Saldo rekening Rp 350000
Pacar selingkuh
Harga diri nol
Lalu dunia berubah
Seluruh harga turun 1000000 kali Rumah mewah jadi Rp 50000 Mobil sport Rp 5000 Tapi uang Raka Tidak berubah
Rp 350000 Rp 350 MILIAR
Dari pemuda yang diludahi dunia menjadi pria yang membeli kotanya sendiri
Sistem Ilahi sudah aktif
Misi pertama beli rumah paling mahal di kota ini tunai
Misi kedua hancurkan semua yang pernah menghinamu
Harga Turun Sejuta Kali update setiap hari
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 13
Bab 13: Lantai VIP Sekarang Milikku
"Lift ini hanya untuk member platinum dan tenant premium, Pak."
Pak Irwan mengatakan itu dengan hati-hati. Ia menjelaskan aturan yang sebentar lagi mungkin berubah pemilik. Di belakangnya, Mbak Dewi berdiri dengan wajah pucat. Badge LV masih menempel, tetapi matanya tidak lagi berani naik.
Raka masuk ke lift khusus. "Aturan bagus kalau menjaga kualitas. Aturan buruk kalau dipakai untuk menghina orang."
Irwan mengangguk cepat. "Saya setuju, Pak."
Bayu menyandarkan bahu ke dinding lift. "Kalimat seperti itu biasanya ada di brosur perusahaan. Bedanya, Pak Raka baru saja membelinya dengan tiga butik."
Fajar menatap panel lantai. "Akses lift bisa dikunci per kartu. Kalau lantai ini jadi aset Pak Raka, sistem keamanan harus dipisah dari manajemen mall."
"Catat," kata Raka.
Pintu lift terbuka ke lantai yang sunyi. Karpet tebal meredam langkah. Beberapa etalase kosong tertutup kain hitam. Di ujung koridor ada lounge dengan jendela besar menghadap kota, tetapi separuh lampunya mati. Tempat itu tidak rusak. Ia hanya kehilangan darah.
Irwan membuka folder digital di tablet.
"Tiga lantai VIP. Dulu dirancang untuk private shopping, galeri seni, salon premium, dan restoran terbatas. Setelah tenant besar mundur, pemilik kesulitan mengisi. Biaya operasional tinggi. Kami mempertimbangkan penjualan hak guna internal kepada satu pemegang untuk menghidupkan kembali area ini."
"Harga dunia luar?" tanya Bayu.
"Sekitar delapan ratus miliar untuk hak dan renovasi awal."
[Mimpi: harga sistem Rp8.000. Legalitas tersedia melalui akta perjanjian pengalihan hak komersial dan persetujuan manajemen mall.]
Raka berjalan ke jendela. Di bawah sana, orang-orang masih berbelanja. Beberapa mungkin sedang membicarakan pembeli gila yang mengosongkan LV dan Gucci. Ia tidak peduli pada tas. Yang ia lihat adalah panggung: tempat orang kaya datang untuk merasa dipilih.
Jika panggung itu miliknya, hinaan seperti tadi bisa diubah menjadi pengakuan.
"Pak Irwan, saya beli."
Irwan tampak sudah siap, tetapi tetap kehilangan kata. "Bapak... ingin negosiasi dulu?"
"Tidak. Saya ingin due diligence cepat, klausul renovasi, dan hak pengelolaan acara. Pak Bayu urus kontrak. Pak Fajar cek keamanan."
Bayu membuka laptop di meja lounge seolah kantor hukum bisa muncul dari mana saja. "Saya minta dokumen kepemilikan, izin pengelolaan, daftar tunggakan tenant, status pajak, dan klausul konflik dengan manajemen pusat. Kalau ada utang disembunyikan, saya batalkan dan tuntut biaya waktu."
Irwan mengangguk. "Saya kirim sekarang."
Mbak Dewi tiba-tiba maju satu langkah.
"Pak Raka, saya minta maaf. Saya salah menilai Bapak. Tolong jangan buat saya kehilangan pekerjaan. Ibu saya masih bergantung pada saya."
Raka menatapnya. Tidak ada air mata yang otomatis menghapus penghinaan, tetapi tidak semua kesalahan harus dibayar dengan kehancuran.
"Saya sudah bilang ke Pak Irwan. Satu bulan cleaning area publik. Gaji tetap. Setelah itu pelatihan ulang."
Dewi terdiam. Hukuman itu lebih tajam daripada yang ia kira.
"Saya harus mengepel di depan orang?"
"Tadi Anda memanggil security karena mengira saya tidak pantas menyentuh barang. Satu bulan Anda melihat semua orang dari lantai. Cara itu jauh lebih cepat meruntuhkan kesombongan. Setelah itu pilih mau berubah atau keluar."
