NovelToon NovelToon
Jenderal Milliarder

Jenderal Milliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Perperangan / Raja Tentara/Dewa Perang / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:5.5k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.

Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.

Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Keadilan Sang Patriark

Ruang aula utama kediaman Zimmer telah berubah menjadi arena gladiator yang berlumuran darah dan debu. Di tengah reruntuhan mimbar, Sang Bayangan Pertama berdiri dengan postur yang tidak lagi menyerupai manusia. Otot-ototnya membengkak hingga merobek seragam taktisnya, dan urat-urat hitam yang berdenyut menjalar di leher hingga ke wajahnya.

Pria itu telah bermutasi menjadi monster yang kehilangan akal sehatnya demi Formula Somatik.

Sang Bayangan Pertama mengayunkan pedang besarnya yang memancarkan sisa-sisa plasma ungu. WUSSS! Tebasan itu membelah udara dengan kecepatan luar biasa, menghancurkan pilar marmer padat di belakang Arthur seolah pilar itu terbuat dari tahu.

Arthur menghindar dengan lincah, namun gerakan cepatnya menarik otot di lengan kirinya yang terluka bakar. Rasa perih yang menyengat menjalar hingga ke saraf bahunya, membuat sang Jenderal sedikit meringis.

"Kau melambat, Komandan!" raung Sang Bayangan Pertama dengan suara ganda yang serak. Ia menerjang maju tanpa memedulikan pertahanan, mengayunkan pedangnya secara membabi buta.

Arthur menangkis dengan pisau militer bergeriginya, memutar tubuhnya, dan menyayatkan bilah perak itu dalam-dalam ke perut sang pembunuh. Darah hitam menyembur keluar. Namun, Sang Bayangan Pertama tidak menjerit. Ia bahkan tidak berkedip. Luka robek di perutnya mulai berasap dan jaringan ototnya merajut kembali dengan kecepatan yang tidak masuk akal.

"Kau tidak bisa membunuhku!" tawa monster itu, menendang Arthur hingga sang Jenderal terseret mundur beberapa meter. "Aku tidak merasakan sakit! Aku tidak mengenal lelah!"

Arthur menstabilkan kuda-kudanya, menyeka keringat dingin dari pelipisnya. Pertarungan fisik murni tidak akan berhasil. Musuh ini memiliki regenerasi sel yang dipaksakan secara ekstrem oleh Formula Somatik. Menikam jantung atau melukai organ vitalnya hanya akan membuang-buang tenaga.

Namun, Arthur bukanlah petarung jalanan yang hanya mengandalkan otot. Ia adalah komandan militer jenius. Pikiran Arthur melesat kembali ke memori masa lalunya yang paling kelam.

"Tidak ada makhluk yang benar-benar abadi di dunia ini," gumam Arthur, auranya kembali meledak, memfokuskan seluruh energi Qi-nya ke tangan kanan yang memegang pisau. "Bahkan monster sepertimu masih membutuhkan otak untuk menggerakkan saraf motorikmu."

Sang Bayangan Pertama kembali menerjang dengan raungan buas, mengangkat pedangnya tinggi-tinggi untuk tebasan vertikal yang mematikan.

Alih-alih menghindar ke belakang, Arthur justru mengambil langkah nekat. Ia melesat maju, menyongsong serangan itu. Saat pedang plasma itu turun, Arthur menggunakan lengan kirinya yang terluka untuk menghantam pangkal lengan musuh, membelokkan arah tebasan pedang tersebut hingga menancap ke lantai marmer. Rasa sakit yang luar biasa meledak di lengan kiri Arthur, namun ia menahannya dengan rahang terkatup rapat.

Tepat pada sepersekian detik saat pertahanan musuh terbuka dan pedangnya tertancap, Arthur menggeser tubuhnya ke titik buta monster itu. Ia melompat ke udara, menginjak lutut Sang Bayangan Pertama untuk mendapatkan momentum, lalu dengan presisi absolut seorang ahli bedah, Arthur menusukkan pisau bergeriginya tepat ke bagian belakang leher musuh menembus celah tulang belakang servikal, langsung menghancurkan sumsum lanjutan (medulla oblongata) dan otak kecil monster itu.

