Bagi Rangga, ingatan bukan sekadar masa lalu yang lewat, melainkan sebuah peta langit. Di sana, setiap wanita yang pernah singgah, menetap, atau sekadar melintas, telah menjelma menjadi untaian bintang tersendiri,rasi bintang di langit arkaisnya.
Semuanya dimulai di Desa Samudra. Saat Rangga, seorang bocah sebelas tahun yang belum paham arti perbedaan kasta, nekat merebut mikrofon langgar demi mengumandangkan azan terbaik. Alasan puitisnya hanya satu: agar suaranya terdengar saleh di telinga Denia, bidadari kecil pemilik pelataran rumah yang luas. Namun, panah Dewa Kamajaya yang membawa candu sekaligus racun itu tidak berhenti di sana.
Garis takdir membawa Rangga berkelana melintasi waktu dan kota. Dari hangatnya kedekatan para wanita yang pernah menemani harinya, serunya mengejar cinta yang tak sampai hingga ke sudut-sudut kota Bandung, hingga akhirnya takdir menuntunnya pada Gisela Vianka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang Alifas Yang Merumput, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16: KEPUTUSAN YANG TAK TERELAKKAN
Fajar baru saja menyingsing ketika Rangga sudah duduk sendirian di ruang kerjanya. Secangkir kopi hitam di atas meja masih mengepulkan uap tipis, tetapi sejak tadi belum juga ia sentuh. Tatapannya terpaku pada map cokelat yang terbuka di hadapannya, berisi lembar demi lembar kontrak kerja sama yang beberapa hari terakhir memenuhi pikirannya.
Ruangan itu sunyi.
Hanya terdengar detak jarum jam dan sesekali suara kendaraan yang mulai memenuhi jalanan Jakarta.
Rangga mengembuskan napas perlahan.
Semalaman ia hampir tidak memejamkan mata. Setiap kali mencoba memantapkan hati, bayangan Sari selalu hadir. Namun setiap kali mengingat perjalanan panjang yang telah ia tempuh sejak meninggalkan Desa Samudra, impian yang selama ini ia kejar kembali memanggilnya.
Ia sadar...
Ada keputusan yang tidak mungkin mampu membahagiakan semua orang.
Rutinitas di ruko berjalan seperti biasa.
Para karyawan datang silih berganti, menyapa Rangga sebelum mulai bekerja. Ia membalas setiap salam dengan senyum yang sama seperti hari-hari sebelumnya, berusaha menyembunyikan gejolak yang sedang berputar di dalam dadanya.
Tidak ada seorang pun yang mengetahui bahwa hari itu mungkin menjadi awal perubahan besar bagi usaha yang mereka bangun bersama.
Di sela kesibukan memeriksa hasil cetakan, telepon genggam Rangga bergetar pelan.
Sebuah pesan dari Dimas muncul di layar.
Selamat pagi, Mas Rangga. Saya sedang berada di Jakarta hingga sore nanti. Bila Mas sudah memiliki keputusan, saya siap bertemu kapan saja sesuai waktu yang paling nyaman.
Rangga membaca pesan itu beberapa kali.
Kali ini ia tidak menunda.
Jemarinya bergerak perlahan di atas layar.
Baik, Pak Dimas. Setelah waktu Zuhur, saya bisa menemui Bapak.
Balasan datang tidak sampai semenit.
Terima kasih, Mas. Saya tunggu di tempat yang sama seperti pertemuan kemarin.
Rangga mematikan layar ponselnya.
Tidak ada lagi alasan untuk terus mengulur waktu.
Setelah seluruh pekerjaan yang harus ia selesaikan pagi itu selesai, Rangga berpamitan kepada para karyawannya.
"Aku keluar sebentar. Kalau ada pelanggan yang mengambil pesanan, serahkan sesuai daftar yang sudah kusiapkan."
"Siap, Mas," jawab Beni.
Rangga mengambil map cokelat itu dari dalam laci.
Langkahnya terasa lebih berat daripada biasanya.
Bukan karena isi map tersebut.
