Bukan Pengantin Pilihan Hati
"Dua hati yang terikat wasiat, dua masa lalu yang belum usai. Sanggupkah pernikahan tanpa cinta ini bertahan?"
Dunia Naura runtuh seketika. Kecelakaan tragis yang merenggut nyawa sang ayah memaksanya mengubur mimpi indah bersama Rama, kekasihnya. Demi wasiat terakhir, Naura terpaksa menikah dengan Arka,pria asing pilihan sang ayah.
Luka Naura kian menganga saat mengetahui Arka pun sebenarnya sudah memiliki kekasih. Mereka hanyalah dua orang asing yang terjebak dalam sangkar pernikahan tanpa cinta.
Namun, hari-hari di bawah satu atap perlahan mengubah segalanya. Di balik ketampanannya, Arka ternyata sosok suami yang sangat sopan, bertanggung jawab, dan penuh perhatian. Kelembutan dan sikap penyayang Arka pelan-pelan mulai meruntuhkan dinding pertahanan hati Naura.
Saat benih-benih cinta tulus mulai tumbuh di antara mereka, akankah masa lalu merelakan mereka bahagia? Ataukah mereka akan selamanya menjadi pengantin yang salah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang-Bayang dari Masa Lalu Arka
Dua minggu penantian berjalan bagaikan sapuan angin yang cepat namun dipenuhi debar yang konstan di dalam dada Naura. Studio kecil di lantai dua kini tidak lagi sesunyi dulu; ruangan itu telah menjadi saksi bisu bagaimana sebuah mimpi yang sempat mati perlahan-lahan mengeliat bangun.
Sesuai janji Evan, hari ini adalah hari di mana prototipe atau sampel pakaian pertama dari tujuh desain terbaik Naura akan dikirimkan langsung ke rumah.
Sejak pukul tujuh pagi, setelah Arka berangkat ke kantor untuk memimpin rapat koordinasi mingguan, Naura sudah tidak bisa duduk dengan tenang. Ia membersihkan rumah dengan gerakan yang gelisah, sesekali melirik ke arah jam dinding dekoratif di ruang tengah. Rasa penasaran, takut, dan antusiasme bercampur aduk menjadi satu.
Ia takut jika hasil visualisasi tim pola di Bandung tidak sesuai dengan apa yang ada di dalam kepalanya, namun di sisi lain, ia memiliki kepercayaan penuh pada profesionalisme tim yang ditunjuk oleh Arka.
Tepat pukul sebelas siang, sebuah mobil van putih dengan logo anak perusahaan garmen Pratama Group memasuki halaman rumah.
Naura bergegas membuka pintu depan. Evan turun dari kursi penumpang depan dengan memegang sebuah gantungan baju besar yang dilapisi kain penutup pelindung (garment bag) berbahan beludru hitam, diikuti oleh seorang asisten yang membawa kotak karton tebal.
"Selamat siang, Mbak Naura!" sapa Evan dengan energinya yang selalu ceria dan penuh semangat. "Jangan tegang begitu wajahnya. Saya datang membawa keajaiban, bukan membawa tagihan utang."
Naura tertawa kecil, mencoba mencairkan rasa gugupnya yang sudah berada di ubun-ubun. "Selamat siang, Mas Evan. Silakan masuk. Langsung dibawa ke atas saja?"
"Tentu saja, kita butuh pencahayaan studio yang bagus untuk mengevaluasi mahakarya pertama ini," ujar Evan seraya melangkah menaiki tangga menuju lantai dua, diikuti oleh Naura.
Begitu berada di dalam studio, Evan menggantungkan (garment bag) tersebut di tiang penyangga besi di sebelah manekin linen. Dengan gerakan yang sengaja dibuat dramatis untuk menggoda Naura, Evan membuka ritsleting kain pelindung tersebut perlahan-lahan.
Ketika kain hitam itu tersingkap, Naura seketika membekap mulutnya sendiri dengan kedua tangan. Setitik air mata haru langsung menggenang di pelupuk matanya.
Di hadapannya, tergantung sebuah gaun midi berwarna hijau sage dari bahan linen premium. Potongan asimetris di bagian pinggang yang dulu hanya berupa guratan pensil 2B di atas kertas A3, kini menjelma menjadi lipatan kain yang begitu jatuh dengan sangat anggun, rapi, dan presisi.
Detail jahitan tepi dan kerah bajunya begitu halus, mencerminkan standar pengerjaan kelas atas.
"Bagaimana, Mbak? Sesuai dengan ekspektasi?" tanya Evan, menatap Naura dengan senyuman bangga.
