Kehidupan yang tidak mudah harus aku jalani. Aku Nisya. wanita usia 29 tahun, seorang Ibu dari 3 orang anak. Awal pernikahan hidup kami baik-baik saja dengan ekonomi yang cukup. namun, setelah tiga tahun menikah dan gaji suami ku jauh lebih besar di banding sebelumnya, ia mulai berubah. Mabuk, judi hingga perselingkuhan mewarnai rumah tangga kami. Bahkan uang bulanan yang biasanya lebih dari cukup itu kini berubah menjadi serpihan kenangan. Ya.. Suamiku, Gani. Kini memberikan nafkah kepada kami dengan asal-asalan, bahkan tak jarang ia justru memberikan makian disaat aku meminta hak kami.
"Kerja kalau mau uang tuh, kerjaannya minta terus. Kamu gak tau kan kalau kerja itu capek, kamu taunya hanya minta saja!" selalu kata itu yang terucap.
Mulai dari situ, hidupku aku rubah. Aku tak ingin lagi berleha-leha. aku ingin merubah hidupku bagaimana pun caranya.
Mari ikuti kisah perjalanan aku mengubah hidupku kali ini😊
Fb : Adivahalwahasanah
Ig : @Adivahasanah
Tt : A.H Hasanah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Amie.H, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 22
"Ibu.. Ibu.. Kenapa ibu masih aja keras kepala dan menyalahkan mertua ku? Semuanya jelas kesalahan ibu dah juga bapak, wajar jika bapak mertuaku membalas rasa sakit hati kakak nya. Apalagi bapak mertua ku pun harus kehilangan orangtua dan juga kakaknya dalam waktu yang tidak berjauhan, Andai itu ibu apakah ibu sanggup menjalani apa yang bapak mertua ku jalani bu?" tanya Gani dengan suara yang sangat teramat kesal pada ibunya.
"Itu bukan urusan kamu Gan! Kewajiban kamu sekarang adalah bagaimana caranya meredam vidio viral itu dan membangun kembali minimarket kita yang hampir bangkrut itu!" kata Bu Ratih.
"Itu bukan urusan aku lagi bu, ibu sendiri yang menyuruh aku meninggalkan minimarket itu dan meminta kak Lika mengurusnya. Jadi, kalau sekarang minimarket itu hampir bangkrut pun bukan urusan aku. Aku tidak ingin ikut campur apapun lagi mengenai minimarket itu!" kata Gani membuat Bu Ratih dan juga Lika membelalakan mata.
"nggak bisa gitu dong Gan, minimarket itu juga punya kamu. Jadi kamu pun harus membantu ku membangun kembali minimarket itu!" kata Lika.
"Kemana aja kak? Waktu minimarket itu jaya, kamu bahkan tidak memberikan aku sepeserpun menghasilan dari minimarket itu walau tau aku berada dalam posisi kesulitan keuangan. Sekarang disaat kamu yang mengalami itu, kamu datang kesini dan meminta bantuan ku? Cih!" kata Gani berdecih sinis.
"Kenapa kamu bicara begitu Gan? Apa yang kakak kamu bilang itu benar...."
"Menurut ibu, apa yang Kak Lika itu memang selalu benar. Jadi, sekarang biarkan anak ibu yang selalu benar itu yang menyelesaikan masalah yang dia buat. Aku tidak akan ikut campur, titik!" kata Gani, final.
Tanpa mendengar lagi perkataan ibunya, Gani memutuskan untuk kembali masuk kedalam kamar dan mengunci pintunya.
"Gimana ini bu? Apa yang harus kita lakukan? Selain karna minimarket yang pendapatannya berkurang, karna vidio itu juga berdampak pada Minimarket kita. Tidak ada lagi yang mau membeli ke minimarket kita bu!" kata Lika.
"Diam! Jangan berisik Lika, ibu juga tidak tau lagi harus berbuat apa. Ibu bingung, Adik kamu juga nggak bisa lagi di andalkan!" kata Bu Ratih dengan nada kesal.
"Lagian kenapa sih, Pak Sabar pakai ngebales apa yang ibu lakukan dengan membuat juga Minimarket lebih lengkap dari kita. Tapi mereka dapat uang dari mana ya bu buat bikin minimarket seperti itu?" kata Lika membuat Bu Ratih menatap anaknya dengan wajah menyerit heran.
"Kamu benar juga Lik, mereka dapat uang dari mana buat bangun minimarket seperti itu. Lagi pula... Bukannya minimarket itu tidak bisa di miliki pribadi selain frindchice dari perusahannya?" kata Bu Ratih yang langsung sadar dengan arah pembicaraan Lika.
"Nah kan bu... Apa jangan-jangan Pak Sabar bohong sama kita bu? Secara, nggak mungkin kan petani kayak Pak Sabar bisa beli saham frinchice dari perusahaan besar seperti itu?" kata Lika membuat Bu Ratih menganggukkan kepala.
