hiduplah seorang penyihir cantik yang bernama Elizabeth bertemu dengan raj vampir .dan dia diam" mngandung ada vampir . sampai dia Terusir oleh ayahnya sendiri .
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Latief_ayra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 2
Lima Tahun Kemudian...
Hutan masih sama lebat, sepi, dan menyimpan banyak rahasia. Di tepi sungai yang airnya jernih berkilauan terkena sinar matahari, berdiri sebuah gubuk kecil sederhana yang tersembunyi di balik pepohonan rimbun. Di sanalah Elisabet tinggal sendirian bersama putranya, menjauh dari dunia manusia maupun dunia vampir.
Seorang anak laki-laki berusia lima tahun berlari menerobos semak-belukar, napasnya terengah-engah. Wajahnya pucat, matanya besar berwarna merah delima yang bercahaya samar — ciri yang harus ia sembunyikan dari siapa pun. Rambut hitamnya berantakan berkibar tertiup angin saat ia berlari sekuat tenaga.
"Ibu! Ibuuu!" teriaknya gemetar, suaranya pecah karena takut. "Tolong aku, Ibu!"
Di belakangnya, tiga anak yang lebih besar berlari mengejar sambil melempar kerikil dan tertawa mengejek.
"Kejar anak iblis! Jangan biarkan dia kabur!" teriak salah satu dari mereka.
"Lihat matanya! Merah menyala! Benar kata orang desa, dia anak iblis!" seru yang lain sambil melempar ranting pohon ke arah anak itu.
Anak laki-laki itu melompat melewati akar pohon besar, kakinya hampir tersandung, tapi ia tidak berani berhenti. Ia tahu kalau tertangkap, mereka akan menyakitinya seperti kemarin.
"Ibu! Di mana Ibu?!" tangisnya pecah saat melihat gubuk kecil itu di kejauhan. Ia melambaikan tangan kecilnya, berharap Elisabet muncul di pintu.
Tepat saat salah satu batu kecil melesat dan mengenai bahunya, anak itu menjerit kesakitan tapi tidak berbalik. Ia terus berlari, hatinya berdebar kencang , bukan hanya karena dikejar, tapi karena rasa aneh yang kadang muncul di dalam dirinya, sesuatu yang membuatnya ingin berhenti dan berbalik dengan taring yang menonjol.
Tapi ia ingat pesan ibunya. "Jangan pernah melawan mereka, Nak. Lari saja. Sembunyikan matamu. Jangan biarkan ada yang tahu siapa kamu."
Suara tangis putranya membuat jantung Elisabet hampir copot. Ia langsung berlari keluar gubuk, menyambar sapu lidi di tangan, lalu menyambut anaknya yang sudah terengah-engah dan penuh air mata.
"Leon! Anakku!"
Elisabet langsung berlutut dan memeluk tubuh kecil itu erat-erat, menenangkan sambil mengusap rambutnya yang berantakan. "Sudah... sudah... Ibu di sini. Jangan takut."
Leon menyandarkan wajahnya di dada ibunya, menangis terisak. "Mereka kejar aku, Bu... mereka lempar batu... bilang aku anak iblis..."
Elisabet mengelus punggung putranya, menahan amarah di dadanya. Lalu ia berdiri perlahan, menatap tajam ke arah tiga anak yang baru saja berhenti mengejar dan berdiri canggung di jarak beberapa langkah.
"Pergi!" bentak Elisabet tegas, suaranya berwibawa namun tidak berlebihan. "Kalian jangan ganggu anakku! Kalau sekali lagi kulihat kalian mengganggunya, aku akan bilang pada orang tua kalian!"
Tiga anak itu saling berpandangan, sedikit takut melihat tatapan Elisabet yang tajam. Mereka buru-buru berbalik dan lari terbirit-birit meninggalkan tepi sungai itu.
Setelah mereka pergi, Elisabet kembali berlutut di depan Leon. Ia mengusap air mata di pipi anaknya, lalu memeriksa bahu dan kakinya yang memerah karena terlempar batu.
"Maafkan Ibu ya, Nak..." bisiknya lembut, mencium kening putranya. "Mereka tidak tahu siapa kamu. Kamu bukan anak iblis. Kamu anak yang baik. Dan Ibu akan selalu melindungimu."
Leon mengangguk pelan, menyandarkan kepalanya di bahu ibunya. "Bu... kenapa mereka benci aku?"
