Sari Wulandari bangun di dalam kain kafan, lalu mendengar suaminya menikahi cinta lama di hari yang sama. Setelah puluhan tahun menjadi istri, ibu, dan penopang keluarga, ia memilih menggugat cerai dan membangun ulang hidupnya dari kios kecil serta kebun yang hampir direbut orang. Saat anak perempuannya juga terjebak pernikahan beracun, Sari belajar melawan dengan bukti, bukan air mata. Di tengah luka lama, Arman Pradipta datang membawa perlindungan, rahasia, dan cinta yang tak pernah ia duga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nilam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15
Bab 015: Pesanan dari Grup Besar
Sari tidak pulang setelah satu jam.
Bukan karena Arman memintanya tinggal, melainkan karena Lintang menghabiskan setengah piring nasi, tiga potong ayam suwir, dua iris mentimun, dan satu mangkuk kecil sup selama Sari duduk di sampingnya sambil bercerita tentang anggur yang rewel kalau terlalu banyak hujan.
"Anggur bisa rewel?" tanya Lintang.
"Bisa. Daunnya kelihatan kuat, tapi salah dirawat sedikit langsung rusak."
"Seperti aku?"
Sendok Arman berhenti di udara. Dini yang berdiri dekat pintu ikut kaku.
Sari tidak menunjukkan kaget. Ia mengambil tisu, mengelap sedikit kuah di dekat piring Lintang, lalu berkata, "Kamu bukan rewel. Kamu anak kecil."
Lintang menunduk.
"Anak kecil boleh tidak kuat. Orang dewasa yang harus mencari cara."
Lintang menyuap lagi, kecil tetapi sukarela. Arman menatap Sari dengan wajah yang tidak mudah dibaca. Sari pura-pura sibuk merapikan tisu.
Setelah makan, Sari meminta izin melihat halaman belakang. Lututnya memang kaku, tetapi alasan sebenarnya lebih sederhana: ia ingin tahu seperti apa rumah yang membuat anak sekecil Lintang makan dengan takut.
Rumah Arman besar, bersih, dan sangat teratur. Sofa tidak bergeser, vas bunga tidak berdebu, lantai mengilap. Namun tidak ada bekas krayon di meja, tidak ada mainan tertinggal sembarangan, tidak ada suara anak selain langkah pelayan yang sengaja dipelankan.
Di sudut ruang keluarga ada rak mainan mahal yang hampir terlalu rapi. Boneka berbaris menurut ukuran, puzzle masih dalam kotak, buku cerita tertata seperti pajangan toko. Sari berhenti sebentar di depan rak itu. Rumah yang punya anak kecil seharusnya punya sedikit berantakan. Kalau semuanya bersih, biasanya ada seseorang yang terlalu sering melarang.
Dini mengikuti dari jarak dekat.
"Bu Sari," katanya di dekat kolam ikan, "terima kasih sudah membantu. Tapi Lintang memang begitu. Kalau tidak dituruti, diam. Kalau dipaksa, menangis. Anak orang kaya kadang terlalu manja."
Sari menatap ikan koi di kolam. "Anak manja biasanya berani meminta. Lintang tidak."
Senyum Dini menipis. "Ibu baru kenal sebentar. Saya yang mengurus dia setiap hari."
"Itu yang membuat saya bertanya."
"Maksud Ibu?"
Sari menoleh. "Kalau kamu mengurus dia setiap hari, kenapa dia makan seperti takut dilihat?"
Wajah Dini berubah sepersekian detik. Cepat, tetapi cukup.
"Mungkin dia malu."
"Pemalu tidak sama dengan takut."
Dini menggenggam tangan di depan perut. Ia hendak membalas, tetapi Arman keluar dari ruang kerja dan suasana langsung berubah. Perempuan itu menunduk, terlalu cepat menjadi sopan.
"Bu Sari," kata Arman, "saya harus menyelesaikan urusan sebentar. Darto akan mengantar Ibu pulang."
"Saya bisa pesan mobil."
"Bisa. Tapi Darto sudah siap, dan saya lebih tenang kalau Ibu tidak pulang sendiri."
Sari menatapnya. Ia ingin menolak, tetapi lututnya perih dan hari sudah bergerak sore. "Baik. Tapi lain kali jangan membuat bantuan terasa seperti keputusan rapat."
Arman mengangguk. "Saya ingat."
Saat Sari hendak pergi, Lintang berlari kecil dari ruang keluarga. Ia berhenti beberapa langkah dari Sari, seperti takut dianggap terlalu berani.
"Tante pulang?"
"Iya. Kios Tante bisa menangis kalau ditinggal lama."
"Besok datang?"
Sari berjongkok pelan, menahan nyeri lutut. "Tante tidak janji. Tapi Pak Arman bisa kirim kabar."
Lintang menatap lantai. "Kalau aku makan, Tante datang?"
Dada Sari terasa tertarik. Anak ini sedang membuat perjanjian dengan cara yang terlalu sedih.
Sari tidak menyentuh kepala Lintang. Ia hanya menyentuh ujung meja kecil di samping.
"Kamu makan bukan untuk Tante. Kamu makan supaya badanmu kuat. Kalau badanmu kuat, nanti kamu bisa datang ke kebun dan pilih buah sendiri."
Mata Lintang sedikit terang. "Anggur rewel?"
"Iya. Kamu boleh lihat anggur rewel."
Di mobil, Darto menyetir tanpa banyak bicara. Hampir sampai kios, ia baru membuka suara.
"Bu Sari."
"Ya?"
"Sejak non Lintang sakit setelah orang tuanya meninggal, Pak Arman tidak pernah setenang tadi."
Sari menoleh. Darto tetap melihat jalan.
