NovelToon NovelToon
Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Suami Darurat: Sahabat Sendiri!

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ariska Kamisa

​"Kalau umur 30 gue belum nikah, lo wajib nikahin gue, Ka!"
​Janji konyol lima tahun lalu kini jadi bumerang untuk Nadira. Sisa waktunya tinggal menghitung hari, tapi semua perburuannya mencari pacar selalu berujung tragis—ditipu hingga nyaris jadi selingkuhan!
​Di sisi lain, ada Askara. Sahabat sejak kecil yang tampan dan mapan. Askara sengaja menolak ratusan wanita demi menanti hari ini tiba. Bagi Askara, janji umur 30 bukanlah lelucon, tapi strategi untuk memiliki Nadira seutuhnya.
​Waktu habis, Askara pun menagih janji! Nadira yang gengsi setengah mati terpaksa menikah dengan sahabat yang tahu semua kebiasaan buruknya.
​Mampukah Nadira bertahan saat Askara mulai membongkar batas friendzone dan menagih haknya sebagai suami?
​Gengsi tingkat tinggi VS Cinta tulus sahabat sendiri. Siapa yang bakal menyerah duluan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 3: Hujan, Sandal Pink, dan Senyum yang Tertahan

​Langit di atas Jakarta menggelap hanya dalam hitungan menit. Angin kencang berembus menyapu kaca-kaca gedung Ruella Creative, disusul gemuruh guruh yang menandakan hujan deras akan segera mengguyur.

​Nadira melangkah keluar dari lif lobby bersama Odelia. Begitu sampai di pintu kaca utama, air hujan sudah tercurah bagai ditumpahkan dari langit. Suara gemericik air memantul keras di atas aspal.

​"Waduh, deras banget, Nad," kata Odelia sambil merapatkan blazernya. "Untung gue udah pesen taksi online dari lima menit lalu."

​Nadira menghela napas, matanya liar menyapu area parkir luar. "Iya nih..."

​"Mata lo nyari siapa sih? Nyari 'bapak investor' ya?" ledek Odelia, menyenggol bahu Nadira.

​"Apaan sih! Siapa juga yang nyari Askara," sahut Nadira defensif, meski matanya tetap bergerak ke arah deretan mobil di halaman depan.

​Tak sampai satu menit, sebuah SUV hitam yang sangat familiar berhenti tepat di depan tangga lobby. Pintu pengemudi terbuka, dan seorang pria bertubuh tinggi dengan kemeja putih yang lengan bajunya digulung rapi keluar membawa payung hitam besar.

​Askara. Pria itu melangkah tenang membelah rintik hujan yang mulai membasahi bahunya.

​"Tuh kan, baru aja diomongin," bisik Odelia sambil tersenyum penuh arti. "Gue duluan ya, Nad! Taksi gue udah sampai belakang mobil calon suami lo tuh. Bye!"

​"Odelia, tunggu dulu—"

​"Dahhh! Semangat menjalin hubungan sahabat jadi cinta!" potong Odelia cepat, berlari kecil menerobos hujan menuju mobilnya tanpa membiarkan Nadira membalas.

​Nadira berdiri mematung di tempatnya. Jantungnya mendadak berdegup tak beraturan saat Askara kian mendekat. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, Askara melepas mantel jas hitam yang melingkupi bahunya, lalu menyampirkannya ke bahu Nadira yang hanya mengenakan blus tipis. Aroma parfum maskulin bercampur kayu manis khas Askara langsung menyeruak, membuat saraf-saraf Nadira menegang seketika.

​"Pakai mantelnya. Udaranya dingin," ujar Askara pelan. Suaranya berat namun lembut.

​"K-kenapa lepas mantel? Nanti baju lo basah, Ka," cicit Nadira pelan. Suaranya menghilang entah ke mana, kehilangan nada galak yang biasanya selalu mengudara.

​Askara mengamati wajah Nadira. Perempuan yang biasanya galak bak kucing liar itu tiba-tiba berubah menunduk malu, mengusap bahunya sendiri di dalam mantel besarnya. Sudut bibir Askara terangkat sedikit. Gemas sekali. Kucing liarnya ini mendadak berubah menjadi anak kucing yang imut saat gugup.

​"Ayo masuk mobil," bisik Askara seraya membuka payung lebar-lebar di atas kepala Nadira, merangkul bahu wanita itu erat agar tidak terkena tetesan air hujan.

​Di dalam mobil, suasana mendadak senyap. Hanya ada suara hujan yang memukul atap mobil dengan keras dan deru pendingin udara yang berhembus pelan. Nadira duduk kaku di kursi penumpang, tangannya meremas ujung mantel Askara yang masih melekat di tubuhnya.

​Askara menyalakan mesin mobil, namun ia tidak langsung menginjak pedal gas. Ia berbalik menjangkau dashboard belakang, mengambil sebuah botol kecil berlabel hijau dan satu cangkir termos.

​"Nih," Askara menyodorkan botol kecil itu.

​Nadira mengernyit, menatap botol minyak kayu putih di tangan Askara. "Apaan?"

