Mati konyol tersedak bakso akibat mencak-mencak membaca novel dark romance, Ceisya malah bertransmigrasi ke dalam tubuh figuran malang yang tak dianggap. Di hari pernikahannya, sang mafia kejam—Sylus Blackwood, The Apex Sovereign penguasa Manhattan sekaligus The Crimson King bermata merah di dunia bawah Brooklyn—malah mangkir dan hanya mengirim seekor anjing berjas untuk mewakilinya.
Alih-alih menangis, jiwa mafia asli Ceisya bangkit. Ia mempermalukan keluarga toksiknya, menikahkan anjing utusan Sylus dengan anjing lain, lalu kabur usai menghajar para pengawal dengan keahlian bela dirinya.
Aksi ugal-ugalan itu justru memicu obsesi liar sang raja mafia. Di tengah kerasnya jalanan New York, perburuan maut pun dimulai, mengubah sang penguasa dingin menjadi pecandu abadi di bawah kaki istrinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon namice, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pernikahan Anjing & Pukulan Maut Sang Mantan Mafia
Suasana di dalam gedung resepsi mewah berstandar kaum elit New York itu mendadak berubah menjadi senyap seketika, seolah seluruh oksigen di ruangan tersebut habis disedot paksa. Ratusan pasang mata dari para pebisnis kaya, petinggi politik, hingga sosialita papan atas terbelalak ngeri, menatap tak percaya ke arah altar suci.
Alih-alih menangis tergugu, menciut ketakutan, atau pingsan menanggung malu seperti jalan cerita asli di dalam novel, Ceisya yang berdiri megah di depan altar justru dengan santainya mengorek telinganya menggunakan jari kelingking. Ia menatap lekat-lekat anjing dobermann berbadan besar berjas hitam yang berdiri kaku di hadapannya, lalu terkekeh renyah tepat ke arah mikrofon utama yang menyala.
"Dih, ogah banget! Ngapain juga gue harus sudi nikah sama anjing?!" ucap Ceisya dengan nada super santai namun sengaja ia keraskan, membuat suaranya menggema menggelegar ke seluruh sudut ruangan mewah tersebut.
Sontak, bisik-bisik dan pekikan tertahan langsung meledak dari bangku para tamu undangan. Pengacara pribadi Sylus Blackwood yang mewakili pihak pengantin pria mendadak pucat pasi, keringat dingin membasahi pelipisnya.
"Aneh banget, kan?" lanjut Ceisya tanpa dosa, melambaikan tangannya di udara. "Masa seorang mafia penguasa dunia bawah yang katanya paling ditakuti mau disamakan dengan anjing? Kalau wakilnya aja bentukannya begini, berarti bos besar mereka sendiri yang secara tidak langsung ngaku kalau dia itu anjing dong? Sorry ya semuanya, gue nggak suka peliharaan berbulu yang galak begitu. Sebagai mantan ketua, gue lebih suka harimau yang beringas!"
Tanpa memedulikan wajah pengacara Sylus yang kini sudah membiru menahan amarah bercampur panik, Ceisya dengan langkah ringan membalikkan badan, turun dari pelaminan megah itu. Langkah kakinya dengan sengaja berbelok tajam ke arah bangku barisan tamu undangan terdepan.
Di sana, duduklah Mila—sahabat karibnya di dunia fiksi ini—yang tengah memangku seekor anjing pudel betina berbulu putih keriting yang sangat cantik dan menggemaskan. Dengan gerakan tanpa dosa, Ceisya langsung menyambar tali kekang anjing pudel itu dari pangkuan Mila begitu saja.
"Mil, anjing betina lu ini kan statusnya masih single dan belum nikah, ya? Dan kemarin malam lu kan sempat bilang kalau lu pengen banget nyariin dia jodoh biar bisa cepat punya cucu anjing yang banyak?" tanya Ceisya tanpa aba-aba, menatap sahabatnya dengan mata berbinar-binar penuh kelicikan.
