NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Sinar matahari pagi menembus celah gorden apartemen persembunyian Reyhan.

Di atas meja ruang tengah, Alena, Kania, dan Reyhan duduk mengelilingi laptop yang menampilkan kliping koran "Tragedi Teater Harapan".

Kania dengan cekatan mengetik sesuatu di keyboard laptopnya, mencari arsip digital dari berita sepuluh tahun lalu.

"Ini dia," seru Kania dengan mata berbinar.

"Aku berhasil menembus arsip lama sebuah media independen yang sudah tutup."

"Tragedi Teater Harapan terjadi pada tahun 2016."

"Seorang aktor teater bernama Bintang Sanjaya tewas terbakar di dalam ruang ganti teater."

Alena mengerutkan keningnya, membaca laporan yang ditampilkan Kania.

"Kebakaran itu dinyatakan sebagai kecelakaan akibat korsleting listrik."

"Kasusnya ditutup hanya dalam waktu satu minggu."

"Satu minggu?" ulang Reyhan dengan nada curiga.

"Itu terlalu cepat untuk sebuah kasus kebakaran yang memakan korban jiwa."

Kania mengangguk setuju dan membuka halaman dokumen lain.

"Dan coba tebak siapa petugas forensik yang menandatangani laporan kecelakaan itu?"

Kania memperbesar bagian tanda tangan di dokumen tersebut.

"Dr. Tirta," eja Alena pelan.

"Korban ketiga di pabrik peleburan logam semalam," sambung Reyhan, matanya menyipit tajam.

"Benang merahnya semakin jelas."

Kania terus menggali data, jemarinya menari di atas keyboard.

"Dan tebak siapa jaksa penuntut yang merekomendasikan kasus ini ditutup?"

"Jaksa Sudarsono, yang kemudian diangkat menjadi Hakim Sudarsono."

"Lalu siapa yang mendanai teater itu pada saat itu?"

"Sebuah yayasan seni yang merupakan cikal bakal dari Yayasan Pelita Hati."

Ruangan itu mendadak hening.

"Jadi, kebakaran Teater Harapan sepuluh tahun lalu bukanlah kecelakaan," simpul Reyhan.

"Itu adalah pembunuhan terencana."

"Bintang Sanjaya dibunuh, dan semua orang yang terlibat dalam menutupi kasus itu kini diburu satu per satu."

Alena menyandarkan punggungnya ke kursi dengan wajah tegang.

"Motif balas dendam."

"Tapi siapa yang membalas dendam?"

"Bintang Sanjaya punya keluarga?" tanya Reyhan pada Kania.

Kania mencari data tentang keluarga korban.

"Dia punya seorang anak laki-laki, saat itu umurnya masih belasan tahun."

"Namanya..."

Sebelum Kania selesai menyebutkan nama tersebut, layar laptop tiba-tiba berkedip hitam.

"Hei! Apa yang terjadi?" seru Kania panik.

"Sistemku diretas!"

Layar laptop yang hitam itu tiba-tiba menampilkan sebuah video yang diputar otomatis.

Video itu menunjukkan sosok pria bertopeng hitam polos dengan setelan jas putih, duduk di sebuah kursi teater yang usang.

"Selamat pagi, penonton yang terhormat," sapa pria bertopeng itu dengan suara mekanisnya.

Video ini bukan hanya diretas ke laptop Kania, melainkan disiarkan secara langsung di berbagai platform media sosial besar di Indonesia.

Reyhan, Alena, dan Kania menatap layar itu dengan tegang.

"Selama sepuluh tahun, keadilan telah buta, tuli, dan bisu," lanjut pria bertopeng itu.

"Hukum hanya menjadi tameng bagi mereka yang memiliki uang dan kuasa."

"Hendra, Sudarsono, Tirta, dan Darmawan... mereka adalah parasit yang memakan keadilan dari dalam."

"Dan sekarang, parasit itu telah dibasmi."

Komentar netizen di video langsung (live stream) itu bergerak sangat cepat.

Banyak yang memuji tindakan sang pembunuh bertopeng, memanggilnya sebagai "Sang Keadilan" atau "Robin Hood Modern".

"Namun, aku tidak bekerja sendirian dalam pertunjukan agung ini," ucap pria bertopeng itu, nadanya sedikit berubah menjadi lebih teatrikal.

"Ada seorang aktor luar biasa yang telah membantu membongkar kebusukan mereka."

