Tiga tahun lalu, Reno Wijaya dijebak dan difitnah oleh keluarga angkatnya sendiri demi menyelamatkan putra kandung mereka. Dipaksa melarikan diri dalam keadaan terluka, Reno terpaksa menyembunyikan identitas aslinya dan menjadi menantu numpang yang dihina di keluarga Pramudya. Di mata ibu mertua dan orang-orang kota, ia hanyalah pria miskin tak berguna yang hanya bisa mencuci piring dan menerima makian.
Namun, tidak ada satu orang pun yang tahu bahwa penyamaran miskin itu adalah cara Reno menguji hatinya sekaligus memulihkan teknik kultivasi kuno "Sutra Naga Kuno" demi menyelesaikan ujian kesembilan dari organisasinya.
Puncaknya terjadi ketika keluarga mertuanya yang matrealistis memaksa Alya untuk menceraikan Reno demi menikahkan wanita itu dengan seorang tuan muda kaya yang sombong, Brandon Pratama. Di hari yang sama ketika surat cerai dilemparkan ke wajahnya, masa pengasingan Reno resmi berakhir! Kelompok elit terkaya dan terkuat di dunia—Grup Naga Hitam—berlutut menyambut kembali
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Deddy kris, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25: Rahasia Sutra Naga Kuno
Reno menghentikan langkahnya tepat di depan pintu masuk Rumah Pelelangan Batu Hitam.
Dia menoleh ke arah gang gelap, menatap pria tua renta berjubah lusuh yang baru saja memanggilnya.
Aura pria tua ini sangat aneh, redup bagaikan lilin yang mau padam, tapi memiliki kedalaman misterius.
'Duh, baru aja kelar urusan sama naga gendut, udah muncul kakek-kakek misterius,' batin Reno sambil menghela napas pelan.
Dia sedikit merapikan jas jas hitamnya, memastikan tidak ada noda darah iblis yang menempel.
"Asal-usul Kunci Segel?" tanya Reno dengan nada datar namun penuh selidik.
Pria tua itu melangkah keluar dari kegelapan, tubuhnya gemetaran dan batuk-batuk kecil.
"Benar, Tuan Muda... Nama hamba Ki Sanjaya, mantan pustakawan Istana Dewa Abadi yang diasingkan," ucapnya memperkenalkan diri dengan suara serak.
Ki Sanjaya menatap tato naga emas di lengan kanan Reno dengan pandangan penuh hormat dan kesedihan mendalam.
"Hamba sudah menunggu ribuan tahun... menunggu pewaris Sutra Naga Kuno yang sah untuk kembali," tambahnya dengan mata berkaca-kaca.
'Mantan pustakawan Istana Dewa? Menarik. Pasti tahu banyak soal tempat itu,' batin Reno mulai tertarik.
"Ki Sanjaya, mending kita ngomong di tempat yang agak enakan. Di sini baunya masih amis," pukas Reno sambil menunjuk sisa-sisa pertempuran yang sedang dibersihkan prajurit iblis.
Reno mengajak Ki Sanjaya masuk ke dalam Rumah Pelelangan Batu Hitam.
Liu Ruyi yang melihat Reno membawa pria tua lusuh langsung menyambut mereka dengan kening berkerut.
"Tuan Muda Reno, siapa pria tua ini? Kenapa Anda membawanya masuk?" tanya Liu Ruyi bingung.
"Dia punya informasi penting soal Kunci Segel. Siapin ruangan privat yang aman dari penyadapan," perintah Reno tegas tanpa keraguan.
Liu Ruyi tertegun sejenak, melihat keseriusan di mata Reno, dia langsung mengangguk patuh.
"Baik, Tuan Muda. Silakan ikuti saya ke Ruang VIP Emas di lantai paling atas," ajak Liu Ruyi sigap.
Mereka bertiga naik ke lantai atas dan masuk ke dalam ruangan yang sangat mewah dengan formasi pelindung kedap suara tingkat tinggi.
Setelah duduk nyaman di sofa kulit, Reno menatap Ki Sanjaya yang tampak canggung dengan kemewahan ruangan.
"Oke, Aki. Silakan cerita apa yang Aki tahu soal tato di lengan gue ini," pukas Reno sambil menyesap teh spiritual yang disuguhkan pelayan.
Ki Sanjaya menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri sebelum memulai ceritanya.
"Kunci Segel di lengan Tuan Muda... itu bukan sekadar kunci dimensi," ucap Ki Sanjaya dengan nada serius.
"Itu adalah kristalisasi dari energi batin Kaisar Naga Langit, penguasa pertama dan sejati dari Istana Dewa Abadi ribuan tahun lalu!" jelasnya dengan penuh penekanan.
Deggg...!
Liu Ruyi yang ikut mendengarkan langsung tersentak kaget, menangkupkan tangan di mulutnya tak percaya.
"Kaisar Naga Langit?! Penguasa legendaris yang katanya sudah mencapai ranah di atas Dewa Spiritual?!" jerit Liu Ruyi histeris dalam hatinya.
Reno mengernyitkan dahi, merasa beban di tato lengannya mendadak jadi jauh lebih berat.
'Waduh... ternyata warisan yang gue bawa ini levelnya dewa kuno, pantesan energinya gila banget,' batin Reno meringis pelan.
"Lalu, apa hubungannya sama Sutra Naga Kuno yang gue pelajari di Bumi?" tanya Reno penasaran.
