NovelToon NovelToon
Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Naruto : Sistem Shinobi Tanpa Batas

Status: sedang berlangsung
Genre:Naruto / Sistem / Reinkarnasi
Popularitas:6.1k
Nilai: 5
Nama Author: Barr

Ren, seorang pemuda yang hidupnya hancur di dunia modern, terbangun di dunia yang ia kenal hanya melalui layar kaca—dunia Shinobi yang penuh dengan darah, air mata, dan pengkhianatan.

​Tepat saat ia lahir di tengah kekacauan serangan Kyuubi, Ren menyadari bahwa ia tidak memiliki garis keturunan klan hebat, tidak memiliki chakra yang melimpah, dan hanya dianggap sebagai sampah oleh dunia.

​Namun, tepat saat ia menginjak usia 6 tahun, sebuah layar transparan muncul di depannya: [Selamat datang, Ren. Sistem Evolusi Shinobi telah aktif.]

​Dengan pengetahuan tentang masa depan yang pahit dan sistem yang memungkinkan segalanya, Ren bersumpah untuk mengubah nasib. Dari seorang anak yatim piatu yang diabaikan, ia akan bangkit, melampaui para Hokage, hingga menantang para dewa yang bermain-main dengan takdir dunia ini.

​Bukan sebagai pahlawan, bukan pula sebagai penjahat. Dia adalah Faktor X yang akan mengubah dunia Shinobi selamanya.



Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barr, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Menghilangkan Kecurigaan Shino

Tringgg!

​Bel perunggu yang terpasang di langit-langit koridor Akademi berdentang keras, memotong kalimat terakhir Iruka Umino tentang pentingnya mencuci kunai setelah terkena cairan organik. Seketika itu juga, ketegangan sunyi di dalam laboratorium botani mencair. Murid-murid lain langsung berhamburan keluar pintu, mengobrolkan rencana makan siang di kedai dango atau berdiskusi tentang teknik melempar shuriken.

​Ren bangkit dari bangkunya dengan gerakan lambat, tangan kanannya memegang kantung kecil berisi sisa daun teh tiruan yang sengaja dia siapkan untuk dibuang ke area pembuangan sampah di halaman belakang sekolah. Namun, baru tiga langkah melewati ambang pintu laboratorium, sebuah sensasi dingin yang ganjil mendadak merayap di bawah permukaan kulitnya.

​Dahi dan kedua telapak tangan Ren mendadak mengeluarkan keringat dingin yang sangat pekat. Jantungnya berdegup satu ketukan lebih cepat bukan karena panik, melainkan karena reaksi otonom tubuhnya sedang dipaksa bekerja di luar kendali normal akibat lonjakan metabolisme seluler.

​[Peringatan Sistem: Proses Ekskresi Residu Sintesis]

​[Jaringan Seluler Tahap Dua sedang mendetoksifikasi sisa Alkaloid Bioaktif Gedoku-sō. Senyawa sisa dibuang melalui kelenjar keringat dalam bentuk senyawa aromatik volatil (skala 0.02 ppm). Tidak terdeteksi oleh indra manusia, namun berada di spektrum sensorik serangga klan Aburame.]

​Sialan. Hukum aksi-reaksi biologi, umpat Ren dalam hati.

​Sistem memang memberikan kekebalan absolut terhadap racun kelumpuhan, tetapi hukum kekekalan massa memaksa tubuhnya membuang sisa senyawa kimia yang telah dinetralisir itu keluar dari sirkulasinya. Sialnya lagi, kompleksitas sisa molekul tersebut adalah pemicu sensorik alami yang paling sensitif bagi serangga parasit.

​Ren mempercepat langkahnya, memotong rute menuju area deretan pohon pinus tua yang sepi di bagian belakang bangunan Akademi, berusaha menjauh dari kerumunan sebelum senyawa aromatik itu menyebar lebih jauh ke udara terbuka.

​Namun, dia terlambat sekian detik.

