Ziva, 20 tahun. Cantik, bar-bar, dan cegil tingkat dewa. Baginya penolakan = tantangan.
Targetnya: Gibran Mahendra, Letnan Jenderal bintang tiga, sahabat lama mamanya. Pria dingin, kaku, dan menganggap Ziva cuma bocah berisik.
Dari pura-pura pingsan sampai ngamuk di depan umum, Ziva ngelakuin segala cara buat luluhin tembok es sang Jenderal.
Tapi di balik sikap dingin Gibran, ada rahasia besar dan rintangan yang jauh lebih berat dari beda usia.
Si cegil bisa menang, atau akhirnya menyerah?"Selama janur kuning belum melengkung, Om Jenderal tetap milik Ziva."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jeonndhhh, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BARA DI BAWAH ABU
Malam semakin larut, menyelimuti kawasan perumahan elit Dharmawangsa dalam keheningan yang kelam. Gerimis tipis yang sempat turun sejak petang kini telah berhenti, meninggalkan jejak embun dingin yang menempel pada daun-daun pohon palem di halaman depan. Di dalam kamar utama berlantaikan marmer hitam, suasana tidak kalah membeku. Ziva duduk bersimpuh di dekat tepi ranjang, menatap kosong ke arah lantai di mana bingkai foto Anindita yang retak tadi siang sempat berserakan sebelum dipungut oleh pelayan rumah tangga.
Gibran berdiri di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke halaman luar. Pria itu telah melepaskan kemeja dinasnya, kini mengenakan kaos hitam pas badan yang mempertegas postur tubuh atletisnya. Tangannya memegang segelas wiski dingin, namun cairan itu sama sekali tidak disentuhnya. Pikirannya tidak tenang. Panggilan singkat dari jaringan intelijen militernya di pos perbatasan kota beberapa menit lalu membawa berita yang tidak bisa ia abaikan: Aris Mahendra telah tiba di Jakarta lebih cepat dari perkiraan, dan pemuda itu terpantau bergerak menuju kawasan Dharmawangsa.
Gibran tidak terkejut. Sebagai seorang jenderal yang telah kenyang menghadapi berbagai medan pertempuran strategis, ia tahu betul bahwa darah muda Aris akan mendidih begitu mengetahui tunangannya disekap di kediamannya sendiri. Yang menjadi pertanyaannya bukanlah apakah Aris akan datang, melainkan seberapa jauh keponakannya itu berani melangkah demi merebut apa yang kini telah menjadi harga diri dan obsesi mutlak sang Jenderal.
Gibran berbalik perlahan, menatap punggung Ziva yang tampak rapuh dari kejauhan.
"Ziva," suara Gibran memecah keheningan kamar yang pekat, terdengar sangat rendah namun mutlak. "Mulai malam ini, kamu tidak boleh keluar dari kamar ini dengan alasan apa pun. Pintu akan dikunci dari luar."
Ziva mendongak perlahan, menoleh ke belakang dengan mata menyalang penuh amarah dan ketidak terimaan. "Kenapa?! Apa lagi yang kamu takutkan, Gibran? Kamu takut orang-orang tahu kalau kamu adalah seorang penculik berkedok jenderal militer?!"
Gibran menghampiri Ziva dalam beberapa langkah panjang, lalu berlutut tepat di hadapan gadis itu. Jemari kekarnya mencengkeram lembut dagu Ziva, memaksa gadis itu untuk menatap lurus ke dalam manik mata hitamnya yang menyimpan badai.
"Bukan rasa takut," bisik Gibran tajam, suaranya sarat akan kepemilikan yang gelap. "Tapi malam ini, ada tamu yang tidak diundang yang akan datang ke rumah ini. Dan saya tidak ingin kamu melihat atau mendengar hal-hal yang tidak perlu kamu ketahui."
Ziva mengerutkan keningnya, napasnya memburu. "Tamu? Siapa maksudmu? Aris... apa Aris sudah kembali?!"
Mendengar nama Aris disebut dengan nada penuh pengharapan dari bibir Ziva, rahang Gibran mengeras seketika. Kilatan cemburu dan murka bercampur menjadi satu di balik manik matanya.
"Ya," jawab Gibran dingin. "Keponakan kesayanganmu itu sudah mendarat di Jakarta, dan sebentar lagi dia akan berpijak di halaman depan rumah ini, mencoba mengambil sesuatu yang bukan haknya."
Ziva membelalakkan matanya. Jantungnya berdegup kencang bukan karena rasa takut, melainkan secercah harapan yang mendadak membuncah di dalam dadanya. Aris kembali. Aris datang untuk menyelamatkannya.
"Aris akan tahu semua kebusukanmu!" teriak Ziva tertahan, air matanya tumpah karena emosi yang meluap-luap. "Dia akan bawa aku keluar dari neraka ini, Gibran!"
Gibran tersenyum tipis sebuah senyuman dingin yang mengerikan. Ia melepaskan cengkeraman di dagu Ziva, berdiri tegak, lalu menatap gadis itu dengan tatapan meremehkan. "Silakan berharap, Ziva. Tapi di akhir malam ini, kamu akan tetap berada di sini, di dalam pelukan saya."