"Sutra Naga Kuno adalah teknik kultivasi batin yang diciptakan langsung oleh Kaisar Naga Langit!" jawab Ki Sanjaya berapi-api.
"Hanya praktisi yang menguasai Sutra Naga Kuno sampai tingkat puncak yang bisa mengaktifkan Kunci Segel tersebut secara sempurna!" tambahnya lagi.
'Pantas saja... teknik ini rasanya beda banget sama teknik kultivasi lain di Bumi,' batin Reno mengangguk paham.
Ki Sanjaya melanjutkan ceritanya dengan nada suara yang perlahan berubah menjadi sedih dan penuh dendam.
"Ribuan tahun lalu, terjadi pemberontakan besar di Istana Dewa Abadi," kenang Ki Sanjaya dengan suara bergetar.
"Wakil Penguasa Istana, Mo Tian, berkhianat dan bekerja sama dengan Aliansi Iblis Agung untuk merebut kekuasaan Kaisar!" jelasnya penuh kebencian.
"Kaisar Naga Langit yang terluka parah akhirnya menyegel Istana Dewa Abadi menggunakan sisa kekuatannya, dan melempar Kunci Segel serta Sutra Naga Kuno ke dunia bawah... ke Bumi," cerita Ki Sanjaya air mata menetes di pipinya yang keriput.
"Mo Tian dan Aliansi Iblis Agung selama ini menguasai Alam Dewa Abadi, tapi mereka tidak bisa masuk ke dalam Istana Utama tanpa Kunci Segel!" pukas Ki Sanjaya menatap Reno penuh harap.
"Hamba mohon, Tuan Muda Reno... Tolong rebut kembali Istana Dewa Abadi dan hancurkan para pengkhianat itu!" ratap Ki Sanjaya sambil bersujud di hadapan Reno.
'Ternyata ada sejarah berdarah di balik tempat itu. Pemberontakan... pengkhianatan... iblis...' batin Reno mengepalkan tangannya rapat-rapat.
"Hadeuhhh... niatnya cuma mau nyari tempat kultivasi yang tenang, malah keseret urusan dendam ribuan tahun," pukas Reno sambil menghela napas panjang.
Namun, binar mata Reno mendadak berubah menjadi sangat dingin dan tajam bagaikan pedang.
"Gue paling benci sama yang namanya pengkhianat," ucap Reno dengan suara berat yang mengintimidasi.
"Mo Tian... Aliansi Iblis Agung... Mereka sudah ganggu ketenangan hidup gue dengan ngirim samsak-samsak lemah ke sini," pukas Reno sambil menyunggingkan senyum tipis penuh percaya diri.
"Aki tenang aja. Istana Dewa Abadi bakal gue rebut kembali," janji Reno mantap.
Ki Sanjaya menangis histeris mendengar janji Reno, merasa beban ribuan tahun di pundaknya akhirnya terangkat.
Liu Ruyi menatap Reno dengan tatapan yang sangat kompleks, rasa kagum dan hormatnya pada pemuda ini semakin mendalam.
Dia menyadari, Reno bukan sekadar kuat, tapi dia memiliki takdir untuk menjadi penguasa sejati di Alam Dewa Abadi.
"Tuan Muda Reno... Jika Anda berniat menuju Istana Dewa Abadi, Anda harus melewati Wilayah Badai Petir dan Kota Langit Utara," jelas Liu Ruyi memberikan informasi penting.
"Rumah Pelelangan Batu Hitam siap memberikan dukungan penuh untuk perjalanan Anda, Tuan Muda," tawar Liu Ruyi penuh semangat bisnis.
'Wilayah Badai Petir... Kota Langit Utara... menarik,' batin Reno tertawa kecil.
"Aki, lu istirahat dulu di sini. Biar Liu Ruyi yang urus kebutuhan lu," perintah Reno pada Ki Sanjaya.
Reno berdiri dari sofa, merapikan jas jas hitamnya yang kini terasa lebih berwibawa.
Dia berjalan menuju jendela besar, menatap ke arah utara di mana Istana Dewa Abadi berada di balik awan misterius.
"Pengkhianat... iblis... bersiaplah," gumam Reno dingin.
"Naga Emas sejati... sudah kembali buat nuntut balas."
Tiba-tiba, tato naga emas di lengan kanan Reno memancarkan sinar keemasan yang sangat terang, bergetar hebat seakan merespon tekad Reno.
Di saat yang sama, di Istana Dewa Abadi yang tersegel.
Di dalam aula utama yang gelap gulita, seorang pria bermata tiga dengan mahkota tengkorak—Mo Tian—mendadak membuka matanya.
Pancaran aura Kaisar Spiritual Tingkat Puncak milik Mo Tian meledak, menghancurkan pilar-pilar batu di sekitarnya.
"Aura Sutra Naga Kuno... sudah sampai di Alam Dewa!" bentak Mo Tian murka.
"Panglima Kerakusan sudah tewas... Suku Tembaga sudah tunduk..." racau Mo Tian gila.
"Reno Wijaya! Lu benar-benar cari mati!" teriak Mo Tian histeris.
"Kirim Empat Jenderal Langit Utara! Hadang dia di Kota Langit Utara dan bawa Kunci Segel itu ke hadapan gue!" komando Mo Tian gila penuh amarah yang membara.