NovelToon NovelToon
Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Stasiun Terakhir: S1 The Ice Wall

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Epik Petualangan
Popularitas:151
Nilai: 5
Nama Author: Ketoprak Encok

Dunia telah membeku dalam badai es abadi yang dikuasai dengan tangan besi oleh Aether Corp. Setelah adiknya tewas dibunuh secara kejam oleh pasukan korporasi, Ren yang sekarat bangkit dari ambang kematian berkat The Engine System—sebuah sistem purba misterius yang menyatu dengan jantungnya.

​Berbekal kereta rongsokan, Ren memulai pelarian maut sambil merekrut kru inti yang luar biasa: Leo (mekanik jenius), Soju (navigator handal), Yuna (koki dan dokter tangguh), serta Gavin (informan cerdas). Bersama-sama, mereka berjuang menaikkan level kereta dari rongsokan biasa menjadi mesin perang lapis baja kelas Dreadnought yang tak terbendung.

​Dari menembus Tembok Es Raksasa menuju Benua Aether Bawah yang penuh misteri, hingga melancarkan perang total melawan armada militer korporasi dan menembus jantung pusat bumi (Tartarus), perjalanan ini adalah pertaruhan hidup dan mati demi meruntuhkan tirani, menuntaskan misi balas dendam, dan merebut kembali kebebasan bagi umat manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ketoprak Encok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 25

Suara alarm sistem navigasi darurat yang melengking nyaring berpadu dengan getaran hebat dari hantaman gempa buatan di luar terowongan membuat dinding gerbong Vanguard berdengung ngilu. Di layar terminal utama, grafik seismik berwarna merah menyala menunjukkan pergerakan The Juggernaut—monster lapis baja milik Korporasi Aether—yang merangsek maju dengan kecepatan penuh, menghancurkan pilar-pilar es penyangga di jalur belakang dan menutup setiap celah pelarian yang tersisa.

Di dalam kabin utama, ketegangan sempat merayap mencekam. Namun, sebelum kepanikan sempat melumpuhkan akal sehat kru, sebuah aroma pekat yang luar biasa harum mendadak menguar lembut dari sudut gerbong, memotong atmosfer tegang dengan kehangatan yang begitu kontras.

Yuna tidak membuang waktu sedetik pun setelah resmi bergabung. Di tengah kekacauan ancaman maut di luar, gadis berkacamata pelindung tipis itu telah berdiri di depan kompor plasma portabel kereta, mengenakan apron putihnya dengan gerakan yang sangat tenang, terukur, dan penuh wibawa.

Bagi Yuna, kepanikan eksternal bukanlah alasan untuk mengabaikan prinsip fundamental seorang koki sejati: tubuh yang lelah dan terluka tidak akan pernah bisa menavigasi masa depan.

"Jangan panik menatap layar yang berkedip merah itu," suara Yuna mengalir tenang, memecah ketegangan di dalam kabin tanpa sedikit pun keraguan di nadanya. Ia meraih sepanci air es murni, memasukkannya ke dalam wadah logam bertekanan tinggi, lalu menambahkan serangkaian rempah-rempah langka dan ekstrak akar termal yang ia ambil dari tas bawaannya sendiri. "Kalian baru saja meloloskan diri dari fasilitas penahanan bawah tanah. Otot-otot kalian tegang, dan sirkulasi energi di tubuh Kapten Ren mengalami penurunan drastis akibat resonansi inti mesin yang bekerja berlebihan."

Ren, yang duduk di tepi bangku operator dengan napas masih sedikit memburu dan luka goresan plasma di bahu kanannya akibat pertempuran sebelumnya, mendongakkan kepala menatap sang koki baru. Pendaran cahaya biru di dadanya berdenyut tidak stabil, memancarkan rasa sakit tumpul yang merambat ke seluruh saraf tulangnya.

"Aku tidak butuh perawatan medis," gerak bibir Ren datar, mencoba menolak secara halus. "Kereta ini sedang dalam posisi terjepit. Gavin melaporkan gerbang di depan terkunci total..."

"Diam dan duduklah yang tenang, Kapten," potong Yuna mutlak, nadanya tidak menerima bantahan, mencerminkan otoritas absolut seorang master dapur di wilayah kekuasaannya. "Di kereta ini, aku adalah koki sekaligus dokter kalian. Dan hukum pertama di bawah pengawasanku adalah: tidak ada anggota kru yang boleh bertarung dengan lambung kosong dan sel tubuh yang kelelahan."

Yuna mulai meracik hidangan pertamanya di atas rel kereta yang bergetar hebat. Gerakan tangannya begitu anggun namun sangat cekatan. Ia mengiris akar rempah termal dengan presisi ketebalan milimeter, memasukkannya ke dalam kaldu mendidih yang langsung mengeluarkan pendaran cahaya keemasan hangat. Itu adalah resep legendaris peninggalan leluhur—sebuah hidangan berbasis energi sistem pertama yang dirancang khusus untuk memulihkan stamina ekstrem dan mempercepat regenerasi sel biologis manusia dalam kondisi darurat.

