Di lima alam kultivasi yang bertingkat — Dunia Fana, Dunia Roh, Dunia Dewa, Dunia Dewa Kuno, hingga Dunia Kekosongan — seorang Kaisar Dewa gagal menembus batas tertinggi dan tubuhnya hancur menjadi debu. Namun jiwanya yang tak pernah mati terlahir kembali ke dunia fana sebagai Ye Hu, anak tertua seorang Marquis yang dicap sampah karena dantian-nya hancur akibat keracunan tiga tahun lalu.
Dengan ingatan ribuan tahun dan pengetahuan alkimia serta teknik kuno yang telah hilang dari dunia, Ye Hu bangkit perlahan. Ia menyembuhkan dantian-nya sendiri, menciptakan pil dengan kemurnian mustahil bagi siapa pun di tingkatnya, dan mengungkap pengkhianatan di dalam keluarganya sendiri —
Ini barulah awal perjalanannya, Selanjutnya dia menemui keturunan dari murid-muridnya sedang menderita di dunia dana ini. Dengan kondisi tubuh yang terbatas, Ye Hu berusaha untuk membantu buyut dari murid-muridnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Katak Batu Purba
Di tengah kepungan ribuan serigala bertanduk yang semakin mendekat, tiba-tiba sepasang tangan raksasa yang terbuat dari cahaya emas murni muncul di udara. Tanpa peringatan, tangan itu menyambar tubuh Ping Yue dan melemparkannya ke atas, tinggi hingga mendarat tepat di dekat lubang lorong tempat mereka keluar tadi.
"Ping Yue… Lari!" teriak Ye Hu.
Bukan hanya melemparnya — Ye Hu sendiri melompat ke udara setinggi sepuluh meter, dan tangan emas itu berubah menjadi pijakan yang kokoh di bawah kakinya. Ia menginjak telapak tangan itu, lalu melompat lagi, melesat bagai panah melewati di atas kepala Ping Yue, mendahuluinya menuju mulut gua. Di belakang mereka, Ru Shun mengerahkan seluruh energinya — gelombang kekuatan berbentuk naga raksasa melesat keluar dari tubuhnya, menyapu bersih ratusan serigala di depan hingga mereka terlempar berhamburan, membuka jalan yang cukup lebar untuk dilalui.
Namun Ping Yue masih sempat menoleh ke belakang, matanya mencari sosok Ye Hu. Hatinya masih cemas, tapi melihat Ye Hu melompat begitu tinggi dan mengendalikan kekuatan emas itu, ia tahu ia tak boleh ragu lagi. Ia mengeluarkan pedang terbangnya, melompat ke atasnya, dan pedang itu melesat cepat bagai kilat menuju gua.
Ye Hu mendarat paling dulu di mulut gua, lalu diikuti Ping Yue. Tak lama kemudian prajurit yang tersisa pun menyusul, menyelamatkan dirinya dengan napas tersisa. Yang terakhir muncul adalah Ru Shun. Begitu tubuhnya masuk, ia langsung berdiri tegak di ambang pintu gua, pedang terhunus lebar, membentengi jalan masuk sehingga tak seekor serigala pun bisa melewatinya. Mayat-mayat serigala yang tertabrak menumpuk di mulut gua, dan seperti yang Ye Hu katakan — serigala-serigala di belakang mulai merobek dan memakan bangkai kawanan mereka sendiri, sehingga serangan terhenti seketika.
Di dalam lorong batu yang gelap dan sempit itu, keempat orang itu berlari sekuat tenaga hingga napas mereka memburu. Namun aneh — tidak ada seekor serigala pun yang mengejar masuk. Sepanjang lorong itu sunyi senyap.
Ping Yue bertanya sambil berlari, "Mengapa… tidak ada satu ekor pun yang berani masuk ke sini?"
"Karena lorong ini adalah tempat yang paling mereka takuti," jawab Ye Hu tanpa menoleh, langkah kakinya tetap mantap. "Karena para srigala takut menghadapi monster yang ada di depan. ."