​"Minyak kayu putih. Lo kalau kena dingin dikit kan langsung kembung sama masuk angin," kata Askara datar. "Usap di perut sama dada lo."

​"Gue gak papa kok! Gak usah sok perhatian deh," tolak Nadira pelan, mencoba menyembunyikan rasa bahagianya di balik gengsi tinggi. "Gue bukan anak kecil lagi, Ka."

​Askara tidak membalas penolakan itu. Ia justru menghela napas panjang, merengkuh pergelangan kaki kanan Nadira tanpa permisi, dan mengangkatnya perlahan ke atas pangkuannya.

​"Eh! Ka! Mau ngapain?!" seru Nadira kaget, wajahnya memerah padam. "Lepasin kaki gue!"

​"Jangan rewel, Nadira," tegur Askara tegas namun lembut. Tangannya bergerak terampil melepas high heels hitam sembilan sentimeter yang membungkus kaki mulus sahabatnya itu. "Nih kan. Bener dugaan gue. Kaki lo lecet lagi."

​Nadira meringis kecil saat jari Askara menyentuh tumit belakangnya yang memerah dan terkelupas akibat gesekan sepatu.

​"Udah tahu heels ini bikin lecet, kenapa masih dipakai sih?" omel Askara pelan. Ia mengambil kain kasa tipis dari kotak P3K di bawah kursi, lalu menuangkan sedikit minyak kayu putih di telapak kakinya yang dingin, mengoleskannya sangat perlahan agar tidak kena pada bagian tumit yang terluka.

​"Ya kan tuntutan kerjaan, Ka... Biar kelihatan profesional," gumam Nadira membela diri, matanya tak bisa berpaling dari jemari Askara yang dengan telaten memijat lembut telapak kakinya.

​"Profesional gak harus menyiksa diri sendiri, Nad," balas Askara. Setelah membalut luka lecetnya dengan plester transparan, Askara meraih sebuah kantong kain di bawah kursi belakang. Ia mengeluarkan sepasang sandal karet empuk berwarna pink cerah.

​Nadira melotot saat melihat sandal itu. "Sandal pink lagi?!"

​Askara terkekeh kecil, memasangkan sandal pink itu ke kaki Nadira dengan hati-hati. "Kenapa? Sandal pink yang kemarin di mobil rusak ya? Ini sandal keseratus yang gue beliin buat lo. karena lo selalu lecet karena heels."

​"Warna lain kan ada, Ka! Kenapa harus pink neon begini terus? Norak tahu!" protest Nadira, meski kakinya terasa jauh lebih nyaman dan hangat di dalam sandal itu.

​"Biar matching sama muka lo kalau lagi ngambek," sahut Askara santai. Ia kemudian menyodorkan cangkir termos yang tadi disiapkannya. "Minum nih. Cokelat panas. Gula-nya cuma satu sendok, sesuai selera lo."

​Nadira menerima cangkir hangat itu dengan perasaan yang campur aduk. Dinding gengsinya rasanya makin hancur lebur. Perhatian-perhatian kecil ini... Askara selalu melakukannya tanpa pernah absen selama belasan tahun. Kenapa selama ini ia begitu buta sampai tidak menyadarinya?

​"Makasih, Ka..." bisik Nadira pelan.

​"Sama-sama," jawab Askara lembut, tangannya terulur mengusap puncak kepala Nadira sebentar sebelum kembali memegang kemudi.

​Mobil melaju membelah kemacetan Jakarta di tengah guyuran hujan lebat. Kehangatan cokelat panas dan hembusan AC yang pas perlahan-lahan membuat kelopak mata Nadira terasa amat berat. Semalam ia hampir tidak tidur memikirkan janji dan mimpinya tentang Askara, ditambah rasa lelah bekerja seharian.

​Hanya dalam waktu sepuluh menit, kepala Nadira terkulai lemah ke samping, bersandar pada kaca jendela mobil. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur halus.

​Di lampu merah, Askara menghentikan laju mobilnya. Ia menoleh ke samping kiri, menatap wajah polos wanita yang telah menyita seluruh isi hatinya selama bertahun-tahun.

​Lampu jalanan yang remang memantulkan bayangan indah di wajah Nadira. Hidungnya sedikit memerah karena udara dingin, dan kedua pipinya merona alami. Askara mengulurkan tangannya, dengan lembut mengelus hidung merah itu menggunakan ibu jarinya, lalu berpindah menyapu pipi mulusnya.

​Pandangan Askara kemudian turun, terkunci pada bibir merah muda Nadira yang sedikit terbuka. Bibir yang selalu mengomelinya, bibir yang selalu mengucakan kata-kata gengsi, namun kini terlihat begitu menggiurkan dan manis.

​Tahan, Ka... Sedikit lagi, bisik batin Askara, menelan ludahnya kasar. Rasanya ia ingin sekali memajukan wajahnya dan menyesap bibir itu sepuasnya, menagih hak yang sudah ia tunggu selama lima tahun. Namun ia tahu, ia harus bersabar sampai ikatan suci itu benar-benar mengikat mereka.

