NovelToon NovelToon
Kemelut Ego

Kemelut Ego

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Nikahmuda
Popularitas:322
Nilai: 5
Nama Author: Pandutmia

Meski telah 10 tahun saling mengenal dan sempat hidup bersama dalam pernikahan, nyatanya Rastadira dan Farhan harus menyerah pada takdir perpisahan. Berbagai kemelut hadir sejak ia memutuskan pergi dari kehidupan Farhan dan keluarga. Namun, siapa yang menyangka banyaknya kemelut malah mengantarkannya pada kisah yang lebih hangat dan nyaris sempurna? Sanggupkah ia beralih rasa tanpa ada bayangan masa lalu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pandutmia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Masih Tentangnya

Pagi ini aku disambut dengan datangnya hujan, membuatku harus mengembangkan payung untuk berangkat kerja. Tempat kerjaku hanya berjarak 200 meter dari tempat kos, sehingga aku hanya perlu berjalan kaki saja menuju toko. Mungkin saking terburunya sampai aku tidak sempat menaburkan bedak di wajahku, sehingga terlihat sekali jika wajahku lelah akibat kurang tidur beberapa hari ini.

“Dira?” Sapa Mbak Ria sesampainya aku di toko. Keadaan toko masih sepi, pintu harmonikanya pun belum terbuka seluruhnya. Para karyawan memang datang satu jam sebelum jam operasional toko karena kami harus memastikan toko sudah bersih dan rapi sebelum benar-benar dibuka.

“Kamu sakit?” tanya Mbak Ria sembari memegang bahuku.

“Aku belum sempat poles bedak mbak, makanya kelihatan pucat, hehe.” Jawabku sambil nyengir, aku tidak ingin dianggap sakit dan diminta istirahat di rumah. Tidak, aku harus bekerja, meski kepala ini terasa berat tapi aku harus memastikan diri untuk tetap bekerja supaya gajiku tetap full seperti bulan lalu. Dan supaya hari sabtu nanti aku bisa mengajukan ijin libur untuk pergi ke Surabaya, menyelesaikan misi yang kurancang beberapa hari lalu.

“Tapi kamu terlihat beda, Dir. Wajahmu juga terlihat tirus, matamu cekung. Kamu kurang tidur, ya?” Tebak Mbak Ria.

“Iya mbak, aku kebanyakan kopi jadi malamnya susah tidur.” Jawabku mengaminkan pertanyaan Mbak Ria.

“Oalah Dir, jadi kelihatan nggak segar, nggak kayak Dira yang biasanya.” Aku hanya tersenyum mendengar candaan Mbak Ria.

“Mbak, lusa aku ijin libur, ya.” Ucapku. Mbak Ria adalah kepala toko disini, ia lah yang mengatur absensi dan sif karyawan.

“Mau kemana, Dir?”

“Mau ke Surabaya, Mbak. Ada kepentingan keluarga.” Jawabku asal.

“Mau nengokin suami, ya?” Godanya. Ya, semua orang di toko ini tahu bahwa aku telah bersuami, mungkin Mas Irwan yang menjelaskannya karena tidak ingin ada yang modus padaku. Aku hanya tersenyum.

***

Aku berkemas pagi-pagi sekali. Kemarin aku sudah berpesan pada Mas Tomo, tukang ojek yang biasa mengantarku ke rumah Indah, untuk menjemputku jam 5 pagi. Bukan tanpa alasan jika aku berangkat sepagi itu, tempat kosku cukup jauh dengan terminal kota, dan jadwal keberangkatan bus setiap paginya memang sekitar jam 6 pagi, jadi aku tidak ingin terlambat menumpangi bus yang kumaksud.

Suasana jalanan yang lengang berhasil mengantarkanku ke terminal lebih cepat. Masih ada waktu sekitar setengah jam dan aku menggunakannya untuk melahap bekalku. Selepas subuh tadi, kusempatkan mengukus pisang kepok serta membuat susu coklat panas. Kesemuanya kini ada di depanku, bersiap menghangatkan lambungku yang terakhir kuisi kemarin siang.

