Hari itu seharusnya menjadi hari paling bahagia bagi Alea. Namun, sebelum ijab kabul dimulai, calon suaminya menghilang bersama uang mahar dan meninggalkan utang miliaran rupiah atas nama keluarga Alea. Di tengah kekacauan itu, muncul seorang pria asing bernama Raka Arvin. Dengan tenang ia menawarkan bantuan. "Aku akan menikahimu. Sebagai gantinya, kau harus menandatangani satu perjanjian." Tak punya pilihan lain, Alea menerima. Selama setahun, mereka hidup sebagai suami istri tanpa cinta. Raka terlihat seperti pria biasa yang bekerja sebagai konsultan hukum. Padahal... Ia adalah penyidik khusus yang sedang menyamar untuk membongkar kasus korupsi dan pencucian uang terbesar dalam satu dekade. Target utamanya? Ayah Alea. Semakin lama tinggal serumah, Raka justru menemukan sisi Alea yang berbeda dari bayangannya. Perempuan itu tidak pernah menikmati harta keluarganya. Ia bahkan diam-diam membantu para korban perusahaan milik ayahnya. Saat cinta mulai tumbuh, sebuah bukti baru muncul. Semua kejahatan yang dituduhkan kepada ayah Alea ternyata hanyalah lapisan pertama. Dalang sebenarnya justru seseorang yang selama ini paling dipercaya Alea. Kini Raka harus memilih. Menjalankan tugasnya sebagai penyidik... atau melindungi wanita yang telah mengubah hidupnya. Dan Alea harus menentukan satu keputusan yang akan mengubah seluruh hidupnya. Menyelamatkan ayahnya... atau membantu suaminya mengungkap kebenaran
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Seranovelle, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 1 - Hari yang Menghancurkan
"Lea, jangan tegang terus. Nanti riasannya rusak."
Suara Lani, penata rias langganan keluarga, membuat Alea tersenyum tipis. Ia menatap bayangannya di cermin besar yang memenuhi hampir seluruh dinding ruang rias.
Gaun putih yang dikenakannya menjuntai indah hingga menyapu lantai. Veil tipis menghiasi rambutnya yang disanggul sederhana. Sejak kecil, ia selalu membayangkan hari ini akan menjadi hari paling membahagiakan dalam hidupnya.
Sayangnya...
Sudah hampir empat puluh menit waktu akad berlalu.
Arga belum juga datang.
Alea melirik jam tangan mungil di pergelangan tangannya untuk kesekian kali.
"Mungkin macet," gumamnya, lebih seperti sedang menenangkan diri sendiri.
Lani mengangguk cepat.
"Iya, daerah sini memang sering macet kalau akhir pekan."
Namun entah mengapa, hati Alea justru semakin gelisah.
Ia mengambil ponselnya dari atas meja.
Panggilan pertama.
Tidak diangkat.
Panggilan kedua.
Masih sama.
Panggilan ketiga.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak dapat dihubungi."
Kalimat itu membuat dada Alea sesak.
"Aneh..."
Padahal semalam Arga masih mengirim pesan.
> Besok kita mulai hidup baru, ya. Aku janji bakal bikin kamu bahagia.
Pesan itu masih tersimpan.
Masih bisa dibaca.
Tapi orang yang menulisnya seperti lenyap ditelan bumi.
Tiba-tiba pintu ruang rias terbuka.
Seorang panitia masuk dengan wajah pucat.
"Mbak Alea..."
"Iya?"
"Pengantin pria... belum sampai."
Alea tersenyum canggung.
"Iya, saya tahu."
"Bukan itu..."
Panitia itu menelan ludah.
"Supir yang menjemput ke rumahnya bilang... rumahnya kosong."
Jantung Alea seakan berhenti berdetak.
"Kosong?"
"Iya."
"Katanya sejak subuh sudah tidak ada siapa-siapa."
Ruangan mendadak sunyi.
Lani saling berpandangan dengan para asisten rias.
Tak ada yang berani bicara.
"Enggak mungkin."
Alea menggeleng pelan.
"Arga bukan orang seperti itu."
Kalimat itu bahkan terdengar tidak meyakinkan di telinganya sendiri.
Ia langsung berdiri.
Gaun pengantin yang berat membuat langkahnya tidak nyaman.
"Aku mau cari dia."