"Beliau orang baik. Tapi terlalu lama percaya bahwa uang bisa menyediakan semua bantuan."
"Pak Darto sudah lima belas tahun bekerja dengan dia, kan?"
Darto mengangguk.
"Berarti Pak Darto juga terlalu lama diam."
Mobil mendadak sunyi. Darto menerima teguran itu tanpa membela diri.
"Iya, Bu. Seharusnya saya lebih cepat bicara."
Sari tidak menambah apa pun.
Teguran itu cukup. Ada hal-hal yang tidak perlu dipukul dua kali agar terasa sakit.
Setibanya di kios, Ayu langsung menyerbu dengan mata penuh rasa ingin tahu.
"Bagaimana rumahnya?"
"Besar."
"Pak Arman?"
"Juga besar tanggungannya."
Ayu mengerjap, lalu tertawa. "Saya kira Ibu mau bilang hal lain."
"Stok roti sudah dicek?"
"Sudah. Jangan mengalihkan."
"Saya bosmu."
"Iya, Bu."
Sari duduk di kursi kasir dan membuka buku catatan. Baru beberapa menit, ponselnya berbunyi. Bu Maya menelepon dari kebun.
"Bu, ada orang Pradipta Group datang. Bukan soal beli tanah. Katanya mau pesan buah untuk paket karyawan."
Sari menegakkan punggung. "Siapa yang datang?"
"Dua orang procurement. Bawa surat resmi, ada kop perusahaan. Jumlahnya banyak, Bu. Saya belum kasih jawaban."
"Minta mereka kirim proposal ke email. Tidak ada pembicaraan lisan. Harga sesuai kualitas, DP minimal tiga puluh persen, jadwal panen realistis, transportasi dihitung terpisah."
Bu Maya tertawa. "Siap. Saya sampaikan."
Ayu sudah berdiri di samping meja. "Pesanan besar?"
"Mungkin."
"Dari Pak Arman?"
"Dari perusahaannya."
"Bedanya tipis."
"Bedanya penting."
Setengah jam kemudian, proposal masuk. Jumlah pesanan membuat Ayu menutup mulut. Lengkeng premium, anggur, paket campur untuk hampers karyawan, pengiriman bertahap, opsi kartu ucapan perusahaan. Sari tidak ikut mabuk angka. Ia menghitung stok kebun, jadwal panen, biaya sortir, kotak kemasan, tenaga kerja, dan sewa cold storage kecil.
Saat bekerja, wajahnya berubah. Bukan wajah mantan istri yang baru mempermalukan suami di resepsi, bukan wajah perempuan yang bangun dari kafan. Ini wajah pedagang yang tahu setiap rupiah punya arah dan setiap kesalahan punya biaya.
Ia meminta Ayu menghubungi Bu Maya untuk mengecek ulang stok peti, lalu menulis daftar pekerja tambahan yang bisa dipanggil saat sortir. Pesanan besar tidak boleh hanya membuat orang berteriak senang. Pesanan besar bisa membuat usaha kecil jatuh kalau diterima dengan kepala panas.
Sari mengirim penawaran resmi menjelang sore. Ia menurunkan jumlah pesanan tahap pertama, menaikkan standar sortir, dan menulis syarat DP tanpa basa-basi. Lima belas menit kemudian, balasan datang.
Disetujui untuk tahap pertama. Draft kontrak dan DP akan diproses setelah verifikasi legal supplier.
Ayu menjerit.
"Bu!"
"Jangan teriak. Anak sekolah nanti kira ada diskon."
"Ini lebih bagus dari diskon!"
Sari ingin tersenyum lebar, tetapi menahan diri. Kebahagiaan yang terlalu cepat sering membuat orang lupa memeriksa lantai.
Ponselnya bergetar.
Arman.
"Pak Arman," kata Sari setelah mengangkat.
"Bu Sari, saya baru diberi tahu procurement menghubungi kebun Ibu."
"Baru diberi tahu?"
Ada jeda pendek. "Saya menyarankan mereka mencari supplier lokal yang kualitasnya baik. Keputusan kontrak tetap di tim procurement."
"Saya tidak mau dibayar karena menyelamatkan Lintang."
"Saya tahu."
"Saya juga tidak mau harga dinaikkan karena kasihan."
"Saya tahu."
"Dan saya tidak mau kontrak yang membuat kebun saya kewalahan."
"Itu sebabnya jumlah dan jadwal saya serahkan pada Ibu."
Sari diam sebentar. Kali ini jawabannya tidak membuat ia ingin membantah.
"Baik. Saya jalankan sebagai kerja sama bisnis."
"Saya senang mendengarnya. Lintang makan sore. Dia bilang ingin melihat anggur rewel."
Sari menutup mata sebentar. Anak itu benar-benar meninggalkan jejak di mana-mana.
"Kalau kontrak tahap pertama berjalan lancar, mungkin dia bisa datang saat sortir buah. Tapi bukan sebagai alat negosiasi."
"Tentu."
"Dan Pak Arman?"
"Ya?"
"Pastikan pengasuhnya tidak ikut."
Suara Arman turun. "Saya mengerti."
Telepon selesai.
Pada jam yang sama, di rumah Prasetyo, Hendra menerima pesan bahwa salah satu klien lama menolak memperpanjang kontrak pabrik. Ia melempar ponsel ke sofa. Di televisi, berita bisnis lokal menampilkan program hampers karyawan Pradipta Group dari supplier UMKM.
Hendra belum memperhatikan.
Ia belum tahu salah satu supplier itu adalah perempuan yang baru saja ia anggap hanya mendapat kios kecil dan kebun tidak seberapa.
malu2in aja lu , raka🤣🤣🤣
kog bs beda2 yah ??