"Bisa jadi. Tapi....."
"Nggak ada tapi Bu, pikiran aku emang benar. Lagian ya Bu, Minimarket kayak gitu itu pasti harganya mahal. Jadi kayaknya kalau kita turunin dikit harga di minimarket kita, bisa jadi Minimarket kita jadi pilihan" kata Lika dengan wajah berbinar.
"Benar, kamu benar juga Lik. Dulu, Gani dan juga bapak kamu juga menekan harga di toko kita. Untuk sedikit yang penting pemasukan lancar, kayaknya kita harus pakai cara itu lagi. Nggak apa-apa walau kita harus dapat untung sedikit yang penting kita bisa menyaingi minimarket itu!" kata Bu Ratih yang setuju dengan perkataan Lika.
"Nah.. Itu yang Lika maksud bu!" kata Lika dengan senyum mengembang menatap Bu Ratih.
"Cerdas juga kamu Lik, nggak salah ibu minta kamu buat ambil alih minimarket dari tangan Gani. Nyatanya kamu bisa dengan cepat berpikir untuk kembali memulihkan minimarket kita itu!" kata Bu Ratih membuat Lika tersenyum senang.
"Tentu dong bu. Lika akan lakukan apapun untuk minimarket itu, lagian kalau sampai Gani yang mengelola minimarket itu pasti Nisya sudah berada di atas angin bu!" kata Lika yang kembali mengompori Bu Ratih.
"Kamu benar Lik, dia pasti akan berlaku lebih tidak sopan pada ibu sebagai mertuanya sedari dulu!" kata Bu Ratih.
"Betul bu, lebih gawatnya lagi. Kita nggak bisa memanfaatkan Nisya untuk memenuhi kebutuhan harian dirumah, selama ini lumayan kan bu kita dapat uang daru minimarket setiap bulannya dapat juga bahan masakan dan makanan dari rumah Nisya. Tapi sekarang nggak ada lagi yang bisa kita manfaatin, tapi ngomong-ngomong bu bagaimana nasib rumah tangga Nisya dan juga Gani nantinya ya bu?" tanya Lika sedikit berbisik karna takut Gani mendengar apa yang ia dan ibu nya bicarakan.
"Ibu tidak peduli bagaimana nasib rumah tangga mereka, kalau memang Nisya mau bercerai dari Gani ya silahkan saja. Toh kita bisa mencarikan Gani istri baru yang lebih segala-galanya dari Nisya!" kata Bu Ratih membuat Lika menganggukkan kepala.
"Bener bu, kita bisa carikan Gani istri yang kaya dan bisa kita manfaatkan. Lagi pula, dari awal Gani dengan Nisya memang tidak cocok sama sekali. Aku memang kurang suka dengan Nisya sejak mereka berpacaran dulu, tapi ibu yang kekeh memberikan restu pada mereka!" kata Lika.
"Ibu memberikan restu kan kamu tau alasannya apa, Nisya itu dulu mempunyai pekerjaan lumayan. Ibu pikit dia bisa kita manfaatkan untuk memberikan kita uang sampai menikah dengan Gani, tapi ternyata setelah menikah dengan Gani si Nisya justru berhenti bekerja. Itu yang membuat ibu kesal dan tidak menyukai Nisya!" kata Bu Ratih.
"Untungnya kita bisa mengambil keuntungan dari mereka ya bu, ya walaupun sekarang tidak lagi sih. Tapi, yasudah lah. Toh sekarang Gani juga sudah bisa membeli rumah ini, kalau Nisya nggak mau kembali pada Gani lebih baik kita pindah aja kerumah ini bu. Dari pada dirumah sana, walaupun lebih besar tapi pengeluarannya juga besar. Lebih baik kita sewakan bu!" kata Lika.
"Benar juga kata kamu, lagian lebih dekat dari sini kalau ke minimarket kita dari pada dari rumah kita!" kata Bu Ratih yang langsung menyetujui perkataan Lika.
"Nah kan.. Apa aku bilang, malam ini kita nginap di sini besok kita pulang dan ambil barang-barang kita dirumah bu!" kata Lika.
"Tapi.. Apa Gani setuju?" tanya bu Ratih dengan ragu.
"Kita nggak perlu lah bu minta persetujuan Gani, lagian kan kita di sini juga menemani dia karna Nisya nggak ada dirumah ini. Tapi ngomong-ngomong, Gani udah beresin barang-barang Nisya seperti yang Pak Sabar minta belum ya bu?" tanya Lika.
"Entah.. Ibu juga nggak tau, tapi melihat sikap Gani yang seperti itu kayaknya belum deh Lik!" kata Bu Ratih yang juga dibenarkan Lika.
Bersambungggg