Aku selalu berpikir bahwa pernikahan rahasia ini akan berjalan mudah asalkan kami tetap menjaga jarak di tempat kerja. Sebagai resepsionis, tugas utamaku adalah mengarahkan tamu, bukan menarik perhatian sang CEO. Namun, Bastian yang kutemui di rumah sebagai suami yang acuh tak acuh, perlahan-lahan menunjukkan intensitas yang berbeda di kantor. Dia mulai mengawasiku dari jauh dan membuat keputusan-keputusan sepihak yang memengaruhi pekerjaanku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Muhammad Fajar Rizky, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bukan apa-apa
Vila ini memiliki bangunan yang cukup megah dengan langit-langit yang tinggi. Kamar utamaku berada di lantai atas. Begitu aku keluar ke koridor dan melongok ke arah ruang tamu di lantai bawah, aku bisa melihat Sheila sedang menangis sesenggukan dengan air mata yang membanjiri pipinya.
Melihat pemandangan itu, aku membasahi sudut bibirku dengan ujung lidah, lalu berjalan menuju lift untuk turun ke lantai bawah.
Begitu pintu lift terbuka di ruang tamu, Sheila langsung menoleh menatapku dengan mata yang terlihat sembap dan merah. Dia menarik napas dalam-dalam, lalu berteriak, "Aku sudah tahu kalau kamu yang menikah dengan Mas Bastian! Sebutkan saja berapa uang yang kamu inginkan, aku bisa memenuhinya. Tapi syaratnya cuma satu: kamu harus segera menceraikan Mas Bastian!"
"Memangnya kamu mau memberi aku uang berapa?" tanyaku sambil tersenyum lebar. Aku mengulurkan tangan untuk merapikan beberapa helai rambut yang terurai di bahuku dengan santai.
Sheila tampak terkejut, sama sekali tidak menyangka kalau aku akan langsung setuju untuk bernegosiasi harga dengannya secara terang-terangan. Setelah sempat melongo selama beberapa detik, dia menggertakkan giginya dan bertanya, "Kamu mau berapa? Sebutkan saja nominalnya, aku pasti akan bayar!"
"Apa kamu yakin bisa memenuhinya? Aku justru khawatir kamu tidak akan sanggup. Aku menginginkan setengah dari total aset milik keluarga Wijaya. Apa kamu bisa menyediakannya dalam bentuk uang tunai sekarang juga?" ujarku tenang sambil berjalan mendekat dan merangkul lengan Bastian. "Asal kamu tahu saja, Bastian memberiku kartu kredit black card yang bebas kugunakan sesukaku tanpa batas. Jadi kalau kamu cuma mau memberi uang receh, rasanya tidak akan cukup untuk membuatku tertarik."
Begitu kalimatku selesai, emosi Sheila langsung meledak. Dia menunjukku sambil berteriak ke arah Bastian, "Mas Bastian, kamu dengar sendiri kan? Perempuan ini akhirnya mengaku kalau dia menikahimu hanya demi hartamu saja!"
Bastian menunduk menatapku dari posisinya, namun ekspresi wajahnya sama sekali tidak berubah. "Sana pergi sarapan," ujarnya datar.
"Siap," jawabku sambil mendongak dan memberikan senyuman termanisku, lalu kembali melirik ke arah Sheila. "Nona Sheila, apa Anda mau sekalian ikut sarapan bersama kami?"
Sheila mendengus kencang dengan wajah ketus. "Aku tidak sudi makan bersama wanita sepertimu!"
Mendengar penolakannya, aku hanya membalas dengan senyuman tipis tanpa berniat memperpanjang urusan agar tidak terlihat kekanak-kanakan. Aku langsung melangkah menuju dapur untuk membuat roti bakar dan menghangatkan dua cangkir susu.
Aku sama sekali tidak peduli atau berusaha menguping apa yang sedang dibicarakan oleh Bastian dan Sheila di ruang tamu. Sambil menyiapkan makanan, aku bahkan sempat bersenandung kecil karena suasana hatiku mendadak menjadi sangat baik.
Ketika aku kembali ke ruang tamu sambil membawa nampan sarapan, ternyata Sheila sudah tidak ada di sana. Hanya tersisa Bastian yang duduk sendirian. Dia menoleh dan menatapku dengan tatapan penuh rasa ingin tahu yang tidak biasa.
"Amara, aku mendadak merasa kalau aku sepertinya tidak benar-benar mengenalmu selama ini," ujar Bastian tiba-tiba.
"Hmm?" Aku mengangkat sebelah alisku. "Kenapa tiba-tiba bicara begitu?"
Bastian berjalan mendekat ke arahku, menatap mataku lekat-lekat selama beberapa saat, sebelum akhirnya menghela napas pendek. "Bukan apa-apa."
