Zia Clarissa Humaira, seorang santriwati cerdas dan cantik, setia pada janji perjodohan yang diatur oleh sang kiai dengan seorang santri senior kepercayaan pesantren. Zia percaya perjodohan ini akan berakhir indah. Namun, janji itu runtuh saat ia mendapati sang lelaki diam-diam mencintai wanita lain yang ternyata sahabat dekatnya sendiri. Tanpa pernah ada kata selesai, Zia dibuang dalam keheningan dan digantung tanpa kepastian.
Saat ia mengira dunianya telah usai, takdir menuntunnya pada sosok yang tak pernah ia perhitungkan sebelumnya. Seorang lelaki yang selama ini memendam rasa dalam senyap, kini maju memasang badan untuk membalut luka Zia.
Akankah kehadiran lelaki misterius ini mampu meruntuhkan trauma masa lalu Zia dan mengembalikan senyumnya yang sempat hilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Emma Alhabsyi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DZ~15
Setelah beberapa saat memilih bertahan, akhirnya pertahanan hati Zia runtuh. Ia tak sanggup melihat pemandangan yang bahkan belum pernah ia lakukan bersama Charis, dan kini ia harus menyaksikannya bersama orang lain yang tak lain adalah sahabatnya sendiri.
Dalam hati, Zia sangat ingin menghampiri mereka untuk bertanya langsung agar tidak menjadi kesalahpahaman. Namun di sisi lain, ia takut Salsa akan merasa canggung kepadanya.
Setelah berpikir panjang, ia akhirnya memilih pergi dengan hati yang teramat sakit. Air matanya mengalir deras mengiringi langkah kakinya yang setengah berlari menuju kamar.
Begitu berhasil menjauh dari halaman, langkah Zia tiba-tiba terhenti. Ia tertangkap basah oleh Sinta yang kebetulan lewat. Zia tidak bisa menghindar karena Sinta sudah terlanjur melihat air matanya.
"Zi, kamu kenapa kok nangis?" tanya Sinta khawatir sambil memegang pundak Zia.
"Enggak apa-apa kok, Sin," jawab Zia mencoba mengalihkan perhatian.
Sinta menggeleng, perasaannya sudah tidak enak. Dengan nada sedikit tinggi ia mendesak. "Aku enggak percaya, Zi. Di mana Mbak Salsa? Kamu tadi sama dia, kan?"
Zia hanya diam dan terus menangis tanpa kata. Melihat kondisi sahabatnya, emosi Sinta mulai memuncak. Kecurigaannya terhadap Salsa semakin kuat. "Kamu pulang ke kamar sekarang. Biar aku yang urus," tegas Sinta.
Zia mencoba menahan tangan Sinta yang hendak melangkah menghampiri Salsa. Namun, Sinta menepis genggaman itu dan langsung berbalik pergi tanpa menghiraukan Zia.
Ketika sampai di tepi halaman dan melihat pemandangan di depan matanya, tangan Sinta mengepal kuat. Emosinya berada di ubun-ubun. Ia hendak melangkah maju, tetapi lengannya kembali ditahan oleh Zia yang menyusulnya dengan napas terengah-engah.
"Sin, udah, stop. Jangan sekarang, biarin aja," pinta Zia lemas dengan mata yang sudah sembap.
"Aku enggak bisa lihat kamu diginiin, Zi!" paksa Sinta.
"Udah, aku enggak apa-apa. Kita balik saja." Zia segera menarik tangan Sinta untuk pergi dari sana. Ia tidak ingin ada keributan yang nantinya merusak persahabatan mereka dengan Salsa.
***
"Sudah, Mas, sudah. Sudah bersih kok," pinta Salsa.
"Bentar, masih kotor nih." Charis tetap menyapu bagian lantai yang dirasanya belum bersih.
"Sudah, Mas, cukup." Setelah memastikan semuanya benar-benar bersih, Salsa menarik lembut ujung sapu untuk menghentikan gerakan laki-laki itu.
Salsa tersenyum melihat Charis yang tampak kelelahan.
"Capek juga ya ternyata nyapu halaman seluas ini," keluh Charis dengan napas yang tersengal-sengal.
"Ya iyalah capek. Biasanya saya ngerjain berdua, sekarang Mas Charis sendirian."