Baru dua langkah berjalan, pintu kembali terbuka.
Ibunya masuk.
Wajah wanita itu pucat.
Maskara di matanya luntur karena air mata.
"Ma..."
Sang ibu langsung memeluk Alea.
Pelukan itu begitu erat sampai Alea bisa merasakan tubuh ibunya bergetar.
"Ma, ada apa?"
Tak ada jawaban.
Hanya tangisan.
Perlahan sang ibu menyodorkan sebuah ponsel.
"Arga mengirim ini."
Tangan Alea gemetar saat menerima ponsel itu.
Sebuah pesan singkat memenuhi layar.
> Maaf, Alea. Aku tidak pernah benar-benar mencintaimu. Pernikahan ini hanya bagian dari rencanaku. Jangan mencariku.
Di bawah pesan itu terdapat sebuah foto.
Arga sedang merangkul seorang perempuan di ruang tunggu bandara.
Perempuan itu tersenyum lebar ke arah kamera.
Nadira.
Sahabat yang dikenalnya sejak duduk di bangku SMA.
Bibir Alea bergetar.
"Enggak..."
Matanya terus menatap foto itu, berharap yang dilihatnya hanyalah hasil editan.
Namun tidak.
Kalung yang dikenakan Nadira adalah hadiah ulang tahun darinya dua bulan lalu.
Tidak mungkin salah orang.
Ponsel itu terlepas dari genggamannya.
Brak.
Layar ponsel membentur lantai.
Air mata yang sejak tadi ditahan akhirnya jatuh tanpa bisa dihentikan.
"Bohong..."
Suaranya nyaris tak terdengar.
"Bohong..."
Selama tiga tahun ia mempercayai Arga.
Selama tiga tahun ia menganggap Nadira sebagai saudara sendiri.
Dan hari ini...
Keduanya menghancurkan hidupnya dalam waktu yang bersamaan.
Belum sempat ia mengumpulkan pikirannya, terdengar suara gaduh dari luar ruangan.
Langkah kaki berlari.
Teriakan.
Pintu kembali terbuka.
Ayahnya masuk dengan napas memburu.
Dasi yang biasanya rapi kini terlepas begitu saja.
"Pak..." ujar sang ibu panik.
Pram menatap putrinya dengan mata merah.
"Kita dalam masalah."
"Apa lagi, Yah?"
Pram mengusap wajahnya kasar.
"Arga membawa kabur uang perusahaan."
Alea membeku.
"Jumlahnya... hampir seratus miliar."
Dunia terasa berhenti.
Ia bukan hanya kehilangan calon suami.
Bukan hanya kehilangan sahabat.
Tetapi keluarganya juga berada di ambang kehancuran.
Dari luar ballroom mulai terdengar bisik-bisik para tamu.
"Katanya pengantinnya kabur."
"Kasihan banget..."
"Memalukan."
"Apa jangan-jangan keluarganya bangkrut?"
Setiap bisikan terdengar semakin jelas.
Menusuk harga diri Alea.
Air matanya belum sempat berhenti ketika seseorang mengetuk pintu.
Tok.
Tok.
Tok.
Seorang pria bertubuh tinggi memasuki ruangan dengan langkah tenang.
Jas hitam yang dikenakannya tampak sederhana, tetapi sangat pas di tubuhnya.
Tatapannya tajam.
Sulit ditebak.
"Aku minta maaf datang di waktu seperti ini."
Tak ada yang mengenalnya.
Ayah Alea mengernyit.
"Siapa Anda?"
Pria itu mengeluarkan sebuah kartu nama.
"Nama saya Raka Arvin."
"Saya datang... untuk menyelamatkan pernikahan ini."
Semua orang saling berpandangan.
"Apa maksud Anda?" tanya Pram.
Raka menatap Alea beberapa detik.
Tatapannya aneh.
Seolah ia sudah mengenalnya jauh sebelum hari ini.
Lalu, dengan suara tenang, ia berkata,
"Kalau Nona Alea bersedia..."
"Saya akan menggantikan pengantin pria."
Ruangan mendadak sunyi.
Tak seorang pun menyangka, di tengah hari yang paling menghancurkan dalam hidup Alea, justru muncul seorang pria asing yang menawarkan sesuatu yang lebih mengejutkan daripada pengkhianatan itu sendiri.
**Bersambung...**