada percobaan pemukulan. Mereka dibawa ke kantor polisi terdekat untuk dimintai keterangan.

Di ruang pelayanan, petugas melihat video dari keamanan gedung dan rekaman ponsel saksi. Karina menjelaskan bahwa dia tidak ingin memperpanjang jika Lanny menandatangani pernyataan tidak mendekati kantor atau menyentuhnya lagi.

"Saya yang diserang!" teriak Lanny.

"Video menunjukkan Ibu menarik dan mencoba memukul," kata petugas. "Ibu boleh memberi keterangan, tetapi jangan berteriak."

Andri datang setengah jam kemudian. Begitu melihat Nathan, wajahnya berubah.

"Kamu lagi."

Nathan berdiri di depan Karina. "Jemput ibumu dan pastikan dia tidak datang lagi."

"Jangan mengatur keluarga saya."

Karina menyela, "Kalau kejadian ini terulang, aku akan membuat laporan resmi. Rekaman perselingkuhanmu juga akan kuberikan jika diperlukan untuk membantah fitnah."

Andri menatap ibunya, malu sekaligus marah. "Mama, ayo pulang."

"Perempuan itu menghabiskan uangmu!"

"Cukup."

Karina menandatangani berita acara. Bu Wanda yang menyusul sebagai saksi memastikan kantor menyimpan video asli. Peristiwa itu berakhir dengan pernyataan tertulis, bukan sekadar teriakan tanpa akibat.

Sebelum pergi, Lanny mengambil ponsel dan menelepon seseorang. "Saya akan bilang pada Meilan anak perempuannya jadi apa di Jakarta. Biar keluarganya tahu dia cerai dan dipelihara bocah!"

Karina bangkit. "Jangan hubungi Mama saya."

Andri merebut ponsel ibunya, tetapi panggilan sudah tersambung. Suara Meilan terdengar samar dari pengeras.

"Halo, Cik Lanny?"

Lanny tersenyum puas sebelum Andri memutus sambungan. Ancaman itu sudah cukup untuk membuat tangan Karina dingin.

"Aku akan cerita sendiri," katanya kepada Andri. "Kalau ibumu memelintir satu kata, pengacaraku mengirim somasi besok."

Bu Wanda menyentuh bahunya. "Pulang dulu. Kantor akan menangani video yang beredar dan memberi pernyataan jika diperlukan."

Di luar, beberapa potongan video sudah masuk grup WhatsApp karyawan. Namun rekaman lengkap menunjukkan siapa yang memulai. Karina meminta tidak ada seorang pun mengunggah wajah Lanny untuk mempermalukannya. Dia hanya ingin gangguan berhenti, bukan menciptakan persekusi baru.

Di luar kantor polisi, seorang pemuda bersandar di meja layanan sambil menggoda polisi wanita tentang nomor laporan mobil hilang.

"Nick," panggil Nathan dingin.

Nicholas Lim menoleh. Di sampingnya berdiri Bobby Pang yang bertubuh besar.

"Akhirnya datang," kata Nick. Tatapannya pindah ke Karina. "Oh, ini alasanmu meninggalkan semua telepon?"

Nathan tidak menjawab. Dia memegang siku Karina dan memeriksa pergelangan yang memerah.

"Sakit?"

"Sedikit. Kakinya lebih sakit."

Bobby segera mengambil kursi. "Duduk dulu, Bu."

Nick berhenti bercanda dan meminta petugas kotak P3K. Nathan berjongkok memeriksa pergelangan kaki Karina tanpa peduli tatapan orang.

"Kita ke dokter."

"Cuma terkilir."

"Kamu bilang begitu sebelum UGD."

Karina menyerah. Di klinik terdekat, dokter memastikan tidak ada cedera serius dan kondisi kehamilan tidak terganggu. Nathan baru bernapas lega setelah mendengar tiga denyut tetap baik.

Nick dan Bobby menunggu di luar. Begitu Karina keluar, Nick menatap perutnya lalu Nathan.

"Jangan tanya," kata Nathan.

"Aku belum bilang apa-apa."

"Dan jangan cerita."

Bobby mengangguk. "Aman."

Nathan membawa Karina pulang. Sebelum masuk mobil, dia menoleh kepada kedua temannya.

"Kita bicara nanti."

Nick tersenyum lebar. Dunia rahasia Nathan baru saja membuka pintu, dan Karina tahu pertanyaan berikutnya tidak akan bisa dihindari.

Di dalam mobil, ponsel Karina bergetar. Nama Mama muncul di layar.

Dia belum siap mengangkat, tetapi rahasia yang disimpannya sejak Hotel Astoria akhirnya mengejar sampai Bandung.

Nathan mengambil ponsel itu, tidak menjawab, hanya meletakkannya kembali di telapak Karina. "Aku ada di sini. Bilang saat kamu siap."

Karina menekan tombol terima. Sebelum sempat bersuara, tangis Mama terdengar.

"Karin, benar kamu sudah cerai?"

Karina memejamkan mata. Nathan menggenggam tangannya erat saat seluruh kebohongan rumah tangga mereka akhirnya runtuh melalui satu panggilan panjang yang tak bisa lagi dihindari oleh siapa pun pada malam yang sangat gelap itu juga akhirnya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!