Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
vonis Malam Hari
Langkah-langkah kaki yang tegap dan berisik bergema di sepanjang jalanan beton desa yang basah. Pendar lampu merkuri dari tiang listrik di pinggir jalan memantulkan bayangan belasan orang yang berjalan beriringan.
Di barisan tengah, Devi melangkah dengan kepala tertunduk dalam-dalam. Setiap kali hembusan angin malam bertiup, seragam kemeja birunya yang masih basah melekat dingin di kulit, tetapi rasa dingin itu sama sekali tidak sebanding dengan rasa malu yang membakar seluruh tubuhnya.
Beberapa warga desa yang mendengar keributan mulai membuka jendela dan pintu rumah mereka. Wajah-wajah penuh rasa ingin tahu mengintip dari balik tirai. Bisik-bisik kasak-kusuk mulai terdengar, menyebar bagaikan api yang menyambar jerami kering.
"Ada apa itu?"
"Katanya ada yang tertangkap mesum di gubuk pinggir sawah ..."
"Astagfirullah, cewek yang baru kerja di pabrik itu ya?"
Setiap kata yang tertangkap oleh telinganya terasa bagaikan sembilu yang menyayat dada Devi. Air matanya terus menetes, menetes jatuh membasahi jalanan beton yang tergenang air. Ia merasa harga dirinya, nama baik keluarganya, serta seluruh perjuangannya selama ini dihancurkan dalam sekejap mata oleh sebuah tuduhan yang sama sekali tidak berdasar.
Sementara itu, di sampingnya, Devan berjalan dengan santai. Kedua tangannya dimasukkan ke dalam saku celana jins hitamnya yang robek. Pria itu tidak menundukkan kepala sedikit pun.
Wajahnya yang tegas menatap lurus ke depan, sesekali melirik ke arah kerumunan warga dengan pandangan yang sulit diartikan. Sikap acuh tak acuh dan kelewat tenang dari Devan justru makin menyulut amarah para warga yang mengarak mereka.
"Jalan yang benar! Jangan sok gagah kamu!" bentak Pak RT sambil mendorong pelan pundak Devan dari belakang.
Devan hanya menoleh sedikit, mengulas senyum tipis yang terkesan meremehkan, lalu melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sikapnya itu membuat Devi yang melihatnya dari sudut mata makin ingin menjerit karena frustrasi.
Tak berapa lama kemudian, rombongan pengarak itu tiba di balai desa. Bangunan beratap joglo dengan pilar-pilar kayu besar itu tampak terang benderang oleh sorotan lampu neon di langit-langitnya. Di dalam ruangan, beberapa tokoh masyarakat dan sesepuh desa sudah duduk di kursi kayu berukir, menanti kedatangan rombongan warga ronda dengan raut wajah yang sangat serius.
Di tengah-tengah ruangan, berdiri sebuah meja kayu panjang. Pak RT menyuruh Devi dan Devan berdiri tepat di depan meja tersebut, di hadapan Kepala Desa yang sedang duduk bersedekap dengan wajah penuh kewibawaan.
"Duduk atau berdiri di situ kalian!" perintah Pak RT tegas.
Devi gemetar hebat. Tubuhnya terasa begitu lemas hingga ia harus berpegangan pada tepi meja agar tidak jatuh pingsan. Suara isak tangisnya yang tertahan terdengar pilu di tengah keheningan balai desa yang mendadak mencekam.
Kepala Desa, seorang pria paruh baya bernama Pak Mulyono, memperbaiki posisi kacamata tebalnya. Matanya yang tajam menatap bergantian ke arah Devi yang berserah diri dalam tangis dan Devan yang berdiri tegap tanpa ekspresi bersalah.
"Pak RT, coba jelaskan secara singkat dan jelas. Apa yang sebenarnya terjadi sampai jam sembilan malam begini balai desa jadi ramai?" tanya Pak Mulyono dengan suara berat dan bergema.
Pak RT maju dua langkah, membusungkan dadanya dengan penuh keyakinan. "Begini, Pak Kades. Tadi saat tim ronda malam sedang patroli keliling di persawahan, kami mencurigai adanya pergerakan di gubuk kosong milik Pak Suwito. Saat kami dekati dan sorot dengan senter, ternyata dua orang ini sedang berduaan di dalam gubuk yang gelap gulita!"
"Gubuk itu gelap dan sepi, Pak!" timpal warga bertubuh gempal yang ikut menyergap. "Perempuan ini bahkan berada di bawah tubuh laki-laki ini ! Mereka berdua sudah mengotori desa kita dengan perbuatan yang tidak bermoral!"
"Nggak, Pak Kades! Demi Allah, itu semua bohong!" jerit Devi dengan sisa-sisa tenaga yang miliki. Ia berlutut di lantai semen yang dingin, menengadah menatap Pak Mulyono dengan mata yang sembap dan merah.
"Saya baru pulang kerja lembur dari pabrik, Pak! Hujan turun deras sekali dan tidak ada tempat berteduh lain selain gubuk itu. Saya sama sekali tidak tahu kalau di dalam gubuk sudah ada orang lain!"
"Lalu kenapa kamu ada di bawah tubuh laki-laki, itu kalau tidak ada hubungan apa-apa?!"
potong Pak RT dengan nada menyudutkan.
