NovelToon NovelToon
Hujan Yang Tak Pernah Reda

Hujan Yang Tak Pernah Reda

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:479
Nilai: 5
Nama Author: Rico Warsa

Hujan yang Tak Pernah Reda
Delapan tahun Kirana pergi tanpa kabar. Kini ia pulang saat Bapak sekarat, hanya untuk menemukan rahasia keluarga yang selama ini disembunyikan—rahasia yang jadi alasan sesungguhnya ia dulu memilih pergi. Antara cinta lama yang bersemi kembali dan kebenaran yang bisa menghancurkan keluarganya, Kirana harus memilih: lari lagi, atau bertahan menghadapi badai.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rico Warsa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 26: Nama dari Masa Lalu

Kirana menghabiskan tiga hari berikutnya berusaha mengabaikan notifikasi permintaan pertemanan dari Fajar Nugraha yang masih tergantung di aplikasi media sosialnya. Setiap kali ia membuka ponsel, nama itu seperti mengintip dari sudut layar, mengingatkannya pada babak hidup yang sudah lama ia coba kubur bersama kepergiannya dari kota ini delapan tahun lalu.

"Kau kelihatan melamun," Sari menegur suatu pagi, mendapati Kirana duduk termenung di meja makan sambil menatap kosong ke arah jendela.

"Tidak apa-apa," Kirana buru-buru menjawab, menutup aplikasi di ponselnya. "Cuma memikirkan proyek desain."

Sari mengangkat alis, tidak sepenuhnya percaya, tapi memilih untuk tidak mendesak. Namun setelah sarapan, ketika mereka berdua mencuci piring bersama, Kirana akhirnya tidak tahan lagi menyimpan sendiri.

"Kak, kau ingat Fajar?"

Sari menghentikan gerakannya sejenak, mencerna nama itu. "Fajar... tunanganmu dulu?"

Kata "tunangan" itu menghantam Kirana lebih keras dari yang ia duga, meski sudah bertahun-tahun berlalu. "Ya. Dia baru mengirim permintaan pertemanan di media sosial."

"Setelah delapan tahun?" Sari menatapnya penuh selidik. "Apa maunya?"

"Aku tidak tahu," Kirana menjawab jujur. "Aku bahkan belum menerima permintaannya."

Sari mengeringkan tangannya, lalu duduk di kursi meja makan, mengisyaratkan Kirana untuk melakukan hal yang sama. "Kirana, aku tahu ini bukan urusanku sepenuhnya, tapi... kau dan Fajar putus dengan cara yang buruk, kalau aku ingat benar. Kau bahkan tidak pernah cerita detailnya padaku."

Kirana menghela napas panjang, teringat kembali pada kenangan yang selama ini ia hindari. "Kami bertunangan setahun sebelum aku pergi dari rumah. Tapi setelah aku pergi, aku... aku memutuskan hubungan itu lewat pesan singkat. Aku terlalu hancur waktu itu untuk memikirkan perasaannya, aku hanya ingin lari sejauh mungkin dari segalanya yang berhubungan dengan kota ini."

"Termasuk dia," Sari menyimpulkan pelan.

"Termasuk dia," Kirana mengangguk, rasa bersalah yang lama terpendam kini muncul kembali ke permukaan. "Aku tidak pernah benar-benar menjelaskan alasanku padanya. Aku hanya... menghilang, sama seperti yang aku lakukan pada kalian semua."

Sari menggenggam tangan adiknya. "Mungkin ini kesempatanmu untuk memberi penjelasan yang selama ini tertunda. Tidak harus berarti membuka kembali hubungan lama, tapi setidaknya memberi penutupan yang layak untuknya, dan untuk dirimu sendiri."

Kata-kata itu memberi Kirana perspektif baru. Selama ini ia berpikir masa lalu dengan Fajar adalah bab yang sudah tertutup rapat, namun kenyataannya, ia belum pernah benar-benar menutupnya dengan cara yang pantas—hanya meninggalkannya menggantung, sama seperti banyak hal lain dalam hidupnya sebelum ia pulang.

Malam itu, setelah bergulat dengan keraguan yang panjang, Kirana akhirnya membuka aplikasi itu dan menerima permintaan pertemanan Fajar. Hampir seketika, sebuah pesan masuk.

*"Kirana. Aku tidak menyangka kau akan menerima permintaanku. Aku dengar kau kembali ke kota. Bagaimana kabarmu?"*

Jantung Kirana berdebar membaca pesan itu, campuran antara gugup dan rasa penasaran yang sudah lama terpendam. Ia mengetik beberapa kali, menghapusnya, mengetik lagi, sebelum akhirnya mengirim balasan singkat.

*"Aku baik. Ayahku sakit, jadi aku pulang untuk sementara. Kau sendiri bagaimana?"*

Balasan datang lebih cepat dari yang ia duga.