Melainkan karena ia tahu, sepulang dari pertemuan nanti, hidupnya tidak akan lagi berjalan seperti sebelumnya.
Dimas telah lebih dulu menunggu di sebuah kedai kopi yang tenang.
Begitu melihat Rangga datang, ia berdiri dan menyambutnya dengan senyum hangat.
"Terima kasih sudah meluangkan waktu, Mas Rangga."
"Maaf membuat Bapak menunggu."
"Tidak sama sekali."
Mereka berjabat tangan sebelum duduk berhadapan.
Pelayan datang menawarkan minuman, tetapi pembicaraan baru dimulai setelah suasana kembali tenang.
"Saya tidak akan berpanjang lebar," ujar Dimas.
"Saya hanya ingin memastikan, apakah ada hal dalam kontrak yang masih ingin Mas tanyakan?"
Rangga membuka map yang dibawanya.
Ia telah membaca seluruh isi kontrak itu berulang kali. Nilai kerja sama, ruang lingkup pekerjaan, tanggung jawab kedua belah pihak, hingga durasi proyek.
Semuanya sudah ia pahami.
"Sejauh ini tidak ada, Pak."
Dimas mengangguk pelan.
"Itu berarti..."
Rangga terdiam sesaat.
Tatapannya jatuh pada lembar terakhir kontrak, tepat di kolom tanda tangan.
Dalam benaknya, wajah Sari kembali hadir.
Disusul wajah kedua orang tuanya di Desa Samudra.
Kemudian para karyawan yang setiap hari bekerja bersamanya.
Semua seolah berdiri di hadapannya, menunggu keputusan yang akan ia ambil.
Perlahan, Rangga mengangkat pena.
Tangannya sempat berhenti beberapa detik.
Lalu...
Dengan satu tarikan napas panjang, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kontrak kerja sama tersebut.
Dimas tersenyum lega.
"Selamat datang, Mas Rangga."
Rangga membalas senyum itu, meski ada rasa yang sulit ia jelaskan.
Ia baru saja membuka pintu menuju impian yang selama ini dikejarnya.
Namun di saat yang sama...
Ia juga sadar bahwa mulai hari itu, akan ada seseorang yang harus menerima kenyataan paling berat dari keputusan tersebut.
*****
Sepanjang perjalanan pulang, Rangga hampir tidak menyalakan radio motornya.
Deru kendaraan yang lalu lalang di jalanan Jakarta terdengar samar di telinganya. Pikirannya masih tertinggal pada lembar kontrak yang kini tersimpan rapi di dalam tas. Tanda tangan itu memang telah ia bubuhkan, tetapi beban di dadanya justru terasa semakin berat.
Ada satu hal yang belum ia selesaikan.
Dan itu jauh lebih sulit daripada menandatangani kontrak bernilai miliaran rupiah sekalipun.
Mengatakan yang sebenarnya kepada Sari.
Sesampainya di ruko, Rangga langsung kembali bekerja seolah tidak terjadi apa-apa.
Ia membantu memeriksa pesanan pelanggan, berdiskusi dengan Beni mengenai jadwal pengiriman, bahkan sempat melayani seorang pelanggan yang datang mencetak kartu undangan.
Tak seorang pun menyadari bahwa pemilik usaha itu baru saja mengambil keputusan yang akan mengubah arah hidupnya.
Menjelang waktu pulang, Rangga merapikan meja kerjanya lebih lama dari biasanya.
Map berisi kontrak ia masukkan kembali ke dalam tas.
Tatapannya sempat berhenti pada bingkai foto kecil yang berdiri di sudut meja.
Foto itu diambil beberapa minggu lalu.
Ia dan Sari sedang berdiri di taman kecil depan ruko.
Sari tersenyum lepas sambil memegang pot bunga mawar yang baru mereka tanam.
Rangga mengusap pelan bingkai foto itu.
Senyum tipis muncul di wajahnya, tetapi hanya bertahan sesaat.
"Hari ini..."
"...aku harus mengecewakanmu."