Mila yang masih dilanda syok hebat akibat aksi gila Ceisya di atas altar hanya bisa mengedipkan mata berulang kali, lalu mengangguk kaku secara otomatis. "Eh? I-iya, sih... Kenapa emang, Ce?"
"Nah, sumpah, pas banget semesta mendukung!" Ceisya mengedipkan sebelah matanya dengan jenaka, memasang senyum paling manis yang ia punya. "Gimana? Lu setuju nggak kalau anak bulu lu ini kita nikahin hari ini juga secara kilat?"
Mila yang otaknya perlahan mulai menangkap gelombang kegilaan dan skenario absurd yang dirancang oleh sahabatnya itu mendadak tersenyum lebar. Jiwa pemberontaknya ikut terpancing. "Oke, deal! Gue setuju banget!" jawab Mila penuh semangat membara.
Tanpa membuang waktu sedetik pun, Ceisya kembali berbalik melangkah naik ke atas pelaminan sambil menenteng tali anjing pudel betina di tangan kanannya, sementara tangan kirinya memegang tali si dobermann jantan. Dengan gesit, ia mensejajarkan kedua hewan berlainan jenis itu tepat di depan pendeta senior yang kini berdiri mematung sembari gemetar ketakutan hingga kitab suci di tangannya hampir terjatuh.
Setelah memastikan posisi kedua anjing itu berhadapan dengan khidmat, Ceisya berbalik menghadap ratusan tamu undangan yang menatapnya dengan mulut menganga lebar. Ia merentangkan kedua tangannya lebar-lebar dengan senyum kemenangan menghiasi wajahnya.
"Nah, nih baru pasangan yang paling cocok dan sepadan!" seru Ceisya riang gembira, memecah keheningan maut di gedung itu. "Gue yang berwajah cantik, imut, berhati malaikat, serta rajin menabung begini, jelas ogah ya harus membuang masa muda menikah sama anjing. Kalian semua yang duduk di sini kan orang-orang terhormat dan terkenal pintar..."
Ceisya menunjuk kedua anjing di atas altar dengan anggukan dramatis. "Jadi, mari kita sama-sama saksikan pernikahan akbar abad ini! Pernikahan suci sesama anjing lucu dan imut bernama Sylus Blackwood sang dobermann jantan dan... Bianca sang pudel betina! Ingat ya semuanya yang hadir di sini, mempelai wanitanya adalah Bianca, bukan Ceisya si gadis malang ini!"
BRAAKK!
Sebuah gebrakan meja yang sangat keras mengguncang ruangan. Meja panjang tempat keluarga kandungnya duduk mendadak digebrak kasar hingga piring-piring porselen berderit nyaring. Ayah tirinya bangkit berdiri dengan tubuh bergetar hebat, wajahnya berubah merah padam menahan rasa malu yang sudah mencapai ubun-ubun akibat ulah putri angkatnya yang benar-benar sudah kehilangan akal sehat.
"CEISYA! Kurang ajar banget kamu ya! Berani-beraninya membuat keonaran dan mempermalukan keluarga besar kita di hadapan para elit New York!" bentak sang ayah dengan suara melengking penuh amarah membabi buta. "Kalau kamu memang sudah tidak punya urat malu, tidak tahu diri, dan terus menerus bertingkah gila seperti ini, lebih baik sekarang juga kamu angkat kaki dari rumah keluarga kami! KAMI USIR KAMU SELAMANYA DARI KELUARGA INI!"
Mendengar ancaman pengusiran yang harusnya terdengar menakutkan bagi seorang anak gadis biasa, Ceisya justru tertawa lepas tanpa beban. Ia sama sekali tidak gentar. Dengan gerakan santai, ia meraih buket bunga mawar putih mewah yang dipegangnya dari tadi, lalu melemparnya tinggi-tinggi ke udara hingga berhamburan ke lantai. Ia melambaikan tangannya dengan gaya riang gembira layaknya artis yang sedang konser perpisahan.
