"Selama ini Mama sendirian, Papa. Kai sering melihat Mama menangis... Kalau Kai di sini terus bersama Papa, siapa yang memeluk Mama?"
....
Demi melindungi keluarganya dari ancaman mertua yang kejam, Bening Azalea (29) memilih bungkam. Ia merelakan dirinya difitnah berselingkuh dan pergi membawa rahasia besar, janin berusia satu bulan di rahimnya.
Tujuh tahun berlalu, Bening berjuang mati-matian membesarkan putranya, Kaivandra Saputra, dalam kesederhanaan. Namun takdir kembali mempertemukannya dengan Gibran Aditama (33), sang mantan suami yang kini menjadi CEO sukses.
Tahu keberadaan cucunya, sang mantan mertua dengan culas menggunakan kekuasaan untuk merebut hak asuh Kai. Gibran yang awalnya dipenuhi kebencian, mulai terenyuh oleh keteguhan Bening dan kepolosan putra kecilnya.
Perlahan, kejujuran Kai meruntuhkan ego Gibran, membuka mata sang CEO bahwa ada kebenaran dan kebohongan besar yang tersimpan rapi di masa lalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5 #Kebenaran yang menuntut
Deru mesin mobil milik Gibran memecah keheningan jalanan menuju rumah Bening, sebelum akhirnya berhenti dengan decitan halus di pelataran rumah sederhana Bening. Tanpa menunggu Toni membukakan pintu untuknya seperti biasa, Gibran mendorong pintu mobil dengan kasar dan turun dengan langkah lebar yang memancarkan aura kemarahan yang dingin.
Dengan ketidaksabaran yang membakar dada, Gibran mengetuk pintu kayu rumah itu dengan keras.
Tok! Tok! Tok!
"Bening! Bening, buka pintunya!" panggil Gibran dengan suara berat yang menuntut.
Namun, tidak ada jawaban dari dalam. Suasana rumah itu sepi senyap. Gibran mengernyitkan dahi dalam saat menyadari bahwa daun pintu tersebut ternyata tidak terkunci rapat, melainkan sedikit renggang akibat kepanikan Bening beberapa jam lalu. Tanpa memikirkan etika lagi, Gibran mendorong pintu itu dan melangkah masuk begitu saja. Matanya mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan yang rapi meski sederhana itu. Tidak ada siapapun di sana. Keheningan itu justru membuat Gibran semakin frustrasi.
Tepat saat Gibran hendak berbalik untuk menyuruh Toni mencari tahu, suara langkah kaki terburu-buru terdengar dari arah luar. Sosok Erika muncul di ambang pintu, terengah-engah dengan wajah yang seketika memucat saat melihat siapa yang berdiri di dalam rumah sahabatnya.
"Pak... Pak Gibran?" bisik Erika tak percaya. Sebagai sahabat dekat Bening sejak dulu, Erika tentu sangat mengenal pria berkuasa di hadapannya ini, begitu pula sebaliknya.
Gibran langsung berbalik, menatap Erika dengan tatapan elang yang mengintimidasi. "Erika. Katakan kepadaku, ke mana Bening pergi? Di mana dia menyembunyikan anak itu?!"
Melihat kilat kemarahan di mata Gibran, Erika meneguk ludah dengan susah payah. Namun, rasa cemasnya sebagai manusia mengalahkan ketakutannya. "Bening... Bening sedang tidak ada di sini, Pak. Dia ada di Rumah Sakit Medika Sentosa sekarang."
"Rumah sakit?" Jantung Gibran mendadak berdesir aneh. Rasa amarahnya sedikit bergeser oleh rasa asing yang tidak nyaman. "Siapa yang sakit?"
"Kaivandra," jawab Erika lirih.
Tanpa menunggu pernyataan atau penjelasan lebih lanjut dari Erika, Gibran langsung berbalik dan melangkah seribu keluar dari rumah itu. Dia masuk kembali ke dalam mobil mewahnya dan membanting pintu. "Toni! Rumah Sakit Medika Sentosa. Sekarang! Melaju secepat yang kamu bisa!" perintah Gibran dengan nada suara yang bergetar akibat gejolak emosi.
Sementara itu, Erika yang ditinggalkan di teras rumah hanya bisa berdiri mematung dengan tubuh gemetar. Tujuan awalnya ke sini adalah atas permintaan Bening melalui telepon tadi untuk mengambil beberapa baju ganti Kaivandra yang tidak sempat dia bawa. Namun sekarang, kepanikan yang luar biasa mendadak menyerangnya. Dari kilat mata dan ketegangan yang ditunjukkan Gibran, Erika sangat yakin pria kaya itu sudah mengetahui bahwa Kaivan adalah putra kandungnya.