Kalimat itu meluncur lirih, lebih menyerupai bisikan untuk dirinya sendiri.
Langit mulai berubah jingga ketika Rangga menghentikan motornya di depan rumah kos Sari.
Seperti biasanya, ia tidak langsung membunyikan klakson.
Ia mengirimkan sebuah pesan singkat.
Aku sudah di depan.
Tak sampai dua menit kemudian, pagar kecil itu terbuka.
Sari melangkah keluar dengan senyum yang selalu berhasil membuat hati Rangga terasa hangat.
"Aku kira hari ini kamu bakal lembur."
Rangga ikut tersenyum.
"Tidak."
"Ada yang ingin kubicarakan."
Senyum di wajah Sari perlahan berubah menjadi penasaran.
"Serius sekali."
"Ayo jalan sebentar."
Sari mengangguk tanpa banyak bertanya.
Mereka berjalan berdampingan menuju taman kecil yang letaknya tidak jauh dari rumah kos.
Tempat itu bukan sesuatu yang istimewa.
Hanya beberapa bangku kayu, lampu taman yang mulai menyala, dan deretan pohon yang membuat suasana terasa lebih teduh.
Namun justru di tempat sederhana itulah mereka sering menghabiskan waktu berbincang setelah sama-sama lelah bekerja.
Sesampainya di sana, Sari duduk lebih dulu.
"Ada apa, Rangga?"
Pertanyaan itu terdengar ringan.
Tetapi bagi Rangga, menjawabnya terasa jauh lebih berat daripada menghadapi siapa pun dalam dunia bisnis.
Ia menarik napas panjang.
Beberapa kali mencoba menyusun kalimat.
Namun setiap kata yang hendak keluar seolah tertahan di tenggorokan.
Sari memperhatikan wajah pria di hadapannya.
"Jangan bikin aku ikut tegang."
Rangga menundukkan kepala sejenak.
"Aku..."
"...sudah mengambil keputusan."
Sari masih diam.
"Aku menerima proyek itu."
Kalimat tersebut akhirnya terucap.
Pelan.
Namun cukup untuk membuat dunia di sekitar mereka seolah berhenti berputar.
*****
Sari tidak segera menjawab.
Tatapannya masih tertuju pada Rangga, seolah berharap kalimat yang baru saja didengarnya hanyalah gurauan yang tidak lucu.
Angin sore berembus pelan, menggoyangkan beberapa helai rambut yang jatuh menutupi pipinya.
"Akhirnya... kamu memilih berangkat?"
Suara itu begitu lirih hingga nyaris tenggelam oleh riuh kendaraan yang melintas di kejauhan.
Rangga mengangguk pelan.
"Iya."
"Aku sudah menandatangani kontraknya."
Kalimat itu terasa seperti pisau yang perlahan mengiris keheningan di antara mereka.
Sari menundukkan wajah.
Jemarinya saling menggenggam erat di atas pangkuan, berusaha menahan gejolak yang memenuhi dadanya.
Selama beberapa saat, tidak ada satu pun kata yang terucap.
Rangga memilih menunggu.
Ia tahu, Sari membutuhkan waktu untuk menerima kenyataan yang baru saja mengubah begitu banyak rencana di dalam hatinya.
"Aku boleh tanya satu hal?"
Rangga mengangkat wajah.
"Tentu."
"Kalau proyek ini tidak pernah datang..."
Sari berhenti sejenak.
"...apa kamu tetap akan pergi?"
Pertanyaan itu sederhana.
Namun jawabannya menentukan banyak hal.
Rangga tersenyum tipis.
"Bukan proyeknya yang membuatku ingin melangkah."
"Lalu?"
"Impian itu sudah ada jauh sebelum aku mengenalmu."
Ia menatap Sari dengan penuh ketulusan.
"Aku hanya... tidak pernah menyangka kesempatan itu datang saat aku sedang merasa menemukan tempat untuk pulang."
Mata Sari kembali berkaca-kaca.
Ia memahami maksud kalimat itu.