CRAAASSH!

"Urrrghhh..." Sang Bayangan Pertama mematung seketika.

Regenerasi sel somatik tidak ada artinya jika pusat komando sarafnya dihancurkan secara total. Mata merah pembunuh elit Kekaisaran Utara itu seketika meredup, kehilangan nyawanya sebelum ia bahkan menyadari bahwa ia telah mati.

Arthur menarik pisaunya dan melompat mundur. Tubuh raksasa itu ambruk ke lantai dengan suara berdebum keras, tak bernyawa lagi.

Napas Arthur memburu, darah menetes dari pisau militernya. Ia memegangi lengan kirinya yang berdenyut nyeri, namun senyum kelegaan terpancar di wajahnya. Ia telah menepati janjinya pada Mia untuk tidak membawa luka baru.

Di sudut aula yang berantakan, Reginald Zimmer meringkuk ketakutan di bawah meja terguling, menyaksikan seluruh pembantaian itu. Saat ia mencoba merangkak kabur menuju pintu belakang, sebuah kaki berat menginjak punggungnya, menekannya ke lantai.

"Mau pergi ke mana, Patriark palsu?" desis Zain, ujung belatinya menempel di leher Reginald.

Arthur berjalan menghampiri Reginald, menatap paman Mia itu dengan pandangan jijik. "Borgol dia. Bawa dia ke markas medis. Ada seseorang yang lebih berhak menghakiminya daripada kita."

Satu jam kemudian, di fasilitas medis rahasia Phantom Vanguard.

Thomas Zimmer duduk di atas kursi roda, didorong perlahan oleh Mia ke tengah ruang komando. Ayah Mia itu masih terlihat pucat dengan gips di lengannya, namun matanya memancarkan ketegasan yang telah lama hilang.

Di hadapan mereka, Reginald Zimmer berlutut di lantai dengan tangan diborgol di belakang punggung. Arthur berdiri tak jauh dari sana, mengawasi proses peradilan keluarga ini dalam diam.

"K-kalian tidak bisa melakukan ini padaku!" jerit Reginald, wajahnya memerah karena amarah dan rasa malu. "Kekaisaran Utara dan Keluarga Utama Summers ada di pihakku! Gideon akan kembali dan membunuh kalian semua!"

Mendengar ancaman itu, Arthur hanya menyilangkan lengannya dengan tenang. Ancaman seorang boneka seperti Reginald terdengar seperti lelucon murahan.

"Pihak asingmu telah lari, Reginald. Dan dana satu triliun dolarmu sudah kubekukan," ucap Arthur dingin, mematahkan sisa-sisa harapan paman Mia itu.

Thomas Zimmer memandang kakak kandungnya itu dengan tatapan penuh kepedihan dan kekecewaan. "Kau mengorbankan nyawa ayah kita. Kau mengusir darah dagingmu sendiri dan mencoba menjual keponakanmu kepada monster-monster itu untuk dijadikan kelinci percobaan. Kau telah membuang seluruh kehormatan nama Zimmer."

"Thomas, kumohon!" Reginald mulai menangis saat menyadari ia benar-benar telah kehilangan segalanya. "Kita bersaudara! Maafkan aku! Aku hanya ingin membuat keluarga kita menjadi yang terkuat di dunia!"

"Kekuatan yang dibangun di atas pengkhianatan hanya akan runtuh menjadi abu," jawab Thomas tegas. Ia menoleh ke arah Arthur. "Tuan Summers. Sebagai Patriark sah Keluarga Zimmer yang baru, saya menyerahkan pengkhianat ini kepada hukum Anda. Cabut nama Zimmer darinya, dan pastikan dia menghabiskan sisa hidupnya di tempat di mana dia tidak akan pernah bisa melihat matahari lagi."

