NovelToon NovelToon
GUNA-GUNA *Based On True Story*

GUNA-GUNA *Based On True Story*

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Misteri / Kutukan
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: MasYB

Amira hanyalah perempuan biasa dari kampung kecil.

Istri sederhana. Ibu dari dua anak. Hidup menumpang di rumah orang tua, bertahan bersama suami yang bekerja serabutan, sambil diam-diam memendam satu mimpi kecil:

punya rumah sendiri.

Namun kemiskinan perlahan mengikis segalanya.

Harga diri. Ketenangan. Bahkan kebahagiaan rumah tangga.

Sampai akhirnya sebuah tawaran dari Jakarta datang.

Pekerjaan ringan. Gaji besar. Dan harapan baru bagi keluarganya.

Amira pun merantau ke sebuah ruko tua di ujung gang sempit Jakarta, tempat para perempuan malam tinggal dan bekerja.

Awalnya semua biasa saja, amira dengan rutinitas minyapu, mengepel dan pekerjaan domestik lainnya. sampai suatu ketika, amira menjadi saksi kunci dari sebuah tragedi pembunuhan di ruko lantai 3. dan sejak saat itulah semuanya berubah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MasYB, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kepulangan Tubuh yang Ringkih

"Kadang manusia tidak kalah oleh musuh yang mengejarnya. Ia kalah oleh tubuhnya sendiri yang perlahan menyerah sebelum garis akhir terlihat."

-----

Tujuh bulan.

Tujuh bulan yang terasa lebih panjang daripada tujuh tahun.

Amira menatap bayangannya sendiri di kaca kamar mandi lantai empat. Untuk beberapa saat, ia nyaris tidak mengenali perempuan yang berdiri di hadapannya.

Pipinya cekung.

Kulit wajahnya kusam kekuningan.

Mata yang dulu hidup kini tenggelam dalam lingkaran hitam yang dalam.

Bahkan daster yang biasa dipakainya kini terlihat terlalu besar.

Longgar.

Kosong.

Seperti menggantung pada kerangka manusia.

Amira mengangkat tangan gemetar dan menyentuh tulang selangkanya yang menonjol.

Dulu ia masih sanggup berlari naik turun empat lantai tanpa mengeluh.

Sekarang?

Lima anak tangga saja sudah membuat dadanya terbakar.

Napasnya berbunyi kasar.

Pendek.

Berat.

Seolah ada sesuatu yang menekan paru-parunya dari dalam.

"Aduh..."

Ia membungkuk sambil memegangi sisi kiri perutnya.

Nyeri itu datang lagi.

Tidak pernah terlambat.

Tidak pernah lupa.

Seperti makhluk hidup yang selalu tahu kapan harus menyiksa dirinya.

Sudah berbulan-bulan Amira mencoba bertahan.

Minum obat.

Minum jamu.

Mengurangi pekerjaan.

Beristirahat.

Namun semua usaha itu hanya memberikan jeda singkat sebelum rasa sakit kembali datang dengan kekuatan yang lebih besar.

Malam itu, saat Marni pulang membawa sebungkus nasi goreng, perempuan itu langsung berhenti di depan pintu kamar.

Wajahnya berubah.

Lagi.

Setiap hari wajah Marni selalu berubah ketika melihat kondisi Amira.

Semakin hari semakin khawatir.

Semakin hari semakin takut.

"Ya Allah, Mir..."

Marni meletakkan bungkusan nasi goreng di meja.

"Kamu makin kurus."

Amira hanya tersenyum lemah.

Senyum yang lebih mirip usaha menyembunyikan penderitaan.

"Aku masih kuat kok."

"Bohong."

Jawaban Marni membuat Amira terdiam.

"Kamu bahkan berdiri saja gemetar."

Amira menunduk.

Tak sanggup membantah.

Karena kali ini Marni benar.

Tubuhnya memang sudah tidak sanggup lagi diajak berunding.

Marni duduk di sampingnya.

Menggenggam tangannya.

Dan langsung tersentak.

"Dingin banget."

Amira hanya memejamkan mata.

"Aku capek, Mar..."

Suara itu begitu pelan.

Begitu rapuh.

Hampir seperti bisikan orang yang sedang kehilangan harapan.

"Aku capek."

Kalimat itu membuat Marni ikut menangis.

Karena untuk pertama kalinya sejak mereka berteman, Amira mengaku menyerah.

Keesokan harinya keputusan itu akhirnya diambil.

Pulang.

Bukan karena mimpi sudah tercapai.

Bukan karena tabungan sudah cukup.

Melainkan karena tubuhnya tidak lagi memberi pilihan.

Saat kabar itu sampai ke telinga Ci Gouw, perempuan paruh baya itu langsung memanggil Amira ke ruang kerjanya.