Jam 9.10 aku sudah sampai di Terminal Joyoboyo, terminal bus yang lumayan dekat dengan kantor pria itu. Jika tadi aku harus menumpang kendaraan lagi untuk sampai di terminal ini, maka untuk ke kantor pria itu aku hanya perlu berjalan kaki.

Jantungku berdebar tak karuan, aku benar-benar frustasi, bagaimana saat aku menghadapinya? Bagaimana jika aku malah mendapati hal tak terduga? Ya Tuhan, aku jadi memaklumi kisah-kisah para wanita korban rudapaksa yang nekat bunuh diri atau bahkan membunuh pelaku, betul-betul situasi yang menguras banyak emosi.

Jika saja bukan Tuhan yang menguatkan aku, pastilah kaki ini tidak akan sampai di depan kantor bercat cokelat muda ini. Aku sudah berada di depan kantor pria itu, kantor yang dulu sering kukunjungi karena Farhan juga bekerja disini.

Deg. Netraku menangkap Farhan yang baru saja keluar dari mobil bersama seorang wanita. Mobil itu terlihat masih baru, apakah itu milik Farhan? Aku mengusir tanya itu, fokusku kini berpindah pada wanita yang terlihat lebih muda dariku, siapa ia? Senyum sama-sama terukir di wajah mereka berdua, gemuruh di dadaku tak lagi dapat kukendalikan. Bersamaan dengan itu, sepasang mata yang sangat kukenal juga menangkap sosokku. Farhan tercengang menyaksikanku di pelataran kantornya.

Sempat kudengar Farhan menyebut wanita itu dengan panggilan ‘bi’. Apakah itu panggilan sayang dari Farhan?

“Dira?” Tanyanya memastikan. Penampilanku yang kini berkerudung tentu sedikit membuatnya pangling.

Kutahan genangan air mataku supaya tidak jatuh begitu saja. Bagaimanapun Farhan sudah menceraikanku, sudah tak selayaknya air mata ini kutunjukkan padanya.

“Siapa wanita barusan, Han?” Namun rupanya lidah ini yang tak kuasa menahan. Tanpa basa basi kutanyakan langsung siapa sosok wanita yang bersama dengan Farhan. Oh ya, Farhan sempat terkejut ketika aku memanggil namanya, bukan ‘yank’ seperti yang biasa kulakukan.

“Oh, dia Puput.” Tepat dugaanku, Farhan sudah memiliki panggilan sayang untuk gadis berambut panjang tadi.

“Dia teman kerja kamu?” tanyaku kembali.

“Ya. Dan juga teman dekatku beberapa bulan ini.” Ucapnya tanpa rasa bersalah. Miris, putusan cerai belum turun namun ia sudah berani menyebut wanita lain sebagai teman dekatnya.

Sebenarnya sudah cukup lama aku mendengar desus tentang Farhan. Beberapa teman futsalnya pernah mengatakan bahwa Farhan sering ditemani seorang wanita saat latihan futsal. Tapi saat itu aku berusaha menutup telingaku rapat-rapat, aku yakin Farhan hanya berusaha ramah pada siapapun termasuk wanita yang disebut kawannya. Dan kini terjawab, Farhan sendiri yang mengatakan bahwa Puput adalah teman dekatnya beberapa bulan ini. Padahal dua bulan lalu aku masih bersamanya, lantas apakah benar Farhan selingkuh saat aku masih berstatus istrinya? Kuhela nafas ini perlahan, aku tak mampu membayangkan fakta yang kusangkakan.

“Bulan depan pengadilan akan memutuskan perceraian kita, sejak hari itu kamu sudah bebas jika ingin menjalin hubungan dengan orang lain.” Tuturnya.

“Terus wanita tadi?” tanyaku sinis. Bisa-bisanya dia mengatur kapan aku boleh menjalin hubungan dengan pria lain sedang dia sendiri sudah dekat dengan Puput saat aku masih berstatus istrinya.