Wajah Dewi merah. Ia menunduk. "Saya terima, Pak."
Irwan tampak lega. Ia mungkin sadar hukuman itu membuat manajemen terlihat tegas tanpa terlihat kejam.
Dalam dua jam, kesepakatan awal ditandatangani. Bayu menandai pasal yang perlu dikunci. Hendra ikut melalui telepon, memastikan struktur pembayaran dan pengalihan tidak mengganggu arus kas PT Langit Sembilan.
[Misi peluang aset selesai: Lantai VIP Mal Permata Timur berada dalam kontrol awal tuan rumah.]
[Toko Sistem Level 3 terbuka. Item baru: Ramuan Persepsi Dasar, Ramuan Stamina Menengah, Buku Skill Appraisal Dasar, Paket Proteksi Data Dasar.]
Raka membeli Appraisal Dasar dan Paket Proteksi Data. Pengalaman dengan Vera membuatnya paham: uang tanpa informasi hanya membuat target menjadi besar.
Di Menara Langit malam itu, tim kecil berkumpul di lantai empat puluh dua yang akan dijadikan ruang rapat utama. Jendela belum punya tirai, meja masih pinjaman dari pengelola gedung, tetapi papan sementara bertuliskan PT Langit Sembilan sudah ditempel di dinding.
Fajar mengaktifkan proteksi data di laptop kerja sesuai instruksi Mimpi. Bayu membaca kontrak sambil mengutuk tiga pasal yang menurutnya "dibuat oleh orang yang ingin digugat." Hendra menyusun prioritas renovasi.
Raka menerima telepon dari Bibi Lestari.
"Bintang sudah tidur. Dia minta besok kamu antar sekolah pakai mobil baru."
"Besok pagi saya antar."
"Jangan lupa makan. Orang kaya juga bisa masuk angin."
Raka tersenyum. "Siap, Bi."
Setelah telepon ditutup, Fajar memperlihatkan layar ponselnya.
"Pak, ada undangan reuni SMA. Grup lama ramai setelah video pertunangan viral. Nama Bapak disebut."
Raka membaca chat.
Doni: Raka Surya? Yang dulu sering nebeng makan itu?
Rina: Serius dia sekarang kaya? Jangan-jangan settingan.
Doni: Kalau berani, datang reuni. Biar kita lihat langsung. Jangan cuma modal video mantan nangis.
Nama Doni membuat ingatan lama naik tanpa diminta: nampan kantin yang sengaja ditabrak, nasi tumpah ke seragam, tawa satu kelas. Rina yang dulu tersenyum hanya ketika butuh contekan, lalu ikut mengejek saat Doni mulai.
Di antara chat itu ada nama lain.
Adi: Sudah cukup. Kalau Raka datang, perlakukan dia baik-baik. Dulu dia tidak pernah merugikan kalian.
Raka menatap nama Adi lebih lama.
Fajar bertanya, "Mau saya tolak?"
"Tidak. Kita datang."
Bayu mengangkat kepala. "Acara sosial lagi? Saya perlu bawa kontrak atau popcorn?"
"Bawa mata. Orang-orang seperti Doni selalu punya bisnis kecil yang dia banggakan. Kita cari cara membuatnya belajar."
[Misi baru aktif: Reuni Emas. Objektif: hadiri reuni SMA, patahkan penghinaan publik, lindungi satu teman lama yang tulus. Hadiah: 8.000 poin sistem, ramuan khusus.]
Raka menutup grup chat.
Raka kemudian meminta Irwan menyiapkan proposal fungsi lantai VIP: ruang private sale untuk merek premium, restoran undangan terbatas, galeri produk lokal kelas atas, dan satu lounge korporat untuk PT Langit Sembilan. Ia tidak ingin lantai itu hanya menjadi tempat orang kaya membeli barang mahal. Ia ingin lantai itu menjadi pintu masuk relasi.
Hendra menyukai gagasan itu. "Kalau kita kurasi tenant, lantai ini bisa menjadi jaringan bisnis yang bekerja di balik etalase."
Bayu menambahkan, "Dan jaringan bisnis punya kontrak. Saya suka kontrak."
Fajar lebih praktis. "Saya suka pintu keluar cadangan. Lantai VIP ini hanya punya dua jalur. Kita tambah satu prosedur evakuasi."
Raka mendengar semuanya. Tim kecilnya mulai berbicara dari sudut masing-masing, dan untuk pertama kalinya PT Langit Sembilan terasa punya tulang.
"Fajar, besok beli setelan terbaik. Kali ini saya tidak datang untuk membuktikan saya tidak miskin. Saya datang untuk menunjukkan mereka dulu salah memilih siapa yang diinjak."