NovelToon NovelToon
Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Cinta Terlarang Penuh Hasrat

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Molly Marco

Warning

Lima tahun menikah, sikap Elang pada Rindu tetap sama. pria itu jarang menyentuh istrinya, padahal Rindu memiliki hasrat yang tinggi.

Rindu yang merupakan anak yatim piatu dengan perangai santun dan lembut, memberikan pesona pada wanita paruh baya yang tak lain adalah Bella, Ibu kandung Elang. Lalu, mereka pun dijodohkan.

Siapa sangka, ternyata sikap dingin Elang menutupi sebuah rahasia yang tidak diketahui Rindu. Dan saat rahasia itu terungkap, Rindu pun memiliki rahasia yang sama.

Rahasia apa yang tersimpan dalam rumah tangga yang selalu Rindu pertahankan mati - matian hingga akhirnya ia memilih menyerah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Molly Marco, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Hati Yang Berdebar

Hasrat Merindu

Jedag jedug

“Silahkan!” salah satu pria bertubuh tegap itu akhirnya mempersilahkan Rindu memasuki tempat yang sedari dijaga ketat.

Tempat ini sangat privasi dan tidak bisa sembarang dimasuki. Jika tidak memiliki kartu anggota, maka kedua penjaga berbadan besar tadi akan menendang mereka untuk keluar.

Rindu pun melewati penjaga itu, pria berbadan kekar yang sedari tadi memandang Rindu seolah predator yang siap menerkam mangsa.

Sesampainya di dalam, Rindu langsung mengedarkan pandangan. Namun, baru menoleh ke kanan, mata Rindu sudah disuguhkan oleh dua insan yang sedang berciuman panas. Kemudian, matanya beralih ke kiri, justru keadaan lebih parah, dua insan yang sedang bercinta di sofa dengan posisi wanita berada di pangkuan pria.

Seketika, Rindu memalingkan wajahnya ke arah Rayen, seolah bertanya “tempat apa ini?”

Rayen mengangkat kedua alisnya. “Inilah club malam. Kamu tidak pernah ke tempat seperti ini?”

Kepala Rindu menggeleng.

Lalu, Rindu menangkap sosok pria yang ia kenali sebagai teman suaminya. Dua orang pria yang pernah beberapa kali datang ke rumahnya dan Rindu menyiapkan makan malam untuk mereka. Lima tahun menjadi suami Elang, cukup membuat Rindu tahu teman – teman suaminya. Sahabat Elang ada tiga, dan yang ia lihat baru dua orang itu saja.

Tatapan Rindu yang tajam ke arah itu, membuat Raven mengikuti arah mata Rindu. Dari kejauhan, Rayen hanya melihat dua pria sedang bercengkerama. Dua pria yang tidak dikenali Rayen sama sekali.

“Toilet di mana?” Baru saja pria itu ingin mengajukan pertanyaan. Namun, Rindu mengajukan pertanyaan lebih dulu.

“Di sana!” Rayen menunjuk ke arah berlawanan dari kursi yang diduduki dua teman Elang.

Tanpa meminta izin dari Rayen, Rindu segera berlalu menuju tempat yang ditunjuk bosnya tadi.

Sungguh, baru kali ini Rindu menginjak tempat menjijikkan seperti ini. Sepanjang langkahnya menuju kamar mandi umum, pemandangan yang ia lihat tak lepas dari orang – orang yang sedang mencari kepuasan. Belum lagi, ingar bingar suara yang begitu terasa membengkakkan telinganya. Bunyi jedag jedug itu membuat jantung Rindu seakan ikut jedag jedug. Jika bukan karena Elang, ia mungkin tidak akan pernah memasuki tempat laknat ini.

Sembari menggelengkan kepala, Rindu melangkah cepat dan memasuki kamar mandi umum khusus wanita itu.

Rayen yang khawatir dengan sekretarisnya, memilih mengikuti Rindu tanpa wanita itu ketahui. Rayen hanya ingin memastikan sekretarisnya tetap baik – baik saja, mengingat tempat ini tidak aman meski di toilet khusus perempuan. Karena siapa pun bebas melakukan apa pun di sini, termasuk bercinta di dalam kamar mandi.