Rangga tidak sedang memilih antara dirinya dan pekerjaan.
Rangga sedang memilih untuk tetap berjalan di jalan hidup yang telah ia bangun sejak lama.
"Aku sedih."
Sari akhirnya mengakuinya.
"Sedih sekali."
Senyumnya mencoba bertahan, tetapi air mata yang menggenang di pelupuk matanya lebih dulu mengkhianati.
"Baru saja aku mulai membayangkan banyak hal."
Ia tertawa kecil, meski suaranya terdengar bergetar.
"Taman yang lebih besar."
"Masakan yang ingin kucoba."
"Hal-hal kecil yang kupikir akan kita lakukan bersama."
Rangga hanya mampu menundukkan kepala.
Setiap kata yang diucapkan Sari terasa seperti mengingatkannya pada mimpi-mimpi sederhana yang tanpa sadar telah mereka rajut bersama.
"Tapi..."
Sari mengusap air matanya perlahan.
"Aku juga tidak ingin menjadi alasan seseorang berhenti mengejar cita-citanya."
Ia menarik napas panjang sebelum kembali menatap Rangga.
"Pergilah."
"Kejar mimpimu."
"Jangan pernah melihat ke belakang hanya karena merasa bersalah kepadaku."
Rangga merasakan dadanya sesak.
"Sar..."
"Aku tidak tahu harus meminta maaf dengan cara apa."
Sari menggeleng pelan.
"Jangan."
"Kalau kamu meminta maaf karena sedang mengejar masa depanmu..."
"...berarti aku sedang mencintai orang yang salah."
Kalimat itu membuat Rangga terdiam.
Bukan karena tidak mampu menjawab.
Melainkan karena ia baru menyadari, perempuan di hadapannya mencintainya dengan cara yang begitu dewasa.
Bukan dengan menahan.
Tetapi dengan merelakan.
Sari berdiri perlahan.
Ia melangkah mendekati Rangga.
Jarak di antara mereka kini hanya tinggal beberapa langkah.
Tanpa mengatakan apa pun, Sari mengangkat kedua tangannya, lalu memeluk Rangga erat.
Tidak ada isak tangis yang berlebihan.
Tidak ada kata-kata dramatis.
Hanya pelukan panjang yang dipenuhi keheningan.
Rangga memejamkan mata.
Perlahan, ia membalas pelukan itu.
Dalam diam, mereka seakan sedang menyimpan kenangan masing-masing.
Aroma rambut Sari.
Detak jantung yang saling berdekatan.
Dan kehangatan yang mungkin, untuk sementara waktu, tidak akan lagi mereka rasakan.
"Aku akan menunggumu."
Bisikan itu terdengar sangat pelan di telinga Rangga.
"Berjanjilah..."
"...kamu akan kembali."
Rangga menarik napas panjang sebelum mengangguk.
"Aku janji."
Kalimat itu keluar tanpa keraguan.
Bukan janji yang lahir karena ingin menenangkan hati Sari.
Melainkan janji yang benar-benar ingin ia tepati.
Mereka melepaskan pelukan secara perlahan.
Sari menghapus sisa air mata di pipinya, lalu tersenyum.
Kali ini senyumnya memang tidak secerah biasanya.
Namun cukup untuk membuat Rangga tahu bahwa perempuan itu sedang berusaha menguatkan dirinya sendiri.
"Hati-hati di jalan."
"Iya."
"Jangan lupa makan."
Rangga tertawa pelan.
"Kamu juga."
Sari mengangguk.
Ia berdiri di depan pagar kos, memperhatikan Rangga mengenakan helm dan menyalakan mesin motornya.
Tidak ada lambaian tangan.
Hanya tatapan yang saling mengiringi hingga motor itu perlahan menghilang di ujung jalan.
Sari tetap berdiri di tempatnya.
Sampai suara mesin motor itu benar-benar lenyap dari pendengarannya.
Barulah ia memejamkan mata.
Membiarkan air mata yang sejak tadi ia tahan akhirnya jatuh tanpa suara.