"Oke, deal banget! Tanpa disuruh dua kali pun gue bakal keluar dari rumah toksik kalian sekarang juga!" balas Ceisya setengah berteriak, suaranya terdengar begitu telak menghujam. "Bye-bye keluarga penuh racun, selamat menikmati pesta pernikahan anjing kesayangan kalian ini sampai puas ya!"
Namun, sebelum kaki jenjangnya sempat melangkah turun melewati ambang pintu altar, sekelompok pria berjas hitam berbadan besar dan berwajah menyeramkan—pasukan pengawal khusus bayaran—tiba-tiba berlari masuk dari segala penjuru arah, mencegat dan menutup rapat jalur pelariannya.
Alih-alih ciut, jiwa kepemimpinan mafia dan seluruh memori keahlian bela diri tingkat tinggi milik Ceisya seketika bergolak bangkit di dalam darahnya. Aliran adrenalin memompa cepat ke seluruh tubuh.
Hanya dalam hitungan detik yang terasa begitu lambat bagi orang lain, kekacauan fisik pun meletus. Saat pengawal pertama menerjang maju untuk mencengkeram bahunya, Ceisya meliuk anggun menghindari serangan, lalu melayangkan tendangan taekwondo berputar yang telak menghantam rahang sang pengawal hingga tersungkur keras. Belum sempat pengawal kedua bangkit, ia menyusulnya dengan bantingan judo dan silat beringas yang membuat tubuh pria berbadan dua kali lipat darinya itu membentur lantai marmer putih hingga berderak retak, mengerang kesakitan tak berdaya.
Dalam sekejap mata, arena resepsi yang megah berubah menjadi arena pertarungan tunggal yang sangat memukau.
Namun, di tengah hiruk-pikuk suara erangan dan hantaman fisik di lantai bawah, tidak ada satu pun orang di ruangan itu yang menyadari satu hal penting. Di sudut ruangan tersembunyi, tepatnya di atas balkon V.I.P lantai atas yang diterangi temaram lampu gantung kristal, sesosok pria berdiri bagaikan penguasa mutlak kegelapan.
Sylus Blackwood—The Apex Sovereign dunia atas Manhattan sekaligus The Crimson King yang ditakuti di dunia bawah Brooklyn—tengah berdiri tegak menatap lurus ke bawah melalui layar tablet transparan di tangannya yang terhubung langsung dengan kamera pengawas gedung. Sepasang manik mata merah menyala bagai delima di kegelapan malam memantulkan setiap gerakannya dengan sangat detail.
Pria itu sama sekali tidak marah karena pernikahannya dihancurkan. Sebaliknya, dari layar tersebut, ia memantau seluruh aksi liar "istri bodoh" yang selama ini diremehkan oleh laporan bawahannya. Di balik lapisan bedak dempul tebal dan riasan menor yang tampak konyol itu, sorot mata hijau Ceisya yang menyala tajam memancarkan keberanian luar biasa, keliaran murni, dan pesona mematikan yang belum pernah ia temukan pada wanita mana pun sepanjang hidupnya.
Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang raja mafia berdarah dingin, sudut bibir Sylus terangkat perlahan membentuk sebuah smirk penuh bahaya yang teramat misterius. Manik mata merahnya berpendar tajam penuh minat, menatap punggung gadis itu dengan sensasi candu yang mulai merayap panas membakar dadanya.
"Cari wanita itu sampai dapat hidup-hidup di hadapanku," titah Sylus dingin dengan suara serak yang begitu mematikan, sementara seluruh indranya terkunci mati pada sosok Ceisya yang tengah menghajar pengawal terakhir di lantai bawah.
Sial, Calon istriku kecilku yang sangat berani... permainan kejar-kejaran macam apa lagi yang sedang kau mainkan di belakangku, hah? batin Sylus kelam, manik mata merahnya menyala semakin terang, sementara langkah kakinya perlahan mulai meninggalkan balkon VIP, bersiap turun untuk mencengkeram dan menelan mangsanya bulat-bulat.