Setelah beberapa menit menunggu Rindu di luar kamar mandi itu, Rayen menganga. Mulutnya sedikit terbuka dan matanya terus menatap Rindu yang cantik dan sexy.

Ternyata, di dalam kamar mandi, Rindu merubah penampilannya. Wanita itu memakai rambut palsu sebahu. Dres yang semula berlengan panjang, sengaja dipotong hingga mempertontonkan bahunya yang putih dan mulus. Rindu juga memotong dres yang semula panjangnya selutut menjadi jauh di atas lutut. Lagi – lagi kedua paha yang putih dan mulus itu tereskpose sempurna.

Untun saja, dres yang ia beli dengan Bella di mall tadi masih tertinggal di mobil, sehingga Rindu tidak menggunakan pakaian yang sama dengan ketika berpamitan pada suaminya saat hendak pergi bersama ibunya. Rindu lupa, jika berpenampilan seperti tadi, maka Elang akan mudah mengenali.

“Rindu.”

Wanita itu berjalan menghampiri Rayen.

“Ini kamu?” tanya Rayen bingung.

Melihat penampilan Rindu yang sexy dan tidak seperti yang ia lihat di kantor, Rayen pun langsung menarik lengan Rindu dan membawa wanita itu ke tempat yang lebih sepi.

“Apa yang kamu lakukan?” tanya Rayen pada wanita yang baru beberapa hari menjadi sekretarisnya.

“Pak Rayen sendiri sedang apa?” Rindu balik bertanya.

Sejak menjadi bosnya dikantor, Rindu tak lagi memanggil Rayen dengan panggilan Om, padahal Rayen tidak terlalu suka dengan panggilan Rindu padanya sekarang. Ia juga tidak ingin terlalu formal, meski ketika di kantor, sebagai sekeretaris Rindu memang harus memanggilnya Pak atau Bos.

“Apa Bapak juga sedang mencari pelampiasan karena istri tak da di rumah?”

Kali ini, pertanyaan Rindu telah membuat Rayen kesal. “Sembarangan, kamu pikir aku laki – laki seperti apa? Seperti dia? Huh!”

Rayen menunjuk pada pria yang sedang mencumbui bibir seorang wanita tepat disampingnya. Pria itu memojokkan wanitanya ke dinding, lalu mengungkungnya dan mencium bibirnya dengan penuh gairah. Meski posisi dua insan itu sama seperti posisi Rindu dan Rayen sekarang, tapi bedanya Rayen tidak sedang mencium bibir Rindu seganas itu.

Rindu dan Rayen menatap ke arah itu sejenak, hingga terlihat jakun Rayen yang naik turun.

“Pak, lepaskan!” pinta Rindu yang tak ingin berada di posisi itu.

“Kamu belum menjawab pertanyaanku? Mau apa ke sini? Tempat ini tidak cocok untukmu.” Rayen menatap tubuh Rindu dari kepala hingga kaki. “Apalagi ini? Mengapa kamu mengganti pakaian? Dan Apa ini?”

Rayen menyentuh rambut palsu Rindu.

“Ck. Ini bukan urusan Bapak.” Rindu menepis tangan Rayen yang memegang ujung rambut sebahunya.

“Silahkan Bapak bersenang – senang, saya ada keperluan sendiri.” Rindu mendorong dada Rayen, hingga kungkungan itu terlepas.

Rindu hendak berjalan melewati kamar mandi umum menuju tempat utama yang ia lihat sebelumnya tadi. Sedangkan, Rayen hanya pasrah. Ia hanya bisa menatap

punggung Rindu yang sedikit menjauh. hingga beberapa saat kemudian, Rindu membalikkan tubuhnya.

Baru dua langkah berjalan untuk meninggalkan kamar mandi umum itu dan melewati kamar mandi umum khusus pria, ternyata ada dua pria yang baru saja keluar dari ruang kecil itu. Tubuh Rindu pun seketika berbalik ke arah Rayen lagi.

Dengan cepat, Rindu kembali mendekati Rayen dan memeluk pria itu. Semakin terdengar langkah kaki pria yang keluar dari kamar mandi itu mendekat, Rindu pun menarik kepala Rayen dan mencium bibirnya.