Tak lama kemudian mereka sampai di ujung lorong. Begitu melangkah keluar, mereka tiba di sebuah lapangan baru — tidak seluas tempat serigala, namun tetap cukup luas untuk menampung puluhan rumah. Tidak ada lubang-lubang di dinding. Yang ada di tengah lapangan hanyalah seekor katak raksasa purba yang telah berubah menjadi batu. Tubuhnya setinggi pohon besar, kulitnya penuh kerak batu, dan matanya tertutup rapat seakan sedang tidur sejak ribuan tahun. Inilah Monster yang di takuti srigala putih.
"Berhenti dulu," kata Ye Hu. Ia melihat goresan cakar serigala di lengan dan bahu Ping Yue serta prajurit itu. Luka itu berwarna kebiruan sedikit. Ye Hu mengeluarkan tiga butir pil berwarna putih bergaris merah. "Minumlah ini. Ini akan menyembuhkan lukamu sekaligus menetralisir racun kuku serigala."
Ping Yue menerima pil itu, lalu menatap lengan Ye Hu yang juga tergores. "Kau juga terluka. Mengapa kau tidak minum?"
"Racun itu tidak mempan pada tubuhku," jawab Ye Hu sambil tersenyum tipis. Ia tidak menjelaskan sepenuhnya — bahwa Kultivasi Chaos yang ia pelajari mampu menyerap segala jenis racun dan energi, lalu mengubahnya menjadi kekuatan murni untuk dirinya sendiri. "Apa pun yang masuk ke tubuhku akan diserap dan disuling menjadi tenaga. Jadi tidak perlu dikhawatirkan."
Tak lama kemudian, Ru Shun muncul dari mulut lorong, napasnya sedikit memburu namun wajahnya tenang. Ye Hu memberikannya pil juga.
Ru Shun memegang pil itu di jarinya, matanya berbinar mengenali kualitasnya. "Kemurnian 99 persen… Kau mempersiapkan semuanya dengan sangat matang, seakan kau sudah tahu betul apa yang akan kita hadapi di sini."
"Sekarang bukan waktunya membahas itu," ucap Ye Hu sambil menunjuk ke tengah lapangan. "Lihatlah formasi besar di tanah itu."
Di tanah lapangan terlihat garis lingkaran raksasa yang berwarna merah samar, dan tepat di tengahnya berdiri katak batu raksasa itu. "Lingkaran itu adalah batas ruang geraknya. Selama kita di luar lingkaran, dia tetap batu. Tapi begitu kita melangkah masuk… dia akan bangkit."
"Dia tidak bernapas," kata Ru Shun sambil memperhatikan dada katak itu yang diam tanpa bergerak. "Benar-benar batu."
"Selama dia menjadi batu, dia sedang bermeditasi dan mengumpulkan energi," jelas Ye Hu. "Tapi begitu kita masuk lingkaran, dia akan hidup kembali. Lidahnya sangat panjang, lengket, dan bisa menangkap apa pun. Dia juga mengeluarkan asap beracun dan ludah asam yang bisa melarutkan batu hingga menjadi pasir."
"Jadi kita tidak bisa sekadar berlari melewatinya," simpul Ping Yue.
"Benar. Tapi dia memiliki pola yang tetap." Ye Hu menatap katak batu itu dengan tatapan tajam, seakan sedang melihat masa lalu ribuan tahun silam. "Tugas Paman Ru Shun adalah memukul kepalanya tepat di saat dia berubah warna dan sebelum dia menyemburkan racun. Jika kau berhasil membuatnya kembali membatu, kita akan berlari secepat mungkin menyeberang ke gua di seberang sana."
Ru Shun mengangguk mantap. "Aku kebal racun selama tiga puluh menit berkat pil yang kau berikan sebelumnya. Aku bisa menahan diri. Tapi aku akan berhati-hati dari lidah dan ludahnya."
"Aku akan memancingnya dulu," kata Ye Hu. "Tunggu sampai lidahnya menjulur keluar — saat itulah Paman menyerang."
Ye Hu melangkah masuk ke dalam lingkaran formasi. Seketika itu juga, katak batu itu berubah. Warnanya berubah dari abu-abu batu menjadi hijau kecokelatan yang hidup, dadanya mulai naik turun bernapas. Matanya terbuka — besar, bundar, dan menyala merah. Lidahnya yang panjang dan lengket melesat keluar menuju Ye Hu dengan kecepatan kilat!