*"Aku turut prihatin soal ayahmu. Aku sekarang bekerja di bidang konsultan investasi, cukup sering bepergian. Kebetulan aku juga akan ada urusan bisnis di kota ini minggu depan. Boleh aku traktir kau kopi? Hanya ingin bicara, menyelesaikan hal-hal yang mungkin belum selesai di antara kita."*

Kirana menatap layar ponselnya lama, mempertimbangkan tawaran itu. Di satu sisi, ia merasa berhutang penjelasan pada Fajar atas caranya mengakhiri hubungan mereka bertahun-tahun lalu. Di sisi lain, ada kekhawatiran samar tentang bagaimana pertemuan itu bisa memengaruhi hubungannya yang baru saja mulai berkembang dengan Raka.

Ia memutuskan untuk jujur pada dirinya sendiri—ini bukan tentang membuka kembali romansa lama, melainkan tentang memberi dan menerima penutupan yang layak, sesuatu yang selama ini keluarganya juga perjuangkan dengan susah payah.

*"Baiklah. Kita bertemu minggu depan,"* ia akhirnya membalas.

Setelah mengirim pesan itu, Kirana duduk diam sejenak, menatap langit-langit kamarnya, bertanya-tanya apakah keputusan ini akan membuka luka lama yang sudah mulai sembuh, atau justru memberi penyembuhan yang sesungguhnya ia butuhkan untuk benar-benar melepaskan masa lalu.

Ponselnya bergetar sekali lagi, kali ini pesan dari Raka, mengabari bahwa ia akan datang membawa makan malam untuk keluarga seperti biasa. Kirana merasakan sedikit rasa bersalah tanpa alasan yang jelas, meski ia tahu belum ada yang salah dengan keputusannya bertemu Fajar. Namun entah kenapa, bayang-bayang pertemuan yang akan datang itu terasa seperti awan kecil yang mulai terbentuk di langit yang belum lama ini cerah.

Ia menutup ponselnya, mencoba mengusir kekhawatiran yang belum tentu beralasan itu, dan bergegas turun untuk menyambut Raka yang baru saja tiba di depan rumah, senyumnya hangat seperti biasa—tidak menyadari sedikit pun tentang percakapan yang baru saja terjadi di kamar atas.

Malam itu, saat mereka makan malam bersama keluarga, Kirana berusaha bersikap senormal mungkin, meski pikirannya sesekali melayang pada pesan Fajar yang masih tersimpan di ponselnya. Ia memperhatikan Raka bercanda dengan Denis soal pertandingan sepak bola yang baru saja mereka tonton, dan Bapak yang tertawa kecil mendengar candaan mereka—momen sederhana yang beberapa bulan lalu terasa mustahil di tengah ketegangan yang mendominasi rumah ini.

Setelah makan malam, ketika Raka pamit pulang dan mencium keningnya sebelum pergi, Kirana merasakan sedikit rasa bersalah yang tidak sepenuhnya bisa ia jelaskan. Bukan karena ia melakukan sesuatu yang salah, tapi karena ada bagian dari hidupnya yang belum sepenuhnya ia bagikan dengan orang yang ia percaya sepenuhnya.

"Kau kelihatan memikirkan sesuatu," Ibu berkata, mendapati Kirana masih berdiri di depan pintu lama setelah mobil Raka menghilang dari pandangan.

"Cuma memikirkan beberapa hal, Bu," Kirana menjawab, tidak sepenuhnya siap untuk membagikan detail soal Fajar pada Ibu malam ini. "Aku akan cerita kalau sudah lebih jelas."

Ibu mengangguk pengertian, tidak mendesak lebih jauh, sebuah kepercayaan yang telah mereka bangun kembali sejak bulan-bulan penuh kejujuran yang mereka lalui bersama. Kirana naik ke kamarnya malam itu dengan pikiran yang masih berkecamuk, menyadari bahwa keputusan untuk bertemu Fajar minggu depan mungkin akan membuka babak baru yang tidak sepenuhnya bisa ia prediksi—baik untuk hatinya sendiri, maupun untuk keamanan keluarganya.

Ia berbaring di ranjangnya, menatap langit-langit kamar yang telah menjadi saksi begitu banyak perubahan dalam hidupnya sejak kepulangannya setahun lalu. Pikirannya melayang pada foto-foto lama yang pernah ia lihat di album keluarga—foto dirinya dan Fajar semasa masih bertunangan, wajah-wajah muda yang penuh harapan tanpa membayangkan betapa rumitnya jalan yang akan mereka tempuh setelahnya.

Ada bagian dari dirinya yang penasaran, ingin tahu bagaimana rasanya jika waktu itu ia tidak pergi, jika ia memilih untuk tetap tinggal dan menghadapi kebenaran bersama Fajar alih-alih lari sendirian. Namun ia juga menyadari, penyesalan semacam itu tidak akan mengubah apa pun sekarang. Yang bisa ia lakukan hanyalah menghadapi masa kini dengan sebaik-baiknya, membawa pelajaran dari masa lalu tanpa terjebak di dalamnya.

---

*Bersambung ke Bab 27...*

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!