Elisabet terdiam. Ia menyentuh kalung merah delima yang masih ia pakai di lehernya — kalung yang kadang berdenyut hangat, seolah mengingatkan pada ayah yang tak pernah dilihat anaknya.
"Bukan kamu yang dibenci, Nak..." jawab Elisabet lirih. "Tapi rahasia yang ada di dalam darahmu. Suatu hari nanti... semuanya akan jelas. Ibu janji."
Leon menatap ibunya dengan mata besar yang masih basah oleh air mata, lalu bertanya pelan sambil memainkan ujung bajunya.
"Ma... kalau orang-orang bilang aku anak vampir... berarti aku aneh ya? Vampir itu aneh kan?"
Elisabet menahan sesak di dadanya. Ia segera memegang kedua pipi Leon dengan lembut, menatap lurus ke manik mata merah delima miliknya yang berkilauan . warisan dari ayahnya yang tak pernah ia ceritakan.
"Tidak, sayangku," jawabnya lembut namun tegas, jari-jarinya mengusap bekas air mata di pipi anak itu. "Kamu tidak aneh. Kamu adalah kesayangan Ibu. Dan kamu istimewa."
"Istimewa?" tanya Leon bingung.
"Iya. Ada hal-hal dalam dirimu yang berbeda dari anak-anak lain... tapi itu bukan hal buruk," lanjut Elisabet pelan. "Itu tanda bahwa kamu lahir dari sesuatu yang besar. Sesuatu yang kuat."
Leon menyandarkan pipinya di telapak tangan ibunya, merasa sedikit lebih tenang. "Kalau begitu... kenapa Ayah tidak pernah datang? Apakah Ayah juga istimewa?"
Pertanyaan itu membuat Elisabet terdiam. Ia menelan ludah, lalu menyentuh kalung merah delima di lehernya yang berdenyut hangat seperti biasa.
"Ayahmu... sangat istimewa, Leon. Mungkin yang paling istimewa dari semua orang," jawabnya lirih, menatap jauh ke dalam hutan. "Dan Ayahmu... pasti sedang mencari cara untuk datang ke sini. Sabar ya."
Leon tersenyum kecil, lalu memeluk ibunya erat. "Kalau Ayah datang... kita akan tinggal bersama kan? Tidak perlu sembunyi lagi?"
Elisabet memeluk putranya kembali, menahan air mata yang hampir jatuh. "Iya sayang... suatu hari nanti. Kita tidak akan sembunyi lagi."
Leon tidak puas hanya dengan satu jawaban. Ia menatap ibunya dengan penuh rasa ingin tahu, matanya berbinar.
"Lalu... ayahku gimana rupanya? Apakah Ayah tampan? Apakah matanya merah seperti mataku?" tanyanya bertubi-tubi.
Elisabet tersenyum, tapi di dalam hatinya ada kebingungan. Bagaimana ia menjelaskan sosok yang bahkan wajahnya belum pernah ia lihat dengan jelas? Malam itu penuh kabut dan sihir, ia hanya ingat sepasang mata merah menyala dan kehadiran yang gagah perkasa.
Namun ia tidak ingin mengecewakan putranya.
"Ayahmu... adalah seorang pahlawan hebat," jawab Elisabet lembut, sambil membayangkan sosok pria itu di dalam ingatannya. "Dia tampan, gagah, dan sangat kuat. Kalau dia berdiri, semua orang akan segan. Dan hatinya... hatinya baik sekali."
Leon tersenyum lebar, matanya berbinar bangga. "Wah... Ayahku pahlawan! Kalau Ayah datang, pasti tidak ada yang berani jahat sama aku lagi kan?"
"Iya, sayang..." Elisabet mengangguk, lalu menarik Leon ke dalam pelukan hangatnya. Ia memeluk anak itu erat-erat, mencium puncak kepalanya. "Ayahmu pasti akan sangat menyayangimu kalau dia tahu kamu ada di dunia ini."
Di dalam pelukan ibunya, Leon merasa aman dan bahagia. Ia membayangkan sosok ayahnya , pahlawan gagah yang datang membawa cahaya merah delima, memeluknya, dan berkata "Aku di sini, anakku."
Namun Elisabet menatap ke arah hutan yang gelap, dan senyumnya perlahan memudar. "Apakah kau benar-benar pahlawan? Atau kau raja kegelapan yang bahkan tidak tahu punya anak? Kapan kau akan datang menemu kami?"