​"Sebentar lagi lo bakal jadi milik gue seutuhnya, Nad," bisik Askara lirih, mengusap lembut sudut bibir Nadira sebelum menarik tangannya kembali.

​Satu jam kemudian, SUV hitam Askara berhenti di garasi rumah keluarga Ruella. Hujan sudah mereda menjadi gerimis tipis.

​Askara mematikan mesin mobil, lalu keluar dan memutar ke pintu penumpang. Ia melihat Nadira yang masih tertidur sangat lelap, sama sekali tidak terganggu oleh suara mesin mobil yang mati.

​Tanpa berniat membangunkan, Askara merengkuh tubuh molek Nadira dengan perlahan. Satu tangannya menopang punggung Nadira, dan tangan lainnya menyangga bagian belakang lutut wanita itu. Dengan mudah, Askara menggendong Nadira dalam pelukannya.

​Pintu depan rumah Ruella terbuka bahkan sebelum Askara mengetuknya. Dinan dan Doni berdiri di sana dengan senyum lebar, sementara Nadeo bersandar di pintu sambil menyilangkan tangan.

​"Aduh, anak gadis Mama tidur lagi?" bisik Dinan geleng-geleng kepala melihat putrinya digendong bak putri raja.

​"Kebiasaan, Tante. Kena hujan dikit langsung ketiduran di mobil," sahut Askara pelan, berusaha tidak membuat pergerakannya memicu bangunnya Nadira.

​"Bawa ke kamarnya aja langsung, Ka," kata Doni tersenyum hangat. "Gantian kamu yang capek gara-gara anak ini."

​"Enggak capek kok, Om. Askara permisi ke atas dulu ya."

​Askara melangkah menaiki tangga rumah yang sudah sangat ia hafal luar kepala. Nadeo mengikutinya dari belakang untuk membukakan pintu kamar Nadira.

​"Gila ya si Mbak, udah umur mau tiga puluh masih aja di papah-dipeluk kayak bayi," bisik Nadeo terkekeh pelan di depan pintu kamar. "Mas Ka emang calon suami tersabar se-alam semesta."

​Askara hanya tersenyum tipis. Ia melangkah masuk ke kamar bernuansa krem itu, membaringkan tubuh Nadira di atas kasur dengan amat sangat hati-hati. Ia melepas sandal pink dari kaki Nadira, lalu menarik selimut tebal hingga menutupi dada wanita itu.

​Sebelum berbalik pergi, Askara menunduk perlahan. Di bawah remang lampu kamar, ia mendaratkan sebuah kecupan lembut yang hangat di dahi Nadira—sebuah kecupan yang menyimpan seluruh rasa cinta, kesabaran, dan janji masa depan mereka.

​"Selamat tidur, Calon Istri," bisik Askara lembut di telinga Nadira, sebelum akhirnya melangkah keluar ruangan.

1
Enz99
bagus
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak 🙏🙏🙏
total 1 replies
Azizah az
ikutan disini Thor ☺️🤗
Fitra Sari
lanjut lagi KK 🙏🥰
N07
New reader nie Thor. Suka sama gaya berceritanya, susunan kata & tanda baca juga rapi jadi enak bacanya. Semoga ceritanya juga menarik sampe ending ga bertele2.
mak mak doyan novel
nah gini kan adem.. g ada gengsi yg tinggi lgi
mak mak doyan novel
ini mah calon suami idaman
mak mak doyan novel
udah ya nad gengsinya.. semua dukung kmu sama aska
Fitra Sari
lanjut KK sampe halal 🥰
Ariska Kamisa: terimakasih kak🙏🙏
aku jadi semangat nih...
total 1 replies
umie chaby_ba
lanjut thor
umie chaby_ba
ceritanya ringan, dan bagus...
semangat terus thor...
/Heart/
Ariska Kamisa: terimakasih banyak ya kakak♥️
total 1 replies
English Lesson
Bagus👍🏻👍🏻
Ariska Kamisa: terimakasih banyak kak🙏
total 1 replies
umie chaby_ba
waduh... askara serem juga...
umie chaby_ba
lah aska mah lemah banget ngambek bentaran doang... 🤣
umie chaby_ba
hayo loh ...
umie chaby_ba
nadira ngeselin ih... malah cerita lagi udah tahu suasananya lagi ga beres malah cerita
mak mak doyan novel: setuju..
ngeselin bgt dia
total 1 replies
umie chaby_ba
nah kan... bukan orang biasa aja yang ujug-ujug dateng. pasti ada maksud terselubung 🤭
umie chaby_ba
mode protektif nih🤭
umie chaby_ba
dih... bisa aja brondong... bahaya banget nih... nanti nadira tergoda lagi, kesempatan banget buat nadira malah ini mah...🤭
Ariska Kamisa: ♥️♥️♥️♥️♥️
total 1 replies
umie chaby_ba
kagak inget umur banget si nad sumpah 30 tahun masih begitu, askara lo sabarnya kebangetan ini mah !!!
umie chaby_ba
sumpah nadia ini ngeselin! main nuduh penjahat kelamin lagi🤣🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!