Karena dia bilang tidak ada apa-apa, aku hanya mengangguk lalu menyodorkan satu piring roti bakar dan secangkir susu hangat kepadanya. "Pak CEO, silakan dinikmati sarapannya."
Selesai sarapan, aku dan Bastian berangkat ke kantor bersama. Rian sudah menunggu dengan mobil di depan lobi vila untuk menjemput Bastian. Sementara aku, memilih untuk berjalan kaki menuju stasiun kereta terdekat untuk naik kereta umum seperti biasa.
Begitu aku melangkah masuk ke ruangan divisi administrasi, beberapa staf junior langsung berlari menghampiri dan mengerumuniku dengan wajah antusias. "Bu Amara! Divisi kita benar-benar beruntung ya, bisa memenangkan program liburan ke luar negeri selama dua minggu yang ditanggung penuh oleh perusahaan tahun ini?"
Aku langsung tertegun mendengar ucapan mereka. "Liburan ke luar negeri? Program yang mana?"
"Iya, Bu! Kudengar dari anak-anak divisi lain, biasanya fasilitas liburan ini cuma diberikan untuk jajaran manajemen senior setingkat direksi saja. Tapi tahun ini, Pak CEO tiba-tiba membuat kebijakan baru untuk mengundi satu divisi yang beruntung. Lalu saat Pak Rian yang mengambil undiannya, nama divisi administrasi kita yang keluar!" jawab salah satu staf junior dengan mata berbinar-binar.
Aku memaksakan sebuah senyuman tipis di bibirku. "Oh ya? Bagus kalau begitu."
"Lho, Bu Amara malah belum tahu? Kami semua mengira Ibu yang paling pertama dikabari!"
"Aku baru saja sampai di kantor dan kalian sudah langsung mengerumuniku seperti ini, bagaimana bisa aku tahu?" jawabku sambil terkekeh dengan pelan.
Setelah mengobrol singkat dengan para staf, aku segera masuk ke dalam ruang kerjaku. Tidak lama kemudian, Rian datang berkunjung sambil membawa map berisi daftar nama karyawan administrasi yang akan berangkat ke luar negeri.
Aku menerima map tersebut dari tangannya. Namun, alih-alih langsung memeriksa dokumen di dalamnya, aku memilih bangkit berdiri untuk menuangkan secangkir teh hangat untuk Rian. "Pak Rian, divisi kami benar-benar ketiban untung berkat tangan keberuntunganmu saat pengundian tadi. Nanti setelah jam kantor selesai, aku yang traktir makan ya."
Mendengar tawaranku, Rian menerima cangkir teh tersebut dengan kedua tangannya sambil tersenyum penuh arti. "Bu Amara, di ruangan ini kan tidak ada orang lain, jadi tolong jangan menggoda saya lagi. Divisi Anda bisa mendapatkan fasilitas ini sama sekali bukan karena keberuntungan tangan saya, melainkan karena pengaruh dari Ibu sendiri."
"Pengaruh dariku? Maksudnya bagaimana?" tanyaku dengan kening berkerut, mencoba berpura-pura tidak paham.
Sebenarnya, saat pertama kali mendengar cerita dari para staf junior tadi, aku memang sempat menaruh curiga jangan-jangan program ini sengaja dibuat karena keberadaanku di divisi ini. Namun setelah kupikir kembali, Bastian adalah pria yang terkenal kaku, tegas, dan selalu menjaga wibawanya di depan publik. Selain bersikap liar saat kami sedang berdua di atas ranjang, mana mungkin dia bisa melakukan tindakan yang sekilas terlihat manis dan perhatian seperti ini?
Melihatku yang masih bersikeras berpura-pura bingung, Rian hanya bisa menggelengkan kepalanya pasrah. "Bu Amara, tidak perlu terus bersandiwara di depan saya. Jika bukan karena Pak Bastian ingin memberikan fasilitas bulan madu yang tertunda untuk Anda tanpa menimbulkan kecurigaan di kantor, beliau tidak akan sampai repot-repot mengorbankan anggaran perusahaan agar seluruh divisi administrasi bisa ikut pergi menemani Anda."
Aku langsung tertegun di tempat, mataku melebar karena syok.
Aku tidak tahu apakah ini efek karena akhir-akhir ini aku terlalu banyak menonton serial sinetron romantis di televisi, tetapi mendadak aku merasakan sensasi seperti sedang menjadi tokoh utama wanita yang sedang dihujani perhatian oleh sosok CEO dominan yang sedang kasmaran.
Rian tersenyum simpul tanpa menyesap teh di cangkirnya. Dia meletakkan kembali cangkir tersebut di atas mejaku, lalu berpamitan. "Bu Amara, selama ini saya selalu mendukung dan membantu Anda dengan baik. Jadi, tolong jangan lupakan jasa saya ini ya kalau nanti posisi Anda sudah semakin kuat di keluarga Wijaya."
Baru mampir, sepertinya ceritanya menarik