"Iya, sih. Eh, memangnya Zia ke mana? Kok enggak nyusul kamu? Bukannya tadi pamitnya cuma sebentar ya?" tanya Charis heran. Tidak biasanya Zia tidak menepati janji."
"Enggak tahu deh, mungkin nyangkut di dapur kali," canda Salsa. "Ya sudah, Mas. Terima kasih ya."
"Iya, sama-sama," jawab Charis sambil menyerahkan sapu yang dipegangnya.
Keduanya melangkah pergi berlawanan arah. Namun, dengan hati yang masih diselimuti rasa bersalah atas luka di tangan Salsa, Charis mendadak menghentikan langkahnya. Ia berbalik dan memanggil Salsa yang baru berjalan beberapa langkah di depannya. "Eh, Mbak. Kalau butuh apa-apa, kabari aku ya," ucap Charis kikuk dan salah tingkah.
Salsa sempat termangu bingung, lalu mengangguk pelan. "Insya Allah, Mas."
"Oke, permisi." Keduanya kembali melanjutkan langkah masing-masing.
Di dalam hati, Charis menyimpan beribu pertanyaan atas gejolak yang baru saja ia rasakan. "Ya Allah, perasaan apa ini? Kenapa saya tidak pernah merasakan hal sebahagia dan senyaman ini sebelumnya? batinnya lirih.
Sementara itu, Salsa berjalan dengan pikiran yang melayang pada kejadian beberapa menit lalu. Momen hangat itu terasa sangat membekas di lubuk hatinya.
Keduanya sama-sama bingung dengan perasaan yang tiba-tiba hadir apakah itu hanya rasa bersalah, atau benih cinta yang perlahan tumbuh. Tanpa mereka sadari, ada hati Zia yang sudah terlanjur hancur berkeping-keping akibat kejadian tadi.
***
Setelah ketegangan panjang di jalan, Zia dan Sinta akhirnya tiba di kamar. Zia berdiri di depan cermin, menatap matanya yang kini sudah bengkak seperti mata panda. Setelah emosinya sedikit mereda, ia mencoba berbicara kepada Sinta sebelum hal buruk terjadi.
"Sin," panggil Zia lirih.
"Hem, apa, Zi?"
"Tolong jangan bilang ke Mbak Salsa ya kalau kita lihat mereka tadi. Aku enggak mau ada salah paham antara aku, Mas Charis, dan Mbak Salsa. Toh, kita cuma lihat sekilas dan enggak tahu cerita sebenarnya," ujar Zia mencoba tersenyum, berusaha tegar menata hatinya yang runtuh.
Sinta menatap sahabatnya dengan iba. "Kamu enggak tahu, Zi. Tapi aku juga enggak mungkin kasih tahu kamu sekarang, momennya belum pas," batin Sinta.
"Tapi, Zi, ke—"
Ucapan Sinta langsung dipotong oleh Zia. "Tolong, Sin. Bantu aku."
Dengan wajah melas dan tangan yang memohon dengan tulus, Sinta akhirnya tidak tega untuk menolak. Ia menghela napas panjang.
"Huft... insyaallah."
"Terima kasih Sinta, kamu memang sahabatku yang paling baik," puji Zia lega.
"Aku yakin kok, itu tadi cuma bentuk rasa bersalahnya Mas Charis aja ke Mbak Salsa."
"Semoga aja," ketus Sinta, sedikit kesal dengan kebaikan sahabatnya yang terlalu berlebihan.
"Assalamualaikum," sapa Salsa yang tiba-tiba membuka pintu kamar.
"Waalaikumsalam," jawab Zia dengan ekspresi wajah yang dibuat seolah tidak terjadi apa-apa, sementara Sinta hanya menyahut dengan nada ketus.
"Zi, kok tadi enggak nyusul sih?" tanya Salsa.
"Eh, iya. Tadi aku kebelet banget jadi langsung ke kamar mandi. Maaf ya enggak jadi nyusul kamu," kilah Zia mencoba mencari alasan.
"Oh, iya enggak apa-apa kok," jawab Salsa santai.
Di sudut kamar, hati Sinta sudah sangat dongkol dan emosinya hampir meledak. Demi memenuhi janjinya pada Zia, ia memilih untuk segera bangkit dan keluar dari kamar sebelum mendengar lebih banyak cerita dari mulut Salsa.