​Di bawah bayang-bayang pohon pinus yang meredam terik matahari, sesosok tubuh ramping dengan jaket berkerah tinggi yang menutupi separuh wajahnya sudah berdiri diam seolah memang sedang menunggunya. Shino Aburame. Anak klan itu tidak bergerak, kepalanya sedikit miring ke bawah, menyembunyikan sepasang matanya di balik kacamata hitam bulat yang legam.

​Suasana di koridor terbuka itu mendadak mencekam secara instan.

​Bzzzz...

​Suara dengungan frekuensi rendah yang konstan terdengar dari balik jubah Shino. Puluhan ekor serangga Kikaichū berwarna hitam legam merayap keluar dari celah lengan bajunya. Serangga-serangga itu terbang dengan pola spiral yang gelisah di udara, menolak perintah normal tuannya, dan semuanya mengunci arah terbang tepat ke arah dahi dan telapak tangan Ren. Beberapa di antaranya bahkan berdengung hanya seujung kuku dari kulit Ren, seolah mendeteksi keberadaan nektar paling pekat sekaligus paling beracun di dunia.

​Shino membuka suara, nadanya datar, monoton, dan dingin tanpa fluktuasi emosi sedikit pun.

​"Ada dua variabel yang tidak logis hari ini, Ren. Pertama, lembar kertas ujianmu menyatakan bahwa kamu sama sekali tidak tahu tentang racun Gedoku-sō. Kedua, serangga milikku mendeteksi adanya emisi antibodi murni dari tanaman kelumpuhan tersebut keluar dari pori-pori kulitmu dengan densitas tinggi. Kenapa?"

​Ren menghentikan langkahnya tepat tiga meter di depan Shino. Di dalam kepalanya, otak taktis militer Ren langsung membedah profil Shino Aburame dalam hitungan milidetik. Shino adalah seorang analis murni. Dia tidak bergerak berdasarkan sentimen, prasangka, atau rumor; dia bergerak berdasarkan data empiris yang logis. Jika Ren memberikan kebohongan yang terlalu rumit atau berbelit-belit, Shino akan dengan mudah menemukan celah anomali baru dari struktur kalimatnya.

​Untuk mengalahkan seorang analis, Ren harus memberikan "data mentah" yang nyata dan memuaskan logika Shino, namun dibungkus rapat dengan memanfaatkan bias status sosialnya yang rendah.

​Ren menurunkan kedua bahunya sedikit, membiarkan tubuhnya terlihat menciut—sebuah gestur defensif dan canggung yang biasa diperlihatkan oleh anak-anak panti asuhan yang merasa terintimidasi oleh eksistensi anak klan besar. Dia menatap tanah di antara mereka, memalsukan rona wajah yang tidak nyaman.

​"Aku tidak tahu nama ilmiah yang ditulis Iruka-sensei di papan tulis tadi, Aburame-san," kata Ren, suaranya agak pelan dan sedikit bergetar, namun terdengar sangat jujur. "Tapi... aku tahu betul bagaimana rasa getir dari getah daun itu."

​Shino tidak memotong. Dia tetap diam, membiarkan serangganya terus berdengung agresif di dekat Ren, menunggu kelanjutan data.

​"Sebelum aku berhasil masuk ke Akademi ini, aku adalah anak yatim piatu yang harus bertahan hidup sendirian," lanjut Ren, meremas kantung daun teh di tangannya untuk menambah kesan emosional yang terkendali. "Untuk menghemat makanan, aku sering mencari tanaman dan herba liar di hutan kematian pinggiran Konoha. Di sana, bentuk tanaman semuanya terlihat sama. Aku sering salah makan. Aku pernah mengalami kelumpuhan total selama berhari-hari di dalam gubuk panti yang dingin, tidak bisa menggerakkan jari, dan hampir mati kelaparan karena tidak ada yang menolong."

​Ren mendongak sedikit, membiarkan poni rambutnya tersingkap oleh embusan angin, memperlihatkan tatapan mata yang tampak lelah namun keras kepala.

