NovelToon NovelToon
Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Menyusui Anak Sang Komandan yang Dingin

Status: sedang berlangsung
Genre:Janda / Menikahi tentara / Ibu susu
Popularitas:171
Nilai: 5
Nama Author: Dewi Sari

Suaminya gugur di medan tugas. Belum genap setahun jadi janda, Laras sudah harus menelan pahit: ibu dan adiknya sendiri menguras habis santunan, sementara bayi perempuannya, Nala, cuma bisa disambung hidup dengan air tajin di kampung.

Satu-satunya yang ia punya hanyalah air susu—dan tangan yang bisa menyulap beras seadanya jadi masakan sewangi surga.

Maka ketika seorang Letnan Kolonel berwajah dingin membutuhkan **ibu susuan** untuk bayi yatim yang hanya mau menyusu padanya, Laras menelan semua gunjingan tetangga dan masuk ke rumah dinas Danyon Bima Prakoso.

Kata orang, Sang Danyon itu keras, irit bicara, tak tersentuh.
Hanya Laras yang tahu: setiap fitnah yang dilempar padanya, diam-diam sudah ditahan lelaki itu di belakang punggungnya.

Dari dapur umum yang bikin satu batalyon terpana, sampai piring-piring yang menaklukkan para jenderal—Laras membalikkan keadaan, satu masakan demi satu masakan, menampar semua mulut yang pernah memandangnya rendah.

Tapi bayi yang ia besarkan dengan air susunya sendiri… menyimpan sebuah rahasia yang dijaga negara selama bertahun-tahun.
Dan hati Sang Danyon yang dingin itu, ternyata sudah lama hangat—hanya untuknya.

*"Kamu boleh jaga nama baikmu. Tapi malam ini, biar aku yang jaga kamu."*

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dewi Sari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31

Bab 31

Biar Aku yang Urus

“Nama Laras,” jawab Bima.

Parjo menoleh kepada Laras. “Bu Guru setuju?”

Laras membaca telegram sekali lagi. Tiga masakan dalam satu jam, bahan undian, dan lawan dari seluruh satuan Korem. Kesempatan itu bisa menguatkan posisinya, tetapi juga membuka lebih banyak mata untuk menilai setiap kesalahan.

“Saya ikut,” katanya. “Tapi Bapak tetap ketua dapur.”

“Kalau saya yang berdiri di depan juri, Kolonel bisa melempar kotak rendang ke kepala saya.”

Bima mengambil formulir. “Tim berisi tiga orang. Laras penanggung jawab rasa, Parjo pelaksana, satu pembantu dipilih berdasarkan latihan.”

“Komandan tidak ikut mencicipi?” tanya Laras.

“Aku bertugas memastikan kalian tidak meracuni juri.”

Parjo tertawa. “Kalau Bu Guru masak, Komandan yang paling rajin mencicipi.”

Bima memandangnya sampai tawa itu berhenti.

Malam harinya, Laras mencoba resep bubur bayi di dapur kecil belakang rumah. Satya kini mulai mengenal tekstur lebih padat. Ia merebus beras sampai pecah, menambahkan labu kukus, lalu mencampurkan sedikit kaldu ayam tanpa garam.

Bima pulang ketika Laras sedang meniup satu sendok.

“Untuk lomba?” tanyanya.

“Kalau juri berusia tujuh bulan.”

Satya membuka mulut sebelum sendok mendekat. Laras tertawa dan memberinya sedikit. Bayi itu mengunyah dengan gusi, lalu memukul meja meminta lagi.

Bima mengambil sendok lain dan mencicipi dari panci.

“Kurang garam.”

“Karena bukan untuk Komandan.”

“Teksturnya bagus.”

Laras menatapnya. “Komandan mengerti tekstur bubur bayi?”

“Aku belajar karena dulu Satya menolak semua makanan.”

Ada bagian masa lalu yang tidak dijelaskan. Laras membiarkannya.

“Nala bagaimana?” tanya Bima.

“Demamnya sudah hilang. Dia mulai mau bubur, tapi Mbah Inah makin sulit menggendong.”

“Kau masih ingin membawanya ke sini?”

“Setiap hari.”

Laras mengaduk bubur pelan. “Tapi kamar ini milik rumah dinas Komandan. Saya sudah membawa diri sendiri, lalu Satya menjadi tanggung jawab saya. Kalau Nala ikut, orang akan bilang saya menjadikan rumah ini milik keluarga saya.”

“Kau staf konsumsi, bukan pengasuh lagi.”

“Saya tetap ibu susuan Satya.”

“Keduanya bisa benar.” Bima bersandar di meja. “Kontrakmu memberi hak tempat tinggal sementara karena tugas perawatan. Anak di bawah tanggunganmu dapat didaftarkan sebagai penghuni ikut selama ada persetujuan komando dan pemeriksaan kesehatan.”

Laras berhenti mengaduk. “Ada aturan seperti itu?”

“Ada. Jarang dipakai.”

“Pak Dibyo akan menolak.”

“Dia bukan satu-satunya yang menandatangani.”

“Bu Ratna akan membuat keributan.”

“Biarkan.”

“Komandan bicara seolah semuanya mudah.”

Bima mengambil panci dari tangannya sebelum bubur di dasar menjadi terlalu kental. “Tidak mudah. Tapi bukan berarti kau harus mengerjakannya sendirian.”

Ia menatap Laras.

“Biar aku yang urus.”