Dengan tangan yang gemetar hebat, Erika buru-buru merogoh ponselnya dari dalam saku, mencoba menghubungi nomor Bening untuk memberikan peringatan. Namun, setelah beberapa kali mencoba, panggilan itu tetap tidak tersambung.
"Astaga, Bening... kenapa ponselmu tidak aktif di saat seperti ini?" gumam Erika panik, hatinya dipenuhi firasat buruk tentang apa yang akan terjadi di rumah sakit nanti.
...
Di Rumah Sakit Medika Sentosa, Bening Azalea sedang berdiri di depan loket administrasi dengan gurat kelelahan yang teramat sangat di wajahnya. Setelah berdebat kecil dengan hatinya, Bening akhirnya memutuskan untuk menempatkan Kaivandra di kamar perawatan kelas biasa. Dia tidak punya pilihan lain. Uang tabungannya dari hasil menjual kue tidak akan pernah cukup untuk menyewa kamar kelas satu yang mewah, karena masih banyak biaya obat-obatan dan kebutuhan hidup harian Kai yang harus dia tanggung sendirian.
Ponselnya sendiri tergeletak tak bernyawa di atas meja nakas kamar rawat Kai, kehabisan daya sepenuhnya sejak dia berlari panik dari rumah tadi, membuat Bening terputus dari dunia luar.
Tepat setelah Bening menyelesaikan seluruh proses administrasi dan menerima tanda terima, dia berbalik untuk kembali ke kamar rawat putranya. Namun, langkah kakinya seketika membeku di lantai koridor rumah sakit yang dingin.
Hanya berjarak beberapa meter di depannya, Gibran Aditama tengah berjalan dengan langkah tegap, didampingi oleh Toni di sisinya. Pria itu tampak hendak menghampiri meja resepsionis untuk bertanya di mana kamar rawat atas nama Kaivandra Saputra. Namun, niat itu urung dilakukan karena sepasang mata tajam Gibran sudah lebih dulu menangkap sosok Bening yang berdiri mematung.
Ketakutan hebat kembali mencengkeram dada Bening. Secara insting, Bening berbalik arah, berniat menghindar dan lari sejauh mungkin dari pria itu. Namun, pergerakan Gibran jauh lebih cepat. Hanya dalam beberapa langkah besar, Gibran sudah berada di belakangnya dan mencengkeram pergelangan tangan Bening dengan erat, mengunci pergerakannya.
"Kamu berhutang penjelasan padaku, Bening!" desis Gibran, napasnya memburu tepat di dekat telinga Bening.
Mengingat ini adalah area rumah sakit yang ramai dengan pasien dan perawat, Gibran tidak ingin membuat keributan yang bisa menurunkan citranya. Dengan paksa namun tanpa menyakiti secara fisik, Gibran menarik lengan Bening, membawanya keluar dari koridor utama menuju ke area taman terbuka di samping gedung rumah sakit yang cenderung sepi.
Begitu sampai di luar, di bawah naungan pohon yang rindang, Bening menghempaskan tangannya dengan sentakan kuat, melepaskan diri dari cengkeraman Gibran. Matanya menatap Gibran dengan pandangan penuh luka dan kemarahan.
"Apa lagi yang harus aku jelaskan, Pak Gibran?! Semuanya sudah sangat jelas! Kita pun sudah selesai lama, tujuh tahun yang lalu!" seru Bening dengan suara yang bergetar menahan tangis.
"Kita memang sudah selesai secara hukum, Bening!" balas Gibran, suaranya meninggi satu oktav, menekan setiap kata dengan penuh penegasan yang mengintimidasi. "Tapi tidak ada kata selesai untuk seorang darah daging! Katakan sejujurnya... Kaivandra itu anakku, kan?!"
Deg.
Jantung Bening rasanya mencelos mendengar pertanyaan langsung itu. Ketakutan terbesar yang selama ini dia kubur dalam-dalam kini meledak tepat di depan wajahnya. Namun, demi melindungi Kai dari cengkeraman keluarga Aditama, Bening memaksakan dirinya untuk tetap berdiri tegak dan menatap balik mata Gibran dengan pandangan menantang, mencoba menutupi kebenaran.