Tangan Rindu sengaja melingkar di leher pria dengan postur tinggi melebihi dari Elang beberapa senti. Tubuh pria yang sedang Rindu cium pun jauh lebih tegap dari suaminya.

Rindu merasakan kedua tangan Rayen yang kini ikut memeluk tubuh mungilnya. Pria itu

membalas ciuman terpaksa dari Rindu.

Mereka melakukan itu hingga dua pria yang merupakan Elang dan satu temannya itu melintas.

“Gila, mereka ciumannya hot banget.” Teman Elang yang bernama Gery berkomentar sembari menggeleng dan tersenyum saat melewati Rindu dan Rayen yang tak terlihat wajahnya karena posisi mereka yang berciuman sambil berpelukan erat.

Elang tertawa. “Ya, emang dari dulu tempat ini kaya gini kan?”

Gery tertawa diiringi tawa Elang yang semakin lama langkah dan tawa itu tak terdengar lagi.

Di sisi lain, karena menghindari Elang dan temannya, Rindu dan Rayen terjebak dalam ciuman panas. Ciuman yang diawali Rindu, membuat Rayen tak kuasa melepaskan pagutan itu.

Jedag jedug

“Mmpphh …”

Sebelas dua belas dengan Rayen. Entah mengapa, Rindu pun tak menyudahi pagutan yang semula ia lakukan karena keterpaksaan.

Demi terhindar dari Elang dan mengetahui keberadaannya, mau tidak mau, Rindu bersembunyi dengan cara seperti ini.

“Eum …”

Lidah itu masih berbelit. Rayen menyesap bibir itu dengan semangat. Ia merasakan perbedaan dari bibir mungil sekretaris sekaligus menantu dari keluarga yang ia kenal itu.

Mengingat Bella, Rayen pun langsung melepaskan pagutan itu.

“Ah, maaf. Rin.” Nafasnya memburu, meski bibirnya mulutnya bebicara.

Rindu ikut menetralkan dadanya yang naik turun. ia mengatur nafas yang semula hampir

habis karena pagutan yang tak kunubg disudahi Rayen.

Lalu, kepala Rindu menggeleng. “Tidak. Saya yang minta maaf. ini terjadi karena saya yang lebih dulu melakukannya. Maaf.”

Sungguh, Rindu sangat malu. Untuk menghindari rasa malu itu, Rindu segera berjalan meninggal Rayen yang masih bersandar pada dinding.

Rayen masih mengatur nafasnya yang tak karuan. Belum lagi degup jantungnya yang berdetag jedag jedug, persis seperti irama lagu di tempat ini.

“Ck, lama banget di kamar mandi, Bro? Ngapain lagi make si Shinta?”

Deg

Rindu yang baru saja meninggalkan toilet dan hendak bergabung bersama orang – orang yang berada di area utama tempat ini pun menghentikan langkahnya.

Jedag jedug

Rindu bersembunyi di balik tembok saat melihat Elang bersama ketiga temannya termasuk dua teman yang ia lihat sebelum memasuki kamar mandi.

“Elang mana mau make Shinta lagi, orang di rumahnya ada yang sempit. Terus diluar rumah ada yang hot. Bukan begitu, Lang?” Gery terdengar meledeka temannya.

Di balik tembok, dada Rindu kembali naik turun. Ia mendengar percakapan keempat pria yang tak jauh darinya. Posisi mereka, hanya berbatas tembok besar.

Entah mengapa, keempat pria itu memilih berbincang di lorong dan tak kembali ke kursi yang sbeelumnya ditangkap oleh pandangan Rindu. Mungkin karena tempat ini tidak terlalu terdengar jdag jedug dan tempat yang memungkinkan untuk berbincang, sehingga tak perlu berkata dengan keras.

“Sekarang, Rindu lagi di rumah?” tanya salah satu teman Elang lagi dan itu bukan Gery.

Elang mengangguk. “Ya, dia di rumah sama Mama.”

Teman Elang yang bertanya itu dan bernama Johan tertawa. “Kasihan sekali Rindu. Cantik – cantik hanya jadi pajangan lu.”

“Bukan pajangan, gue juga suka pake Rindu kok, walau agak jarang - jarang. Kalau lagi mau maen lembut, ya sama Rindu. Tapi kalau lagi mau maen kasar, sama anak SMA itu.”

“Si*l.”