“Dengan uang siapa?”

Pertanyaan itu membuat Bima mengernyit.

Laras mengeluarkan pemberitahuan honor dari dompet kain. “Saya sudah tahu susu Nala, obat, dan bantuan lain selama ini berasal dari tunjangan Komandan.”

Bima melirik ke arah depan rumah. “Iwan.”

“Jangan salahkan dia. Saya bertanya.”

“Keluarga Wahyu berhak dibantu.”

“Hak dari negara berbeda dengan uang Komandan.”

“Kekurangannya tidak besar.”

“Besar bagi saya.” Laras menatapnya tanpa berkedip. “Kenapa tidak pernah bilang?”

“Kalau kubilang, kau akan menolak.”

“Benar.”

“Karena itu aku tidak bilang.”

Jawaban tanpa rasa bersalah itu membuat Laras hampir marah, tetapi ia melihat kesungguhan di wajahnya.

“Saya tidak mau dikasihani.”

“Aku tidak mengasihanimu. Aku memastikan dua anak prajurit tidak kekurangan makan.” Bima berhenti, lalu menambahkan, “Dan aku ingin Nala sehat karena kau tidak akan pernah tenang kalau dia sakit.”

Laras tidak punya bantahan.

Bima melanjutkan dengan suara lebih rendah. “Setelah honor berjalan, bantuan untukmu berhenti. Paket Nala masuk program keluarga Wahyu. Bagian pribadiku tetap tanpa nama. Kau tidak punya utang kepadaku.”

Justru karena ia mengatakan tidak ada utang, Laras merasa hatinya semakin berat.

Empat kata itu sederhana. Tidak ada janji besar, tidak ada kertas kosong yang menuntut balasan. Namun jantung Laras berdetak begitu keras sampai ia takut Bima mendengarnya.

Laki-laki di depannya masih mengenakan kaus dalam setelah mengganti seragam. Lengan dan bahunya tampak lebih lebar di bawah lampu dapur. Ada bekas luka tipis dekat siku, juga tepung bubur yang menempel di jari karena tadi menyentuh panci.

Untuk pertama kalinya Laras membiarkan satu pikiran jujur muncul tanpa segera menolaknya.

Bima tampan.

Sangat tampan.

Satya memukul meja dan berteriak, memecah keheningan.

Laras cepat mengambil mangkuk. “Anak Komandan protes karena buburnya dibawa.”

“Anak kita sedang rakus.”

Bima membeku setelah mengucapkannya.

Laras juga.

Satya tidak peduli. Ia hanya membuka mulut lebar-lebar.

Bima berdeham dan meletakkan panci. “Maksudku, anak yang kita rawat.”

“Saya tidak bertanya.”

Telinga laki-laki itu memerah.

Keesokan pagi, Parjo menyerahkan formulir pendaftaran. Nama Laras tertulis paling atas, diikuti dirinya dan seorang pembantu bernama Darto.

“Sudah dikirim,” katanya. “Tidak bisa mundur.”

Bu Wati menunggu di bawah pohon dekat dapur dengan salinan aturan lomba yang diperoleh dari Persit Korem.

“Setiap tim akan mengambil undian bahan saat waktu dimulai,” jelasnya. “Harus membuat tiga hidangan dalam enam puluh menit. Tidak boleh membawa bumbu jadi, hanya pisau pribadi dan alat dasar.”

“Jenis bahannya?” tanya Laras.

“Bisa ayam, ikan, jeroan, sayur apa pun. Kabarnya mereka sengaja memilih bahan yang tidak disukai orang.”

Parjo menggaruk kepala. “Kalau dapat batu?”

“Bapak rebus sampai empuk,” jawab Laras.

Mereka tertawa, tetapi Laras menggenggam aturan itu erat.

Dua minggu untuk berlatih menghadapi bahan apa pun.

Hari pertama latihan, Parjo menutup mata dan memilih tiga bahan dari gudang: ikan kecil, jantung pisang, dan singkong. Laras membagi waktu menjadi lima menit membersihkan, tiga puluh lima menit memasak, lima belas menit menata, dan lima menit cadangan.

Hasil pertama buruk. Darto terlambat menyalakan tungku, Parjo salah mengambil gula, dan singkong belum empuk ketika waktu habis.

“Kalau ini lomba, kita pulang membawa panci kosong,” kata Parjo.

Laras mencatat semua kesalahan. “Besok ulangi.”

Hari kedua mereka mendapat ayam tua, daun pepaya, dan terong. Laras memakai daun jambu untuk membantu mengurangi pahit, merebus ayam lebih dulu dengan potongan kecil, lalu memakai kaldu yang sama untuk sayur. Mereka selesai dua menit sebelum batas.

Hari ketiga, Bu Wati membawa ikan sungai dan labu siam tanpa memberi tahu sebelumnya. Laras menyiapkan tiga menu berbeda dalam kepalanya sebelum pisau menyentuh talenan.

Bima menonton dari pintu dengan izin akses tergantung di leher. Aturan baru berlaku juga untuk dirinya.

“Kenapa Komandan pakai kartu tamu?” tanya Parjo.

“Supaya orang yang membuat aturan tidak menjadi orang pertama yang melanggarnya.”

Laras menyembunyikan senyum sambil membelah ikan.

Di dompet kainnya, salinan permohonan tempat tinggal Nala sudah mulai disiapkan oleh tangan Bima, tanpa janji kosong sedikit pun.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!