Tanpa berkata apa-apa lagi, Gibran berbalik melangkah keluar kamar. Cklek. Pintu kayu jati berukuran besar itu ditutup rapat, dan bunyi klik otomatis dari sistem pengunci elektronik terdengar jelas menandakan Ziva kembali dikurung secara mutlak.
Di luar gerbang utama kediaman Dharmawangsa, suasana memanas dalam hitungan detik. Sebuah mobil sedan hitam berhenti mendadak tepat di depan pos penjagaan. Aris Mahendra keluar dari kendaraan dengan langkah tergesa-gesa, wajahnya menyuratkan amarah yang membara hingga urat-urat di lehernya menegang.
Dua orang pengawal berseragam taktis yang berjaga di pos langsung menghadang jalan Aris dengan postur tubuh tegap dan tangan bersiaga di pinggang.
"Tunggu, Kapten Aris," ujar komandan pengawal pos dengan nada formal namun kaku. "Anda tidak memiliki izin untuk memasuki area kediaman pribadi Letnan Jenderal Gibran tanpa instruksi langsung."
"Singkirkan tangan kalian dari hadapanku!" bentak Aris dengan suara menggelegar, mencengkeram kerah seragam salah satu pengawal tanpa ragu. "Kalian lupa siapa saya?! Saya adalah keluarga Mahendra! Buka gerbang ini sekarang juga, atau saya pastikan kalian semua mendapat sanksi militer berat atas keterlibatan dalam tindakan penyekapan ilegal!"
Suasana di depan gerbang tegang luar biasa. Para pengawal saling berpandangan, terjebak di antara perintah mutlak Gibran dan status Aris sebagai perwira muda keluarga besar Mahendra.
Sebelum situasi berujung pada baku hantam fisik, suara langkah kaki berat berdengung dari arah halaman dalam. Gerbang besi perlahan terbuka selebar setengah meter, dan sesosok pria berpostur tinggi tegap dengan wibawa yang luar biasa muncul di baliknya.
Letnan Jenderal Gibran Mahendra berdiri tegak mengenakan kaos hitam tanpa atribut militer, namun aura dominasinya sanggup membekukan udara di sekitarnya. Tangannya dimasukkan santai ke dalam saku celana, sementara sepasang manik mata hitamnya menatap tajam ke arah keponakannya sendiri yang tengah diliputi amarah.
Aris melepaskan cengkeramannya dari kerah pengawal, lalu melangkah maju mendekati pamannya dengan napas memburu.
"Paman!" suara Aris bergetar menahan murka. "Apa yang sebenarnya Paman lakukan?! Apa benar Paman menyekap Ziva di dalam rumah ini selama hampir sebulan penuh?!"
Gibran tidak langsung menjawab. Ia menatap Aris dari atas sampai bawah dengan senyuman tipis yang menyaratkan penghinaan terselubung terhadap kepolosan pemuda di hadapannya.
"Kamu baru saja menempuh perjalanan ribuan mil dari Eropa Timur hanya untuk datang ke sini dan membentak pamanmu sendiri, Aris?" suara Gibran terdengar sangat tenang, dingin, dan tertata rapi, kontras dengan emosi Aris yang meledak-ledak. "Di mana etika militer yang sudah saya ajarkan kepadamu selama ini?"
"Jangan bicarakan etika padaku, Paman!" potong Aris tajam, menunjuk tegas ke arah rumah megah di belakang Gibran. "Paman sudah melanggar hukum, melanggar moral, dan mempermalukan keluarga besar kita! Ziva adalah tunangan saya! Paman tidak punya hak untuk mengambilnya dan mengurung anak orang di sini!"
Mendengar kata "tunangan" diucapkan dengan penuh penekanan oleh Aris, kilatan gelap melintas di manik mata Gibran. Suasana di sekitar mereka mendadak terasa semakin menekan.
"Hak?" Gibran mengulangi kata itu dengan nada rendah yang berbahaya. Ia melangkah maju, memangkas jarak hingga berdiri tepat satu jengkal di hadapan Aris, memaksa keponakannya itu mendongak sedikit karena postur Gibran yang lebih dominan. "Kamu bicara tentang hak, Aris? Di dunia ini, hak hanya dimiliki oleh mereka yang memiliki kekuatan untuk merebut dan mempertahankannya. Dan Ziva... tidak pernah menjadi milikmu sejak awal."
Aris mengepalkan kedua tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Amarahnya sudah mencapai ubun-ubun. "Paman sudah gila! Paman dibutakan oleh obsesi busuk! Kalau Paman tidak mau melepaskan Ziva secara baik-baik, saya akan laporkan hal ini langsung kepada Panglima TNI dan membawa kasus ini ke ranah hukum militer!"
Ancaman terbuka itu tidak sedikit pun membuat Gibran gentar. Sebaliknya, sudut bibir sang Jenderal terangkat membentuk garis seringai tipis yang mengerikan.