“Gila lu.”

“Gokil.”

Ketiga teman Elang tertawa dan menggelengkan kepala melihat kelakuan sahabatnya.

“Gue kira, lu bakal berubah pas udah nikah, ternyata sama aja, Lang,” ledek Gery. “Kalo gitu mending gue. No komit dan bersenang – senang aja dulu. Mumpung masih muda.”

Gery tertawa. Tawa itu diikuti kedua temannya yang lain dan mereka pun setuju dengan pernyataan itu.

“Yang namanya penjahat tetap aja penjahat,” ujar salah satu teman Elang lagi. Ucapan ini datang dari pria yang bernama Aris.

“Penjahat kelamin maksudnya,” sambung Aris yang kemudian tertawa dan ditanggpi oleh Gery. “Ya, kita kan emang udah jadi penjahat kelamin dari SMA.”

“Sorry ya, gue ga dari SMA,” jawab Elang.

“Ya, tapi justru sekarang lu yang lebih parah dari kita.”

“Nyokap lu udah ngasih Rindu supaya lu berubah, tapi ternyata lebih parah.”

“Emng parah nih anak!” Aris setuju dengan perkataan Gery dan Johan. Ia menggelengkan kepala melihat kelakuan Elang yang tak berubah, padahal sudah memiliki istri sebaik dan secantik Rindu.

Keempat pria itu pun tertawa.

Tawa yang justru berbanding terbalik dengan kondisi wanita yang berada di balik posisi mereka.

Rindu cukup kenal dengan Gery, Johan, dan Aris. Ketiga teman Elang yang akrab sejak SMA dan datang dipernikahannya kala itu. Bahkan ketiga pria ini yang telah mengambil mempelai pria dan membuat si mempelai wanita ditinggalkan sendirian di kamar pengantinnya waktu itu.

Rindu pun memaklumi ketika suaminya bersama ketiga temannya ini. Ternyata dibalik pertemanan yang akrab itu, tersimpan kelakuan yang menjijikkan.

Tubuh Rindu begitu lemas mengetahui fakta kelakuan suaminya. Lima tahun, ia telah dibohongi. Rindu pun merasa dibohongi oleh Bella. Karena sebelumnya, Bella memperkenalkan putranya dengan begitu manis.

Di mata Rindu, Elang adalah sosok pria yang sempurna. Memiliki wajah tampan, pekerja keras, dan sedikit kaku yang justru terlihat lucu. Ia mengibaratkan Elang seperti tokoh pemimpin perusahaan dalam drama Korea atau Tiongkok yang sering ia tonton. Namun ternyata, di balik ketampanan dan kesibukannya yang selalu disamarkan sebagai urusan pekerjaan, tersembunyi sisi liar yang mulai tak bisa lagi diabaikan oleh Rindu.

Tanpa sedikit pun rasa bersalah, Elang tertawa lepas bersama ketiga temannya. Namun tak lama kemudian ia berkata, “Tapi cintaku hanya untuk Rindu. Yang lain hanyalah nafsu belaka.”

Dari kejauhan, tanpa berniat mendekat dan sengaja membiarkan Rindu bersandar sendirian di dinding, Rayen menatap wanita itu dengan pandangan yang sulit dimengerti maknanya.

1
Mawar
masih nyimak lnjut kak.
Mawar
itu sirindu tambah malu rayen.
Mawar
elang mmg gila sex bukannya taubat malh mkin menggila.
Mawar
rasain km elang,kepergik ma bella.
Mawar
kalau soal wanita bw agama klw soal hkum yg lain lp ma agama, yg km lakukan zina elang dosa besar.
Mawar
lnjut kak.
Mawar
apa yg akan tejadi sama rindu ya,😕😕
Mawar
cerai ja rindu km lebih baik sm rayen aja drpd sm elang udh celup sana sini.
Mawar
lnjut kak.rindu merasa bersalah sdangkan elang biasa ja tu.
Mawar
jijik lht kelakuan elng.
Mawar
gk ush maafin sielang rindu.
Mawar
itu pasti sielang mau ketemu simiskha jijik deh, kadihan rindu jngn mau diajk bercinta sama elang rindu.
Mawar
laki2 gak peka emang si elang itu meningan hempaskan ja rindu.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!