"Seorang pemuda yang awalnya difitnah, namun kini bangkit sebagai pedang keadilan."

Layar video tiba-tiba terbagi dua.

Di sisi kiri adalah pria bertopeng, dan di sisi kanan muncul rekaman CCTV yang sangat jelas.

Itu adalah rekaman saat Reyhan membentak Kombes Darmawan dan memaksanya mengaku di dalam restoran VIP.

Wajah Reyhan yang dingin, intimidatif, dan penuh wibawa terekam dengan sempurna.

"Reyhan Mahardika," panggil pria bertopeng itu.

"Dunia mungkin memanggilmu Aktor Kematian."

"Tapi di mataku, kau adalah Penerus Keadilan."

"Pertunjukan ini akan segera mencapai babak akhir."

"Datanglah ke tempat semuanya bermula, Reyhan."

"Teater Harapan menunggumu."

Layar laptop kembali berkedip dan kembali normal.

Namun dampaknya sudah terjadi.

Dunia maya meledak seketika.

Video itu viral dalam hitungan menit, dan nama Reyhan Mahardika kembali menjadi trending topic nomor satu.

Namun kali ini, bukan hujatan yang ia terima.

Publik yang marah dengan korupsi para pejabat kini mengidolakan Reyhan.

Ia dianggap sebagai pahlawan, simbol perlawanan ekstrim terhadap sistem hukum yang rusak.

[Ding! Pemberitahuan Sistem.]

[Status Reputasi Anda berubah drastis.]

[Reputasi: +50 (Simbol Keadilan Ekstrim).]

[Perhatian: Kepopuleran ini adalah pedang bermata dua.]

Reyhan memijat pelipisnya yang tiba-tiba berdenyut.

"Sialan, pria topeng itu benar-benar bajingan yang pintar."

"Dia sengaja menggunakan videoku untuk menaikkan statusku di mata publik."

Alena berdiri dari kursinya dengan wajah pucat.

"Ini buruk, Reyhan."

"Sangat buruk."

"Kalau publik menganggapmu sebagai pahlawan, maka Mabes Polri akan menganggapmu sebagai ancaman keamanan nasional."

"Kau sekarang bukan hanya sekadar tersangka pembunuhan, tapi kau adalah pemimpin dari gerakan main hakim sendiri di mata pemerintah."

Kania yang dari tadi terdiam, tiba-tiba tertawa kecil.

"Ini... ini adalah berita terbesar abad ini!"

"Reyhan, kau baru saja menjadi tokoh paling berpengaruh di negara ini!"

"Kita harus segera mencari tahu lokasi Teater Harapan itu!" seru Kania dengan semangat jurnalistik yang meluap-luap.

"Tutup mulutmu, Kania!" bentak Alena keras.

"Ini bukan permainan atau cerita novelmu!"

"Nyawa Reyhan sekarang benar-benar ada di ujung tanduk!"

Ponsel Alena tiba-tiba berdering keras.

Itu dari nomor markas Propam Mabes Polri.

Alena menatap layar ponselnya dengan ragu, lalu mengangkatnya.

"Siap, Detektif Alena di sini."

"Detektif Alena, Anda diperintahkan untuk segera kembali ke Mabes Polri sekarang juga," suara dingin seorang perwira Propam terdengar dari seberang.

"Anda dicurigai bersekongkol dengan teroris Reyhan Mahardika."

"Jika Anda tidak menyerahkan diri dalam waktu dua jam, Anda akan ditetapkan sebagai buronan."

Alena memejamkan matanya rapat-rapat.

"Baik, Pak. Saya akan segera ke sana."

Alena mematikan ponselnya dan menatap Reyhan dengan sedih.

"Mereka sudah tahu."

"Aku harus kembali, Reyhan."

"Kalau aku kabur, aku tidak akan bisa melindungimu dari dalam lagi."

Reyhan mengangguk mengerti.

"Pergilah, Alena."

"Pastikan kau membawa bukti-bukti tentang Yayasan Pelita Hati untuk membersihkan namamu sendiri."

"Bagaimana denganmu?" tanya Alena khawatir.

Reyhan menatap layar laptop yang menampilkan pencarian tentang Teater Harapan.

"Aku akan memenuhi undangan pria topeng itu."

"Sudah saatnya aku mengakhiri pertunjukan ini dengan tanganku sendiri."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!