"Bukan! Kaivandra bukan anakmu! Sudah berapa kali harus aku katakan padamu?!" bohong Bening lantang.
Gibran maju satu langkah, mengikis jarak di antara mereka hingga Bening bisa merasakan aura dominan pria itu yang menyesakkan. "Lalu anak siapa, Bening? Anakmu dengan suami barumu? Jangan membual lagi! Aku sudah memeriksa seluruh data di catatan sipil, dan status hukummu sampai detik ini masih belum menikah dengan pria mana pun!"
Bening tertegun sesaat, merutuki kemudahan yang dimiliki orang kaya untuk menelanjangi privasinya. Namun, otaknya yang panik segera mencari alibi lain. "Aku... Aku memang belum menikah secara hukum negara! Aku menikah siri! Ya, kami menikah siri, dan suamiku sekarang sedang bekerja di luar negeri, itulah kenapa kamu tidak bisa menemukan datanya!" Bening sedikit gemetar karena ini adalah kebohongan besar yang semakin menyudutkannya.
Gibran menatap tajam ke dalam manik mata Bening, melihat dengan jelas binar kepanikan yang tidak bisa disembunyikan dari wanita itu. Pria itu tersenyum sinis, sebuah senyuman yang terlihat dingin dan mengerikan.
"Terserah kamu mau membual tentang menikah siri dengan pria mana pun di dunia ini, Bening," bisik Gibran dengan nada suara yang rendah namun sarat akan ancaman. "Tapi katakan padaku dengan jujur, tatap mataku... Kaivandra itu putra kandungku, kan?"
Tekanan mental yang diberikan Gibran membuat pertahanan Bening goyah. Tubuhnya bergetar hebat sampai-sampai map plastik berisi berkas medis milik Kaivan yang sejak tadi dipegangnya terlepas dan jatuh berserakan di atas rumput taman.
Gibran langsung bergerak cepat berlutut untuk memungut berkas-berkas tersebut. Namun, gerakannya terhenti saat matanya menangkap tulisan pada lembar rekam medis darurat dari IGD yang terbuka di bagian atas.
Di sana, tercetak dengan sangat jelas hasil diagnosis dokter, Syok Anafilaksis akibat Alergi Udang tingkat berat.
Gibran tertegun, menatap lembaran kertas itu dengan napas yang tertahan. Ingatan tentang alergi mematikan yang diturunkan di dalam keluarganya mencuat. Warna mata coklat terang yang sama dengan miliknya, struktur rambut ikal yang sama, tekstur garis rahang wajah yang persis, dan sekarang... riwayat alergi ekstrem yang sama persis dengan yang dia miliki.
Bukti fisik dan medis ini sudah terlalu mutlak untuk disebut sebagai sebuah kebetulan. Dinding kebohongan yang dibangun Bening luruh sepenuhnya di tangan Gibran.
Gibran bangkit berdiri, menggenggam kertas itu dengan erat, menatap Bening dengan tatapan yang kini dipenuhi oleh rasa kepemilikan yang mutlak. "Bukti ini sudah sangat kuat, Bening. Kaivandra adalah putraku. Darah dagingku sendiri. Sekarang, aku akan menemuinya di dalam, jangan pernah berani menghalangiku!"
Bening yang panik langsung merentangkan kedua tangannya, menghadang langkah Gibran dengan air mata yang kini mengalir deras membasahi pipinya. "Tidak... Mas, tolong jangan! Aku mohon jangan temui dia!" Bening kembali memanggil Gibran dengan sebutan masa lalu mereka karena keputusasaan yang mendalam.
"Kenapa aku tidak boleh menemuinya?! Aku ayahnya! Aku punya hak penuh atas dirinya!" bentak Gibran, amarahnya yang sempat meredam kini kembali tersulut. "Kamu sudah berselingkuh dariku tujuh tahun lalu, dan sekarang kamu dengan tega menyembunyikan darah dagingku?! Aku akan membawa Kaivandra pulang ke rumah Aditama. Aku jauh lebih mampu menghidupinya dan memberikan fasilitas yang layak untuknya, bukan di kamar perawatan kelas bawah seperti ini!"
"Tidak! Jangan bawa dia, aku mohon!" Bening bersimpuh di depan Gibran, mencengkeram ujung jas mewah mantan suaminya dengan tatapan mengiba yang teramat sangat. "Kamu boleh bertemu dengannya, Mas... Kamu boleh menjenguknya, tapi aku mohon dengan sangat, jangan bawa dia pergi dariku..."