Naura mendekat, menyentuh permukaan kain linen itu dengan ujung jarinya yang gemetar. "Ini ... ini jauh lebih indah dari apa yang aku bayangkan, Mas Evan. Tim pola di Bandung benar-benar luar biasa. Mereka bisa membaca maksud dari catatanku dengan sangat tepat."
"Bukan hanya mereka yang hebat, Mbak. Dasarnya adalah sketsa Mbak Naura yang memiliki akurasi anatomi yang sangat baik. Jadi, tim di pabrik tidak perlu menebak-nebak lagi," jelas Evan, lalu membuka kotak karton untuk mengeluarkan enam sampel pakaian lainnya, yang semuanya diselesaikan dengan tingkat kesempurnaan yang sama tingginya.
Selama dua jam berikutnya, Naura dan Evan terlibat dalam diskusi teknis yang intens. Mereka mencoba memasangkan pakaian-pakaian tersebut pada manekin, memeriksa kelenturan bahan saat ditarik, hingga memastikan kancing-kancing hias yang digunakan memiliki warna yang selaras.
Naura mencatat beberapa evaluasi kecil, seperti pengurangan satu sentimeter pada lingkar lengan untuk desain blazer kasualnya agar terlihat lebih pas di tubuh.
Setelah seluruh proses evaluasi selesai dan Evan berpamitan pulang untuk membawa catatan revisi tersebut kembali ke pabrik, Naura memutuskan untuk beristirahat sejenak di ruang tengah lantai satu. Ia menyeduh secangkir teh melati hangat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih dipenuhi luapan kebahagiaan.
Namun, ketenangan sore itu mendadak hancur berantakan ketika bel rumah berbunyi dengan ketukan yang tidak sabaran suara bel yang ditekan berkali-kali secara beruntun, menciptakan kegaduhan yang tidak biasa di lingkungan perumahan yang sunyi itu.
Naura mengerutkan keningnya, mendadak merasakan firasat buruk yang membuat tengkuknya merinding. Ia meletakkan cangkir tehnya di atas meja, lalu berjalan perlahan menuju pintu depan. Melalui celah jendela kaca kecil di samping pintu, Naura mengintip ke arah halaman luar.
Jantung Naura seolah berhenti berdetak seketika, dan seluruh wajahnya mendadak pucat pasi.
Di balik pagar besi rumahnya, berdiri seorang wanita muda dengan penampilan yang sangat modis namun tatapan matanya memancarkan kemarahan yang berapi-api.
Wanita itu mengenakan kacamata hitam besar yang kini diturunkan ke ujung hidung, menatap ke arah dalam rumah dengan pandangan menghina. Dia adalah Clarissa,model internasional sekaligus wanita dari masa lalu Arka yang sempat disebut-sebut oleh Ibu Sofia saat makan malam keluarga dua minggu lalu.
Naura menelan ludah dengan susah payah. Ia tahu cepat atau lambat momen ini akan datang, namun ia tidak menyangka Clarissa akan senekat ini mendatangi rumah pribadinya bersama Arka.
Mengingat pesan dan janji perlindungan dari Arka, Naura mencoba mengumpulkan seluruh keberanian yang ia miliki. Ia menegakkan bahunya, menarik napas dalam-dalam, lalu membuka pintu depan dengan gerakan yang tenang dan anggun.
Begitu pintu terbuka, Clarissa langsung melangkah maju tanpa menunggu izin, membuat langkahnya terhenti tepat di depan teras, hanya terpisah jarak dua langkah dari Naura.
"Jadi, kamu yang bernama Naura?" tanya Clarissa, suara tingginya terdengar sangat sinis dan sarat akan nada meremehkan. Ia melepaskan kacamata hitamnya sepenuhnya, menatap Naura dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan pandangan menilai yang sangat tidak sopan. "Gadis yatim piatu yang memanfaatkan surat wasiat konyol untuk menjebak Arka ke dalam pernikahan?"
Naura mencoba menjaga ekspresi wajahnya agar tetap datar dan tidak terintimidasi oleh tinggi badan Clarissa yang ditunjang oleh sepatu hak tinggi desainer ternama. "Selamat sore, Mbak Clarissa. Jika Anda datang ke sini untuk mencari Kak Arka, dia sedang berada di kantor pusat dan baru akan pulang malam nanti."
Clarissa terkekeh rendah, sebuah tawa hambar yang dipaksakan untuk menyembunyikan rasa frustrasinya. "Aku tidak sedang mencari Arka di sini, Naura. Aku datang ke sini khusus untuk menemuimu, untuk melihat secara langsung wanita macam apa yang sudah merebut posisiku di samping Arka."
Clarissa melangkah satu tahap lebih dekat, mengikis jarak di antara mereka hingga aroma parfum mahalnya yang menyengat langsung menusuk indra penciuman Naura. "Dengar ya, gadis kampung. Jangan pernah berpikir bahwa karena kamu sudah berhasil duduk di rumah ini dan memegang status sebagai istri sah, kamu sudah memenangkan segalanya. Pernikahanmu dengan Arka itu hanya sebuah lelucon bisnis, sebuah bentuk balas budi dari Om Baskoro kepada mendiang ayahmu yang miskin itu. Arka tidak pernah mencintaimu, dan dia tidak akan pernah bisa mencintai wanita yang tidak memiliki kelas sosial seperti kamu!"
Kalimat-kalimat tajam yang keluar dari bibir Clarissa sempat membuat hati Naura berdenyut sakit sejenak. Namun, Naura yang sekarang bukanlah Naura yang lemah yang bisa ditindas begitu saja seperti saat Rama menerornya dulu. Dukungan emosional yang konstan dari Arka selama beberapa minggu ini, serta fakta bahwa ia baru saja melihat mimpinya dihargai secara profesional, telah membangun sebuah perisai mental yang kokoh di dalam dirinya.
Naura menatap lurus ke dalam sepasang mata Clarissa yang dipenuhi rasa dengki. "Mbak Clarissa, status sosial atau masa lalu bukanlah hal yang sedang kita jalani hari ini. Pernikahan aku dan Kak Arka adalah pernikahan yang sah, baik di mata hukum maupun agama. Jika Kak Arka memang merasa terpaksa atau tidak menginginkan pernikahan ini, dia memiliki seribu satu cara dan kekuatan hukum untuk menolaknya sejak awal. Tapi nyatanya, kami ada di sini, membangun rumah tangga kami bersama."
Naura menjeda kalimatnya sejenak, memberikan senyuman tipis yang sangat tenang namun justru terlihat sangat mematikan di mata Clarissa. "Jadi, daripada Anda membuang waktu dan merendahkan harga diri Anda sendiri sebagai seorang figur publik dengan mendatangi rumah pria yang sudah beristri, akan jauh lebih bijaksana jika Anda mulai menerima kenyataan bahwa posisi di samping Kak Arka ... memang sudah bukan milik Anda lagi."
Wajah Clarissa seketika berubah merah padam karena amarah yang memuncak. Ia tidak menyangka bahwa gadis yang dianggapnya polos dan lemah ini bisa membalas serangannya dengan pilihan kata yang begitu tenang namun menusuk tepat di pusat egonya.
Clarissa mengangkat tangan kanannya, tampak kehilangan kendali emosinya dan hendak melayangkan sebuah tamparan ke arah wajah Naura.
"Kurang ajar kamu,"
Namun, sebelum tangan Clarissa sempat menyentuh kulit pipi Naura, sebuah suara rem mobil yang berdecit keras terdengar dari arah gerbang depan yang tidak terkunci rapat. Sebuah mobil sedan hitam mewah berhenti dengan posisi melintang yang tidak beraturan, mencerminkan kepanikan luar biasa dari sang pengemudi.
Pintu kemudi terbuka dengan bantingan keras.
Sosok Arka Pratama melangkah keluar dari dalam mobil dengan aura kemarahan yang begitu pekat, seolah siap membakar siapa saja yang berani mengusik ketenangan rumahnya.
Pria itu tampaknya langsung memacu mobilnya kembali ke rumah begitu menerima laporan dari sistem keamanan pintar (smart home) miliknya yang mendeteksi adanya tamu tidak dikenal di area teras.
Arka berjalan dengan langkah lebar yang cepat, langsung menyusup ke tengah-tengah di antara Naura dan Clarissa.
Dengan gerakan yang sangat protektif, Arka menarik tubuh Naura ke belakang punggung bidangnya, menyembunyikan sang istri seutuhnya dari pandangan Clarissa, sementara ia sendiri berdiri tegak menghadap sang mantan kekasih dengan sepasang mata elang yang memancarkan kilat amarah yang sangat mengerikan.
"Berani sekali kamu menginjakkan kaki di rumahku dan mencoba menyentuh istriku, Clarissa!" suara bariton Arka menggelegar rendah di bawah langit sore yang mulai menggelap, menciptakan atmosfer intimidasi mutlak yang membuat Clarissa seketika membeku ketakutan di tempatnya berdiri.
Bayang-bayang dari masa lalu itu kini harus berhadapan langsung dengan dinding pertahanan terkokoh yang dimiliki oleh Naura.