"Itu seperti yang terlihat, Pak! Ini hanya kecelakaan,kami benar -benar tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan !" jawab Devi terengah-engah, suaranya parau karena terlalu banyak menangis. "Kami bahkan tidak saling kenal! Kami baru berteduh tidak sampai lima belas menit sebelum warga datang! Tolong percaya sama saya, Pak Kades ..."
Pak Mulyono menghela napas panjang. Ia menatap Devi dengan pandangan prihatin, namun aturan dan tekanan sosial dari warga desa di belakangnya jauh lebih besar daripada rasa kasihan. Di desa yang masih memegang teguh adat dan norma keagamaan yang ketat, insiden berduaan di tempat gelap antara pria dan wanita yang bukan muhrim adalah sebuah pelanggaran berat yang mencoreng nama baik kampung.
"Laki-laki di sebelahmu ..." Pak Mulyono menunjuk Devan dengan pulpennya. "Siapa namamu? Dan apa pembelaanmu atas tuduhan warga ini?"
Suasana di balai desa mendadak menjadi sangat hening. Seluruh mata kini tertuju pada Devan. Devi menengadah, menatap Devan dengan tatapan mata yang dipenuhi harapan terakhir. ("Tolong ... kali ini aja, bicara yang benar. Katakan kalau kita tidak melakukan apa-apa,") batin Devi menjerit.
Devan berdeham pelan. Ia merapikan kerah kaus oblong hitamnya, membasahi bibirnya yang kering, lalu menatap Pak Mulyono secara lurus.
"Nama saya Devan, Pak," ucapnya dengan nada suara yang tenang, mantap, dan sama sekali tidak mencerminkan rasa takut. "Mengenai tuduhan warga..." Devan menggantung kalimatnya sejenak, melirik ke arah Devi yang sedang berlutut di bawahnya.
"Saya tidak punya pembelaan apa pun," lanjut Devan santai.
"Deg!"
Jantung Devi serasa copot dari tempatnya. Matanya membelalak lebar, tidak percaya dengan apa yang baru saja keluar dari mulut pria itu.
"Apa maksudmu tidak punya pembelaan?!" seru Pak Mulyono alisnya bertaut rapat.
Devan menyilangkan kedua tangannya di dada. "Warga sudah melihat kami di gubuk itu. Apapun yang saya katakan, mereka sudah terlanjur berprasangka buruk. Bagi mereka, berduaan di gubuk malam-malam sama dengan berbuat mesum. Jadi, untuk apa saya buang-buang energi buat berdebat?"
"Kamu ... kamu gila ya?!" teriak Devi histeris, berdiri secara mendadak dan memukul lengan Devan dengan papan klip kerja yang masih dipegangnya. "Kenapa kamu nggak membela diri?! Kenapa kamu malah makin bikin mereka percaya kalau kita berbuat jahat?! Kamu punya otak nggak sih?!"
Devan meringis pelan mengelus nafas lengannya yang dipukul Devi, namun wajahnya tetap tenang tanpa gejolak emosi. "Membela diri di depan orang yang cuma mau dengar apa yang mereka percaya itu sia-sia, Mbak . Lagian, makin kamu teriak-teriak, makin kamu kelihatan panik."
"Tuh kan! Dengar sendiri kan, Pak Kades?!" teriak warga ronda di barisan belakang. "Laki-lakinya aja sudah pasrah dan tidak membantah! Itu artinya tuduhan kita seratus persen benar! Mereka memang sudah melakukan hal tak senonoh di desa kita!"
Sorakan warga mulai bersahut-sahutan. Balai desa yang semula tenang kini berubah menjadi riuh oleh kemarahan warga yang merasa desa mereka telah ternoda.
"Nikahkan aja mereka,pak ."
"Usir mereka dari desa!"
"Jangan biarkan orang seperti mereka tinggal di sini!"
"Bikin sial kampung saja!"
Pak Mulyono memukul meja kayu beberapa kali menggunakan ketukan kayu untuk menenangkan massa.
"Brak! Brak! Brak!"
"Harap tenang semuanya! Harap tenang!" seru Pak Mulyono tegas.
Setelah suasana sedikit mereda, Pak Mulyono berdiri dari kursinya. Wajahnya tampak sangat keras dan tidak bisa diganggu gugat. Ia menatap Devi dan Devan secara bergantian, memberikan keputusan akhir yang sudah dipikirkannya matang-matang untuk meredam kemarahan warga.
"Di desa ini, kita punya aturan dan hukum adat yang sudah disepakati bersama sejak dulu," kata Pak Mulyono dengan suara membelah ruangan. "Barang siapa, pria dan wanita yang bukan muhrim, tertangkap basah berduaan di tempat gelap pada malam hari hingga menimbulkan fitnah dan mencoreng nama baik desa ..."
Pak Mulyono jeda sejenak, menatap tajam ke arah Devi.
"...Maka hanya ada dua pilihan. Pertama, kalian akan diarak tanpa busana keliling desa malam ini juga. Atau yang kedua... kalian berdua harus dinikahkan malam ini juga di balai desa ini!"
Jleb!
Bagaikan disambar petir di tengah malam, tubuh Devi membeku seketika.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja