Lantunan ayat suci dan isak haru mengiringi momen Nabila Azra Humaira menyematkan mahkota kehormatan di kepala ibunya. Hari itu, ia resmi diwisuda sebagai Hafizhah 30 Juz di Pesantren Nurul Hasanah. Namun, kebahagiaan itu hancur dalam sekejap.
Sore harinya, kabar kecelakaan tragis orang tuanya membuat Nabila panik dan tergesa-gesa mengendarai motor. Naas, nasib buruk beruntun menimpanya. Nabila mengalami kecelakaan hebat yang merenggut penglihatannya secara permanen, bersamaan dengan kabar duka bahwa kedua orang tuanya telah berpulang.
Satu bulan Nabila mengurung diri dalam duka. Di tengah sunyinya masa keputusasaan itu. Seorang pria datang membawa pengakuan yang menghentakkan jiwanya. Pria itu menyebut dirinya Hafiz Habib Zafar, dan yang paling mengejutkan pengakuannya bahwa ia adalah suami sah Nabila.
Dibalik kegelapan yang menyelimuti hidupnya, Nabila terus bertanya-tanya. Siapakah sosok Hafiz Habib Zafar sebenarnya? Mengapa seorang pria asing tiba-tiba mengaku sebagai suaminya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ramanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MURAJA'AH CINTA DI SEPERTIGA MALAM.
Telapak tangan kanan Hafiz yang dibalut perban putih tebal membuat pergerakannya serba terbatas. Pria itu terlihat sedang mencoba mengancingkan kemeja koko putihnya sendiri pagi itu. Jemari kirinya yang canggung terus-menerus gagal memasukkan kancing kecil itu ke lubangnya.
Nabila, yang mendengar gesekan kain dan desah napas halus suaminya yang tertahan di balik pintu kamar, meraba dinding kayu untuk mendekat. Hatinya melunak sepenuhnya. Bayangan luka bakar di tangan pria itu adalah bukti nyata dari perlindungan tanpa syarat yang diberikan padanya.
"Ustadz..." panggil Nabila lembut dari ambang pintu.
Hafiz menghentikan jemarinya yang canggung. Ia menengadah, menatap istrinya dengan senyum tipis. "Ah, iya, Billa. Maaf, saya sedikit kesusahan mengancingkan baju ini."
Nabila melangkah mendekat. Untuk pertama kalinya, tanpa diminta, ia mengulurkan kedua tangannya. Jemari lentiknya yang sedikit gemetar menyentuh bagian dada kemeja koko Hafiz. Meraba secara perlahan, menemukan kancing demi kancing, lalu memasukkannya dengan penuh kehati-hatian.
Hafiz membeku di tempatnya. Jarak mereka yang begitu dekat membuat aroma keharuman lembut dari jilbab Nabila menyapa indera penciumannya. Pria itu menahan napas, menatap lekat garis wajah Nabila yang anggun dari balik cadar tipisnya.
"Sudah selesai, Ustadz," bisik Nabila polos, tangannya hendak ditarik kembali.
Namun, sebelum jemari itu lepas, Hafiz menggunakan tangan kirinya yang sehat untuk menggenggam lembut pergelangan tangan Nabila. "Terima kasih banyak, Billa... Terima kasih sudah mau melayani saya."
Pipi Nabila di balik kain cadar mendadak memanas. Kehangatan usapan tangan kiri Hafiz merambat ke seluruh tubuhnya, menembus sisa-sisa canggung yang masih tersisa di antara mereka.
"Sama-sama Ustadz. Lagian tangan Ustadz begini juga karena saya, jadi sudah sepantasnya saya membantu Ustadz," balas Nabilla tampak canggung.
"Ya sudah, kalau begitu sebaiknya kamu istirahat saja. Saya izin ke pondok ya, karena hari ini ada jadwal mengajar santri," pamit Hafis, dengan suara yang lembut.
Nabilla hanya mengangguk dan hanya berdiri terpaku, saat Hafiz mulai melangkah keluar pondok. hingga terdengar suara pintu tertutup. Setelah itu Nabilla memilih masuk kembali ke kamarnya, tempat yang paling teraman baginya.
Malam harinya, rinai hujan turun dengan begitu syahdu membasahi atap seng pondok panggung di tepi sawah. Gemercik air yang beradu dengan tanah basah menciptakan simfoni alam yang menentramkan.
Di sepertiga malam yang sunyi, keheningan itu dipecahkan oleh suara alunan jam weker kecil. Nabila terbangun lebih awal. Setelah mengambil air wudhu, ia berdiri bersiap di atas sajadahnya. Tak lama kemudian, pintu kamar berderit pelan. Hafiz masuk dengan pakaian sholat lengkap, mukanya masih basah oleh sisa air wudhu yang memancarkan pendar ketenangan.
"Kita sholat berjamaah ya, Billa?" tawar Hafiz lembut.
Nabila mengangguk tanpa ragu. "Baik, Ustadz."
