Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 12. Gelisah Wati, Perselisihan di Balai Kampung
Dirumah Kediaman Wati pagi ini.
Wati terlihat lemas sekali pagi ini, badanya terasa malas dan sedikit demam telah menjangkiti tubuhnya.
Wati yang tinggal seorang diri, hanya membiarkan tubuhnya masih terbaring di ranjang tempat tidur. Kemarahan masih menggerogoti pikiran dan hatinya.
"Si alan Si Slamet, berani-beraninya Dia membohongiku! Janjinya bertemu dengan Harjo, eh malahan dipertemukan dengan John. Akhh.., kurang ajar sekali, tidak tahu diri, penipu... Bangsat!" Teriak Wati didalam hatinya.
"Tetapi mengapa Aku mau mengikuti ajakan Slamet, ya? Bukannya selama ini Aku sudah mengetahui kebiasaan dan tabiat buruk dari Slamet! Bodohnya Aku..." Runtuk Wati di dalam hatinya.
Wati hanya dapat menyibak rambutnya dan tenggelam dalam perasaannya yang telah di bodohi dan ditipu oleh Slamet.
"Apa yang telah kulakukan, ya? Mengapa kesi alan ini bisa menimpaKu? Bukankah aku tidak pernah berlaku buruk kepada orang lain apalagi kepada semua siswaku. Tetapi hari ini aku telah menyadari, perbuatan baik yang telah kita lakukan belum tentu akan mendapatkan perlakuan yang baik juga. Tetaplah kita harus berpikir lebih dewasa dalam bertindak. Positive thinking tidak menjamin kebaikkan tetapi harus dibarengi dengan kewaspadaan dan kehati-hatian juga."
Berbagai pemikiran yang kini memenuhi kepala dan hati dari Wati.
Wati mencoba untuk lebih menelaah kejadian demi kejadian yang baru saja dialaminya.
"Tetapi, mengapa Sari turut serta dalam pertemuan itu? Apakah Dia ada kaitannya dengan Slamet dan rencana pertemuan ini?" Wati kembali memikirkan beberapa hal yang sedikit ganjil.
"Bukankah Dia mengenal Harjo? Mengetahui rumah kediaman Harjo, serta sudah mengenalku juga setelah beberapa kali Kami mengikuti pertemuan yang diadakan oleh berbagai dinas dan balai Kampung yang juga dihadirinya. Mengapa Sari tidak menyampaikannya saja terlebih dahulu kepadaku mengenai rencana pertemuan itu?" Kepala Wati mulai sedikit terasa semakin pusing.
Kecurigaan demi kecurigaan memenuhi pikirannya.
"Dasar memang nasibku saja yang sedang buruk. Harjo... Harjo... Mengapa Kau membuat hatiku gelisah?" Runtuk Wati.
Wati hanya bisa berguling-guling diatas tempat tidurnya, disebabkan rasa gelisah didalam hatinya yang terus-menerus menderanya.
Wati juga bertambah kesal karena mengingatkan telah melihat Harjo berjalan bersama Widuri si pedagang warung cantik itu. Dia teringat senyuman Harjo dan Widuri ketika seorang pria mengacungkan jari jempolnya.
"Apakah Harjo sudah memiliki kekasih, atau apakah Widuri pedagang warung di persimpangan jalan itu yang menjadi kekasihnya? Ya, Tuhan apakah yang sedang terjadi dengan pikiranKu saat ini. Mengapa semuanya hanya mengenai Harjo saja, yang selalu memenuhi hatiKu?" Wati semakin merasa tertekan di dalam dadanya ketika mengingat semua hal yang baru saja terjadi kemarin.
Wati hanya terus-menerus bergelut dengan pikiranya sendiri, tanpa ada yang membantunya, memberi nasehat atau setidaknya berbagi saran kepadanya. Wati hanya tenggelam sendiri dalam praduga yang belum tentu kebenarannya.
Setiap permasalahan sebaiknya di cross-check terlebih dahulu, sebab apapun yang terbesit di dalam hati dan pikiran Kita, belum tentu mengandung kebenaran.
Biasakanlah untuk mencari tahu terlebih dahulu atau mencari nasihat dari orang-orang yang lebih mengetahui dan lebih memahami. ***
Di balai Kampung.
Beberapa orang telah berkumpul di balai Kampung setelah kemarin malam mendengar adanya berita mengenai perkelahian antara Slamet dan kawan-kawan melawan Harjo lelaki panutan sejuta warga Surya Kencana.
Pak kepala Kampung kini telah tiba di Balai Kampung yang dijaga oleh dua orang Linmas yang ditugaskan berjaga semalaman.