Reginald menjerit histeris saat Clark dan dua anggota Shadow Guard menyeretnya keluar dari ruangan, membawanya menuju penjara bawah tanah terdalam milik Organisasinya.

Setelah ruangan kembali hening, Thomas menundukkan kepalanya dalam-dalam kepada Arthur. "Saya berhutang nyawa, kehormatan, dan masa depan keluarga saya kepada Anda, Jenderal."

"Anda tidak berhutang apa pun pada saya, Tuan Zimmer. Fokuslah pada pemulihan Anda," jawab Arthur sopan.

Mia melangkah mendekati Arthur. Matanya yang indah menatap lengan kiri pria itu. "Kau kesakitan," bisik Mia dengan suara penuh kekhawatiran.

"Ini hanya luka lama yang sedikit terbuka," Arthur tersenyum tipis, menutupi rasa nyerinya agar gadis itu tidak khawatir. "Sesuai janjiku, aku tidak membawa luka baru."

Mia tidak bisa menahan perasaannya lagi. Di depan ayahnya, ia memeluk dada Arthur dengan erat, menyandarkan kepalanya di sana. Arthur sempat terkejut, namun perlahan ia membalas pelukan itu dengan tangan kanannya, merasakan kehangatan yang perlahan mencairkan es di hatinya.

Namun, momen kedamaian itu tidak berlangsung lama.

Pintu ruang komando terbuka dengan kasar. Silas Mercer melangkah masuk dengan wajah yang lebih pucat dari biasanya. Ia membawa sebuah tablet komunikasi militer yang menyala merah.

"Maaf mengganggu," ucap Silas dengan napas terengah-engah. "Kami baru saja meretas saluran komunikasi helikopter siluman milik Gideon Summers. Dia tidak kembali ke wilayah Utara."

Arthur perlahan melepaskan pelukan Mia, insting perangnya seketika kembali menyala. "Ke mana dia pergi?"

"Satelit intelijen kami melacaknya menuju Kota Khanh," lapor Silas, membuat udara di ruangan itu mendadak mendingin. "Dan Jenderal... lima raja dari Istana baru saja melaporkan bahwa Gideon telah secara resmi mengirimkan deklarasi perang terbuka ke markas utama kita. Dia tidak bersembunyi. Dia menantang Anda di tempat semuanya bermula."

Mata Arthur melebar, sebuah kilatan kemarahan yang kuat melintas di wajahnya. Kota Khanh tempat di mana ia dulu dibuang dan menderita enam tahun lalu kini akan menjadi medan perang penentuan antara dirinya dan dosa masa lalunya.

1
nanonano
bener2 kalah start arthur
Sang_Imajinasi
Halo Para Reader.

Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.

Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.

TERIMA KASIH.... ✌️
nanonano
mantap
nanonano
ternyata lawannya ayahnya sendiri
nanonano
ternyata lawannya keluarga sendiri
nanonano
bukannya arthur lagi gelut sama 7 asasin?
Glastor Roy
update ya torku yang baik hati
nanonano
lawannya kok langsung bisa tahu butuh sumsumnya keluarga zimer padahal belum lihat formulanya
nanonano
byuh kalah sang jendral
Sang_Imajinasi
pialanya sekalian 😄
REY ASMODEUS
aku mampir othor
nanonano
kalah cepat nampaknya si arthur
nanonano
mantap ini
nanonano
perang strategi lebih ngeri
nanonano
mantap
nanonano
tembak aja tadi
Budi Wahyono
ini kalau di wuxiakan
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...
Sang_Imajinasi: 😄😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
Fajar Fathur rizky
cepat bikin Arthur bantai keluarga volkov
Budi Wahyono
apakah nanti pengkhianatan terbesar justru datang dari silas ?
nanonano
yah kalah transaksi sama pion kecil
REY ASMODEUS: rahasianya di hack dan kelemahannya ada pada informasi dan kepercayaan
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!