Hafiz mengambil posisi di depan, menjadi imam bagi satu-satunya makmum di belakangnya. Malam itu, di dalam keteduhan pondok mungil mereka, suara hafalan Al-Qur'an Hafiz mengalun begitu merdu dan bergema indah. Setiap ayat yang dilantunkan suaminya menggetarkan relung jiwa Nabila, seolah membasuh seluruh luka, prasangka, dan duka masa lalu yang pernah menghimpit dadanya.
Setelah selesai berdoa panjang yang mengaminkan seluruh harapan kebaikan, Hafiz memutar tubuhnya menghadap Nabila. Pria itu meletakkan sebuah Al-Qur'an besar di atas pangkuannya menggunakan tangan kirinya.
"Billa..." panggil Hafiz penuh kelembutan. "Malam ini, maukah kamu menyimak bacaan saya? Tangan saya masih sakit untuk membalik lembaran Al-Qur'an, tapi saya tidak ingin melewatkan setoran muraja'ah malam ini."
Nabila tertegun sejenak sebelum tersenyum manis dari balik cadarnya. "Tentu, Ustadz. Surah apa yang mau dibaca?"
"Surah Ar-Rahman."
Hafiz memejamkan matanya, menghela napas panjang, lalu mulai melantunkan ayat-ayat dari Surah Ar-Rahman dengan irama Nahawand yang teramat mendayu. Suaranya yang empuk dan penuh penghayatan merambat di udara dingin sepertiga malam.
fabi-ayyi āla`i rabbikumā tukażżibān...
"Maka nikmat Tuhanmu manakah yang kamu dustakan?"
Saat mengulang-ulang ayat sakral tersebut, suara Hafiz mendadak bergetar hebat. Pria itu menahan isak tangis yang menyeruak dari dadanya. Rasa syukur yang teramat agung membuncah dalam jiwanya, tentang keajaiban takdir, tentang pintu maaf yang terbuka, dan tentang wanita hafizhoh di depannya yang kini bersedia berdiri di belakangnya sebagai makmum kehidupan.
Nabila mendengarkan lantunan itu dengan air mata yang menetes pelan menembus kain cadarnya. Kali ini, air mata itu bukan lagi kepedihan atau kemarahan, melainkan keharuan yang tak tertahankan atas segala nikmat dan ketetapan Sang Khaliq yang teramat indah.
Lantunan surah itu berakhir dengan sautan sadaqallahul 'adzim yang bergetar penuh kepasrahan.
Kini, keheningan kembali menyelimuti mereka. Nabila meraba sajadahnya, maju beberapa senti mendekati posisi duduk suaminya.
"Ustadz..." bisik Nabila lirih.
"Iya, Billa?"
Nabila menarik napas dalam-dalam, mengumpulkan seluruh keberanian jiwa dan raganya untuk meruntuhkan tembok pembatas terakhir di antara mereka.
"Mulai malam ini... bolehkah Billa tidak memanggil Anda dengan sebutan 'Ustadz' lagi?"
Hafiz tertegun. Pandangan matanya membelalak kaget sekaligus diliputi binar kebahagiaan yang sangat terang. "L-lalu... kamu mau memanggil saya apa, Billa?"
Nabila menundukkan kepalanya dalam-dalam, meraba tangan kiri Hafiz yang bebas dari perban, lalu menggenggamnya dengan kedua tangannya sendiri.
"Mas... Mas Hafiz," ucap Nabila dengan nada yang begitu tulus, halus, dan sarat akan penyerahan jiwa seorang istri kepada suaminya.
DEG.
Panggilan sederhana itu bagaikan gumpalan air sejuk yang menyiram dada Hafiz di tengah padang pasir. Pria tegap itu terpaku, napasnya seolah tertahan oleh kebahagiaan yang teramat besar.
Sebelum Hafiz sempat berkata apa-apa, Nabila perlahan membawa tangan kiri suaminya itu ke wajahnya, lalu mengecup punggung tangan Hafiz dengan sangat lama dan penuh takzim. Air mata keikhlasan Nabila menetes basah di atas kulit tangan Hafiz.
Hafiz tak sanggup lagi menahan keharuannya. Menggunakan tangan kirinya yang gemetar oleh kebahagiaan, ia merengkuh puncak kepala Nabila yang tertutup mukena bersih, mengusapnya penuh kasih sayang, lalu mendaratkan sebuah kecupan hangat yang syahdu di kening istrinya untuk pertama kalinya.
"Terima kasih, Nabila... Terima kasih sudah menerima Mas menjadi bagian dari takdirmu," bisik Hafiz dengan suara serak yang memecah keheningan malam.
Di sepertiga malam yang dingin itu, diiringi rinai hujan yang kian mereda di luar sana, dua hati yang pernah terluka oleh tragedi akhirnya lebur dalam ikatan cinta yang suci, sebuah awal baru bagi perjalanan hidup mereka yang direstui oleh bumi dan langit.