Di meja kerjanya, Leo menghentikan sejenak penyetelan baut pelindung baja lokomotif. Ia mengendus udara dengan mata terbelalak lebar, aroma kaldu tersebut seolah menyedot seluruh perhatiannya. Gavin yang tadinya sibuk mengetik barisan kode sandi darurat di layar terminal juga menoleh, menelan ludahnya secara spontan saat uap harum rempah tersebut menyelimuti seluruh ruangan.

"Aroma ini..." gumam Soju pelan, matanya berbinar-binar menatap panci yang dididihkan Yuna. "Ini bukan sekadar masakan biasa. Rasanya... seperti menghangatkan tulang-tulang yang membeku dari dalam."

Yuna tidak menjawab. Ia menuangkan kaldu pekat berwarna keemasan itu ke dalam mangkuk-mangkuk logam hangat, lalu menyajikannya satu per satu kepada para kru, dimulai dari Ren.

"Minumlah selagi panas," kata Yuna, menyodorkan mangkuk tersebut tepat di hadapan Ren. "Ini adalah Starlight Thermal Broth. Resep kuno yang memicu sirkulasi ion seluler bekerja sepuluh kali lebih cepat. Luka-luka kecilmu akan menutup dalam hitungan menit."

Ren menatap mangkuk di tangannya sejenak. Uap hangat mengepul lembut, membawa aroma rempah yang begitu menenangkan jiwa. Tanpa berkata apa-apa lagi, Ren meneguk kuah kaldu tersebut perlahan.

Seketika itu juga, reaksi kimia yang luar biasa dahsyat menghantam tubuh pemuda itu.

Sebuah gelombang kehangatan yang pekat melesat dari kerongkongannya, menyebar ke seluruh pembuluh darah, dan langsung meresap ke dalam jaringan otot serta luka gores di bahunya. Sensasinya bagaikan aliran listrik murni yang menyegarkan, menyapu bersih rasa nyeri, mengembalikan kesegaran fisik, dan menstabilkan denyut The Core Engine di dadanya dengan tingkat sinkronisasi yang sempurna.

Luka bakar dan goresan plasma di bahu Ren perlahan-lahan menutup dan mengering di hadapan mata mereka sendiri, meninggalkan kulit yang kembali mulus tanpa bekas sedikit pun.

Leo dan Soju yang melihat keajaiban itu langsung berdecak kagum secara bersamaan, mata mereka terbelalak lebar seakan tidak percaya dengan apa yang baru saja mereka saksikan.

"Luar biasa..." bisik Leo takjub, menggelengkan kepalanya perlahan sambil menatap mangkuk di tangannya yang baru saja ia cicipi. "Dalam waktu kurang dari dua puluh detik, efisiensi pemulihan selnya mencapai tingkat yang bahkan tidak bisa dicapai oleh teknologi medis mutakhir Korporasi Aether!"

"Sudah kubilang," ujar Soju tersenyum lebar, menepuk bahu Ren yang kini tampak jauh lebih bugar dan bersemangat. "Merekrut koki ini adalah keputusan terbaik yang pernah kita ambil sepanjang perjalanan di dunia es ini."

Gavin yang juga mencicipi setetes kecil kaldu tersebut langsung mendesah lega, warna wajahnya yang tadinya pucat pasi karena panik kini kembali merona segar, membuat konsentrasi otaknya dalam meretas sandi gerbang kembali tajam.

Yuna berdiri di hadapan mereka, melipat kedua tangannya di depan apron putihnya dengan senyuman tipis penuh kepuasan profesional. "Bagaimana? Apakah hidangan pertama koki baru kalian ini lulus standar?"

Ren mengangkat wajahnya, menatap Yuna lurus-lurus. Pendaran biru di dadanya kini berdenyut tenang, menyatu selaras dengan aliran energi hangat yang meresap di tubuhnya. Untuk pertama kalinya sejak perjalanan dimulai, sorot mata sang kapten melunak, memancarkan bentuk apresiasi yang tulus.

"Sempurna," jawab Ren singkat dengan suara parau yang kini terdengar jauh lebih bertenaga. "Terima kasih, Yuna."

Namun, kehangatan dan decak kagum di dalam gerbong tersebut tidak diberi waktu untuk berlama-lama dinikmati.

Bum!

Hantaman sonik yang jauh lebih masif daripada sebelumnya menghantam dinding terowongan belakang dengan kekuatan penuh. Suara logam berderit patah dan runtuhan batu es raksasa menimbun jalur rel di belakang mereka, menandakan bahwa The Juggernaut telah berhasil menembus barikade terowongan terakhir dan kini berada tepat beberapa puluh meter di belakang ekor gerbong Vanguard.

Di layar terminal utama, Gavin mendadak berdiri sambil berteriak histeris, menunjuk ke arah pintu gerbang pos perbatasan di depan yang masih tertutup rapat oleh blokade baja militer.

"Sialan! Mereka sudah mendobrak masuk ke sektor akhir!" teriak Gavin dengan suara gemetar panik. "Gerbang perbatasan di depan tidak mau merespons kode peretasan manualku! Sistem pertahanan mereka telah mengunci jalur keluar secara permanen, dan kereta The Juggernaut di belakang sedang menyiapkan tembakan meriam plasma pamungkas untuk menghancurkan kita berkeping-keping dalam waktu kurang dari sepuluh detik!"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!