Gibran terdiam sejenak, menatap dingin pada wanita yang dulu sangat dipujanya kini bersimpuh di bawah kakinya. Alih-alih tersentuh, rasa sakit hati masa lalu membuat hatinya membatu.
"Aku tidak sedang meminta izin atau persetujuan darimu, Bening."
"Kaivan butuh ibunya, Gibran! Dia masih enam tahun, dia tidak bisa hidup tanpa aku di sisinya!" Bening mencoba mencari alasan terakhir yang paling masuk akal bagi psikologis seorang anak.
Namun, mendengar hal itu, Gibran justru melepaskan tawa sinis yang terdengar sangat menyakitkan di telinga Bening. Pria itu menyentak pelan jasnya agar terlepas dari genggaman Bening.
"Aku adalah ayahnya, Bening. Aku bisa menjadi keduanya untuknya. Menjadi ayah sekaligus ibu yang baik dengan segala kekayaan yang aku miliki," ujar Gibran dengan nada dingin yang mutlak. "Dan yang pasti... aku tidak mau putra kandungku terpengaruh oleh hal-hal negatif dan kebohongan darimu terlalu lama. Bersiaplah, karena setelah dia sembuh, Kaivan akan ikut bersamaku."
Gibran membalikkan tubuhnya, melangkah tegas masuk kembali ke dalam gedung rumah sakit bersama Toni, meninggalkan Bening yang menangis histeris di atas rumput taman, meratapi takdirnya yang hancur.
Di jam yang sama, di belahan kota lain, atmosfer di dalam kediaman megah bak istana milik keluarga Aditama terasa begitu sunyi namun sarat akan ketegangan politik keluarga.
Di dalam ruang kerja pribadinya yang bernuansa klasik, Wira Aditama, ayah Gibran duduk di kursi sambil menyesap teh hangat. Di depannya, berdiri Bambang, tangan kanan Wira yang bertugas mengawasi setiap gerak-gerik keluarga.
"Laporkan, Bambang. Apa ada perkembangan dari pergerakan Gibran hari ini?" tanya Wira dengan suara baritonnya yang serak namun berwibawa.
Bambang membungkuk hormat sebelum membuka suara.
"Melaporkan, Tuan Besar. Pak Gibran kembali bertemu dengan mantan istrinya, hari ini di Rumah Sakit Medika Sentosa. Dan... ada informasi yang berhasil kami dapatkan."
Wira meletakkan cangkir tehnya ke atas tatakan dengan dentingan halus. "Katakan."
"Nyonya Bening ternyata memiliki seorang putra berusia enam tahun bernama Kaivandra Saputra. Dan dari penyelidikan yang dilakukan oleh Pak Gibran, Pak Gibran sangat meyakini bahwa anak itu adalah putra kandungnya yang selama ini disembunyikan setelah perceraian mereka terjadi."
Mendengar laporan itu, rahang Wira Aditama seketika mengeras. Kilat ketidaksukaan yang teramat sangat melintas di sepasang mata tuanya yang tajam. Tangannya yang memegang pinggiran meja mengepal erat.
Wira sangat tidak menyukai perkembangan ini. Dia merasa rencana busuk berupa jebakan perselingkuhan yang telah dirancangnya dengan sangat rapi hampir tujuh tahun lalu terancam sia-sia. Jika Bening sampai kembali masuk ke dalam kehidupan Gibran hanya karena adanya ikatan batin dari anak itu, maka posisi keluarga Aditama yang terhormat akan tercoreng oleh kehadiran wanita dari kalangan bawah.
Namun, sebagai seorang pria tua yang penuh dengan kelicikan dan strategi, Wira tidak akan bertindak gegabah atau terburu-buru. Dia menarik napas dalam-dalam, mencoba mengendalikan emosinya.
"Jangan lakukan pergerakan apa pun dulu, Bambang," perintah Wira dengan nada dingin yang terencana.
Wira menyandarkan punggungnya, seulas senyum licik yang kejam terbit di bibirnya yang keriput. "Aku sangat berharap, meskipun ada anak itu di antara mereka, Gibran tetap memelihara kebencian dan dendamnya pada Bening. Dan jika anak itu memang benar darah daging Aditama... kita hanya perlu mengambil anaknya, dan membuang ibunya yang miskin itu sejauh mungkin dari kota ini, persis seperti tujuh tahun lalu."
ga bakal ketauan ortu sendiri