“Kami baru dekat, belum menjalin hubungan spesial. Tapi sudah aku pastikan, Puputlah yang kelak akan menjadi ibu dari anak-anakku.” Ucapnya tak kalah sinis. Aku mati rasa, muak mendengar ucapan Farhan yang begitu menyayat hati. Apa salahku, Han?! Teriakku dalam hati.

“Semoga kalian bahagia.” Hanya itu yang bisa kukatakan. Aku tidak ingin terbebani lagi, sudah kubulatkan tekad untuk melupakan Farhan sejak hari naasku tiba kala itu. Terserah bagaimana Farhan melanjutkan kisah cintanya bersama Puput, toh kenyataannya memang benar ia berselingkuh sehingga aku tidak perlu lagi meratapi kisahku dengannya. Selesai, Farhan bukan lagi prioritasku.

Teringat kembali kenangan tiga tahun lalu saat kami baru saja menyelesaikan program S1 di kampus kami masing-masing. Ayah memanggilku dan bertanya apa rencanaku setelah lulus, ingin bekerja di Surabaya atau di Madiun. Dengan mantap aku menjawab Surabaya sebagai kota tempatku berkarir. Tanpa basa basi Ayah langsung memintaku untuk membawa Farhan ke hadapan beliau. Diluar dugaan, ternyata Ayah meminta Farhan untuk menikahiku secepatnya. Menurut Ayah, jika aku berkarir di Surabaya maka intensitas pertemuanku dengan Farhan akan sangat sering. Hal inilah yang memicu kekhawatiran Ayah, beliau tidak ingin putri sulungnya ini salah langkah dan terlena dengan status pacaran.

Permintaan Ayah kala itu sempat membuat Farhan bingung, ia berada di posisi yang sama sepertiku yakni baru lulus kuliah dan belum memiliki pekerjaan. Namun karena Farhan sangat ingin bersamaku dan memaklumi kekhawatiran Ayah, maka ia pun menyetujui permintaan Ayah, dengan persetujuan orang tuanya juga pastinya. Pernikahan kami dilaksanakan selang tiga bulan dari perayaan wisuda di kampusku, dan seluruh biaya pernikahan ditanggung oleh orang tua kami masing-masing.

Kami bahagia, meski kami belum memulai apa pun untuk karir kami. Di awal pernikahan, kami masih tinggal di rumah orang tua Farhan. Selang dua minggu menikah kami pindah untuk kos di tempat yang dekat dengan kantor Farhan. Sayangnya hanya tiga bulan Farhan bekerja di tempat itu karena mendadak Mama, ibu mertua, sakit dan tidak bisa beraktivitas sama sekali.

Keputusan Farhan untuk resign dari pekerjaannya dan memutuskan untuk merawat Mama sempat membuatku sedih, pasalnya Farhan juga memintaku untuk resign dan merawat beliau. Dengan dalih ingin berbakti kepada ibunya dia sampai rela memintaku resign dan menjadikanku perawat ibu mertua sepenuhnya.

Sempat ada perdebatan-perdebatan kecil kala itu, aku bersikukuh untuk tetap bekerja namun Farhan menolak. Tapi pada akhirnya aku mengalah ketika Mas Fariq, kakak Farhan, menawarkan pekerjaan baru untuk Farhan di kantornya. Ya, aku mengalah, aku ingin melihat kesungguhan Farhan untuk membahagiakanku dan mamanya sekaligus. Dan benar, semua berjalan sesuai keinginan Farhan. Usaha yang dirintis Mas Fariq bersama kedua temannya berhasil mendapatkan lebih banyak proyek karena kepiawaian Farhan dalam memperoleh customer. Tak hanya itu, Farhan pun cukup ahli dalam memilih relasi-relasi yang mumpuni dalam pengerjaan proyek-proyek tersebut sehingga seluruh proyek dapat selesai tepat waktu.