"Silakan," tantang Gibran tanpa ragu sedikit pun. "Laporkan ke panglima, bawa media, atau kerahkan seluruh jaringan diplomatik calon mertuamu itu. Tapi ketahuilah satu hal, Aris... sebelum ada satu orang pun yang berhasil melangkah masuk ke rumah ini untuk mengambil Ziva, saya pastikan kamu akan kehilangan segalanya kariermu, masa depanmu, dan seluruh hal yang kamu banggakan."
Aris tertegun sejenak, merasakan teror psikologis yang luar biasa kuat terpancar dari tatapan pamannya. Gibran bukan sedang menggertak; pria di hadapannya ini adalah monster kekuasaan yang siap menghancurkan siapa saja, termasuk darah dagingnya sendiri.
"Paman adalah seorang pengecut..." bisik Aris penuh kebencian, suaranya bergetar hebat. "Paman merebut kebahagiaan orang lain karena paman sendiri gagal di masa lalu."
Deg.
Kalimat itu mengenai titik paling gelap di dalam jiwa Gibran bayang-bayang kegagalan rumah tangganya dengan Anindita yang selama ini menjadi luka menganga di masa lalunya. Wajah Gibran menggelap sempurna, rahangnya mengeras bagai batu karang.
Sebelum Aris sempat bereaksi, Gibran dengan gerakan kilat mencengkeram kerah baju keponakannya itu, menarik tubuh Aris mendekat dengan kekuatan luar biasa. "Jangan pernah menguji batas kesabaran saya, Aris. Pergi dari sini sekarang, atau malam ini akan menjadi malam terakhir kamu mengenakan seragam kebanggaanmu."
Dengan satu dorongan kasar, Gibran melepas cengkeramannya hingga Aris hampir kehilangan keseimbangan dan mundur beberapa langkah ke belakang.
"Bawa dia keluar dari properti ini," perintah Gibran dingin kepada para pengawalnya tanpa menoleh sedikit pun.
Empat orang pengawal langsung bergerak cepat mengepung Aris, memaksa pemuda itu mundur menjauh dari gerbang. Aris memberontak, matanya menatap tajam penuh sumpah serapah ke arah Gibran yang kini berbalik membelakanginya dan berjalan kembali masuk ke dalam halaman rumah.
"Gibran! Kamu tidak akan bisa memiliki dia selamanya! Aku akan kembali!" teriak Aris lantang di tengah malam buta, sebelum akhirnya digiring paksa masuk ke dalam mobilnya dan meninggalkan kawasan Dharmawangsa.
Di dalam kamar utama di lantai dua, Ziva menempelkan telinganya erat-erat pada permukaan pintu kayu jati yang terkunci rapat. Meskipun suara di luar tidak terdengar jelas secara utuh, ia sempat mendengar bentakan suara Aris dan kemarahan Gibran yang menggema di halaman bawah.
Jantung Ziva berdegup kencang dalam ketakutan yang hebat. Apakah Aris baik-baik saja? Apakah Gibran menyakiti Aris di bawah sana?
Cklek.
Suara kunci berputar dari luar. Pintu terbuka perlahan.
Sosok Gibran melangkah masuk ke dalam kamar. Wajah pria itu tampak dingin, tanpa ekspresi, namun napasnya sedikit memburu akibat ketegangan konfrontasi di gerbang tadi. Gibran mengunci kembali pintu di belakangnya, lalu melepas jam tangannya dan meletakkannya di atas meja nakas.
Ziva mundur perlahan hingga punggungnya membentur tepi tempat tidur. Matanya memerah, menatap Gibran dengan kebencian yang menyala-nyala.
"Apa yang kamu lakukan pada Aris?!" teriak Ziva histeris, air matanya tumpah membasahi pipinya. "Apa kamu menyakitinya, Gibran?! Kamu monster kejam!"
Gibran berhenti melangkah. Ia menatap Ziva dengan manik mata hitam yang menyimpan badai posesif yang luar biasa pekat. Pria itu mendekat dalam langkah-langkah lambat namun pasti, mengabaikan teriakan dan pukulan lemah yang dilayangkan Ziva ke dada bidangnya begitu ia merengkuh tubuh gadis itu ke dalam dekapannya.
"Dia sudah pergi, Ziva," bisik Gibran tepat di daun telinga Ziva dengan suara serak yang mematikan. "Dan sekarang... tidak ada lagi orang yang tersisa di dunia ini yang bisa memisahkan kamu dari saya."
Ziva terisak tertahan dalam dekapan erat yang menyesakkan dada itu. Di dalam sangkar emas Dharmawangsa yang gelap, malam itu pertahanan terakhirnya runtuh sepenuhnya di bawah kekuasaan mutlak sang Jenderal.
intinya yadoa yg terbaik buat baby dan kluarga kecil girang dan ziva😍😍
agar kluarga kecil mereka bhgia
ya allah jd nggaksbr nunggu debay lahir
semoga kluarga kecil klian slalu bhgia,sehat
dan andai cobaan lg smoga klian bisa melaluinya bersama
dan sehat sllu si debay
ya allah semoga kedepannya kbhagiaan slalu menyertai. amiin