Ye Hu melompat mundur tepat pada waktunya, lidah itu menghantam tanah hingga tanah bergetar. Saat itulah Ru Shun melompat ke udara setinggi sepuluh meter. Katak raksasa itu menyemburkan cairan hijau berasam — Ru Shun berputar di udara menghindarinya. Lalu lidah itu menyerang lagi bagai ular. Ru Shun menebasnya dengan pedang, namun pedang itu langsung menempel lengket di lidah! Ru Shun terpaksa melepaskan pedangnya dan melompat bebas ke atas kepala katak itu. Dengan kedua tangannya, ia menghantam kepala katak itu sekuat tenaga!
BUM!
Kulit katak itu langsung mengeras kembali, warnanya berubah menjadi batu.
"LARI!" teriak Ye Hu.
Mereka berlari secepat kilat menuju gua di seberang sana. Namun belum sampai setengah jalan, katak itu kembali berubah — warnanya berubah menjadi merah menyala, tubuhnya membesar dua kali lipat, dan jakunnya menggembung besar seakan sedang menarik napas untuk mengumpulkan energi dahsyat.
"CEPAT LARI! GUNAKAN PERISAI!" teriak Ye Hu lagi.
Katak itu membuka mulutnya lebar-lebar dan menyemburkan semburan besar angin bercampur ludah asam yang menyala! Ru Shun dan prajurit itu segera membentuk perisai energi. Ye Hu berlari ke samping Ping Yue, mengangkat lempengan batu di tangannya — lempengan itu membesar seketika dan berubah menjadi perisai emas yang kokoh di depan mereka.
Semburan dahsyat itu menghantam mereka. Perisai Ru Shun retak dan tubuhnya terlempar mundur. Perisai prajurit itu hancur seketika — tubuhnya terkena percikan ludah asam dan langsung meleleh lenyap tanpa sempat berteriak. Hanya Ye Hu, Ping Yue, dan Ru Shun yang berhasil selamat mendarat di mulut gua, keluar dari jangkauan formasi. Di belakang mereka, katak itu kembali menjadi batu.
Tinggal bertiga.
Mereka melanjutkan perjalanan masuk ke lorong itu, napas mereka berat dan penuh kesedihan atas kepergian prajurit terakhir itu. Namun belum lama berjalan, lorong itu berakhir dan mereka keluar ke sebuah lapangan yang lebih kecil dari sebelumnya. Di tengahnya terdapat lingkaran formasi lain, dan di udara — ribuan serangga kecil yang berkilauan dengan warna-warni pelangi, melayang diam bagai bintang-bintang yang hidup.
Ru Shun menghela napas panjang, keringat dingin mulai menetes di dahinya. Ia sudah kelelahan dan perisainya hampir hancur. Melihat ribuan serangga itu, ia merasa bahaya yang menanti kali ini jauh lebih besar. "Apa lagi ini?"
"Itu adalah Serangga Pelangi Pemakan Energi," ucap Ye Hu pelan namun jelas, matanya tak berkedip menatap kawanan serangga itu. "Dulu ribuan tahun lalu mereka hanya berwarna satu atau dua warna. Tapi sekarang warnanya sudah lengkap menjadi pelangi — artinya mereka berevolusi menjadi jauh lebih kuat dari yang pernah kubayangkan. Mereka memakan apa saja yang mengandung energi — senjata, batu roh, kultivator, bahkan sesama serangga yang lebih lemah. Serangga yang kuat akan memakan yang lemah, lalu melahirkan keturunan yang lebih kuat lagi. Jika kita dikepung oleh mereka… tubuh dan tulang kita akan lenyap dalam hitungan detik."
Ping Yue dan Ru Shun saling berpandangan, bulu kuduk mereka berdiri. Tidak ada taring, tidak ada racun — tapi bahayanya jauh lebih mutlak. Di hadapan ribuan serangga pelangi yang tak pernah kenyang itu, kekuatan fisik atau pertahanan apa pun tampak tak berarti.
"Jadi… bagaimana kita melewatinya?" tanya Ping Yue pelan, matanya menatap lempengan di tangan Ye Hu — satu-satunya harapan yang tersisa.
Ye Hu mengangkat kepalanya, tatapannya tegas dan tenang. "Kita tidak bisa melawan mereka. Tapi kita bisa memberi mereka sesuatu yang lain untuk dimakan… sesuatu yang jauh lebih besar dan lebih lezat daripada kita."