Hingga mungkin keberhasilan itu yang membuat Farhan lupa diri sehingga bisa dekat dengan wanita lain. Satu tahun pertama kondisi rumah tanggaku masih sangat harmonis, meskipun sehari-hari kesibukanku hanya berputar di dalam rumah merawat mama juga menyiapkan berbagai keperluan Farhan dan Febi, adiknya. Febi masih semester lima saat aku dan Farhan menikah, perkuliahannya kala itu benar-benar menyita waktu sehingga ia tidak bisa membantuku mengurus mama dan rumah.

Tahun kedua Farhan benar-benar meraih keberhasilannya, banyak proyek bernilai besar yang dikerjakannya bersama tim. Hal itulah yang membuat Mas Fariq dan teman-temannya menyewa sebuah kantor di tengah kota demi menciptakan kesan profesional bisnis mereka. Profit yang didapatkan diluar dugaan, membuat seluruh tim mampu membeli aset yang mereka idamkan. Farhan membeli motor sport dan menukar mobil papa mertua dengan mobil yang lebih nyaman, Mas Geri dan Mas Biyas sama-sama membeli satu unit mobil keluaran terbaru, lalu Mas Fariq membeli sebuah rumah di pinggiran Kota Surabaya.

Aku bersyukur, ternyata Farhan benar-benar berhasil mewujudkan impiannya sejak bergabung bersama Mas Fariq dan teman-temannya. Setidaknya aku sama sekali tidak khawatir dengan kondisi perekonomian kami saat itu.

Bertambahnya pundi rupiah kami rupanya membuat Farhan tergerak untuk memeriksakan kandunganku. Dua tahun menikah berhasil membuat Farhan bertanya-tanya mengapa kami belum juga dikaruniai momongan. Aku menurut, dan tentu aku memiliki harap yang sama seperti Farhan. Tak dapat ditampik, keturunan pastilah membuat suasana rumah tangga semakin harmonis.

Dua dokter kandungan menyatakan Farhan dalam kondisi yang prima, sebaliknya mereka mengatakan sel telurku terlalu kecil untuk dibuahi sehingga harus mengonsumsi suplemen tambahan untuk membesarkan sel telur. Aku mengonsumsinya untuk beberapa waktu, hasilnya tubuhku menjadi lebih berisi dan haidku menjadi tidak teratur. Belum sempat habis obat yang diberikan dokter sebelumnya, Farhan mengajakku beralih ke pengobatan herbal. Tak sampai tuntas kami juga mencoba terapi akupunktur khusus program hamil, namun sayang belum satu pun yang membuahkan hasil. Hingga terakhir selang dua bulan ulang tahun pernikahan kami yang ketiga, Farhan mengajakku kontrol kandungan ke Profesor Sujiono, dokter kandungan ternama yang kusebutkan di awal cerita.

Entah hasil pemeriksaan siapa yang dibaca oleh laki-laki tua itu, yang jelas hasil pemeriksaannya sering kali berubah-ubah. Jika bulan pertama ia mengatakan sel telurku tidak berkembang, di bulan berikutnya ia mengatakan tuba falopiku bermasalah, lalu terakhir ia mengatakan aku PCOS. Jika dirunut, sejak memeriksakan kandungan ke Prof Suji hubunganku dengan Farhan menjadi sedikit renggang. Kalimat provokasi sering dilontarkan Prof Suji seolah melarangku untuk berharap.

Pernah aku tanyakan tentang perbedaan hasil pemeriksaanku dengan bulan lalu, Prof Suji malah mengejekku karena tidak paham organ reproduksiku sendiri. Entahlah, mungkin aku saja yang denial terhadap semua pernyataan Prof Suji, mungkin aku juga bebal karena sudah melibatkan sentimen pribadi, sehingga semua diagnosa yang dibuat Prof Suji kuabaikan begitu saja.

1
Desi
seru sekali kk
Pandutmia: terima kasih kak, ditunggu update bab selanjutnya ya kak 🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!