Begitu melihat Amira masuk, Ci Gouw sampai berdiri dari kursinya.

Matanya membesar.

Kaget.

Terkejut.

Lalu perlahan berubah menjadi iba.

"Ya Tuhan..."

Ci Gouw menutup mulutnya.

"Lu jadi begini sekarang?"

Amira hanya tersenyum.

Senyum yang membuat hati siapa pun terasa nyeri.

Ci Gouw menghampiri dan memegang kedua pundaknya.

Pundak itu terasa begitu kecil.

Begitu ringan.

Seolah tidak ada lagi daging yang tersisa.

"Aku mau pulang kampung, Ci."

Suara Amira hampir tidak terdengar.

"Aku mau ketemu anak-anak."

Kalimat itu membuat mata Ci Gouw langsung berkaca-kaca.

Tanpa banyak bicara, wanita itu membuka laci mejanya.

Mengambil sebuah amplop putih.

Lalu memasukkannya ke tangan Amira.

"Ini buat lu."

"Ci... jangan..."

"Ambil."

Nada suara Ci Gouw kali ini tidak memberi ruang untuk penolakan.

"Anggap ini hadiah."

Air mata Amira langsung jatuh.

Selama bertahun-tahun merantau, tidak banyak orang yang memperlakukannya seperti keluarga.

Namun wanita Tionghoa itu melakukannya.

Tanpa syarat.

Tanpa pamrih.

Sore hari.

Mobil travel akhirnya datang.

Seluruh penghuni ruko berkumpul di depan gang.

Marni menangis paling keras.

Bahkan sejak satu jam sebelumnya perempuan itu sudah sibuk berpesan macam-macam.

"Jangan lupa makan."

"Jangan lupa minum obat."

"Kalau sudah sampai langsung telepon."

"Kalau sakit langsung ke puskesmas."

Amira hanya tertawa kecil.

Meski matanya ikut basah.

"Kayak emak-emak aja."

"Emang."

Marni langsung memeluknya erat.

Sangat erat.

Seolah takut itu menjadi pelukan terakhir mereka.

Perjalanan pulang terasa panjang.

Terlalu panjang.

Setiap kilometer yang dilalui justru membuat tubuh Amira terasa semakin berat.

Kepalanya berdenyut.

Matanya kabur.

Dadanya sesak.

Beberapa kali ia harus memejamkan mata karena dunia terasa berputar.

Namun di balik semua rasa sakit itu, ada satu hal yang membuatnya bertahan.

Rumah.

Ia ingin melihat anak-anaknya.

Ingin melihat suaminya.

Ingin tidur di kamar masa kecilnya.

Ingin mendengar suara ibunya lagi.

Hanya itu.

Ketika matahari pagi mulai muncul di ufuk timur, mobil travel akhirnya memasuki jalan desa.

Jalan rusak.

Sawah hijau.

Pohon kelapa.

Kabut tipis.

Semuanya terasa begitu akrab.

Begitu dirindukan.

Dan di sana...

Di depan rumah sederhana yang selama ini menjadi tujuan seluruh perjuangannya...

Mas Anto sudah berdiri menunggu.

Bersama kedua anak mereka.

Bersama ibunya.

Amira tersenyum.

Untuk pertama kalinya setelah berbulan-bulan.

Senyum yang benar-benar tulus.

Pintu mobil terbuka.

Ia mencoba turun.

Kakinya menyentuh tanah.

Rumput yang masih basah oleh embun pagi.

Lalu—

Dunia mendadak gelap.

Semuanya berputar.

Suara-suara berubah menjadi gema yang jauh.

"AMIRA!"

Teriakan Mas Anto terdengar seperti datang dari ujung dunia.

Tubuh Amira limbung.

Lututnya kehilangan kekuatan.

Dan sesaat kemudian—

BRUK!

Tubuh kurus itu jatuh menghantam tanah halaman rumahnya sendiri.

Tak sadarkan diri.

Sementara keluarganya berlari panik menghampiri.

Tak seorang pun menyadari...

Bahwa sesuatu juga ikut pulang bersama Amira dari Jakarta.

Sesuatu yang selama berbulan-bulan menempel di tubuhnya.

Mengintai.

Menunggu.

Dan kini...

Setelah sampai di kampung yang jauh dari keramaian kota...

Ia akhirnya bersiap menyelesaikan pekerjaannya.

(Bersambung)

1
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
Ynti Kusmayanti
bikin penasaran cerita nya..
MasYB: nantikan update terbarunya ya kak..🙏😊
total 1 replies
puspusmeowliet
keren banget 👍
MasYB: terimakasih supportnya kaka🙏
total 1 replies
SiOmpong
Marni.... biasanya yg namanya Marni...
MasYB: biasanya kenapa Marni kakak..? 😄
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!