Sementara Salsa segera duduk dan meluruskan kakinya, Zia mencoba mengalihkan pandangan agar tetap tenang. Ia menyibukkan diri dengan membuka sebuah buku, beralih ke buku lainnya, lalu hanya membalik-balik halaman tanpa suara selama beberapa menit.
"Jangan marah, Zia. Jangan. Kamu cuma salah paham. Oke," batinnya, bersama setetes air mata yang tak kunjung berhenti. Ia sama sekali tidak ingin Salsa melihatnya menangis.
Salsa merasa ada yang aneh dengan tingkah sahabatnya. Tidak biasanya Zia diam seribu bahasa seperti ini. Ia pun langsung bertanya.
"Zi?" panggil Salsa lirih. "Iya, Mbak Sal," sahut Zia tanpa menoleh.
"Hadap sini bentar, deh. Aku mau bicara," ajak Salsa, rasa curiganya kini sudah membubung tinggi.
Zia tetap bergeming. Sesekali ia menyeka air mata yang tidak bisa lagi ia bendung.
Didorong rasa khawatir yang besar, Salsa bergerak maju mendekati Zia. Ia membalikkan tubuh sahabatnya itu menghadap cermin. Di sana, pantulan wajah Zia terlihat begitu rapuh dengan air mata yang menetes dan mata yang sudah sembap.
Zia tidak bisa menolak tarikan tangan Salsa, hingga akhirnya mereka saling berhadapan.
Salsa kaget melihat kondisi Zia. Dengan lembut, ia mengajak Zia duduk di lantai agar mereka bisa berbincang dengan lebih tenang.
"Zi, jujur sama aku, kamu kenapa?" tanya Salsa sambil memegang pundak Zia. Ia sama sekali belum menaruh curiga pada kejadian di halaman tadi.
"Aku enggak mungkin bilang sejujurnya, tapi aku juga enggak mau terus-menerus salah paham," bisik Zia dalam hati.
Setelah menimbang-nimbang perasaan yang berkecamuk, ia akhirnya memberanikan diri untuk meluruskan keadaan. "Mbak Sal... maaf, tadi aku lihat semua kejadian di halaman," ujar Zia sambil menunduk.
Mendengar pengakuan itu, Salsa sontak terkejut. Ia segera mencari cara untuk menjelaskan agar tidak terjadi kesalahpahaman yang berlarut-larut.
"Astaghfirullahalazim, Zi. Kamu cemburu? Aku enggak ngapa-ngapain. Dia cuma bantu aku karena merasa bersalah, udah itu aja," jelas Salsa mencoba meyakinkan.
Aku kan udah bilang, aku enggak mungkin macam-macam sama Mas Charis. Aku tahu batasannya. Dia itu sayangnya sama kamu, Zia. Tadi dia menemaniku juga karena dia tahu kalau aku sedang bersamamu, tapi kamu malah pergi. Jadinya dia menunggumu sebenarnya. Kami enggak tahu kalau kamu sudah datang dan telanjur salah sangka. Jadi aku jelasin sekali lagi, kami enggak ngapa-ngapain. Oke? Percaya sama aku." Salsa menjelaskan panjang lebar.
Mendengar penjelasan itu, hati Zia melunak. Kalimat "Sebenarnya dia nungguin Zia karena dia tahu Zia bakal menyusul" benar-benar meresap ke dalam benaknya. Kalimat sederhana itu seketika melenyapkan seluruh rasa curiga yang sempat menggunung.
"Iya, maafin aku karena sudah salah paham sama kalian."
Keduanya pun langsung berpelukan dengan sangat hangat.
"Ingat kata-kataku ya, Zi. Perhatian dia ke aku itu hanya karena rasa bersalah, tidak lebih dari itu. Oke?" Salsa kembali meyakinkan Zia, meski di dalam lubuk hatinya yang terdalam sebuah bisikan kembali mengusik, "Astaghfirullah, sadar Sal, sadar."
"Iya, Mbak. Aku paham, kok. Makasih ya sudah menyadarkan aku."
"Aku yang minta maaf karena sudah bikin kamu salah paham."
Keduanya larut dalam pelukan persahabatan yang hangat, menyudahi drama salah paham yang sempat menegangkan perasaan mereka beberapa menit lalu.
Ini buku pertama author Emma Alhabsy yng aq baca