​"Tubuhku terpaksa beradaptasi secara kasar oleh alam agar aku tidak mati. Jadi, ketika ditanya di kertas ujian, aku memang tidak tahu apa itu Gedoku-sō atau bagaimana cara medis untuk menetralkannya. Tapi jika tubuhku mengeluarkan sesuatu yang kamu sebut antibodi... mungkin itu karena daun beracun itu adalah daun yang sama yang pernah membuat kedua kakiku mati rasa selama tiga hari berturut-turut saat aku masih berumur enam tahun."

​Logika Shino langsung memproses informasi baru tersebut. Di dalam dunia shinobi, konsep Survival of the Fittest—adaptasi biologi ekstrem akibat paparan racun berulang sejak usia dini—adalah fenomena yang sangat valid secara medis, terutama bagi anak-anak terlantar yang bertahan hidup di zona vegetasi berbahaya Konoha. Itu adalah data mentah yang sangat masuk akal bagi seorang Aburame.

​Bzzzt.

​Dengungan Kikaichū perlahan mereda. Dengan satu isyarat tangan dari Shino, kawanan serangga hitam itu terbang kembali, menyusup masuk ke balik sela-sela kain jubahnya yang gelap. Shino membetulkan posisi kacamata hitamnya dengan jari tengahnya, lalu sedikit menganggukkan kepalanya.

​"Sebuah penalaran yang logis. Alam adalah guru yang kejam bagi mereka yang tidak memiliki klan. Maaf karena telah menghentikan langkahmu dan menginterogasi tanpa izin, Ren. Lanjutkan aktivitasmu," ucap Shino dengan nada monotonnya yang biasa, sebelum akhirnya berbalik dan berjalan pergi meninggalkan koridor sepi tersebut.

​Ren tetap berdiri statis di tempatnya hingga langkah kaki Shino benar-benar menghilang di tikungan gedung. Dia mengembuskan napas panjang, membiarkan ketegangan palsu pada otot wajahnya mencair. Penyamarannya sebagai anak rata-rata yang malang kembali berhasil mengelabui radar analitis terbaik di kelasnya.

​Namun, belum sempat Ren menikmati rasa amannya, pandangan matanya mendadak dipenuhi oleh warna merah menyala yang berkedip cepat dari pusat kesadaran optiknya. Mode sistem beralih secara agresif.

​[Sistem: Analisis Sampel Serangga Kikaichū Berhasil Dilakukan secara Jarak Dekat]

​[Menemukan Kecocokan Genetik: Pola Sensorik Serangga Aburame memenuhi syarat 98.7% sebagai substrat untuk evolusi: Indra Pelacak Bio-Elektromagnetik (Tahap Tiga)]

[Misi Baru Terbuka: Amankan 5 spesimen Kikaichū hidup milik Shino Aburame tanpa memicu alarm klan.]

​Ren menatap baris-baris teks bercahaya merah itu tanpa mengubah ritme napasnya. Sistem tidak memberinya pilihan untuk menjadi hantu yang pasif; entitas itu menuntut evolusi.

​Bukannya panik, jemari tangan kanan Ren bergerak ke balik kantung ninja di pinggangnya. Sentuhan kulitnya melewati deretan kunai, lalu berhenti pada gulungan kawat baja tipis berdiameter 0,1 milimeter—perangkat standar yang akan digunakan pada kelas Praktik Mekanika Jebakan Iruka sebentar lagi.

​Sret.

​Dengan satu sentakan kuku yang presisi, Ren memotong ujung kawat tersebut sepanjang tiga sentimeter, menyembunyikannya di sela jemari, lalu melangkah tenang menuju area latihan hutan tiruan. Perburuan kuno melawan klan Aburame telah dimulai dalam sunyi.

1
Axel
seringkih bubur itu apa thor?
Axel
dan kesaduran itu apa thor?
Klarasya
lanjutt thorr, semangattt 😻
Mitha: oyong juahattt
total 2 replies
Klarasya
semangatt thorr 😻
Mitha: oyong juahat
total 1 replies
Klarasya
lanjuttt thorrr 😻
Klarasya
semangatt thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!