Keadaan Balai Kampung yang ramai disebabkan juga karena hari ini adalah hari Minggu, sehingga banyak warga yang tidak bekerja. Berita dari mulut ke mulut juga ikut membantu menyebarkan informasi perkelahian itu. Disamping itu juga karena di Kampung Surya Kencana jarang sekali ada hiburan sehingga kejadian ini menjadi hiburan dadakan bagi warga Kampung tentunya.
Slamet dan Arif sudah terbangun dari tidurnya sedangkan Udin masih saja menikmati tidurnya. Slamet sudah bertambah pusing akibat kejadian ini begitu juga dengan Arif yang merasa malu karena telah kalah menghadapi Harjo yang dianggapnya sebagai saingan untuk mendapatkan cinta Widuri.
"Kalau saja Aku tidak terpancing oleh ajakan Udin untuk ikut serta membantu Slamet menghadapi Harjo, semua ini tidak akan terjadi. Malang betul nasibku." Runtuk Arif disalam hatinya.
"Dasar kalian berdua tidak berguna, menghadapi Harjo saja kalian tidak mampu, seandainya Aku sendiri yang menghadapinya pasti tidak akan menjadi seperti ini akhirnya. Malunya Aku harus berada di tempat ini, bersama kalian yang tidak berguna!" Slamet mencoba menyalahkan Arif dan Udin.
"Enak saja, seandainya Kau tidak sesumbar mampu menghadapi Harjo, Aku juga malas sewaktu diajak oleh Udin membantumu, Kaulah Yang seharusnya bertanggung jawab atas apa yang sudah terjadi." Arif balas menuduh Slamet.
"Kalau kalian tidak mengatakan kalau Harjo berada di kediaman Widuri, tidak mungkin Aku pergi kesana untuk menghajarnya!" Slamet masih saja menyalahkan Udin dan Arif akan kejadian tersebut.
"Iya, tetapi itu kan karena Kau berkata mampu mengalahkannya. Seandainya Kau diam saja waktu itu, Kami juga tidak akan pergi untuk menyerang Harjo!" Kembali Arif membela dirinya.
Saling-menyalahkan terjadi silih berganti diantara kedua orang itu, tidak ada yang mau kalah. Keduanya merasa dirinyalah yang paling benar.
Kepala Kampung yang telah memasuki Balai Kampung pun mendengar pembicaraan mereka.
"Kalian berdua sudah berada di sini, masih saja bertengkar. Kapan sih kalian dapat akur, seharusnya di Kampung Kita ini selalu tenteram dan nyaman tanpa pertengkaran." Kepala Kampung merasa risih dengan suara pertengkaran Slamet dan Arif.
Disela-sela ucapan Kepala Kampung terdengar suara Udin yang sedang mengorok.
"Ngoookk... Ngrookk.. Huss.." berulang-ulang suara itu terdengar.
"Lihat Udin saja menikmati kedamaian didalam tidurnya, kalian berdua malahan bertengkar terus." Kepala Kampung menunjuk ke arah Udin yang tertidur pulas, sampai kedengaran mengorok.
"Maaf Pak." Arif merasa bersalah dan takut Kepala Kampung marah terhadap dirinya.
Slamet hanya diam saja, karena di dalam hatinya masih terbesit rasa marah dan ego yang besar. Dia masih merasa apa yang telah dilakukannya adalah benar.
Kepala Kampung merasa tidak dihargai tetapi tetap menahan diri. Dia masih menantikan kedatangan Widuri dan Harjo yang akan menyampaikan informasi terkait keributan kemarin malam.
Semakin lama semakin banyak orang berada di sekitar Balai Kampung. Ada yang datang sendiri dan ada juga yang datang membawa keluarganya. Semua berkumpul untuk mengetahui terkait keributan berupa perkelahian antara tiga orang pemuda melawan satu orang lelaki demi memperebutkan Widuri.
John dan Sari juga mendengar akan masalah ini. Mereka berdua merasa heran, sebab Slamet masih berada di Rumah makan pinggir sungai sewaktu mereka tinggalkan, kapan perkelahian itu dapat terjadi? Tentu saja apa yang menjadi penyebabnya? Apakah Wati juga ikut terseret dalam pertengkaran itu?
Berbagai pertanyaan ini membuat Sari dan John segera pergi juga ke Balai Kampung dimana Ayah orangtua mereka lama bekerja sebagai kepala Kampung. Mereka ingin memastikan jawaban dari setiap pertanyaan yang terbesit di dalam hati mereka berdua.
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru