NovelToon NovelToon
Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Pasal 7: Pernikahan Kontrak

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Nikah Kontrak / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.9k
Nilai: 5
Nama Author: Aksara Naura

Gara-gara utang ratusan juta dan insiden tumpahan wine di restoran, hidup Dokter Namira berubah 180 derajat. Ia mendadak dilamar oleh Maxwell Ezra Tanuwijaya—CEO dingin dan asing, yang ibunya merupakan pasien VIP-nya sendiri.

Awalnya Nami pikir ini cuma pernikahan kontrak biasa di atas kertas demi uang kompensasi. Sampai akhirnya ia membaca isi Pasal 7 di dalam map hitam itu:

"Pihak Kedua wajib melahirkan seorang anak hasil hubungan dengan Pihak Pertama selama masa kontrak berlaku."

Sanggupkah Nami bertahan dalam pernikahan sandiwara yang menuntut rahim dan harga dirinya ini?

Atau ia akan hancur sebelum kontrak itu selesai?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Naura, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

15 - Hampir

Nami bisa merasakan berat tubuh Max yang bertumpu pada kedua tangannya di atas kasur. Mengurungnya. Menutup seluruh jalur pelarian.

Kamar utama yang luas dan dingin itu mendadak terasa menyempit, menyisakan ruang pengap yang dipenuhi detak jantung Nami yang bertalu liar.

Max tidak langsung bergerak maju. Pria itu justru sengaja menahan posisinya. Mengulur waktu. Sepasang mata elangnya bergerak lambat, menyusuri rona merah yang kini membakar pipi Nami, lalu turun, mengunci bibir Nami yang sedikit terbuka dan gemetar.

Intimidasi itu berjalan lambat, namun menyiksa kewarasan Nami.

"Kau belum menjawabku," ucap Max, nadanya datar namun sarat akan tuntutan yang mutlak.

"Kau tahu apa yang Ibu minta malam ini, bukan?"

Nami menelan ludah dengan susah payah. Ia mencoba mengumpulkan serpihan keberaniannya yang mendadak buyar akibat jarak mereka yang terlalu intim.

Sebagai seorang residen kardiologi, ia terbiasa menghadapi situasi darurat di bawah tekanan mental yang hebat. Tapi malam ini, tekanan itu datang dari bentuk yang sama sekali berbeda.

Nami mencengkeram sprei sutra hitam di bawahnya, memaksa matanya untuk balas menatap manik hitam milik Max. "A-aku tahu."

"Lalu?" Max menundukkan kepalanya lagi. Satu sentimeter. Hanya tersisa jarak satu sentimeter sebelum ujung hidung mereka bersentuhan. "Kau siap?"

"Aku... aku profesional, Max!" jawab Nami, mencoba membuat suaranya terdengar setegas mungkin walau ada getaran samar di ujung kalimatnya.

"Aku tahu apa yang tertulis di dalam kertas kontrak itu. Aku tahu kewajibanku!"

Nami menarik napas pendek, mencoba menstabilkan suaranya yang bergetar. "Tapi... perlu kau tahu secara biologis, malam ini tidak akan efisien."

Max menaikkan sebelah alisnya, tidak menduga jawaban itu. "Maksudmu?"

"Malam ini aku berada di hari ke-24 siklus menstruasiku. Secara klinis, sel telurku sudah luruh dan tingkat keberhasilan fertilisasinya hampir nol persen," jelas Nami cepat, mencoba menggunakan dinding medis sebagai pelindungnya.

"Ditambah tingkat kortisolku sedang tinggi karena stres pernikahan ini. Kalau kau mau investasimu yang satu miliar ini efisien dan cepat menghasilkan, kita harus melakukannya tepat di masa suburku, bukan malam ini."

Max diam. Seringai samar kembali muncul di sudut bibirnya. Tampak sangat menikmati bagaimana Nami bersusah payah memasang topeng formalitasnya di situasi seperti ini.

"Alasan yang pintar," bisik Max tepat di depan bibir Nami, membuat napas hangat mereka saling bertukar di udara.

"Tapi kalau ini cuma soal efisiensi uang satu miliar, kenapa jantungmu berdegup sekencang ini, Namira?"

Nami membeku. Ia tidak bisa mengelak. Detak jantungnya terlalu nyaring di dalam kamar yang luas dan sunyi ini.

Max semakin merendahkan tubuhnya, membiarkan aroma maskulinitas murninya mengepung Nami seutuhnya. Ketegangan di antara mereka merayap naik, pekat, membakar setiap jengkal sekat yang tersisa.

Nami refleks memejamkan matanya rapat-rapat, meremas kain kemeja Max dengan jari-jari yang memutih.

Pasrah. Menunggu sentuhan pertama yang akan meruntuhkan seluruh sisa pertahanannya.

Satu sentimeter itu perlahan terkikis habis—

KRIINGGG! KRIINGGG!

Suara dering telepon yang brutal dan nyaring tiba-tiba memecah kesunyian malam.

Nami terlonjak kaget, matanya langsung terbuka lebar. Max menghentikan gerakannya seketika. Rahang pria itu mengeras, napasnya tertahan di udara.

Detik-detik intim yang baru saja mengunci kewarasan mereka mendadak buyar dalam sekejap.

Max berdecak kesal, melirik tajam ke arah nakas di samping ranjang. Pria itu berniat mengabaikannya, kembali memusatkan pandangannya pada Nami yang masih terengah-engah di bawahnya.

Namun, ponsel itu kembali berdering untuk kedua kalinya dengan nada khusus yang berbeda.

Panggilan darurat dari intercom kamar bawah. Kamar Nyonya Sofia.

Ketegangan panas di kamar itu mendadak menguap, digantikan oleh hawa dingin yang mencekam. Max langsung menarik dirinya menjauh, bangkit berdiri dan menyambar ponsel tersebut dengan gerakan kilat.

"Ada apa?" tanya Max dingin pada interkom.

Nami ikut bangkit, duduk di tepi ranjang sambil merapikan gaunnya yang sedikit berantakan.

Matanya menatap Max, dan dalam hitungan detik, ia melihat perubahan drastis pada wajah pria itu. Wajah Max yang biasanya lempeng tanpa emosi, mendadak berubah pias. Pucat.

"Nyonya Sofia sesak napas. Saturasi oksigennya turun drastis di bawah delapan puluh," ucap suara dokter pribadi dari seberang telepon, terdengar panik.

Mendengar kata itu, jiwa dokter di dalam tubuh Nami langsung mengambil alih. Rasa canggung, malu, dan sisa ketegangan ranjang tadi hilang tanpa bekas dari kepalanya.

Nami langsung melompat turun dari ranjang. "Buka pintunya, Max! Kita ke bawah sekarang!"

Namun, bukannya membuka pintu, Max justru berbalik dan melangkah lebar ke arah Nami. Tangannya mencengkeram lengan Nami, menahan pergerakan wanita itu dengan kuat.

Nami tersentak, matanya membelalak kaget bercampur tidak percaya. Di situasi genting seperti ini, kenapa pria ini malah menahannya?

"Max, lepas! Ibumu sedang kritis! Kau tidak dengar tadi?!" pekik Nami, suaranya naik satu oktav karena panik.

Pikirannya langsung melayang ke arah yang negatif. Apa pria ini sudah gila? Apa dia begitu terobsesi dengan kontrak satu miliar sampai mengabaikan nyawa ibunya sendiri demi melanjutkan adegan panas mereka yang tertunda?

"Kau tidak bisa keluar kamar dengan kondisi seperti ini," ucap Max dingin, memotong kepanikan Nami dengan suara rendahnya.

Sebelum Nami sempat melayangkan protes, Max dengan sentakan pelan memutar tubuh Nami membelakanginya.

Sret.

Dengan satu gerakan kilat yang tegas, tangan besar Max menarik ritsleting gaun bagian belakang Nami ke atas, menutupinya hingga ke tengkuk. Menyembunyikan kembali kulit mulus punggung Nami yang sempat terekspos bebas akibat ulah Max beberapa menit lalu.

Nami membeku seketika. Pipinya yang tadi memerah karena marah, mendadak berubah menjadi merah padam karena rasa malu yang luar biasa yang langsung menusuk hingga ke ubun-ubun.

Nami merutuki dirinya sendiri di dalam hati. Dia benar-benar ingin menghilang dari muka bumi saat ini juga karena sudah salah paham sefatal itu.

Max tidak membuang waktu untuk menertawakan wajah Nami yang mendadak sekaku batu. Pria itu langsung menyambar kunci kamar di nakas, membuka pintu dengan kasar, dan berlari keluar.

Nami mengerjapkan matanya, memaksa kesadarannya kembali, lalu langsung ikut berlari membelah koridor lantai atas menyusul langkah lebar Max menuju tangga.

Kepanikan yang nyata kini menyelimuti langkah kaki mereka, mengubur dalam-dalam rasa malu Nami yang sempat meledak sesaat lalu.

***

Begitu mereka mendobrak pintu kamar bawah, aroma obat-obatan yang pekat langsung menyengat indra penciuman. Dokter pribadi dan seorang perawat sedang sibuk memompa tabung oksigen manual, sementara Nyonya Sofia terbaring dengan mata terpejam dan dada yang kembang kempis dengan sangat lemah.

Nami langsung berlari mendekati ranjang, ia melirik ke arah monitor penunjuk detak jantung.Grafiknya bergerak tidak beraturan, melompat-lompat ekstrem sebelum akhirnya—

TIIIIIIIIIIIIIT...

Suara dengung panjang yang monoton memekakkan telinga memenuhi ruangan. Grafiknya berubah menjadi satu garis lurus yang statis.

Henti jantung!

Darah Max seolah membeku di tempatnya berdiri. Pria itu terpaku menatap layar monitor. "Ibu..."

"Ambilkan defibrilator dan siapkan epinefrin!" teriak dokter pribadi Nyonya Sofia, memotong kepanikan di dalam ruangan dengan suara lantang yang penuh otoritas.

Meskipun syok, tim medis pribadi itu bergerak dengan kecepatan tinggi.

Melihat situasi darurat itu, jiwa dokter di dalam tubuh Nami langsung mengambil alih tanpa bisa dicegah. Sebagai seorang residen kardiologi, ia sudah kenyang menghadapi kode biru di rumah sakit. Tanpa ragu, Nami langsung melompat ke atas ranjang, mengambil posisi di samping tubuh Nyonya Sofia.

"Biar saya yang ambil alih kompresi dadanya, Dok!" ucap Nami tegas kepada dokter pribadi senior itu.

Dokter pribadi itu melirik Nami sekilas, lalu mengangguk cepat tanda setuju. Kehadiran Nami yang langsung tanggap justru sangat membantu.

Nami menumpukan kedua telapak tangannya di tengah dada Nyonya Sofia, mengunci kedua sikunya tegak lurus, dan mulai melakukan CPR darurat dengan ritme yang cepat dan bertenaga.

Satu, dua, tiga, empat...

Nami terus menekan dada wanita itu dengan hitungan yang presisi, mengabaikan fakta bahwa ia masih mengenakan gaun putih pernikahannya yang kini mulai kusut dan membatasi gerakannya.

Sementara di sisinya, dokter pribadi senior itu dengan cekatan menyiapkan injeksi epinefrin dan mengatur ritme penyelamatan.

Darah Max seolah membeku di tempatnya berdiri. Pria itu terpaku menatap layar monitor, lalu beralih menatap Nami yang sedang bersusah payah memompa jantung ibunya agar kembali berdenyut.

Nyawa Ibunya, terancam.

1
Linzyasila Linzyasila
lanjut dong thor
Aksara Naura: tungguin yahh
total 1 replies
Linzyasila Linzyasila
aku selalu menunggumu up lak😍
Aksara Naura: makasih yaaa kak🥺🫶🏻 ak jdi semangat wk
total 1 replies
Aksara Naura
Gimana bab ini???🤭
Risma Arsita
Max udah mulai suka sama dokter Nami🤭
Risma Arsita
Dokter Nami panik🤣
Risma Arsita
Nyimak, sepertinya cerita ini seru
Aksara Naura: makasihh! dan selamat kamu komentar pertama 🤭😭 makasih yaa, tunggu terus kelanjutannya!
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!